Kemarin sore, saya menjemput Sera di kinder. Bersahabat cukup akrab dengan pengasuh kinder, saya mengobrol santai akan segala topik, sementara Sera sibuk menggelendot di kaki saya. Kemudian, seorang ibu yang juga menjemput anaknya melambaikan tangan ke arah si Doris, carer nya Sera. Selagi kami sedang sibuk saling melambai, seorang anak cowok seumuran Sera bernama Jimmy meraup serpihan kayu yang menjadi alas playground dan melemparkannya ke arah si ibu. "That's not nice Jimmy!" seru Doris.
Tak mempedulikan seruan Doris, Jimmy kembali meraup kayu dan bersiap melemparkannya lagi ke arah si ibu. Dengan bergegas Doris menghampiri dan menyelamatkan si ibu dari tingkah Jimmy. Saat mendengar seruan Doris pada si Jimmy, saya jadi berpikir "Rasanya si Jimmy ini yang paling sering ditegur oleh Doris atau Ling atau siapapun penjaga yang sedang bertugas deh."
Ada anak yang memanjat pagar? Jimmy. Ada anak yang masuk kelas saat tidak diperbolehkan? Jimmy. Ada anak yang menuang air ke bak pasir? Jimmy.
Sekembalinya Doris, ia bercerita bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mendiskusikan masalah si Jimmy dengan orang tuanya. "Dia tidak memiliki kemampuan bahasa sama sekali. Dia tidak memiliki kemampuan bersosialisasi at all. Aku berpikir mungkin dia butuh menemui spesialis, untuk mendeteksi kalau ada terapi khusus yang diperlukan."
Sambil menyetir pulang, saya berpikir bagaimana ya caranya si Doris mengangkat masalah ini ke orang tuanya Jimmy? Bagaimana caranya memberitakan bahwa pihak kinder curiga ada yang nggak beres sama anak elu. Dan kira- kira bagaimana ya tanggapan orang tua si Jimmy? Panik? Ketakutan? Menerima dengan akal sehat? Atau malah tersinggung dan menampik mentah- mentah saran dari Doris?
Sebagai orang tua yang kebetulan awam dalam hal ilmu medis tumbuh kembang balita, rasanya salah satu pertanyaan yang paling sering menggelayut di benak saya adalah "Kira- kira Sera normal nggak ya? Kira- kira kalau sampai umur dua tahun dia masih belum bisa berbicara lancar dalam satu kalimat itu masih normal nggak ya?"
Dan tampaknya saya tidak sendirian. Tampaknya kalimat "Anak gue ini normal nggak sih?" menjadi salah satu menu pertanyaan favorit para emak dan bapak para balita. Entah sudah berapa kali ya saya mendengar kalimat semacam "Anakku belum bisa ngomong sama sekali padahal sudah dua tahun lho. Sepupunya udah bawel padahal..." atau "Anakku kok belum bisa jalan ya? Hanya merangkak doang, padahal semua anak seumurannya sudah bisa lari malahan." NORMAL NGGAK YA???
Dimanakah tempat paling 'nyaman' dimana para emak dan bapak bisa melatih self-torture terkait tumbuh kembang si balita? Dalam kasus saya: kelas menyanyinya si Sera, dimana Sera dan kesepuluh teman sekelasnya bersama- sama berdendang dan menggoyangkan pinggul selama 45 menit. Instruksi yang sama, instrumen yang sama, kelas yang sama dan guru yang sama. Yang membedakan? Respon dari sebelas anak balita yang ada di kelas itu.
Baiklah, kelas dimulai! Ayo semua anak maju kedepan duduk menghadap bu guru yang sudah siap dengan gitarnya. Sembilan anak langsung maju ke depan, meninggalkan pangkuan emaknya. Satu orang anak sedang tidak mood dan menggelengkan kepala dengan tegas. Seorang anak lagi meronta dan berusaha menyembunyikan wajah di pelukan emaknya. Akhirnya emaknya ikut serta maju ke depan untuk mengantri sedekah dari bu guru, menemani balitanya yang tidak berani maju sendirian. Bu guru kemudian bertanya ke masing- masing anak "Ryan, what action would you like to do today?" Berpikir sejenak, Ryan menjawab lantang "JUMPING!" Dan diiringi petikan gitar, berloncatanlah semua anak itu.
Berikutnya giliran Jack. Mendengar pertanyaan gurunya, Jack kecil menatap gurunya dan memasang wajah penuh senyum. Tak ada kata yang terucap. Kemudian dia menepuk pelan lututnya. "Tapping your knees? Good action Jack," komentar si guru.
Begitu terus hingga giliran Sera. Sera sedikit menundukkan kepala, takut- takut menatap si ibu guru. Tidak ada satu kata jawaban terlontar dari mulut Sera. Dan tidak seperti Jack, Sera tidak memberikan petunjuk gerakan apa yang ingin ia lakukan. Setelah beberapa saat, akhirnya gurunya bertanya "How about clapping? Would you like to do some clapping?" Langsung Sera dengan bersemangat mengangguk dan mulai bertepuk seturut musik.
Lalu giliran si Tony (ini tumben kelasnya si Sera isinya cowok semua). Dari tadi, bahkan sebelum gurunya menghampiri, Tony sudah sibuk berbicara mengomentari berbagai hal. Ibu guru sampai beberapa kali mengingatkan agar ia memberi kesempatan temannya berbicara. Dan saat tiba gilirannya untuk menjawab, alih- alih menjawab Tony malah sibuk mengecepret soal sepatunya.
Kelas musik selama 45 menit itu memberi kesempatan para orang tua berbangga hati melihat anak mereka yang sekarang berani untuk maju dan menyanyi dengan mikrofon mainan atau justru menyiksa batin dengan pertanyaan "Ni anak gue kenapa penakut sekali sih? Satu- satunya yang masih nggak berani ke depan sendirian hanya sekedar untuk distempel tangannya..." saat si anak menjadi satu satunya anak yang tidak berani meninggalkan pangkuan emaknya.
Ada anak yang bawel ngecepret akan segala hal sepanjang kelas seperti si Toni, ada anak yang berani maju ke depan tapi tertunduk membisu saat ditanya guru seperti Sera, ada anak yang menolak meninggalkan pangkuan ibunya dan menyembunyikan muka seperti Jesica, ada anak yang menolak ikut serta dalam berbagai aktivitas dan hanya menatap dengan cemberut, ada anak yang dengan pede menyanyi dengan suara keras tapi nadanya amat sangat meleset dan tak sesuai musik, ada anak yang tersenyum- senyum setiap ditanya apapun tetapi patuh saat diperintahkan diam tak bergerak.
Dari belasan anak balita ini, mana yang normal dan mana yang tidak normal? Mana yang perkembangannya terganggu? Mana yang membutuhkan terapi khusus?
Karena saya sudah mengikuti kelas menyanyi ini selama berabad- abad, saya mempunyai pengalaman akan berbagai tingkah polah para balita. Saya menyaksikan sendiri bagaimana Sera di term pertama menolak meninggalkan pangkuan saya dan ketakutan saat gurunya mendekatinya dan memintanya berdiri untuk bernyanyi bersama si lebah. Di term ketiga, Sera sudah mulai berani, emaknya sudah tidak perlu ikut maju lagi duduk di depan bersamanya, tetapi kesulitan yang lain timbul. Ibu guru sering menaruh instrumen seperti gendang kecil berwarna- warni di depan Sera, tetapi semua anak harus menunggu hingga ada perintah untuk mengambilnya dan menggoyang- goyangkan. Ohoho, sabar menunggu bukanlah takdir Yang Mulia Sera. Marahlah dia dan menjerit- jerit karena dilarang menyentuh instrumen unyu di hadapannya. Dan bad mood lah dia sepanjang kelas.
Kemudian perlahan- lahan, dengan emaknya berjuang menahan malu karena balitanya paling tidak sabaran sementara balita lain dengan tenang menunggu perintah untuk memungut gendangnya, akhirnya Sera mulai mengerti bahwa ia harus sabar menunggu. Setiap hal ada waktunya. Dan kemudian masalah selanjutnya muncul saat bu guru menjejerkan dua instrumen dan kemudian para balita harus memainkan kedua instrumen itu bergantian sesuai perintah. Berganti- ganti instrumen? Tentu saja Sera yang tidak sabaran merasa frustasi, dan terakhirnya mogok tak mau menari.
Saya mengalami masa dimana Sera sama sekali tidak mau beranjak dari pangkuan, kemudian masa dimana Sera mulai berani maju mengambil krincingan, tapi tidak berani bergandengan tangan dengan bu guru untuk berjalan mengelilingi kelas. And so on and so on.
Kelas musiknya Sera itu seperti skala kecil dari kehidupan. Meskipun tingkahnya, keberaniannya, kemampuannya bermacam- macam, sebetulnya sebagian besar dari anak balita itu menurut perasaan saya masih masuk dalam skala normal. Memang si Jesica tidak mau meninggalkan pangkuan emaknya, tetapi bagi saya dia hanya butuh waktu lebih lama untuk menjadi berani dibandingkan si Toni. Memang si Sera masih menolak menjawab pertanyaan bu guru, tetapi itu juga hanya masalah keberanian, karena saya tahu sebetulnya Sera mengerti apa yang dimaksud gurunya. Memang ada anak yang menolak berperan serta dan hanya duduk dengan cemberut, tetapi bagi saya sih dia hanya kebetulan memang tidak dikaruniai 'cheeky bubbly personality' atau kebetulan kelas musik ini tidak sesuai minatnya.
Tetapi tentu, saya menilai normal tidaknya seorang anak hanya berdasar pengalaman dan intuisi saya. Kalau kebetulan polanya sama dengan yang pernah saya alami dengan Sera, saya bisa lebih pede berkata bahwa Jesica normal kok, hanya ya memang dia butuh waktu lama untuk merasa nyaman dikelilingi orang asing (karena Sera juga persis seperti itu). Tetapi kalau misalnya saya ditanya apakah si Toni yang ngoceh melulu tanpa henti atau si Jack yang selalu tersenyum itu normal atau tidak, ya sebetulnya sih saya tidak tahu pasti. Walau intuisi saya berkata mereka normal saja, hanya mungkin si Toni terinfeksi DNA burung beo, tapi saya sadar bahwa bukan kapabilitas saya untuk menilai apakah mereka normal. Saya tidak memiliki pengetahuan tentang itu.
Dan saya sudah belajar bahwa saya harus sangat berhati- hati menanggapi pertanyaan seorang emak yang ingin berbagi cerita dan bertanya apakah anaknya normal. Tetangga belakang rumah saya mempunyai anak laki- laki kecil berusia lima tahun. Selama lima tahun kehidupannya, si anak adalah anak yang nakal, suka membantah, tidak mau menuruti perintah orang tuanya, dan menjerit- jerit kalau keinginannya tidak dipenuhi. Wajar nggak sih, namanya juga anak cowok. Dan itu juga anggapan orang tuanya dan semua orang yang mereka mintai pendapat. Ya namanya juga anak cowok, anak satu- satunya lagi. Dan ternyata, setelah akhirnya mereka berkonsultasi dengan dokter, setelah melewati rangkaian pemeriksaan, si anak diketahui mempunyai autisme yang ringan. Tidak ada yang akan menduga, wong dia bukannya menunjukkan kelakuan 'standar' penderita autis. Karena sangat ringan, manifestasinya hanya ketidakmampuannya mematuhi perintah. Bagi orang awam, dia hanyalah anak yang sangat nakal. Hayo, bagaimana kalau saya waktu itu dengan sok tahu memberi pendapat "Ah dia hanya nakal aja. Kamu harus lebih tegas saja memarahinya!" Padahal si bocah tidak memiliki kemampuan memahami perintah.....
Atau suatu artikel menceritakan seorang ibu yang menemui kenyataan bahwa suatu hari, anaknya mulai bersikap berbeda. Selalu mengucapkan terima kasih dan please all the time. Selalu minta maaf untuk hal- hal yang sangat sepele. Sering sekali mencuci tangannya, sementara anak lain harus bersusah payah disuruh mencuci tangan. Tidak ada orang lain yang menyadari, tetapi si ibu melihat semakin lama si anak semakin menjadi- jadi. Mencuci tangan hingga kulitnya merah dan semakin mudah gugup dan meminta maaf. Dan akhirnya memutuskan membawa si anak ke dokter, mengabaikan pendapat saudara- saudaranya yang menganggap biasa kelakuan si anak. Ternyata, si anak mengalami Obsessive Compulsive Disorder dan batinnya pun sudah sangat tersiksa karena ia merasa selalu kurang bersih, selalu kurang sempurna dalam segala hal (itu kenapa ia terus berucap maaf).
Sebaliknya, saya juga pernah menjadi korban akibat seseorang berkata bahwa anak saya 'kurang' dibanding anak lain. Saya tahu bagaimana sakitnya hal itu. Kalau anda ingat dengan childcare pertama yang saya coba untuk Sera, dan kemudian setelah dua kali percobaan, karena Sera menangis menjerit- jerit histeris tiada henti, pengurus childcare berkata bahwa Sera masih 'belum layak' dititipkan. Cara si pengurus menyampaikannya, membuat saya yakin bahwa ada yang tidak beres dengan anak saya. Baru saja minggu kemarin saya ngobrol dengan seorang ibu lain, dan ternyata ia pernah mempunyai masalah yang sama dengan anak balitanya. Dia bercerita bahwa ia pun harus mengeluarkan anaknya dari childcare, tetapi dia tidak menjadi gundah seperti saya karena pengurus childcarenya berkata bahwa memang masa paling parah untuk mulai memasukkan anak ke childcare adalah pada usia menjelang dua tahun. Mereka baru mulai mengenal rasa takut tetapi belum mempunyai kemandirian dan keberanian. Jadi memang harusnya masuk ke childcare itu dimulai sebelum usia satu tahun atau sekalian nanti menjelang usia tiga tahun. Darn!
Menjadi seorang ibu memberi saya pengalaman dan intuisi untuk menilai apakah perilaku seorang anak itu masih normal atau membutuhkan intervensi khusus. Tetapi sebagai orang awam, saya tidak memiliki pengetahuan medis untuk membuat diagnosa yang pasti. Jadi saat seorang saudara bertanya apakah anaknya yang sudah berusia dua tahun sama sekali belum bisa bicara dan hanya bisa menyebut mama dan papa, dari pengalaman saya menduga bahwa anaknya sih normal- normal saja, hanya kurang rangsangan (sehari- harian sampai malam hanya di rumah bersama pembantu yang jelas saja tidak peduli untuk mengajak ngobrol si anak). Tetapi saya tidak mau gegabah berkata bahwa si anak normal- normal saja. Lha saya kan bukan dokter? Jadi saya berkata bahwa dari PENGALAMAN saya dengan Sera, biasanya terlambat bicara itu karena kurang rangsangan, kebanyakan nonton TV dan rumahnya sepi nggak ada suara. Jadi mungkin kamu harus cari info cara bagaimana untuk merangsang anak bicara. Dan setiap anak memang memiliki 'waktunya' sendiri, seperti si Sera yang diam membisu dan tiba- tiba di suatu hari langsung ngecepret tanpa henti. Selama ini dia menyerap kata dan kalimat, tetapi tidak mengucapkannya hingga ia sendiri merasa waktunya sudah tiba. Tetapi, nggak ada salahnya berkonsultasi ke dokter anak, mungkin si balita membutuhkan tehnik khusus atau dokter punya saran yang tepat.
Dari PENGALAMAN saya, mayoritas kekuatiran yang saya rasakan tentang anak saya sih sebetulnya tidak beralasan. Dia hanya berbeda dari anak lain. Tetapi, tidak ada salahnya mencari info, googling mengenai kekuatiran saya. Dan jelas tidak ada salahnya mencari pendapat ahlinya, agar kita bisa memahami anak kita dan kebutuhan khususnya. Dan yang tak kalah pentingnya, berhati- hatilah memberi pendapat mengenai anak orang lain. Saya sih tidak ingin bertanggung jawab karena sudah memberikan info yang ternyata salah. Saya bilang normal, ternyata anaknya orang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan membutuhkan terapi khusus.
| Bukan masalah normal atau enggak, tapi mencari metode yang paling sesuai untuk setiap anak |
| Fashionable dan serakah memaksa membawa semua tasnya memang beda tipis |
Note: sibuk menjadi buruh dan murid, saya hanya bisa membuat note setiap dua minggu sekali.... Mohon dimaafkeun....
normal tidaknya pakai parameter diri sendiri aja bos, kan ada kromosom si bos juga.
ReplyDeletebersyukurlah, kromosom si okhi belum menguat.
bisa teriak2 ga jelas di kelas.
tapi ya itu bisa dibilang normal juga, karena mirip okhi.