Monday 25 March 2013

My Monday Note -- Batu Sandungan Bagi Sesama

Sedang chatting dengan seorang sahabat yang hendak pulang kampung ke Indonesia, dan saya berniat titip beberapa barang saat ia nanti kembali ke Melbourne. "Meg, jangan bilang siapa- siapa ya kalau gue mau pulang kampung, jangan pasang status segala di FB," pesannya.

"Kenapa? Takut dikejar- kejar debt collector?" komentar saya.

"Enggak. aku ini lagi nggak sempat beli oleh- oleh untuk semua orang. Lagi repot. Jadi aku nggak mau banyak orang tahu aku pulkam. Entar ditagihin oleh- oleh melulu, bingung aku."

Alasan yang lucu. Tetapi believe it or not, itu bukan pertama kalinya saya mendengar komentar senada. Beberapa orang berusaha tidak menggembar- gemborkan kepulangannya, keep it as quiet as possible for the sake of keeping away urusan suvenir dan oleh- oleh. Yang lainnya lebih concern ke masalah saya itu pingin istirahat, santai- santai di Indonesia. Seharian jalan- jalan ke mall cuci mata, berburu makanan kaki lima dan yang terpenting, bersantai- santai menikmati menjadi raja, with si embak doing all the dishes and ironing. Saya tidak ingin menghabiskan dua minggu waktu saya untuk menyambangi aneka saudara di antah berantah atau ikut arisan keluarga atau janjian sana sini bersama aneka teman yang bergairah ingin mengajak bertemu si perantau mumpung sedang pulang kampung (padahal saat masih sama- sama tinggal di Jakarta, kok ya nggak pada ngajak ketemuan).

Dan ternyata itu bukan hanya kebiasaan di Indonesia lho. Seorang teman buruh saya yang asal Fiji bercerita, sejak membeli tiket untuk pulang kampung, tiada henti sms dan telepon yang diterimanya, yang berpesan agar dibelikan baju lah, jaket lah, dan terakhir "Aku kan terbang besok, nah tadi pagi ada yang telepon dan minta dicarikan sepatu! Lha kapan aku mencarinya? Kan hari ini seharian aku kerja, dan toko disini tutup jam enam sore?" Kami semua terkekeh.

Dan bahkan untuk seorang berhati tegaan seperti saya dan si Okhi pun, kami pun terkadang 'menyerah' akan desakan sosial, dan memilih untuk... menghindar saja. Suatu kali, Okhi berjanji untuk bertemu dengan beberapa bekas teman sekantornya. Tak terucappun Okhi tahu, dia diharapkan mentraktir mereka, dan he didn't mind. Walau sebetulnya tidak ada hukumnya juga bila sekelompok teman bertemu, maka yang harus bear the cost adalah yang kebetulan menjadi TKI. Beberapa hari sebelum acara, si teman menghubungi Okhi dan memberitakan bahwa ia sudah mengundang semua orang satu bagian. Wat te fuk? "Aku lho bahkan nggak kenal baik siapa orang- orang itu! Kenapa aku harus membuang waktu dan uang mentraktir orang- orang yang bahkan nggak kenal langsung sama aku?"

Sayapun, pernah akhirnya menolak ajakan ke bekas kantor saya, semata karena I don't have time (and money) untuk blusukan berpikir membelikan berbagai suvenir untuk semua orang sekantor! Untuk yang satu divisi, kaos. Yang satu lantai tapi beda divisi? Gantungan kunci. Yang dulu sering berhubungan dan membantu? Dompet. Halah. Pusing otak saya. Daripada saya dirasani dibilang pelit (kekhawatiran yang mungkin tidak berdasar sih), mending saya nggak datang sajalah.

Nah, gara- gara 'reuni' dan oleh- oleh serta traktiran itu seolah satu paket, jadinya saya memilih untuk ya sudahlah tidak usah saja bertemu dengan mereka, karena kebetulan saya tidak sanggup menyediakan 'paket sampingan itu.' What a pity....

Walaupun sedikit menyedihkan, kehilangan kesempatan bereuni dengan bekas teman lama itu masih tidak ada apa- apanya dibandingkan dengan kisah seorang teman saya ini. Suatu kali, kami sedang ngobrol dan ia bercerita bahwa ia baru saja bergabung dengan suatu kelompok pengajian dan ia sebetulnya sangat menikmati kajian materinya. Tetapi setelah dua bulan bergabung, akhirnya ia memilih mengundurkan diri. Alasannya sih karena kebetulan jadwalnya berbenturan dengan jadwal kerjanya, tetapi alasan sebenarnya adalah dia tidak sanggup mengikuti 'gaya' kelompok pengajian itu. Bukan, bukannya kelompok ini bergaya mewah, hanya setiap pengajian yang diikuti sekitar 50 orang, maka tuan rumah akan menyediakan konsumsinya, makan malam dan sedikit kue- kue. Biasa saja kan? Tetapi itu ternyata sangat membebani teman saya. Saya tidak bertanya kenapa dia keberatan (apa karena biaya atau kerepotan memasaknya), tetapi ya gara- gara soal konsumsi, jadilah ia mengundurkan diri. 

Mungkin anda berpikir, kenapa teman saya itu tidak berkata terus terang saja kalau ia tidak mampu menyediakan konsumsi dan tetap mengikuti pengajian? Toh rekan- rekan pengajiannya pasti orang yang penuh pengertian? Karena my friend, tidak ada orang yang ingin mengaku bahwa ia terlalu miskin atau terlalu terbatas kemampuannya untuk sekedar menyediakan konsumsi yang hanya setiap tiga bulan sekali. 

Disini, saya mempunyai semacam kelompok kecil ibu- ibu yang secara random saja mengadakan pertemuan, ngobrol- ngobrol dan sedikit membahas alkitab. Suatau kali, kami berkumpul di rumah seorang ibu senior yang biasanya sangat sibuk bekerja. Mungkin karena soo excited akhirnya beliau bisa menjadi tuan rumah acara- kumpul- kumpul, jadilah hidangan makan siang yang disajikan membuat mata kami semua terbelalak. Ebuset, ini mau ngerumpi atau pesta pertunangan? Semua berjalan dengan biasa, dan kami semua bergembira ria. 

Keesokan harinya (saya agak lupa detilnya), saya semobil dengan si ibu karena kami hendak pergi entah kemana. Beliau bercerita bahwa ia 'ditegur' oleh suaminya. "Bapak kemarin menegur Ibu. Bapak bilang, kalau Ibu menyediakan makanannya seheboh itu, nanti akan membuat yang lain yang akan jadi tuan rumah akan merasa terbebani, merasa harus menyediakan hidangan yang setara. Padahal kemarin sih Ibu masak heboh karena Ibu itu histeris karena akhirnya bisa ikut kalian kumpul- kumpul."     

Mendengar pengakuan si Ibu, saya jadi berpikir "Iya ya, kemarin aku juga sempat terlintas berpikir, wah, kalau harus menyediakan hidangan lengkap seperti itu sih ya repot juga nih..." Masalahnya kondisi para peserta rumpi ini sangat beragam, mulai dari mahasiswa beasiswa, emak- emak beranak balita tanpa kemampuan memasak (not me) hingga para tetua yang punya kafe dan sudah biasa membuat masakan berskala besar. Dan selama ini, kami terbiasa tidak terlalu berpikir soal konsumsi, sekedar membuat sop atau ayam goreng, satu atau dua macam lauk makan siang yang normal saja sebagai konsumsi. 

Iya, saya tahu secara logika ya sudah kita menyediakan sesuai kemampuan kita sajalah. Tidak harus mengikuti orang lain yang sudah mapan, punya dapur luas dan pintar memasak. Tetapi, tidak semua orang mempunyai 'ketegaran hati' untuk bersedia berbeda dari orang lain. Kalau saya tidak bisa mengikuti gaya kelompok itu, ya saya akan menyingkir saja. 

Tidak percaya bahwa masalah sepele semacam konsumsi bisa menjadi batu sandungan? Suatu kali, rumah bapak saya di Jakarta kebagian giliran menjadi tuan rumah untuk acara doa lingkungan. Itu untuk pertama kalinya rumah bapak dipakai, dan emak (yang berdomisili di Surabaya) menelpon seksi konsumsi lingkungan, bertanya apa saja yang harus disediakan emak untuk acara doa. "Saya harus buat berapa porsi makan malam? Lalu biasanya ada minuman apa?"

Jawaban si ibu konsumsi membuat semua tercengang. "Ibu tidak usah menyediakan apapun! Sama sekali tidak usah! Cukup menyediakan rumah. Lingkungan yang akan menyediakan konsumsinya."

Tergagap- gagap emak saya bertanya "Apa saya menyediakan kuenya? Atau es buah?"

Si ibu dari seksi konsumsi dengan tegas menampik tawaran emak saya. Semua akan disediakan oleh lingkungan. Dan tentu saja saat acara doa berlangsung, makanan yang terhidang terbilang sederhana walau berkecukupan. Kenapa si ibu konsumsi tegas melarang emak saya menyediakan konsumsi? Alasannya adalah karena lingkungan kami itu sangat beragam. Sebagian adalah rumah gedongan di kavling real estate dan sebagian lagi kampung- kampung kecil. "Bagi orang- orang yang rumahnya sempit, bersedia ditempatin waktu berdoa saja sudah beban berat Bu, banyak yang menolak karena minder rumahnya sempit. Jadi kami harus sibuk membujuk- bujuk agar semua umat bersedia. Lha kalau konsumsi juga disediakan tuan rumah, wah tambah kelihatan perbedaan ekonomi masing- masing orang dan membuat beban berat bagi mereka yang tidak terlalu berada. Jadi kami memutuskan sudah untuk makanan kita pool saja, selalu seksi konsumsi yang menyediakan, biar selalu sama."  

Mendengar penuturan si ibu konsumsi, hati saya tersentuh. Rumah emak saya termasuk yang bagian rumah gedongan. Membuat konsumsi cukup mewah bagi 50 orang? Kecil. Pembantu kami saja tiga. Tetapi pernahkah saya menyadari, bahwa mungkin memasuki halaman rumah kami yang asri, duduk di lantai rumah kami yang mengkilat dengan lampu kristal bergelantungan, adalah suatu beban yang berat bagi sesama kami (walau tiap memandang si lampu kristal saya hanya menggerutu gimana juga ini caranya mbersiin debunya? Kenapa kagak pake lampu neon aja sih?). Harta benda dan kedudukan kami ternyata bisa menjadi batu sandungan, tanpa sadar menghalangi sesama kami dalam berdoa dan memuji Tuhan. Mungkin memasuki rumah kami yang luas, banyak orang akan dengan minder membandingkannya dengan rumah mereka yang serupa rumah petak. Dan membuat mereka berpikir "Rumah seperti inilah yang layak untuk doa bersama, bukan rumah saya yang sumpek." 

Mungkin maksud hati saya menyediakan makanan lengkap karena toh saya mampu dan ingin berbagi kebahagiaan dan berkat bagi sesama, tetapi jangan- jangan bagi sesama saya, justru kemewahan itulah yang membuatnya merasa berbeda dan rendah diri. Kalaupun kebelet banget ingin berbuat lebih, ya kenapa tidak sukarela membawakan kue atau tumpeng setiap pertemuan di rumah orang lain? Hanya mau berbuat lebih saat menjadi tuan rumah? Ente mau berbagi berkat atau pamer berkat sih sebenarnya?

Jadi next time anda ingin membuat reuni atau pengajian atau doa bersama atau apalah acara kumpul- kumpul, it is wise to make sure bahwa kira- kira tidak ada satu orangpun yang akan terbebani dengan pernak- pernik yang sebetulnya hanya tambahan dari acara intinya, yang jadinya malah menghalangi mereka mendapatkan tujuan inti acara; silaturahmi atau memuji Tuhan. Seharusnya semua pernak- pernik direncanakan dengan mempertimbangkan bahwa orang paling kurang mampu, orang yang paling sibuk atau orang yang paling kecil dapurnya dan hanya punya satu panci mampu untuk menyediakannya. 

Kita sungguh tidak ingin kan bahwa hanya sekedar kue lumpur 100 biji, menjadikan seseorang merasa tidak layak ikut berkumpul untuk memuji nama Yang Maha Kuasa? 

Note: itu pula alasannya saya sekarang selalu memastikan bahwa pesta ultah Sera misalnya, akan saya rayakan sesuai dengan kebiasaan di tempat itu. Jangan sampai saya membuatkan pesta amat mewah yang membuat seorang anak lain menjadi minder akan pestanya yang sederhana. 

Kalau ada acara kumpul- kumpul dimana ada keharusan membuat konsumsi lumpia, saya kibar bendera putih @_@     




Monday 18 March 2013

My Monday Note : Cerita Serafim

Selama dua tahun, My Monday Note sudah menjadi my sanctuary, tempat pelampiasan atas segala hal yang dilemparkan kehidupan kepada saya. I love this blog and will keep posting since my life isn't going to over yet hopefully) for the next few years.

However, sementara saya senang menuangkan apapun yang ada di pikiran saya, pandangan dan pendapat akan berbagai peristiwa dan manusia yang saya temui, sudah beberapa saat lamanya saya tuh pingin menuliskan tentang hal- hal sederhana nggak penting nggak heroik yang saya alami sehari- hari. Semacam buku harian tentang hidup saya. Saya meletakkannya di blog ini

http://ceritaserafim.blogspot.com/

Kenapa harus dinamai Cerita Serafim? Karena for unknown reason, mayoritas cerita saya selalu terkait dengan si makhluk 90 senti penggemar sushi dan telor ceplok. Dan karena hidup seorang buruh itu jelas tidak santai dan mudah, saya hanya bisa menuliskan pengalaman saya seminggu sekali, setiap hari Senin juga, berselang- seling dengan My Monday Note.

Thank you for reading my blog. It is my sanctuary, and I'm so flattered that you guys meluangkan waktu untuk membukanya :D.

This is my first diary. It may not be important for world, but this is one fine experience for me

http://ceritaserafim.blogspot.com.au/2013/03/seras-tale-piknik-singkat-di-tengah.html

Monday 11 March 2013

My Monday Note -- Menjadi Orang Tua Tanpa Selera Humor? Seperti Menjadi Akuntan Tanpa Kemampuan Berhitung


"Sera is coloring her lips!" teriak Mia, seorang gadis cilik teman sekelas Sera di kinder saat saya menjemput Sera di suatu sore.

"No she didn't!" sanggah seorang anak lain yang lebih tua, dengan tubuh jangkung dan aura berkuasa. "She fell and hurt her lips!"

Dan kemudian si anak jangkung menengadahkan wajah Sera dan berkata "Look! She's hurt!"

Dikerubungi anak lain yang sibuk memperhatikan bibirnya dan memberi statemen- statemen medis, bibir Sera mulai meliuk- liuk, matanya mulai berkaca- kaca dan dengan suara pilu berkata "I hurt, mama...."

"Mana yang luka?" tanya saya sambil memperhatikan bibirnya. "Here..." jawab Sera sabil menangis tersedu dan menunjuk bibirnya. Ada bekas luka kecil di bibir bawahnya. Yap, luka di bibir memang biasanya membuat darah mengucur cukup banyak, membuat si luka tampak lebih dramatis dari kondisi sebenarnya. Luka Sera kecil saja, hanya lecet sedikit. Tapi saya membayangkan si luka kecil ini pasti memberikan sensasi dramatis di kinder tadi pagi.

"You're alright," kata saya menenangkan sambil menepuk- nepuk kepala Sera. Dan kemudian beranjak mencari pengasuhnya. Doris, pengasuhnya Sera, menceritakan bahwa tadi Sera terjerembab tali sepatunya yang terlepas. "Maaf, mungkin aku kurang kencang menalikannya," kata Doris. 

"Nah, no worries," jawab saya sambil mengibaskan tangan. "I figure that if Sera is alive when I pick her up, you've done your job wonderfully."

Doris tertawa. Sebelum mempunyai anak, saya membayangkan menjadi orang tua yang baik berarti di sore hari, Sera sudah rapi, wangi sehabis mandi, dengan baju yang manis dan mungkin pita berbunga di rambutnya. Seharian itu saya sudah membacakannya aneka buku cerita yang akan mengembangkan kemampuannya, mengajaknya bermain puzzle dan menggulung playdough membuat aneka cetakan dinosaurus. Mungkin saya juga akan mengajaknya memanggang cupcake- cupcake mini dan gingerbread man seperti di buku "Cooking with little kids" dimana Sera memakai topi koki kecil dan celemek unyu bergambar burung hantu. Saat si Okhi pulang, rumah sudah rapi mengkilat, setrikaan sudah selesai, dapur sudah berkilau, sepiring camilan sore sudah siap bersama dengan cupcake pink mini yang tadi saya buat bersama Sera.

Itu teorinya. Jam enam sore, saat Okhi pulang dari kerja, Sera masih akan berkeliaran dengan kaos singletnya yang bernoda selai cokelat dan celana dalam kedodoran favoritnya. Rambutnya masih berbau kecut dan hidungnya penuh bekas ingus. Saya sedang sibuk mengepel lantai rumah sambil menjelaskan bahwa  baru saja Sera memanggil "Mama..." sambil menatap saya dengan mata beloknya. Dua detik kemudian, syuuuurrrr, mengalirlah air dari balik celananya, menuruni kakinya dan menggenangi lantai. "Sowiiii Mama," kata Sera dengan raut tak peduli. "I wee wee..."

Sambil menghela nafas, saya mengangkat si bayi pesing ke kamar mandi dan membersihkannya. Melepas celananya dan merendamnya. Meraih paper towel dan mengeringkan lantai. "Nih Ser," kata saya mengangsurkan sehelai celana dalam. "Not this one! I want the pink one!"

"Yang pink masih dicuci ser," jawab saya.

"Mmmm, the green one then," jawab Sera.

"Lho, kenapa kok badannya Sera penuh corat coret gini?" tanya Okhi. "Kok nggak kamu larang?"
"Ini kenapa kertas kok berhamburan di ruang TV?"

Karena itu membuatnya diam barang sepuluh menit saja. Apapun yang membuat Sera nggak ngegerecokin emaknya yang lagi masak barang lima menit saja, be it! Toh badan penuh coretan tinta tinggal digosok waktu mandi. Toh kertas berhamburan tinggal dirapikan.

Dulu, menjadi orang tua yang baik berarti memberikan berbagai kegiatan stimulasi agar otak dan kemampuan Sera berkembang sempurna, menjaganya tetap bersih dan rapi, mengajaknya bercakap- cakap agar kemampuan berbahasanya meningkat sekaligus mengkilapkan rumah dan memasak ala Jamie Oliver. Sekarang,


Selama Sera masih hidup di sore hari dan rumah masih berdiri utuh, I've done a wonderful job.


Dan gara gara insiden tersandung tali sepatunya, akhirnya saya memutuskan bahwa Sera harus dibelikan sepatu tanpa tali yang modelnya ringkas dan nyaman. Plus sesuai dengan bentuk telapak kakinya Sera yang datar. Itu artinya satu, sepatu keds mahal. Karena saya sudah mencoba membeli berbagai sepatu unyu murah dan hanya berakhir dengan kekecewaan. Sera is very particular soal sepatu. Oke, demi mencoba mencari diskon, kami pergi ke DFO, semacam pusat grosir berjarak tiga perempat jam perjalanan dari rumah. Niat awal, membeli sepatu dengan warna netral, jadi meskipun harganya mahal, nggak rugi- rugi amat, masih bisa diwariskan ke adiknya Sera someday yang belum diketahui jenis kelaminnya) #kikir adalah nama tengah saya. 

"Wow, keren Ser!" ujar saya sembari menyorongkan sepatu Adidas warna merah bergambar kartun The Cars. Buatan Indonesia lagi itu sepatu keds.

"That's for boys!" jawab Sera tegas. Grrrr....

Karena bentuk si Nike tidak just do it dengan telapak kaki Sera yang meniru gen bapaknya, berkuku belah, kami menuju ke konter Puma. Sepatu keds kecil model Ferrari berwarna putih bergaris merah. "Aha, how about this one? Cantiiiiikkkkk," rayu saya.

"I want that one!" jawab Sera sembari menunjuk sepatu full pinky. Masalahnya, itu sepatu pre-walker untuk para bayi.

Dipaksa mencoba si sepatu merah, mengamuklah Sera. Akhirnya penjaga toko menemukan sepatu serupa tetapi dengan garis merah muda. "This is for girl!" kata saya sembari menyorongkan si sepatu.

"Nooooo!!!!! I want my sandals!" kata Sera sembari mendekap erat sepatu sandal pink blink blink murah meriah norak bututnya yang sudah siap hancur dalam hitungan hari.

"Ini sepatu paling pink yang ada Ser! Nggak ada sepatu yang pink semua kayak sandal norakmu!" kata saya dengan kesal. Sebentar lagi musim dingin, jadi tentu saja si sandal harus pensiun.

Dengan derai air mata, akhirnya terbelilah sepatu nomer 8. Dan tentu saja sejak saat itu Sera mencoba segala alasan untuk menolak memakai si sepatu. "This is not for girl!" kata Sera sembari melirik sepatu pink bertali blink- blink miliknya yang sudah membuatnya jatuh terjerembab di kinder.

"Tapi lihat, ada gambar harimau pink nya. Keren," rayu saya sembari menunjuk gambar si puma.

"I'm scared mama! Tiger bite me!" kata Sera mendengus.
"Enggak, ini harimau baik. Harimau pink!"
" This is too small. It's baby's shoes. It's for baby Sharon!" kata Sera menyebut nama adik sepupunya.

Sekarang, apa saja barang yang tidak berkenan bagi seleranya Sera, berarti punyanya baby Sharon atau baby Diego atau aneka bayi lainnya. "Ini sepatu Sera. Too big for baby Sharon," kata saya berkeras. Enak saja emaknya sudah mengeluarkan 50 dolar dan si kunyil menolak memakainya!

Membesarkan anak memang setengah kegembiraan dan setengahnya lagi perang gerilya.... 

Dan tentu saja tempat paling mengerikan dan mendebarkan adalah kolam renang. Hari Senin jam setengah sebelas siang. Kelas renang selama setengah jam. "I wanna swim with cow!" kata Sera. Jam sepuluh lebih lima menit dan si sapi haram jadah tidak terlihat dimanapun batang moncongnya. Mungkin seharusnya sekaranglah saat yang tepat untuk menasehati Sera soal betapa pentingnya merapikan mainannya sehabis bermain. Melirik jam tangan, saya memutuskan mengambil langkah yang lebih praktis. "Pak Sapi lagi berlibur Ser. Jadi sekarang giliran kuda berenang."

"Cow is going to Yangma's house?" tanya Sera.

"Iya," jawab saya mantap. Biarlah saya menanggung resiko berdosa karena membohongi anak balita.

Dan di kolam renang, Sera menjerit- jerit seperti ayam hendak digorok. Saya memasang wajah ceria dan tabah. Hm, sepuluh menit berlalu dan saya mencopot kacamata saya. Dengan mata rabun, saya tidak perlu melihat tatapan orang lain ke arah saya. Selesai kelas renang, si koordinator mendekati saya. Ia menasehati saya agar bertahan dalam penderitaan dan keep coming. "Can I plaster her mouth then next week?" tanya saya penuh harap.

"Unfortunately that's illegal," jawab si koordinator.

"That's fine. I'll wear earplugs then," jawab saya.

Bagi orang dewasa, tidak ada yang lebih memalukan daripada menjadi orang tua.

"I hurt, mama! I need lotion!" kata Sera suatu kali dengan wajah sedih.
"Mana yang luka?" tanya saya
" Everywhere.." jawab Sera sambil mengangkat bahu.
"Mana, nggak ada luka sama sekali gitu lho. Kamu nggak butuh lotion." jawab emaknya tegas menolak permintaan Sera agar bisa bermain lotion.
"But I hurt inside....."

"I want water," kata Sera suatu kali. Dengan malas membuka mata dan keluar kamar di tengah malam untuk mengambilkan segelas air.
Menyorongkan si gelas ke arah Sera. "I don't want water. I want milk!" kata Sera dengan tegas.
Dengan menggerutu membuang si air dan mengisi gelas dengan susu. "I want pink straw, please..." kata Sera saat disodorkan si gelas.

"Mama...I wee wee..." kata Sera.
"Lho... kok wee wee di kasur? Harusnya kan di toilet!" kata emaknya dengan jengkel. Sera pura- pura tidak mendengar.

Sehabis membangunkan si bapak dan menggulung seprai dan alas ompol, emak dan bapaknya menghamparkan selimut, alas darurat karena malas mencari seprai di dini hari. "Horeee!! Are we going to have picnic?" tanya Sera dengan raut wajah tanpa dosa.

Bangun jam lima pagi di akhir pekan, menolak dibangunkan pada pukul delapan pagi di hari kerja.

It kills you to see them grow up, but it would kill you quicker if they didn't - Kingsolver

"Seharusnya anak itu tidur terpisah sejak lahir, biar nggak manja," nasehat seorang tante.

"Jangan dibolehin nonton TV sama sekali. Itu menghambat pertumbuhan anak." kata seorang kenalan.

"Harusnya dibiasakan untuk pisah dari ibunya sejak bayi, jadi nggak penakut kayak gini," komentar seorang saudara jauh.

" Jangan dibiasakan bicara dengan dua bahasa. Sampai dia mantap dengan bahasa Indonesia, baru diajarkan bahasa Inggris," nasehat seorang (bukan) ahli bahasa dan pendidikan anak.

Semua orang tahu cara yang tepat untuk mendidik dan membesarkan seorang balita, kecuali orang tua si balita sendiri.

Duduk bersama di meja makan, siap menyantap makan malam. Dengan serius Sera mengajak berpegangan tangan dan mulut kecilnya mulai berdendang, mengucap syukur untuk makanan yang terhidang.

Thank you dog for this yummy food,
Thank you God for this lovely day,
Thank you dog for the special friends,
Thank you dog, We thank you ameeennnn......

Menjadi orang tua tanpa selera humor, sama dengan menjadi akuntan tanpa kemampuan matematika. 

Little girl prayer is my favorite.....


Before I got married I had six theories about bringing up children; now I have six children and no theories.  John Wilmot, Earl of Rochester

Sepatu selera Sera, full pink dan blink- blink

Sepatu sandal delapan puluh ribu hasil nemu di salah satu mall di Malaysia. Kalau saja saya tahu Sera bakal sangat menyukainya, waktu itu langsung beli lima ukuran berbeda!

Si sepatu keds penyebab huru- hara, terlalu boyish untuk selera Sera

"Ini harimau baik. Ini harimau pink!" #bujukan paling logis dari mulut seorang ibu

"I like my ballet shoes," komentar Sera penuh sayang #sepatu paling tidak berguna untuk ke kinder

Sifat humoris bisa memberikan kebahagiaan bagi orang tua