Monday 25 February 2013

My Monday Note -- Anak Saya Normal Nggak Sih?

Kemarin sore, saya menjemput Sera di kinder. Bersahabat cukup akrab dengan pengasuh kinder, saya mengobrol santai akan segala topik, sementara Sera sibuk menggelendot di kaki saya. Kemudian, seorang ibu yang juga menjemput anaknya melambaikan tangan ke arah si Doris, carer nya Sera. Selagi kami sedang sibuk saling melambai, seorang anak cowok seumuran Sera bernama Jimmy meraup serpihan kayu yang menjadi alas playground dan melemparkannya ke arah si ibu. "That's not nice Jimmy!" seru Doris.

Tak mempedulikan seruan Doris, Jimmy kembali meraup kayu dan bersiap melemparkannya lagi ke arah si ibu. Dengan bergegas Doris menghampiri dan menyelamatkan si ibu dari tingkah Jimmy. Saat mendengar seruan Doris pada si Jimmy, saya jadi berpikir "Rasanya si Jimmy ini yang paling sering ditegur oleh Doris atau Ling atau siapapun penjaga yang sedang bertugas deh."

Ada anak yang memanjat pagar? Jimmy. Ada anak yang masuk kelas saat tidak diperbolehkan? Jimmy. Ada anak yang menuang air ke bak pasir? Jimmy.

Sekembalinya Doris, ia bercerita bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mendiskusikan masalah si Jimmy dengan orang tuanya. "Dia tidak memiliki kemampuan bahasa sama sekali. Dia tidak memiliki kemampuan bersosialisasi at all. Aku berpikir mungkin dia butuh menemui spesialis, untuk mendeteksi kalau ada terapi khusus yang diperlukan."

Monday 11 February 2013

My Monday Note -- Mau Jadi Ani atau Ana?

"Suami kamu dan anak laki- laki kamu menunggui kamu kuliah dari mulai jam satu tadi?" tanya saya tak percaya pada Lin, teman sekelas saya yang merupakan seorang imigran asal Shanghai.

Lin mengangguk mengiyakan sembari menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain. Jadwal kuliah setiap hari kamis dimulai jam satu siang dan berakhir jam sembilan malam. Lin tinggal di bagian lain kota (kampus berlokasi di daerah timur dan rumahnya si Lin di daerah barat) dan ia menggunakan kendaraan umum. Harus berganti- ganti kendaraan umum termasuk bis di malam hari, daerah rumahnya tidak terlalu aman dan ia tidak terlalu mahir berbahasa Inggris, jadilah suaminya harus ikut mengantar jemput dirinya. Dan karena tidak ada orang lain yang bisa menjaga anak mereka, terpaksalah si anak ikut. Dan kemudian bapak dan anak berdua duduk menunggui istri dan ibu mereka hingga kuliah selesai.

Dan setelah berbincang- bincang lebih lama, saya tahu bahwa suaminya saat ini tidak bisa bekerja karena cedera tulang belakang. Lin sangat membutuhkan pekerjaan. Ia juga ingin pindah dari flat tempatnya mengontrak sekarang, karena lingkungannya tidak aman, sekolah publiknya jelek dan lokasinya jauh sekali dari kampusnya. "At least kamu dulu kan apoteker di Cina dan sempat kerja di rumah sakit. Jadi kursus ini gampang dong buat kamu," komentar saya. Note: saya saat ini mengambil kursus untuk menjadi asisten apoteker dan si Lin berkata dia dulu bekerja di ICU rumah sakit di Cina sebagai apoteker.

"Um, tapi kan dulu aku baca resep dalam aksara Cina. Bukan bahasa Inggris. Jadi susah sekali bagiku mengerti resep yang ditulis dalam aksara Latin." Uh oh.