Monday 25 March 2013

My Monday Note -- Batu Sandungan Bagi Sesama

Sedang chatting dengan seorang sahabat yang hendak pulang kampung ke Indonesia, dan saya berniat titip beberapa barang saat ia nanti kembali ke Melbourne. "Meg, jangan bilang siapa- siapa ya kalau gue mau pulang kampung, jangan pasang status segala di FB," pesannya.

"Kenapa? Takut dikejar- kejar debt collector?" komentar saya.

"Enggak. aku ini lagi nggak sempat beli oleh- oleh untuk semua orang. Lagi repot. Jadi aku nggak mau banyak orang tahu aku pulkam. Entar ditagihin oleh- oleh melulu, bingung aku."

Alasan yang lucu. Tetapi believe it or not, itu bukan pertama kalinya saya mendengar komentar senada. Beberapa orang berusaha tidak menggembar- gemborkan kepulangannya, keep it as quiet as possible for the sake of keeping away urusan suvenir dan oleh- oleh. Yang lainnya lebih concern ke masalah saya itu pingin istirahat, santai- santai di Indonesia. Seharian jalan- jalan ke mall cuci mata, berburu makanan kaki lima dan yang terpenting, bersantai- santai menikmati menjadi raja, with si embak doing all the dishes and ironing. Saya tidak ingin menghabiskan dua minggu waktu saya untuk menyambangi aneka saudara di antah berantah atau ikut arisan keluarga atau janjian sana sini bersama aneka teman yang bergairah ingin mengajak bertemu si perantau mumpung sedang pulang kampung (padahal saat masih sama- sama tinggal di Jakarta, kok ya nggak pada ngajak ketemuan).

Dan ternyata itu bukan hanya kebiasaan di Indonesia lho. Seorang teman buruh saya yang asal Fiji bercerita, sejak membeli tiket untuk pulang kampung, tiada henti sms dan telepon yang diterimanya, yang berpesan agar dibelikan baju lah, jaket lah, dan terakhir "Aku kan terbang besok, nah tadi pagi ada yang telepon dan minta dicarikan sepatu! Lha kapan aku mencarinya? Kan hari ini seharian aku kerja, dan toko disini tutup jam enam sore?" Kami semua terkekeh.

Dan bahkan untuk seorang berhati tegaan seperti saya dan si Okhi pun, kami pun terkadang 'menyerah' akan desakan sosial, dan memilih untuk... menghindar saja. Suatu kali, Okhi berjanji untuk bertemu dengan beberapa bekas teman sekantornya. Tak terucappun Okhi tahu, dia diharapkan mentraktir mereka, dan he didn't mind. Walau sebetulnya tidak ada hukumnya juga bila sekelompok teman bertemu, maka yang harus bear the cost adalah yang kebetulan menjadi TKI. Beberapa hari sebelum acara, si teman menghubungi Okhi dan memberitakan bahwa ia sudah mengundang semua orang satu bagian. Wat te fuk? "Aku lho bahkan nggak kenal baik siapa orang- orang itu! Kenapa aku harus membuang waktu dan uang mentraktir orang- orang yang bahkan nggak kenal langsung sama aku?"

Sayapun, pernah akhirnya menolak ajakan ke bekas kantor saya, semata karena I don't have time (and money) untuk blusukan berpikir membelikan berbagai suvenir untuk semua orang sekantor! Untuk yang satu divisi, kaos. Yang satu lantai tapi beda divisi? Gantungan kunci. Yang dulu sering berhubungan dan membantu? Dompet. Halah. Pusing otak saya. Daripada saya dirasani dibilang pelit (kekhawatiran yang mungkin tidak berdasar sih), mending saya nggak datang sajalah.

Nah, gara- gara 'reuni' dan oleh- oleh serta traktiran itu seolah satu paket, jadinya saya memilih untuk ya sudahlah tidak usah saja bertemu dengan mereka, karena kebetulan saya tidak sanggup menyediakan 'paket sampingan itu.' What a pity....

Walaupun sedikit menyedihkan, kehilangan kesempatan bereuni dengan bekas teman lama itu masih tidak ada apa- apanya dibandingkan dengan kisah seorang teman saya ini. Suatu kali, kami sedang ngobrol dan ia bercerita bahwa ia baru saja bergabung dengan suatu kelompok pengajian dan ia sebetulnya sangat menikmati kajian materinya. Tetapi setelah dua bulan bergabung, akhirnya ia memilih mengundurkan diri. Alasannya sih karena kebetulan jadwalnya berbenturan dengan jadwal kerjanya, tetapi alasan sebenarnya adalah dia tidak sanggup mengikuti 'gaya' kelompok pengajian itu. Bukan, bukannya kelompok ini bergaya mewah, hanya setiap pengajian yang diikuti sekitar 50 orang, maka tuan rumah akan menyediakan konsumsinya, makan malam dan sedikit kue- kue. Biasa saja kan? Tetapi itu ternyata sangat membebani teman saya. Saya tidak bertanya kenapa dia keberatan (apa karena biaya atau kerepotan memasaknya), tetapi ya gara- gara soal konsumsi, jadilah ia mengundurkan diri. 

Mungkin anda berpikir, kenapa teman saya itu tidak berkata terus terang saja kalau ia tidak mampu menyediakan konsumsi dan tetap mengikuti pengajian? Toh rekan- rekan pengajiannya pasti orang yang penuh pengertian? Karena my friend, tidak ada orang yang ingin mengaku bahwa ia terlalu miskin atau terlalu terbatas kemampuannya untuk sekedar menyediakan konsumsi yang hanya setiap tiga bulan sekali. 

Disini, saya mempunyai semacam kelompok kecil ibu- ibu yang secara random saja mengadakan pertemuan, ngobrol- ngobrol dan sedikit membahas alkitab. Suatau kali, kami berkumpul di rumah seorang ibu senior yang biasanya sangat sibuk bekerja. Mungkin karena soo excited akhirnya beliau bisa menjadi tuan rumah acara- kumpul- kumpul, jadilah hidangan makan siang yang disajikan membuat mata kami semua terbelalak. Ebuset, ini mau ngerumpi atau pesta pertunangan? Semua berjalan dengan biasa, dan kami semua bergembira ria. 

Keesokan harinya (saya agak lupa detilnya), saya semobil dengan si ibu karena kami hendak pergi entah kemana. Beliau bercerita bahwa ia 'ditegur' oleh suaminya. "Bapak kemarin menegur Ibu. Bapak bilang, kalau Ibu menyediakan makanannya seheboh itu, nanti akan membuat yang lain yang akan jadi tuan rumah akan merasa terbebani, merasa harus menyediakan hidangan yang setara. Padahal kemarin sih Ibu masak heboh karena Ibu itu histeris karena akhirnya bisa ikut kalian kumpul- kumpul."     

Mendengar pengakuan si Ibu, saya jadi berpikir "Iya ya, kemarin aku juga sempat terlintas berpikir, wah, kalau harus menyediakan hidangan lengkap seperti itu sih ya repot juga nih..." Masalahnya kondisi para peserta rumpi ini sangat beragam, mulai dari mahasiswa beasiswa, emak- emak beranak balita tanpa kemampuan memasak (not me) hingga para tetua yang punya kafe dan sudah biasa membuat masakan berskala besar. Dan selama ini, kami terbiasa tidak terlalu berpikir soal konsumsi, sekedar membuat sop atau ayam goreng, satu atau dua macam lauk makan siang yang normal saja sebagai konsumsi. 

Iya, saya tahu secara logika ya sudah kita menyediakan sesuai kemampuan kita sajalah. Tidak harus mengikuti orang lain yang sudah mapan, punya dapur luas dan pintar memasak. Tetapi, tidak semua orang mempunyai 'ketegaran hati' untuk bersedia berbeda dari orang lain. Kalau saya tidak bisa mengikuti gaya kelompok itu, ya saya akan menyingkir saja. 

Tidak percaya bahwa masalah sepele semacam konsumsi bisa menjadi batu sandungan? Suatu kali, rumah bapak saya di Jakarta kebagian giliran menjadi tuan rumah untuk acara doa lingkungan. Itu untuk pertama kalinya rumah bapak dipakai, dan emak (yang berdomisili di Surabaya) menelpon seksi konsumsi lingkungan, bertanya apa saja yang harus disediakan emak untuk acara doa. "Saya harus buat berapa porsi makan malam? Lalu biasanya ada minuman apa?"

Jawaban si ibu konsumsi membuat semua tercengang. "Ibu tidak usah menyediakan apapun! Sama sekali tidak usah! Cukup menyediakan rumah. Lingkungan yang akan menyediakan konsumsinya."

Tergagap- gagap emak saya bertanya "Apa saya menyediakan kuenya? Atau es buah?"

Si ibu dari seksi konsumsi dengan tegas menampik tawaran emak saya. Semua akan disediakan oleh lingkungan. Dan tentu saja saat acara doa berlangsung, makanan yang terhidang terbilang sederhana walau berkecukupan. Kenapa si ibu konsumsi tegas melarang emak saya menyediakan konsumsi? Alasannya adalah karena lingkungan kami itu sangat beragam. Sebagian adalah rumah gedongan di kavling real estate dan sebagian lagi kampung- kampung kecil. "Bagi orang- orang yang rumahnya sempit, bersedia ditempatin waktu berdoa saja sudah beban berat Bu, banyak yang menolak karena minder rumahnya sempit. Jadi kami harus sibuk membujuk- bujuk agar semua umat bersedia. Lha kalau konsumsi juga disediakan tuan rumah, wah tambah kelihatan perbedaan ekonomi masing- masing orang dan membuat beban berat bagi mereka yang tidak terlalu berada. Jadi kami memutuskan sudah untuk makanan kita pool saja, selalu seksi konsumsi yang menyediakan, biar selalu sama."  

Mendengar penuturan si ibu konsumsi, hati saya tersentuh. Rumah emak saya termasuk yang bagian rumah gedongan. Membuat konsumsi cukup mewah bagi 50 orang? Kecil. Pembantu kami saja tiga. Tetapi pernahkah saya menyadari, bahwa mungkin memasuki halaman rumah kami yang asri, duduk di lantai rumah kami yang mengkilat dengan lampu kristal bergelantungan, adalah suatu beban yang berat bagi sesama kami (walau tiap memandang si lampu kristal saya hanya menggerutu gimana juga ini caranya mbersiin debunya? Kenapa kagak pake lampu neon aja sih?). Harta benda dan kedudukan kami ternyata bisa menjadi batu sandungan, tanpa sadar menghalangi sesama kami dalam berdoa dan memuji Tuhan. Mungkin memasuki rumah kami yang luas, banyak orang akan dengan minder membandingkannya dengan rumah mereka yang serupa rumah petak. Dan membuat mereka berpikir "Rumah seperti inilah yang layak untuk doa bersama, bukan rumah saya yang sumpek." 

Mungkin maksud hati saya menyediakan makanan lengkap karena toh saya mampu dan ingin berbagi kebahagiaan dan berkat bagi sesama, tetapi jangan- jangan bagi sesama saya, justru kemewahan itulah yang membuatnya merasa berbeda dan rendah diri. Kalaupun kebelet banget ingin berbuat lebih, ya kenapa tidak sukarela membawakan kue atau tumpeng setiap pertemuan di rumah orang lain? Hanya mau berbuat lebih saat menjadi tuan rumah? Ente mau berbagi berkat atau pamer berkat sih sebenarnya?

Jadi next time anda ingin membuat reuni atau pengajian atau doa bersama atau apalah acara kumpul- kumpul, it is wise to make sure bahwa kira- kira tidak ada satu orangpun yang akan terbebani dengan pernak- pernik yang sebetulnya hanya tambahan dari acara intinya, yang jadinya malah menghalangi mereka mendapatkan tujuan inti acara; silaturahmi atau memuji Tuhan. Seharusnya semua pernak- pernik direncanakan dengan mempertimbangkan bahwa orang paling kurang mampu, orang yang paling sibuk atau orang yang paling kecil dapurnya dan hanya punya satu panci mampu untuk menyediakannya. 

Kita sungguh tidak ingin kan bahwa hanya sekedar kue lumpur 100 biji, menjadikan seseorang merasa tidak layak ikut berkumpul untuk memuji nama Yang Maha Kuasa? 

Note: itu pula alasannya saya sekarang selalu memastikan bahwa pesta ultah Sera misalnya, akan saya rayakan sesuai dengan kebiasaan di tempat itu. Jangan sampai saya membuatkan pesta amat mewah yang membuat seorang anak lain menjadi minder akan pestanya yang sederhana. 

Kalau ada acara kumpul- kumpul dimana ada keharusan membuat konsumsi lumpia, saya kibar bendera putih @_@     




3 comments:

  1. Tulisan yang menarik. Kumpulan paduan suara kami para ibu2 jadi bubar gara2 seragam. Setiap ingin punya seragam baru para anggota iuran. Ternyata ibu2 tidak ada puasnya. Setiap saat selalu ingin seragam baru. Nah.....mulailah bencana itu. Satu demi satu anggota mengundurkan diri dengan berbagai alasan (alasan sebenarnya sih karena gak kuat iuran terus unt seragam). Namanya paduan suara kalau anggotanya sedikit ya gak bagus. Bubarlah group kami yg sudah berjalan 2 tahun. Sayang sekali.

    ReplyDelete
  2. noted bos !!.. kalau ke indo akan saya traktir sepuasnya !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ada janji nraktir gini, saya jadi sangat tertarik untuk tahu namanya deh #siap2 nagih

      Delete