Suatu kali saya membaca note seseorang di FB yang kebetulan di-share seorang teman. Note tentang tren orang tua sekarang yang memasukkan si anak balita ke berbagai kelas dan kegiatan. Sebagai penutupnya, note itu bertanya "Jadi apa alasannya anda memasukkan anak anda ke aneka kelas, les piano, berenang? Agar dia menjadi 'lebih' dibanding anak lain atau demi ambisi orang tua atau ikut- ikutan trend jaman sekarang? Apakah anda tidak takut anak anda stres dan terlalu lelah dengan segala jadwal yang anda sodorkan padanya?"
Membaca note tersebut, saya sih tidak tertarik untuk berkomentar atau memberikan pendapat. Untuk apa? Toh si penulis note sudah memutuskan bahwa memasukkan anak ke kelas itu sekedar tindakan egois para orang tua yang berambisi besar. Toh pertanyaan di note itu hanya sekedar pertanyaan retoris. Saya hanya berpikir "Duh, semoga gue tidak pernah menulis di blog dengan gaya menghakimi semacam itu."
Tetapi pertanyaan di note itu tetap terngiang di telinga, membuat saya merenung dan bertanya sendiri "Iya ya, apa sih alasan saya memasukkan Serafim ke aneka kelas dan kegiatan?" Jawaban pertama yang melintas tentu saja karena si tiga tahun saya sekarang sudah terlalu besar untuk puas hanya bermain bersama emaknya di rumah. Meskipun ia masih menikmati bermain sendirian bersama boneka- bonekanya atau menonton TV bersama boneka- bonekanya, ia sudah membutuhkan interaksi dengan anak- anak lain sebayanya. Meskipun ia sangat menikmati bermain bebas di taman, tetapi Sera lebih senang berada di ruangan kelas yang terstruktur dan in-control saat ia harus berinteraksi dengan anak lain. Itu alasan saya mengajaknya ke kelas musiknya. Karena ia gembira memukul drum. Dan itu alasan saya membawanya ke kelas renang. Karena selesai kelas, Sera akan dengan bangga melaporkan bahwa "I did jumping Mama!!! I'm a good swimmer! Oh and I dived too!"
Kemudian saya mengingat kembali saat- saat pertama kali saya mendaftarkan anak saya di kelas- kelas tersebut. Serafim yang berusia dua tahun pada saat itu menolak untuk meninggalkan pangkuan ibunya, menolak untuk bergandengan tangan dengan ibu lain dan menangis ketakutan saat ibu guru bertanya siapa namanya. Walau tentu saya malu hati juga karena Sera tampaknya yang paling penakut dan cengeng diantara teman sekelasnya, ibu guru dengan sabar menjelaskan bahwa anak saya memang masih dalam masa peralihan, dimana ia dulunya sangat tergantung pada ibunya dan sekarang belajar untuk menjadi lebih mandiri dan tidak lagi memandang dunia luar sebagai ancaman. Perlahan, Sera menjadi semakin berani. Dimulai dari langkah kecil saat ia mulai berani mencelupkan ujung jempol kakinya ke air kolam hingga sekarang tanpa ragu- ragu melompat ke dalam kolam renang. Ia juga belajar untuk sabar menanti giliran saat antri untuk bermain ayunan dan memahami bahwa mendorong dan merebut mainan temannya adalah hal yang tidak baik. Jadi ya, kelas- kelas yang diikuti Sera telah membantunya untuk mengembangkan kemampuannya bersosialisasi dan meningkatkan kepercayaan dirinya.
Tentu, tentu, akan selalu ada isu kapankah aneka kegiatan ini akan menjadi terlalu 'too much' dan membebani si anak. Akan selalu ada isu kapankah suatu kegiatan bisa dikompromikan atau wajib diikuti si anak (seperti bagi saya les bahasa Inggris itu wajib hukumnya, like it or not anak saya harus mengikutinya). Another story, another note. Saya kali ini hanya sedang ingin menulis apa alasan saya memasukkan Sera ke berbagai kelas dan memperkenalkannya ke berbagai kegiatan.
Saya cukup puas akan hasil pemikiran saya, bahwa tujuan saya mengikutkan si Sera ke berbagai kegiatan adalah untuk membuatnya bahagia, mengisi harinya dengan aktivitas yang menyenangkan dan mengembangkan kemampuannya bersosialisasi.
Saya cukup puas akan hasil pemikiran saya, bahwa tujuan saya mengikutkan si Sera ke berbagai kegiatan adalah untuk membuatnya bahagia, mengisi harinya dengan aktivitas yang menyenangkan dan mengembangkan kemampuannya bersosialisasi.
Kemudian, hari Rabu kemarin, sembari menunggu Sera yang sedang duduk dengan mata tak berkedip ke arah ibu pendongeng yang sedang membacakan sebuah buku di kegiatan story telling di perpustakaan lokal, tak sengaja pandangan mata saya tertumbuk pada rak buku yang berada di samping saya. Sederet novel anak- anak karangan Enid Blyton berjajar menarik minat saya. Malam itu, saya pulang ke rumah dengan membawa bekal lima buah novel yang saya pinjam dari perpustakaan. Setelah Sera dan Okhi tertidur lelap, saya mulai membaca petualangan Philip, Dinah dan Kiki the parrot di Lembah Kupu- Kupu. Membaca halaman demi halaman, ingatan saya tersedot pada kenangan puluhan tahun yang lalu, saat pertama kalinya saya membaca novel- novel klasik tersebut. Dulu, sepulang sekolah, saya akan bergegas menyelesaikan semua PR dan tugas agar bisa segera mulai membaca novel Petualangan Lima Sekawan yang saya pinjam di perpustakaan sekolah. Imajinasi saya melayang bersama dengan George dan Julian di Pulau Kirrin, melacak penjahat di atas mercusuar tua. Saya ikut berdebar saat Timmy si anjing ditangkap oleh para bandit. Beranjak dewasa, dengan perasaan puas saya membawa pulang buku- buku karya Andrea Hirata dari toko buku, duduk di beranda belakang rumah, membuka lembar demi lembar cerita Maryamah Karpov, menyesap keindahan rangkaian kalimat yang dihasilkan dari goresan pena seorang penulis hebat.
Saya ingat, bahwa seberat apapun hari yang saya lalui di tempat kerja, saya menemukan oase dan kedamaian saat membaca novel atau mulai mengetik note singkat di blog saya. Saya jelas bukan Andrea Hirata, tetapi sekedar menulis tulisan singkat yang hanya dibaca oleh teman- teman saya membuat saya merasakan damai. Disaat pikiran saya dipenuhi kemarahan atau stres karena keruwetan kehidupan metropolitan, saya akan bergegas menuju kolam renang, menceburkan diri ke air yang dingin dan kemudian meluapkan semua kegelisahan dan kemarahan dengan kayuhan tangan dan kaki membelah kolam renang.
Darimana awalnya kecintaan saya pada buku dan renang berawal? Berawal dari hadiah novel yang saya terima setiap kenaikan kelas dan perjalanan ke kolam renang kecil berair kehijauan bak cincau setiap akhir pekan. Emak saya dulu, dengan segala keterbatasan yang ada, telah mengenalkan saya pada keindahan yang ditawarkan sebuah buku cerita dan berenang. Setiap awal bulan sehabis gajian, dia akan mengajak saya ke toko buku dan saya boleh memilih satu buah novel untuk dibeli. Novel milik saya sendiri! Demi bisa membaca lebih banyak novel, saya rajin menyambangi perpustakaan sekolah atau duduk membaca di toko buku setiap akhir pekan. Dan perjalanan ke kolam renang lokal setiap hari minggu, yang tentu saja tanpa adanya pelatih renang bagi para balita, memperkenalkan saya pada kesenangan yang ditawarkan oleh air dan kegiatan mencelupkan kepala.
Ternyata, aktivitas yang mulai kita lakukan sejak kecil itulah yang kemungkinan besar akan tetap membekas sampai di masa tua. Kegiatan yang diperkenalkan sejak masa balita adalah yang mempunyai peluang menjadi kegiatan yang akan tetap dinikmati si anak kelak. Tanpa sadar, imajinasi yang melayang setiap membaca Lima Sekawan dulu di jaman SD adalah penyebab saya adalah pembaca kelas wahid, yang bisa melahap semua bacaan mulai dari novel 400 halaman hingga soal reading di tes IELTS secepat kilat (mungkin saya adalah sedikit orang yang selalu menyelesaikan soal bacaan di IELTS jauh lebih cepat sebelum waktu habis, sementara si Okhi selalu nyaris kekurangan waktu).
Ya. Lebih dari sekedar memberikan aktivitas yang menyenangkan bagi Serafim dan mengembangkan kemampuan sosialnya, saya diingatkan bahwa aneka aktivitas yang saya perkenalkan pada anak saya saat ini adalah salah satu cara untuk mengenalkan berbagai keindahan yang ditawarkan oleh kehidupan. Sama seperti emak saya mengenalkan keindahan membaca dan berenang, saya ingin memberi anak saya kesempatan untuk berkenalan juga dengan kedua aktivitas itu.
Tentu paling mudah untuk mengenalkan aktivitas yang saya sendiri juga menggemarinya. Karena saya akan bisa ikut serta secara aktif menikmatinya bersama si Sera. Oleh sebab itu saya memasukkannya ke kelas renang dan klub story telling. Kami rajin menyambangi perpustakaan dan meminjam belasan buku setiap kalinya.
Dahulu, saya tidak mempunyai kesempatan berkenalan dengan keindahan dunia musik sejak dini, sehingga meskipun saya sekarang adalah penggemar musik, saya tidak akan pernah menganggap bermusik sebagai hobi saya atau bisa menemukan kedamaian di musik sebesar saya menemukan kedamaian saat membaca. Saya pernah membaca sebuah penelitian yang diadakan di Australia, bahwa kegiatan bermusik memberikan banyak manfaat bagi anak- anak. Dengan belajar musik, anak- anak ini belajar tentang kedisiplinan, kerja sama dan ketekunan. Saat diwawancarai, anak- anak itu mengaku bahwa saat mereka bermain musik, tampil di pertunjukan sekolah, mereka merasa berarti dan 'belong to the world'. Kepercayaan diri mereka meningkat dan mereka bisa melampiaskan segala emosi ke musik.
Itulah sebabnya saya memperkenalkan kelas musik pada anak saya, untuk mengenalkan keindahan alunan nada dari nyanyian ataupun aneka alat musik. Siapa tahu musiklah yang kelak akan membawa kedamaian bagi diri Sera.
Sebuah ungkapan berkata "Hanya karena kamu tidak menyukai satu jenis makanan, jangan berasumsi bahwa si kecil juga tidak akan menyukainya." Saya dulu misalnya, karena tidak menyukai kacang polong, jadi tidak pernah sekalipun mengenalkan kacang polong pada Sera, karena saya berasumsi anak saya juga nggak bakalan doyan. Ternyata Sera suka tuh. Sama seperti aktivitas. Meskipun saya membenci kegiatan menggambar dan aneka craft, dan jelas tidak berbakat at all dalam hal itu, saya berusaha melawan naluri saya. Siapa tahu Sera ternyata berbeda dari emaknya dan ternyata justru akan menjadikan menggambar hobinya? #walau sebetulnya emaknya rada ogah- ogahan juga mengantar si sera ke kelas menggambar.
Mungkin anak saya akan sangat menyukai dan berbakat dalam salah satu bidang dan nantinya menjadi komposer besar sekelas Mozart. Mungkin pula ia akan mewakili Indonesia di ajang olimpiade. Atau jangan- jangan anak saya justru mengembangkan sendiri minatnya dan menemukan bahwa ia menggemari menyelam di antara terumbu karang lautan Indonesia yang teramat dahsyat dan menuliskan pengalamannya di National Geographic.
Tetapi bagi saya itu semua adalah bonus. Saya akan sangat berbahagia jika anak saya nantinya di masa depan bisa menemukan satu aktivitas dimana ia akan bisa merasa bahagia dan puas saat melakukannya. Ia mungkin akan seperti kebanyakan orang, berakhir dengan menjadi seorang manager, pebisnis, guru, dokter, perawat atau profesi- profesi lain yang lazim ditemui. Tetapi harapan saya, ia akan mempunyai paling tidak satu hobi, satu aktivitas yang bisa menjadi tempatnya mengasingkan diri dari permasalahan dunia, memberinya kebahagiaan dan me-recharge energinya untuk kembali ke kehidupan nyata.
Tugas saya sekarang adalah mencoba mengenalkan sebanyak mungkin kemungkinan aktivitas pada si Sera yang masih serupa kertas putih, agar ia memiliki khazanah yang luas akan berbagai pilihan aktivitas yang bisa dilakukannya. Karena kan ya nggak mungkin tahu- tahu Sera sendiri yang tahu bahwa ia ingin belajar piano di kelas (piano kayak apa saja dia belum ngeh). Tugas saya untuk mengenalkan. Dan tentu saja menjadi hak Sera untuk menentukan aktivitas yang digemarinya atau yang tidak disukainya, seperti Serafim yang tidak tertarik dengan kelas sepakbola.
Saat saya mempunyai cukup biaya, saya akan memasukkan anak saya ke kelas- kelas yang dikelola oleh para profesional. Tetapi disaat kelas semacam itu tidak tersedia atau kemampuan finansial saya tidak memadai, saya tetap akan berusaha mengenalkan aktivitas- aktivitas tersebut. Bila tidak ada klub bercerita, saya akan tetap membacakan cerita- cerita pengantar tidur dan setia mengantar anak saya ke toko buku. Bila kelas berenang balita terlalu mahal, saya akan mengajak balita saya berenang setiap minggu, mengenalkannya sejak dini akan kegembiraan yang ditawarkan air. Dan tahukah anda, bahwa kebanyakan chef saat ditanya sejak kapan kecintaannya pada kegiatan memasak dimulai, mayoritas menjawab saat mereka kanak- kanak, di dapur rumah mereka, bersama orang tua mereka. Saya tentu bukan seorang ahli masak, bahkan menggemari memasak saja tidak. Tetapi, saya akan berusaha mengikutkan Serafim dalam kegiatan masak memasak, meskipun sekedar mencelupkan udang ke tepung dan telur sebelum digoreng. Siapa tahu, memasak lah yang akan menjadi passion si Sera.
Karena apapun yang dikenalkan sejak masa kanak- kanak lah yang kemungkinan besar akan membekas dan kelak akan menjadi kegemaran si anak di masa depan. Tugas kita untuk memperkenalkan sebanyak mungkin, dan kemudian membantu si anak untuk memutuskan sendiri mana kah yang ingin ditekuninya. Semoga kelak, Sera akan menemukan sanctuarinya, seperti saya menemukan oase saya dengan membaca dan menulis.
Saat mengantar Sera berenang, harapan 'ambisius' emaknya adalah Sera kelak bisa menjadi pengganti Ian Thorpe. Harapan realistisnya adalah Sera akan bisa berenang karena itu masuk ke kurikulum disini sekaligus agar ia bisa menyelamatkan dirinya di air, plus agar ia belajar disiplin dan sehat bugar. Harapan romantisnya adalah agar Sera menemukan kedamaian dalam heningnya air.
Kehidupan menawarkan keindahan tak berbatas. It's up to you to introduce them to the little ones.
Kehidupan menawarkan keindahan tak berbatas. It's up to you to introduce them to the little ones.











No comments:
Post a Comment