Monday 11 March 2013

My Monday Note -- Menjadi Orang Tua Tanpa Selera Humor? Seperti Menjadi Akuntan Tanpa Kemampuan Berhitung


"Sera is coloring her lips!" teriak Mia, seorang gadis cilik teman sekelas Sera di kinder saat saya menjemput Sera di suatu sore.

"No she didn't!" sanggah seorang anak lain yang lebih tua, dengan tubuh jangkung dan aura berkuasa. "She fell and hurt her lips!"

Dan kemudian si anak jangkung menengadahkan wajah Sera dan berkata "Look! She's hurt!"

Dikerubungi anak lain yang sibuk memperhatikan bibirnya dan memberi statemen- statemen medis, bibir Sera mulai meliuk- liuk, matanya mulai berkaca- kaca dan dengan suara pilu berkata "I hurt, mama...."

"Mana yang luka?" tanya saya sambil memperhatikan bibirnya. "Here..." jawab Sera sabil menangis tersedu dan menunjuk bibirnya. Ada bekas luka kecil di bibir bawahnya. Yap, luka di bibir memang biasanya membuat darah mengucur cukup banyak, membuat si luka tampak lebih dramatis dari kondisi sebenarnya. Luka Sera kecil saja, hanya lecet sedikit. Tapi saya membayangkan si luka kecil ini pasti memberikan sensasi dramatis di kinder tadi pagi.

"You're alright," kata saya menenangkan sambil menepuk- nepuk kepala Sera. Dan kemudian beranjak mencari pengasuhnya. Doris, pengasuhnya Sera, menceritakan bahwa tadi Sera terjerembab tali sepatunya yang terlepas. "Maaf, mungkin aku kurang kencang menalikannya," kata Doris. 

"Nah, no worries," jawab saya sambil mengibaskan tangan. "I figure that if Sera is alive when I pick her up, you've done your job wonderfully."

Doris tertawa. Sebelum mempunyai anak, saya membayangkan menjadi orang tua yang baik berarti di sore hari, Sera sudah rapi, wangi sehabis mandi, dengan baju yang manis dan mungkin pita berbunga di rambutnya. Seharian itu saya sudah membacakannya aneka buku cerita yang akan mengembangkan kemampuannya, mengajaknya bermain puzzle dan menggulung playdough membuat aneka cetakan dinosaurus. Mungkin saya juga akan mengajaknya memanggang cupcake- cupcake mini dan gingerbread man seperti di buku "Cooking with little kids" dimana Sera memakai topi koki kecil dan celemek unyu bergambar burung hantu. Saat si Okhi pulang, rumah sudah rapi mengkilat, setrikaan sudah selesai, dapur sudah berkilau, sepiring camilan sore sudah siap bersama dengan cupcake pink mini yang tadi saya buat bersama Sera.

Itu teorinya. Jam enam sore, saat Okhi pulang dari kerja, Sera masih akan berkeliaran dengan kaos singletnya yang bernoda selai cokelat dan celana dalam kedodoran favoritnya. Rambutnya masih berbau kecut dan hidungnya penuh bekas ingus. Saya sedang sibuk mengepel lantai rumah sambil menjelaskan bahwa  baru saja Sera memanggil "Mama..." sambil menatap saya dengan mata beloknya. Dua detik kemudian, syuuuurrrr, mengalirlah air dari balik celananya, menuruni kakinya dan menggenangi lantai. "Sowiiii Mama," kata Sera dengan raut tak peduli. "I wee wee..."

Sambil menghela nafas, saya mengangkat si bayi pesing ke kamar mandi dan membersihkannya. Melepas celananya dan merendamnya. Meraih paper towel dan mengeringkan lantai. "Nih Ser," kata saya mengangsurkan sehelai celana dalam. "Not this one! I want the pink one!"

"Yang pink masih dicuci ser," jawab saya.

"Mmmm, the green one then," jawab Sera.

"Lho, kenapa kok badannya Sera penuh corat coret gini?" tanya Okhi. "Kok nggak kamu larang?"
"Ini kenapa kertas kok berhamburan di ruang TV?"

Karena itu membuatnya diam barang sepuluh menit saja. Apapun yang membuat Sera nggak ngegerecokin emaknya yang lagi masak barang lima menit saja, be it! Toh badan penuh coretan tinta tinggal digosok waktu mandi. Toh kertas berhamburan tinggal dirapikan.

Dulu, menjadi orang tua yang baik berarti memberikan berbagai kegiatan stimulasi agar otak dan kemampuan Sera berkembang sempurna, menjaganya tetap bersih dan rapi, mengajaknya bercakap- cakap agar kemampuan berbahasanya meningkat sekaligus mengkilapkan rumah dan memasak ala Jamie Oliver. Sekarang,


Selama Sera masih hidup di sore hari dan rumah masih berdiri utuh, I've done a wonderful job.


Dan gara gara insiden tersandung tali sepatunya, akhirnya saya memutuskan bahwa Sera harus dibelikan sepatu tanpa tali yang modelnya ringkas dan nyaman. Plus sesuai dengan bentuk telapak kakinya Sera yang datar. Itu artinya satu, sepatu keds mahal. Karena saya sudah mencoba membeli berbagai sepatu unyu murah dan hanya berakhir dengan kekecewaan. Sera is very particular soal sepatu. Oke, demi mencoba mencari diskon, kami pergi ke DFO, semacam pusat grosir berjarak tiga perempat jam perjalanan dari rumah. Niat awal, membeli sepatu dengan warna netral, jadi meskipun harganya mahal, nggak rugi- rugi amat, masih bisa diwariskan ke adiknya Sera someday yang belum diketahui jenis kelaminnya) #kikir adalah nama tengah saya. 

"Wow, keren Ser!" ujar saya sembari menyorongkan sepatu Adidas warna merah bergambar kartun The Cars. Buatan Indonesia lagi itu sepatu keds.

"That's for boys!" jawab Sera tegas. Grrrr....

Karena bentuk si Nike tidak just do it dengan telapak kaki Sera yang meniru gen bapaknya, berkuku belah, kami menuju ke konter Puma. Sepatu keds kecil model Ferrari berwarna putih bergaris merah. "Aha, how about this one? Cantiiiiikkkkk," rayu saya.

"I want that one!" jawab Sera sembari menunjuk sepatu full pinky. Masalahnya, itu sepatu pre-walker untuk para bayi.

Dipaksa mencoba si sepatu merah, mengamuklah Sera. Akhirnya penjaga toko menemukan sepatu serupa tetapi dengan garis merah muda. "This is for girl!" kata saya sembari menyorongkan si sepatu.

"Nooooo!!!!! I want my sandals!" kata Sera sembari mendekap erat sepatu sandal pink blink blink murah meriah norak bututnya yang sudah siap hancur dalam hitungan hari.

"Ini sepatu paling pink yang ada Ser! Nggak ada sepatu yang pink semua kayak sandal norakmu!" kata saya dengan kesal. Sebentar lagi musim dingin, jadi tentu saja si sandal harus pensiun.

Dengan derai air mata, akhirnya terbelilah sepatu nomer 8. Dan tentu saja sejak saat itu Sera mencoba segala alasan untuk menolak memakai si sepatu. "This is not for girl!" kata Sera sembari melirik sepatu pink bertali blink- blink miliknya yang sudah membuatnya jatuh terjerembab di kinder.

"Tapi lihat, ada gambar harimau pink nya. Keren," rayu saya sembari menunjuk gambar si puma.

"I'm scared mama! Tiger bite me!" kata Sera mendengus.
"Enggak, ini harimau baik. Harimau pink!"
" This is too small. It's baby's shoes. It's for baby Sharon!" kata Sera menyebut nama adik sepupunya.

Sekarang, apa saja barang yang tidak berkenan bagi seleranya Sera, berarti punyanya baby Sharon atau baby Diego atau aneka bayi lainnya. "Ini sepatu Sera. Too big for baby Sharon," kata saya berkeras. Enak saja emaknya sudah mengeluarkan 50 dolar dan si kunyil menolak memakainya!

Membesarkan anak memang setengah kegembiraan dan setengahnya lagi perang gerilya.... 

Dan tentu saja tempat paling mengerikan dan mendebarkan adalah kolam renang. Hari Senin jam setengah sebelas siang. Kelas renang selama setengah jam. "I wanna swim with cow!" kata Sera. Jam sepuluh lebih lima menit dan si sapi haram jadah tidak terlihat dimanapun batang moncongnya. Mungkin seharusnya sekaranglah saat yang tepat untuk menasehati Sera soal betapa pentingnya merapikan mainannya sehabis bermain. Melirik jam tangan, saya memutuskan mengambil langkah yang lebih praktis. "Pak Sapi lagi berlibur Ser. Jadi sekarang giliran kuda berenang."

"Cow is going to Yangma's house?" tanya Sera.

"Iya," jawab saya mantap. Biarlah saya menanggung resiko berdosa karena membohongi anak balita.

Dan di kolam renang, Sera menjerit- jerit seperti ayam hendak digorok. Saya memasang wajah ceria dan tabah. Hm, sepuluh menit berlalu dan saya mencopot kacamata saya. Dengan mata rabun, saya tidak perlu melihat tatapan orang lain ke arah saya. Selesai kelas renang, si koordinator mendekati saya. Ia menasehati saya agar bertahan dalam penderitaan dan keep coming. "Can I plaster her mouth then next week?" tanya saya penuh harap.

"Unfortunately that's illegal," jawab si koordinator.

"That's fine. I'll wear earplugs then," jawab saya.

Bagi orang dewasa, tidak ada yang lebih memalukan daripada menjadi orang tua.

"I hurt, mama! I need lotion!" kata Sera suatu kali dengan wajah sedih.
"Mana yang luka?" tanya saya
" Everywhere.." jawab Sera sambil mengangkat bahu.
"Mana, nggak ada luka sama sekali gitu lho. Kamu nggak butuh lotion." jawab emaknya tegas menolak permintaan Sera agar bisa bermain lotion.
"But I hurt inside....."

"I want water," kata Sera suatu kali. Dengan malas membuka mata dan keluar kamar di tengah malam untuk mengambilkan segelas air.
Menyorongkan si gelas ke arah Sera. "I don't want water. I want milk!" kata Sera dengan tegas.
Dengan menggerutu membuang si air dan mengisi gelas dengan susu. "I want pink straw, please..." kata Sera saat disodorkan si gelas.

"Mama...I wee wee..." kata Sera.
"Lho... kok wee wee di kasur? Harusnya kan di toilet!" kata emaknya dengan jengkel. Sera pura- pura tidak mendengar.

Sehabis membangunkan si bapak dan menggulung seprai dan alas ompol, emak dan bapaknya menghamparkan selimut, alas darurat karena malas mencari seprai di dini hari. "Horeee!! Are we going to have picnic?" tanya Sera dengan raut wajah tanpa dosa.

Bangun jam lima pagi di akhir pekan, menolak dibangunkan pada pukul delapan pagi di hari kerja.

It kills you to see them grow up, but it would kill you quicker if they didn't - Kingsolver

"Seharusnya anak itu tidur terpisah sejak lahir, biar nggak manja," nasehat seorang tante.

"Jangan dibolehin nonton TV sama sekali. Itu menghambat pertumbuhan anak." kata seorang kenalan.

"Harusnya dibiasakan untuk pisah dari ibunya sejak bayi, jadi nggak penakut kayak gini," komentar seorang saudara jauh.

" Jangan dibiasakan bicara dengan dua bahasa. Sampai dia mantap dengan bahasa Indonesia, baru diajarkan bahasa Inggris," nasehat seorang (bukan) ahli bahasa dan pendidikan anak.

Semua orang tahu cara yang tepat untuk mendidik dan membesarkan seorang balita, kecuali orang tua si balita sendiri.

Duduk bersama di meja makan, siap menyantap makan malam. Dengan serius Sera mengajak berpegangan tangan dan mulut kecilnya mulai berdendang, mengucap syukur untuk makanan yang terhidang.

Thank you dog for this yummy food,
Thank you God for this lovely day,
Thank you dog for the special friends,
Thank you dog, We thank you ameeennnn......

Menjadi orang tua tanpa selera humor, sama dengan menjadi akuntan tanpa kemampuan matematika. 

Little girl prayer is my favorite.....


Before I got married I had six theories about bringing up children; now I have six children and no theories.  John Wilmot, Earl of Rochester

Sepatu selera Sera, full pink dan blink- blink

Sepatu sandal delapan puluh ribu hasil nemu di salah satu mall di Malaysia. Kalau saja saya tahu Sera bakal sangat menyukainya, waktu itu langsung beli lima ukuran berbeda!

Si sepatu keds penyebab huru- hara, terlalu boyish untuk selera Sera

"Ini harimau baik. Ini harimau pink!" #bujukan paling logis dari mulut seorang ibu

"I like my ballet shoes," komentar Sera penuh sayang #sepatu paling tidak berguna untuk ke kinder

Sifat humoris bisa memberikan kebahagiaan bagi orang tua

4 comments:

  1. We've done a great job because we already learn & thinks how to be a toddler (again)and make them learn for the best that we can so they can leran how to survive in their future life. Enjoys the life a becoming a parents because that moments will never come back, because time runs so fast and they growing so fast also. Seeeemmmmaaaaannngggaaatttt. :)

    ReplyDelete
  2. Manggut-manggut truus ngakak baca postingan ini. Yg ga ngerasa mungkin ga tau seninya jadi ortu...

    Tangguh juga punya sepatu favorit seharga Rp20 ribu dari budenya beli di pasar malam, sementara itu sepatu keds converse hasil oleh2 ayahnya dari Malaysia seharga 30 dollar ga mau dipake karena ribet dipakenya.. Hadeuuhhh... Ajaibnya bocah2..

    ReplyDelete
  3. mbaaa.. aku ngakak malam-malam baca ini hahahhaa.. makasih ya hiburannyaa..

    ReplyDelete