Monday 11 February 2013

My Monday Note -- Mau Jadi Ani atau Ana?

"Suami kamu dan anak laki- laki kamu menunggui kamu kuliah dari mulai jam satu tadi?" tanya saya tak percaya pada Lin, teman sekelas saya yang merupakan seorang imigran asal Shanghai.

Lin mengangguk mengiyakan sembari menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain. Jadwal kuliah setiap hari kamis dimulai jam satu siang dan berakhir jam sembilan malam. Lin tinggal di bagian lain kota (kampus berlokasi di daerah timur dan rumahnya si Lin di daerah barat) dan ia menggunakan kendaraan umum. Harus berganti- ganti kendaraan umum termasuk bis di malam hari, daerah rumahnya tidak terlalu aman dan ia tidak terlalu mahir berbahasa Inggris, jadilah suaminya harus ikut mengantar jemput dirinya. Dan karena tidak ada orang lain yang bisa menjaga anak mereka, terpaksalah si anak ikut. Dan kemudian bapak dan anak berdua duduk menunggui istri dan ibu mereka hingga kuliah selesai.

Dan setelah berbincang- bincang lebih lama, saya tahu bahwa suaminya saat ini tidak bisa bekerja karena cedera tulang belakang. Lin sangat membutuhkan pekerjaan. Ia juga ingin pindah dari flat tempatnya mengontrak sekarang, karena lingkungannya tidak aman, sekolah publiknya jelek dan lokasinya jauh sekali dari kampusnya. "At least kamu dulu kan apoteker di Cina dan sempat kerja di rumah sakit. Jadi kursus ini gampang dong buat kamu," komentar saya. Note: saya saat ini mengambil kursus untuk menjadi asisten apoteker dan si Lin berkata dia dulu bekerja di ICU rumah sakit di Cina sebagai apoteker.

"Um, tapi kan dulu aku baca resep dalam aksara Cina. Bukan bahasa Inggris. Jadi susah sekali bagiku mengerti resep yang ditulis dalam aksara Latin." Uh oh.


Menggeleng- gelengkan kepala, saya membandingkannya dengan kondisi saya. Tentu saya juga mengalami kepuyengan terkait masalah kuliah ini. Harus membagi jadwal dengan si Okhi masalah menjemput Sera, harus deg- degan di hari pertama apakah bisa mendapat tempat parkir murah yang terbatas jumlahnya, harus bersusah payah menyiapkan segala tetek bengek makanan dan bekal pagi- pagi dan sebagainya. Tetapi, rumah saya hanya berjarak lima belas menit dari kampus. Saya menyetir mobil sedan honda saya, bukannya naik trem atau bis. Sera aman di childcare, tidak perlu ikut duduk menunggui emaknya di kampus. Paling- paling hanya menangis saat dijemput bapaknya, yang membuat si Okhi diminta memperlihatkan SIMnya karena dicurigai sebagai penculik anak.

Menjadi seorang imigran di Australia, saya merasakan betapa susahnya untuk mulai berkarir lagi. Ya terkait masalah karena saya sudah punya anak, juga terkait karena ijazah saya tidak diakui disini. Jadilah saya harus mengambil sertifikat lagi untuk sekedar menjadi asisten apoteker. Dan, mata saya terbuka oleh betapa berbedanya modal dasar yang dimiliki masing- masing orang, akibat situasi hidup yang berbeda. Secara garis besar, para imigran di kelas saya bisa dibedakan menjadi tiga jenis:

1. Imigran generasi pertama- unprofesional seperti si Lin. Baik si Lin dan suaminya adalah kelas blue collar, karena dulu mereka bermigrasi ke Australia tidak melalui jalur profesi profesional. Suami Lin dulu bekerja sebagai dental assistance sebelum cedera, dan sekarang Lin harus mengambil sertifikat agar bisa bekerja sebagai asisten apoteker. Kehidupan mereka keras, rumah masih mengontrak flat kecil dan kemana- mana harus naik kereta api di tengah udara malam Melbourne yang bisa mencapai 2 derajat celcius. Bahkan setelah 10 tahun menetap di Melbourne, mereka tidak bermimpi bisa membeli rumah mereka sendiri. Sekedar mencoba pindah kontrakan ke daerah yang lebih dekat kampus saja susah, karena income yang sedikit membuat para pemilik rumah enggan mengontrakkan rumah ke mereka. Tidak pernah Lin membeli makan siang di kantin. Bahasa Inggrisnya amburadul hingga seringkali ia menyontek garapan saya.

2. Imigran generasi pertama - profesional seperti saya dan Okhi. Karena si Okhi bermigrasi melalui jalur profesional, maka ia bisa mendapatkan pekerjaan white collar berpenghasilan di atas rata- rata. Okhi tidak harus bersusah payah sekolah lagi untuk mendapatkan pekerjaannya dan meskipun ke kantor dengan kaos oblong dan sepatu keds, dia tidak memiliki jadwal makan siang yang waktunya dihitung ketat ala blue collar, half an hour unpaid lunch time. Hanya dengan si Okhi yang bekerja, kami sudah bisa hidup dengan layak walau tidak mewah. Hanya, demi bisa membeli rumah dan menambah penghasilan untuk membayar aneka kelas musik dan renangnya si Sera, saya harus bekerja (karena hidup pas- pasan itu hanya romantis di telenovela). Berusaha untuk bekerja lagi, saya harus berjuang juga. Mengambil sertifikat lagi yang harganya tidak murah juga, dan harus pusing memikirkan Sera. Mencoba menata karir sembari membesarkan sendiri anak itu sungguh tidak mudah. Saat Sera menolak masuk ke childcare, saya harus menunda semuanya. Saat Sera sudah bersedia dititipkan di childcare, saya harus pusing memikirkan siapa yang mengantar dan menjemput disaat jadwal kami berdua bentrok. Dan saat si Sera nggak enak badan, siapa yang harus membolos untuk menjaganya? Saya atau Okhi? Kami sudah mempunyai mobil dan mengontrak rumah di lingkungan suburb terbaik, tetapi tidak mudah juga untuk membeli rumah sendiri, karena uang kontrakan cukup mahal, jadi ya susah juga mau menabung demi bisa mengumpulkan uang muka.        

3. Imigran generasi kedua seperti seorang teman saya sebut saja bernama Ana. Emak bapaknya ada disini, dan selagi ia mengambil sertifikatnya, dia bisa tinggal menumpang di rumah orang tuanya tanpa harus membayar sewa. Saat jadwal kuliahnya tidak sesuai dengan jadwal childcare, dia bisa menitipkan anaknya ke si nenek, begitu juga bila si balita sakit. Sudah tinggal di Australia sejak kecil, bahasa Inggrisnya tentu sudah sefasih orang lokal. It's not an issue at all.

Baik saya, si Lin dan Ana, kami semua memiliki modal dasar kami masing- masing, terkait dengan latar belakang kami. Secara logika, tentu si Ana adalah yang paling mudah untuk bisa berhasil dalam menata hidupnya, dia yang akan paling mudah untuk membeli rumah dan berkarir. Dan itulah yang dia lakukan. Ana bercerita bahwa dia sudah merencanakan akan membeli rumah setelah dia menyandang sertifikat dibidang children service. Dia berencana membuka family daycare, dimana dia akan tinggal di rumah dan membuka penitipan bagi delapan anak setiap harinya. Ana sudah mensurvey lingkungan mana yang cukup potensial untuknya membangun bisnis kecilnya, kira- kira perlengkapan apa yang harus dibelinya dan lain sebagainya. Setelah terkumpul cukup modal, si Ana berencana membuat childcare yang sesungguhnya, bisnis yang sangat menguntungkan di Australia tapi butuh modal besar. Dan dia memiliki emaknya dan adiknya yang akan ikut membantu memulai bisnis itu.

Saya sih kebetulan bukan penggemar anak- anak, jadi memang sampai kiamat saya tidak bakalan membuka penitipan anak. Hanya bila misalnya saya yang saat ini mengambil sertifikat children service, mungkin saya tidak bisa berharap akan sanggup membuka family daycare saya dalam waktu dekat. Saya tidak punya modal untuk saat ini. Nanti, setelah beberapa tahun, baru mungkin saya akan bisa membuka family daycare saya. Sementara si Lin, mungkin selama puluhan tahun kedepan dia akan sekedar menjadi pegawai di childcare, karena semua penghasilannya akan habis untuk membiayai kebutuhan hidup sehari- hari. Dia akan bisa hidup dengan layak, tetapi baru belasan tahun lagi ia akan mampu membeli rumahnya sendiri.

Namanya manusia, tentu saja saya adalah makhluk pengiri dan pendengki. Sering saya berkata ke Okhi, kalau saja kami tidak harus membayar sewa rumah, wah dalam waktu singkat kami akan membeli rumah dan memulai bisnis seperti Ana. "Kalau saja kita kayak si Ana, yang nggak harus bayar sewa, nggak harus bingung ngatur jadwal anak, wah bakalan cepet sekali ya kita mapan." ujar saya ke si Okhi.

Tetapi tentu saja, meskipun seharusnya para Ana adalah mereka yang paling sukses dalam hidup, dengan modal dasar nan melimpah yang mereka punyai, toh tidak selalu demikian kejadiannya. Sementara dengan semua keterbatasan saya dalam berusaha berkarir, toh saya sudah mulai menapakinya. Saya sudah memulai perjalanan mengambil sertifikat dan bahkan saat ini sudah nyambi bekerja jadi buruh untuk menambah penghasilan. akhir tahun ini, saya bisa berharap semoga sudah diterima bekerja di rumah sakit. Sementara seorang teman, sebut saja Ani, yang sudah tinggal disini sejak masa balita, yang orang tuanya tinggal disini, dan dia sudah bersekolah disini sejak SD, toh sampai sekarang juga masih begitu- begitu saja hidupnya. Dia baru mau mengambil sertifikat tahun depan, selama ini bekerja sebagai pelayan di restoran, dan tampaknya akan tetap tinggal di rumah orang tuanya selama waktu yang tidak ditentukan. Bukan, bukan saya menganggap rendah lulusan SMA yang bekerja sebagai pelayan di restoran, wong saya saja ya hanya memburuh kok saat ini. Hanya gemes nggak sih melihatnya, dengan berbagai modal yang dia miliki, toh si Ani hanya berada di level yang nggak jauh beda dengan saya. Toh dia tidak harus membayar sewa, tapi dia juga tidak mempunyai uang untuk membeli rumah. Toh dia sangat pintar berbahasa Inggris dan berijazah Australia, tetapi kenapa dia tidak mengambil sertifikat dari dulu- dulu atau kalau perlu ke universitas sekalian? Memang gelar sarjana bukan satu- satunya jalan menuju kesuksesan, tetapi kalau toh kamu punya kesempatan untuk itu dan kamu tidak memiliki angan- angan yang lain (daripada sekolah lama- lama, mending buka cafe saya aja ah!-- Itu sih oke banget) ya kenapa tidak kuliah sih? Kalau kamu punya segudang modal untuk bisa menjadi profesional bergaji tinggi, kenapa kamu memilih hanya menjadi pelayan restoran sih?

Selama ini, saya sendiri juga sudah menikmati betapa enaknya berasal dari latar belakang yang berkecukupan. Kalau saja orang tua saya tidak cukup kaya, mungkin saya tidak akan memiliki kesempatan kursus bahasa inggris sejak kecil. Mungkin sih saya akan tetap bisa berbahasa Inggris, tapi perjuangan saya pasti lebih berat, harus belajar sendiri dan sebagainya. Kalau dulu di Jakarta saya tidak mendapat hibah rumah dari emak bapak, mungkin kami tidak akan mempunyai cukup uang untuk membayar proses membuat visa ke Australia, yang bisa dibelikan satu buah mobil kijang. Dan kalau saja orang tua kami tidak bisa meminjami modal untuk biaya hidup di Australia sebelum Okhi mendapat pekerjaan, ya nggak tahu juga apakah kami akan berhasil pindah ke Australia (wong tabungan kami sudah terkuras habis selama proses mencari visa Permanent Resident). Kalau orang tua tidak membantu menambahi modal uang muka untuk membeli rumah, mungkin bakalan masih belasan tahun lagi saya dan Okhi bisa membeli rumah. Bayangkan, mengontrak rumah itu menghabiskan 1500 dolar per bulan sementara cicilan rumah berkisar di angka 2300 dolar per bulan. Eman banget kan membuang uang untuk mengontrak lama- lama? Tetapi ya itu tadi, tanpa ketersediaan bantuan uang muka, ya bakal lama sekali baru kami bisa mulai mencicil rumah.

Saya sendiri sudah merasakan betapa sengsaranya naik turun trem di malam hari karena kehabisan kereta. Sera tertidur di atas strolernya, tetapi kemudian Okhi terpaksa menggendongnya dan mendekap di balik jaketnya karena Sera menggeletar kedinginan di stroler. Berjalan kaki sejauh empat kilometer di kegelapan malam karena kehabisan bis sepulang dari kota. Well, saya tidak ingin mengulanginya dan saya tidak ingin Sera harus merasakannya. Itu sebabnya sebagai orang tua, rasanya menajdi tugas kita untuk berusaha sekuat tenaga menyediakan modal dasar bagi anak kita, agar ia tidak harus nelongso dan bisa segera beranjak terbang. Sementara saya harus merelakan bertahun- tahun hidup saya untuk mulai merangkak lagi dari dasar, saya berharap Sera bisa skip proses itu dan langsung berkibar menjadi CEO di perusahaan multinasional atau membuka bisnisnya sendiri. Sementara emaknya harus mengontrak rumah bertahun- tahun terlebih dulu, saya berharap Sera bisa langsung membeli rumahnya sendiri, sehingga uangnya bisa dia simpan untuk mengembangkan bisnisnya. Saat saya bertanya pada Lin, kenapa ia tidak kembali saja ke Cina karena disana toh ia punya saudara dan bisa bekerja sebagai apoteker (hidup tidaklah harus sekeras di sini dengan kondisi mereka sekarang), Lin dengan bijak menjawab "Saya bertahan disini demi anak saya. Meskipun kami sengsara sekarang, saya tahu ia akan bisa mendapatkan pendidikan yang baik disini dan nantinya akan bisa hidup dengan makmur.Peluang akan terbuka lebar buat anak saya."

Kebanyakan orang tua, termasuk saya, akan mengamini jawaban Lin. Kita rela bekerja keras dan jatuh bangun demi anak kita, agar ia memiliki kesempatan untuk berkembang dengan sempurna di amsa depan. Asalkan jangan lupa, meskipun kita bisa menyediakan modal apapun yang dibutuhkan anak kita, tugas kita juga untuk memastikan apakah ia kelak akan menjadi seperti Ana atau Ani.
 
   
Harapan emaknya, semoga Sera langsung bisa menajdi chef dan memiliki restoran sendiri


















No comments:

Post a Comment