Monday 22 April 2013

My Monday Note -- Ikut Kelas Musik, Buang Uang Atau Sesuatu Yang Bermanfaat?

Suatu kali saya membaca note seseorang di FB yang kebetulan di-share seorang teman. Note tentang tren orang tua sekarang yang memasukkan si anak balita ke berbagai kelas dan kegiatan. Sebagai penutupnya, note itu bertanya "Jadi apa alasannya anda memasukkan anak anda ke aneka kelas, les piano, berenang? Agar dia menjadi 'lebih' dibanding anak lain atau demi ambisi orang tua atau ikut- ikutan trend jaman sekarang? Apakah anda tidak takut anak anda stres dan terlalu lelah dengan segala jadwal yang anda sodorkan padanya?"

Membaca note tersebut, saya sih tidak tertarik untuk berkomentar atau memberikan pendapat. Untuk apa? Toh si penulis note sudah memutuskan bahwa memasukkan anak ke kelas itu sekedar tindakan egois para orang tua yang berambisi besar. Toh pertanyaan di note itu hanya sekedar pertanyaan retoris. Saya hanya berpikir "Duh, semoga gue tidak pernah menulis di blog dengan gaya menghakimi semacam itu."

Tetapi pertanyaan di note itu tetap terngiang di telinga, membuat saya merenung dan bertanya sendiri "Iya ya, apa sih alasan saya memasukkan Serafim ke aneka kelas dan kegiatan?" Jawaban pertama yang melintas tentu saja karena si tiga tahun saya sekarang sudah terlalu besar untuk puas hanya bermain bersama emaknya di rumah. Meskipun ia masih menikmati bermain sendirian bersama boneka- bonekanya atau menonton TV bersama boneka- bonekanya, ia sudah membutuhkan interaksi dengan anak- anak lain sebayanya. Meskipun ia sangat menikmati bermain bebas di taman, tetapi Sera lebih senang berada di ruangan kelas yang terstruktur dan in-control saat ia harus berinteraksi dengan anak lain. Itu alasan saya mengajaknya ke kelas musiknya. Karena ia gembira memukul drum. Dan itu alasan saya membawanya ke kelas renang. Karena selesai kelas, Sera akan dengan bangga melaporkan bahwa "I did jumping Mama!!! I'm a good swimmer! Oh and I dived too!"  

Kemudian saya mengingat kembali saat- saat pertama kali saya mendaftarkan anak saya di kelas- kelas tersebut. Serafim yang berusia dua tahun pada saat itu menolak untuk meninggalkan pangkuan ibunya, menolak untuk bergandengan tangan dengan ibu lain dan menangis ketakutan saat ibu guru bertanya siapa namanya. Walau tentu saya malu hati juga karena Sera tampaknya yang paling penakut dan cengeng diantara teman sekelasnya, ibu guru dengan sabar menjelaskan bahwa anak saya memang masih dalam masa peralihan, dimana ia dulunya sangat tergantung pada ibunya dan sekarang belajar untuk menjadi lebih mandiri dan tidak lagi memandang dunia luar sebagai ancaman. Perlahan, Sera menjadi semakin berani. Dimulai dari langkah kecil saat ia mulai berani mencelupkan ujung jempol kakinya ke air kolam hingga sekarang tanpa ragu- ragu melompat ke dalam kolam renang. Ia juga belajar untuk sabar menanti giliran saat antri untuk bermain ayunan dan memahami bahwa mendorong dan merebut mainan temannya adalah hal yang tidak baik. Jadi ya, kelas- kelas yang diikuti Sera telah membantunya untuk mengembangkan kemampuannya bersosialisasi dan meningkatkan kepercayaan dirinya.

Tentu, tentu, akan selalu ada isu kapankah aneka kegiatan ini akan menjadi terlalu 'too much' dan membebani si anak. Akan selalu ada isu kapankah suatu kegiatan bisa dikompromikan atau wajib diikuti si anak (seperti bagi saya les bahasa Inggris itu wajib hukumnya, like it or not anak saya harus mengikutinya). Another story, another note. Saya kali ini hanya sedang ingin menulis apa alasan saya memasukkan Sera ke berbagai kelas dan memperkenalkannya ke berbagai kegiatan.

Saya cukup puas akan hasil pemikiran saya, bahwa tujuan saya mengikutkan si Sera ke berbagai kegiatan adalah untuk membuatnya bahagia, mengisi harinya dengan aktivitas yang menyenangkan dan mengembangkan kemampuannya bersosialisasi. 

Kemudian, hari Rabu kemarin, sembari menunggu Sera yang sedang duduk dengan mata tak berkedip ke arah ibu pendongeng yang sedang membacakan sebuah buku di kegiatan story telling di perpustakaan lokal, tak sengaja pandangan mata saya tertumbuk pada rak buku yang berada di samping saya. Sederet novel anak- anak karangan Enid Blyton berjajar menarik minat saya. Malam itu, saya pulang ke rumah dengan membawa bekal lima buah novel yang saya pinjam dari perpustakaan. Setelah Sera dan Okhi tertidur lelap, saya mulai membaca petualangan Philip, Dinah dan Kiki the parrot di Lembah Kupu- Kupu. Membaca halaman demi halaman, ingatan saya tersedot pada kenangan puluhan tahun yang lalu, saat pertama kalinya saya membaca novel- novel klasik tersebut. Dulu, sepulang sekolah, saya akan bergegas menyelesaikan semua PR dan tugas agar bisa segera mulai membaca novel Petualangan Lima Sekawan yang saya pinjam di perpustakaan sekolah. Imajinasi saya melayang bersama dengan George dan Julian di Pulau Kirrin, melacak penjahat di atas mercusuar tua. Saya ikut berdebar saat Timmy si anjing ditangkap oleh para bandit. Beranjak dewasa, dengan perasaan puas saya membawa pulang buku- buku karya Andrea Hirata dari toko buku, duduk di beranda belakang rumah, membuka lembar demi lembar cerita Maryamah Karpov, menyesap keindahan rangkaian kalimat yang dihasilkan dari goresan pena seorang penulis hebat.

Saya ingat, bahwa seberat apapun hari yang saya lalui di tempat kerja, saya menemukan oase dan kedamaian saat membaca novel atau mulai mengetik note singkat di blog saya. Saya jelas bukan Andrea Hirata, tetapi sekedar menulis tulisan singkat yang hanya dibaca oleh teman- teman saya membuat saya merasakan damai. Disaat pikiran saya dipenuhi kemarahan atau stres karena keruwetan kehidupan metropolitan, saya akan bergegas menuju kolam renang, menceburkan diri ke air yang dingin dan kemudian meluapkan semua kegelisahan dan kemarahan dengan kayuhan tangan dan kaki membelah kolam renang. 

Darimana awalnya kecintaan saya pada buku dan renang berawal? Berawal dari hadiah novel yang saya terima setiap kenaikan kelas dan perjalanan ke kolam renang kecil berair kehijauan bak cincau setiap akhir pekan. Emak saya dulu, dengan segala keterbatasan yang ada, telah mengenalkan saya pada keindahan yang ditawarkan sebuah buku cerita dan berenang. Setiap awal bulan sehabis gajian, dia akan mengajak saya ke toko buku dan saya boleh memilih satu buah novel untuk dibeli. Novel milik saya sendiri! Demi bisa membaca lebih banyak novel, saya rajin menyambangi perpustakaan sekolah atau duduk membaca di toko buku setiap akhir pekan. Dan perjalanan ke kolam renang lokal setiap hari minggu, yang tentu saja tanpa adanya pelatih renang bagi para balita, memperkenalkan saya pada kesenangan yang ditawarkan oleh air dan kegiatan mencelupkan kepala.

Ternyata, aktivitas yang mulai kita lakukan sejak kecil itulah yang kemungkinan besar akan tetap membekas sampai di masa tua. Kegiatan yang diperkenalkan sejak masa balita adalah yang mempunyai peluang menjadi kegiatan yang akan tetap dinikmati si anak kelak. Tanpa sadar, imajinasi yang melayang setiap membaca Lima Sekawan dulu di jaman SD adalah penyebab saya adalah pembaca kelas wahid, yang bisa melahap semua bacaan mulai dari novel 400 halaman hingga soal reading di tes IELTS secepat kilat (mungkin saya adalah sedikit orang yang selalu menyelesaikan soal bacaan di IELTS jauh lebih cepat sebelum waktu habis, sementara si Okhi selalu nyaris kekurangan waktu). 

Ya. Lebih dari sekedar memberikan aktivitas yang menyenangkan bagi Serafim dan mengembangkan kemampuan sosialnya, saya diingatkan bahwa aneka aktivitas yang saya perkenalkan pada anak saya saat ini adalah salah satu cara untuk mengenalkan berbagai keindahan yang ditawarkan oleh kehidupan. Sama seperti emak saya mengenalkan keindahan membaca dan berenang, saya ingin memberi anak saya kesempatan untuk berkenalan juga dengan kedua aktivitas itu.

Tentu paling mudah untuk mengenalkan aktivitas yang saya sendiri juga menggemarinya. Karena saya akan bisa ikut serta secara aktif menikmatinya bersama si Sera. Oleh sebab itu saya memasukkannya ke kelas renang dan klub story telling. Kami rajin menyambangi perpustakaan dan meminjam belasan buku setiap kalinya. 

Dahulu, saya tidak mempunyai kesempatan berkenalan dengan keindahan dunia musik sejak dini, sehingga meskipun saya sekarang adalah penggemar musik, saya tidak akan pernah menganggap bermusik sebagai hobi saya atau bisa menemukan kedamaian di musik sebesar saya menemukan kedamaian saat membaca. Saya pernah membaca sebuah penelitian yang diadakan di Australia, bahwa kegiatan bermusik memberikan banyak manfaat bagi anak- anak. Dengan belajar musik, anak- anak ini belajar tentang kedisiplinan, kerja sama dan ketekunan. Saat diwawancarai, anak- anak itu mengaku bahwa saat mereka bermain musik, tampil di pertunjukan sekolah, mereka merasa berarti dan 'belong to the world'. Kepercayaan diri mereka meningkat dan mereka bisa melampiaskan segala emosi ke musik.

Itulah sebabnya saya memperkenalkan kelas musik pada anak saya, untuk mengenalkan keindahan alunan nada dari nyanyian ataupun aneka alat musik. Siapa tahu musiklah yang kelak akan membawa kedamaian bagi diri Sera. 

Sebuah ungkapan berkata "Hanya karena kamu tidak menyukai satu jenis makanan, jangan berasumsi bahwa si kecil juga tidak akan menyukainya." Saya dulu misalnya, karena tidak menyukai kacang polong, jadi tidak pernah sekalipun mengenalkan kacang polong pada Sera, karena saya berasumsi anak saya juga nggak bakalan doyan. Ternyata Sera suka tuh. Sama seperti aktivitas. Meskipun saya membenci kegiatan menggambar dan aneka craft, dan jelas tidak berbakat at all dalam hal itu, saya berusaha melawan naluri saya. Siapa tahu Sera ternyata berbeda dari emaknya dan ternyata justru akan menjadikan menggambar hobinya? #walau sebetulnya emaknya rada ogah- ogahan juga mengantar si sera ke kelas menggambar.  

Mungkin anak saya akan sangat menyukai dan berbakat dalam salah satu bidang dan nantinya menjadi komposer besar sekelas Mozart. Mungkin pula ia akan mewakili Indonesia di ajang olimpiade. Atau jangan- jangan anak saya justru mengembangkan sendiri minatnya dan menemukan bahwa ia menggemari menyelam di antara terumbu karang lautan Indonesia yang teramat dahsyat dan menuliskan pengalamannya di National Geographic.

Tetapi bagi saya itu semua adalah bonus. Saya akan sangat berbahagia jika anak saya nantinya di masa depan bisa menemukan satu aktivitas dimana ia akan bisa merasa bahagia dan puas saat melakukannya. Ia mungkin akan seperti kebanyakan orang, berakhir dengan menjadi seorang manager, pebisnis, guru, dokter, perawat atau profesi- profesi lain yang lazim ditemui. Tetapi harapan saya, ia akan mempunyai paling tidak satu hobi, satu aktivitas yang bisa menjadi tempatnya mengasingkan diri dari permasalahan dunia, memberinya kebahagiaan dan me-recharge energinya untuk kembali ke kehidupan nyata.

Tugas saya sekarang adalah mencoba mengenalkan sebanyak mungkin kemungkinan aktivitas pada si Sera yang masih serupa kertas putih, agar ia memiliki khazanah yang luas akan berbagai pilihan aktivitas yang bisa dilakukannya. Karena kan ya nggak mungkin tahu- tahu Sera sendiri yang tahu bahwa ia ingin belajar piano di kelas (piano kayak apa saja dia belum ngeh). Tugas saya untuk mengenalkan. Dan tentu saja menjadi hak Sera untuk menentukan aktivitas yang digemarinya atau yang tidak disukainya, seperti Serafim yang tidak  tertarik dengan kelas sepakbola.

Saat saya mempunyai cukup biaya, saya akan memasukkan anak saya ke kelas- kelas yang dikelola oleh para profesional. Tetapi disaat kelas semacam itu tidak tersedia atau kemampuan finansial saya tidak memadai, saya tetap akan berusaha mengenalkan aktivitas- aktivitas tersebut. Bila tidak ada klub bercerita, saya akan tetap membacakan cerita- cerita pengantar tidur dan setia mengantar anak saya ke toko buku. Bila kelas berenang balita terlalu mahal, saya akan mengajak balita saya berenang setiap minggu, mengenalkannya sejak dini akan kegembiraan yang ditawarkan air. Dan tahukah anda, bahwa kebanyakan chef saat ditanya sejak kapan kecintaannya pada kegiatan memasak dimulai, mayoritas menjawab saat mereka kanak- kanak, di dapur rumah mereka, bersama orang tua mereka. Saya tentu bukan seorang ahli masak, bahkan menggemari memasak saja tidak. Tetapi, saya akan berusaha mengikutkan Serafim dalam kegiatan masak memasak, meskipun sekedar mencelupkan udang ke tepung dan telur sebelum digoreng. Siapa tahu, memasak lah yang akan menjadi passion si Sera.

Karena apapun yang dikenalkan sejak masa kanak- kanak lah yang kemungkinan besar akan membekas dan kelak akan menjadi kegemaran si anak di masa depan. Tugas kita untuk memperkenalkan sebanyak mungkin, dan kemudian membantu si anak untuk memutuskan sendiri mana kah yang ingin ditekuninya. Semoga kelak, Sera akan menemukan sanctuarinya, seperti saya menemukan oase saya dengan membaca dan menulis. 

Saat mengantar Sera berenang, harapan 'ambisius' emaknya adalah Sera kelak bisa menjadi pengganti Ian Thorpe. Harapan realistisnya adalah Sera akan bisa berenang karena itu masuk ke kurikulum disini sekaligus agar ia bisa menyelamatkan dirinya di air, plus agar ia belajar disiplin dan sehat bugar. Harapan romantisnya adalah agar Sera menemukan kedamaian dalam heningnya air.

Kehidupan menawarkan keindahan tak berbatas. It's up to you to introduce them to the little ones.

















Monday 8 April 2013

My Monday Note -- Kerja Part Time, Feasible Idea for Indonesia?

Gara- gara pindah ke Australia, saya jadinya sudah pernah merasakan semuanya; kerja full time berangkat jam setengah enam pagi dan sampai rumah jam tujuh malam lima hari seminggu atau  pengalaman sebaliknya, sama sekali tidak bekerja di kantor dan sepanjang hari menemani Sera di rumah. 

Karena sudah mengalami keduanya, saya jadi tahu kebahagiaan apa yang ditawarkan masing- masing pilihan, serta kerugiannya. Saat saya masih bekerja full time, saya mendapatkan kepuasan batin karena saya merasa sudah bekerja secara profesional, mendapatkan penghasilan yang bagus yang turut membuat kehidupan keluarga saya menjadi lebih nyaman dari sisi finansial (ya kan ane  kagak kawin sama pangeran Kelantan atau si irjen polisi yang uangnya sudah tidak bernomer seri). Bekerja membuat saya merasa berharga, membangkitkan kebanggaan akan diri dan kemampuan saya, membuat saya bisa pergi tidur dengan perasaan puas bahwa saya adalah seorang yang kompeten dan profesional.

Kemudian saat pindah ke Australia, saya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Tidak berkarir sama sekali. Sehari- harian bergelut dengan cucian piring yang entah kenapa semakin dicuci semakin bertambah saja rasanya, merapikan rumah dan aneka pernak- pernik lainnya. Dan tentu saja saya jadi mempunyai waktu untuk pergi ke berbagai kelas bersama Serafim, menemaninya pergi ke Gymbaroo dan kelas musik. Kemudian setelah beberapa bulan berjalan, setelah memperhatikan perilaku Sera di masing- masing kelasnya, memutuskan bahwa kelas musik lebih cocok baginya dan men-drop si gymbaroo. Kemudian mencoba kelas renang di suatu tempat yang ternyata kurang cocok bagi Sera (untuk kemudian mencoba kelas renang di tempat lain yang ternyata lebih sesuai bagi Sera).

Ohya, gara- gara menemani Sera bermain ke playgroup yang murah meriah, saya jadi tahu info bahwa di perpustakaan- perpustakaan itu selalu ada jadwal story telling yang bisa diikuti dengan gratis. Menemani sendiri Sera ke perpustakaan, saya bisa menyaksikan bahwa Sera tertarik dengan  kegiatan story telling, tetapi justru playgroup murah meriah berhadiah lah yang tidak sesuai dengan Sera (jadinya saya tidak melanjutkan membawa Sera ke playgroup).

Kalau saja saya bekerja full time, bagaimana saya bisa tahu segala hal kecil remeh temeh soal Serafim yang tampaknya lebih menikmati kelas musik daripada Gymbaroo (padahal materinya mirip- mirip). Mana mungkin saya punya kesempatan untuk benar- benar cawe- cawe soal si Sera yang butuh banyak dukungan untuk mengatasi ketakutannya terhadap orang asing. Saya hanya akan mendengar cerita soal itu dari si embak atau orang lain yang menjaga Sera. Padahal Sera hanya akan balita selama sekejap mata saja. 

Tetapi, as much as I enjoy menjadi orang yang paling paham soal Sera dan paling dekat dengannya (tidak ada pengasuh manapun yang bisa menyaingi kedekatan dan pengetahuan saya mengenai Sera), saya juga tidak sepenuhnya puas. Saya rindu bekerja. Saya rindu berangkat dengan kostum kantor, setiap pagi menuju mobil dengan tujuan yang pasti. Saya kehilangan percakapan dengan orang dewasa lain (yang tidak berkisar soal anak dan anak lagi). Dan yang terutama, saya kehilangan kebanggaan akan kemandirian saya. I know I know it's ridiculous, tapi saya tidak menikmati bahwa semua yang ada di rumah kami dibeli dengan uang gaji suami saya. Saya tidak menikmati bahwa saat saya ingin membeli sesuatu, seremeh apapun itu, berarti saya membutuhkan bantuan dari suami saya untuk membiayainya. Hal itu mengusik harga diri saya #yeah, kayak masih punya aja....

Kemudian, saya mencoba iseng- iseng melamar pekerjaan remeh temeh pecah belah di sebuah nursing home, semacam panti jompo yang banyak terdapat di sini. Eh, mereka mempunyai lowongan untuk shift tujuh jam di hari Jumat. Jadilah setiap jumat jam enam pagi saya sudah meluncur menuju 'kantor' baru saya. Dan ternyata, kembali bekerja sesudah setahun lebih di rumah itu cukup melelahkan juga yah! Saya lupa bagaimana lelahnya bekerja (walau saat awal dulu pertama kalinya berhenti bekerja dan hanya mengurus rumah dan anak saya juga merasakan kelelahan yang sangat. Ebuset, kenapa jauh lebih capek mengurus rumah ya daripada kerja di kantor?). Masalah kebiasaan saja tampaknya. 

Setelah sebulan berjalan, bahkan hanya dengan satu hari bekerja per minggu di pekerjaan yang jelas bukan my cup of tea, saya seolah mendapatkan kembali kepuasan yang sudah setahun lamanya tidak saya rasakan. Kepuasan bahwa saya bisa menghasilkan uang saya sendiri (walau tentu tiada artinya sebetulnya nilainya, hehehe). Saya mandiri. 

Kemudian saya mulai mendapat shift- shift tambahan, hingga akhirnya mencapai tiga hari kerja seminggu. Hohoho, duit yang masuk mulai signifikan, dan saya berada di puncak kebahagiaan. Saya menghasilkan uang, saya bekerja, tetapi sekaligus saya masih bisa mengantar Sera ke kelas musik dan renangnya. Kemudian, saya mengambil sertifikat, yang jadwal kuliahnya dua kali seminggu. Hohoho, dan ternyata 'sibuk di luar rumah' selama lima hari penuh membuat saya kehilangan kesempatan untuk sekedar menemani Sera bermain di halaman belakang, pergi ke perpustakaan atau menemaninya menjelajah taman di samping perpustakaan, pura- pura menjadi pembeli di toko kelontong Simbok Sera yang menjual aneka kelopak bunga dan daun kering. Tentu tentu, selama emaknya bekerja bukan berarti Sera terlantar. Dia dititipkan di childcare yang mungkin bahkan lebih mendidik dan menghibur daripada emaknya, tanpa TV dan lots of painting.

"Kayaknya nanti kalau kamu sudah beneran mau kerja di farmasi, kalau bisa cari kerjaan part- time yang seminggu dua atau tiga hari kerja aja deh," komentarnya si Okhi.

Hm, iya juga ya. Setelah merasakan sendiri, ternyata bekerja full time lima hari seminggu dari pagi sampai petang itu merampas waktu saya dengan Serafim terlalu banyak. Sementara tidak bekerja sama sekali merampas kesempatan saya untuk berkarir dan menghasilkan duit. Merenungkan kondisi saya sekarang, saya jadi merasa bersyukur juga bahwa saya punya pilihan untuk bekerja part time, yang hanya 2- 3 hari seminggu. Dan jadinya saya berpikir, kenapa ya ide semacam ini belum populer di Indonesia?

Di nursing home tempat saya bekerja, mereka mempunyai seorang manager terapi musik, Sharon namanya. Ia bekerja full time lima hari seminggu. Kemudian Sharon melahirkan seorang bayi kecil. Setelah masa cutinya selama setahun habis (note: disini ada pilihan cuti 6 bulan hingga setahun. Tidak dibayar sih setelah enam bulan, tetapi banyak ibu yang mengambil cuti selama setahun kalau kondisi keuangan mereka memungkinkan), Sharon kembali ke kantor. Tetapi ia memutuskan bahwa bekerja lima hari seminggu is too much for her, karena ia juga ingin menghabiskan waktu bersama bayinya. Jadilah ia bekerja tiga hari seminggu (Senin, Rabu, Jumat). Di hari Selasa dan Kamis, saat Sharon berada di rumah bersama bayinya, Joy menggantikan posisi Sharon di kantor. Joy juga mempunyai bayi, dan bekerja dua hari seminggu sudah cukup menyenangkan hatinya.

Hanya bekerja dua atau tiga hari seminggu, bagi banyak ibu disini, adalah pilihan yang menyenangkan. Karena masa balita hanyalah sekejap mata, bisa menghabiskan empat hari seminggu bersama si balita adalah hal yang menyenangkan. Memang, secara karir mungkin mereka tidak akan terlalu bersinar dibanding yang bekerja full time penuh dedikasi, dan dari segi pendapatan juga tidak akan tinggi. Tetapi, yang terpenting mereka bekerja. Kepuasan batin didapat, dan pada saat nantinya si balita sudah duduk di bangku SD, dan akan berada di sekolah seharian, si ibu akan dengan mudah menambah jam kerja. Saat si anak sudah di bangku SMP, si ibu akan bisa bekerja full time lagi. Bandingkan bila selama lima tahun usia si balita kemudian si ibu berhenti bekerja sepenuhnya. Pada saat anaknya sudah tidak sebegitunya membutuhkan si ibu di rumah, dan sebetulnya si ibu sudah bisa kembali bekerja, tapi ya kagok jugalah kalau sudah bertahun- tahun tidak bekerja. Dan biasanya jadinya rada malas juga untuk kembali berburu pekerjaan.

Salah satu artikel berita disini kemarin membahas masalah 'back to work' mom. Saat seorang wanita memutuskan berhenti bekerja saat anaknya masih kecil, dia memang akan kehilangan pendapatan. Tetapi itu bisa disebut resiko yang harus diambil karena anakmu masih kecil. Tetapi masalah timbul saat si anak sudah beranjak besar, dan sebetulnya si wanita sekarang mempunyai banyak waktu untuk bekerja kembali, tetapi karena ia sudah terlalu lama tidak bekerja, banyak yang akhirnya kagok juga. Dan berakhir dengan tidak bekerja for the rest of her life. Itulah yang disayangkan, karena mereka mempunyai potensi, kecerdasan dan waktu. Dan dengan tidak bekerja seterusnya, maka si wanita akan kehilangan kemandirian finansial, tergantung sepenuhnya pda pasangannya. Keluarga itupun, akan kehilangan potensi finansial yang dibutuhkan agar nantinya mereka bisa pensiun dengan uang yang cukup. Itulah yang sekarang sedang menjadi perhatian, bagaimana agar para emak yang berhenti bekerja selama merawat anaknya, bisa kembali masuk ke dunia kerja sesudah tugasnya membesarkan anak selesai.

Saya sendiri sempat merasakan kira- kira bagaimana rasanya akan berada di rumah seharian saat anak saya nanti sudah besar. Beberapa bulan lalu, Serafim sudah masuk ke kinder sementara kuliah saya belum dimulai. Selama dua bulan saya sendirian di rumah sementara Sera di kinder, dan saya rada mati gaya. Dengan potensi yang saya miliki, dan saya hanya menghabiskannya untuk membersihkan kaca jendela dan mengepel lantai? Itu sangat tidak memuaskan bagi saya. Saya bahagia menghabiskan hari mengurus Sera, memastikan ia berada di dalam perawatan terbaik oleh emaknya. tetapi, saat si Sera dewasa nanti, dan tidak lagi membutuhkan emaknya 24/7, lalu saya harus ngapain? Membersihkan rumah again and again sampai berkilat? Mencoba berbagai resep Jamie Oliver? Menarik sih, tapi tidak fulfilling (bagi saya).

Dan saya yakin banyak emak- emak di luar sana yang juga seperti saya. Kita ingin membesarkan anak kita, tetapi ingin juga saat si anak sudah besar nanti, kita bisa kembali bekerja, mendapatkan penghasilan dan meniti karir. Kalau saja sistem kerja part- time berkembang di Indonesia, betapa banyaknya emak- emak yang akan bersuka cita.... Bisa membesarkan anak dengan kesadaran saat si anak besar nanti, mereka bakalan bisa kembali bekerja dan berpenghasilan....

Madeline Albright, secretary of state nya Amerika serikat berkata, wanita bisa memiliki segalanya. Mereka bisa bekerja profesional, membesarkan anak, menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir cemerlang. Hanya pesannya, semuanya tidak bisa dicapai dalam satu waktu yang bersamaan.  Madeline menghabiskan 12 tahun terfokus membesarkan anak- anaknya, dan saat anaknya sudah beranjak dewasa, ia memfokuskan pada karirnya.

Lets hope (and fight) bahwa suatu saat nanti kita semua bisa seperti si Madeline, dalam hidup yang hanya sekali ini, semua fase hidup bisa fruitful dan menghasilkan dengan adanya jam kerja yang fleksibel dan kemungkinan bekerja part-time...

Note tentu banyak pilihan lain, berbisnis sendiri atau gabung MLM misalnya. Selama halal, kenapa tidak?





  












Monday 1 April 2013

Cerita Serafim

Saya tidak suka laut dan tidak pernah menjadikan pantai sebagai tempat wisata favorit saya. And yet, pada suatu hari yang kelam, dipenuhi hujan dan angin, saya menemukan saat paling damai di dunia, di atas bangku kayu tua di tepi pantai yang sunyi...

http://www.ceritaserafim.com/2013/03/emaks-tale-mesmerized-by-sea.html