Gara- gara pindah ke Australia, saya jadinya sudah pernah merasakan semuanya; kerja full time berangkat jam setengah enam pagi dan sampai rumah jam tujuh malam lima hari seminggu atau pengalaman sebaliknya, sama sekali tidak bekerja di kantor dan sepanjang hari menemani Sera di rumah.
Karena sudah mengalami keduanya, saya jadi tahu kebahagiaan apa yang ditawarkan masing- masing pilihan, serta kerugiannya. Saat saya masih bekerja full time, saya mendapatkan kepuasan batin karena saya merasa sudah bekerja secara profesional, mendapatkan penghasilan yang bagus yang turut membuat kehidupan keluarga saya menjadi lebih nyaman dari sisi finansial (ya kan ane kagak kawin sama pangeran Kelantan atau si irjen polisi yang uangnya sudah tidak bernomer seri). Bekerja membuat saya merasa berharga, membangkitkan kebanggaan akan diri dan kemampuan saya, membuat saya bisa pergi tidur dengan perasaan puas bahwa saya adalah seorang yang kompeten dan profesional.
Kemudian saat pindah ke Australia, saya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Tidak berkarir sama sekali. Sehari- harian bergelut dengan cucian piring yang entah kenapa semakin dicuci semakin bertambah saja rasanya, merapikan rumah dan aneka pernak- pernik lainnya. Dan tentu saja saya jadi mempunyai waktu untuk pergi ke berbagai kelas bersama Serafim, menemaninya pergi ke Gymbaroo dan kelas musik. Kemudian setelah beberapa bulan berjalan, setelah memperhatikan perilaku Sera di masing- masing kelasnya, memutuskan bahwa kelas musik lebih cocok baginya dan men-drop si gymbaroo. Kemudian mencoba kelas renang di suatu tempat yang ternyata kurang cocok bagi Sera (untuk kemudian mencoba kelas renang di tempat lain yang ternyata lebih sesuai bagi Sera).
Ohya, gara- gara menemani Sera bermain ke playgroup yang murah meriah, saya jadi tahu info bahwa di perpustakaan- perpustakaan itu selalu ada jadwal story telling yang bisa diikuti dengan gratis. Menemani sendiri Sera ke perpustakaan, saya bisa menyaksikan bahwa Sera tertarik dengan kegiatan story telling, tetapi justru playgroup murah meriah berhadiah lah yang tidak sesuai dengan Sera (jadinya saya tidak melanjutkan membawa Sera ke playgroup).
Kalau saja saya bekerja full time, bagaimana saya bisa tahu segala hal kecil remeh temeh soal Serafim yang tampaknya lebih menikmati kelas musik daripada Gymbaroo (padahal materinya mirip- mirip). Mana mungkin saya punya kesempatan untuk benar- benar cawe- cawe soal si Sera yang butuh banyak dukungan untuk mengatasi ketakutannya terhadap orang asing. Saya hanya akan mendengar cerita soal itu dari si embak atau orang lain yang menjaga Sera. Padahal Sera hanya akan balita selama sekejap mata saja.
Tetapi, as much as I enjoy menjadi orang yang paling paham soal Sera dan paling dekat dengannya (tidak ada pengasuh manapun yang bisa menyaingi kedekatan dan pengetahuan saya mengenai Sera), saya juga tidak sepenuhnya puas. Saya rindu bekerja. Saya rindu berangkat dengan kostum kantor, setiap pagi menuju mobil dengan tujuan yang pasti. Saya kehilangan percakapan dengan orang dewasa lain (yang tidak berkisar soal anak dan anak lagi). Dan yang terutama, saya kehilangan kebanggaan akan kemandirian saya. I know I know it's ridiculous, tapi saya tidak menikmati bahwa semua yang ada di rumah kami dibeli dengan uang gaji suami saya. Saya tidak menikmati bahwa saat saya ingin membeli sesuatu, seremeh apapun itu, berarti saya membutuhkan bantuan dari suami saya untuk membiayainya. Hal itu mengusik harga diri saya #yeah, kayak masih punya aja....
Kemudian, saya mencoba iseng- iseng melamar pekerjaan remeh temeh pecah belah di sebuah nursing home, semacam panti jompo yang banyak terdapat di sini. Eh, mereka mempunyai lowongan untuk shift tujuh jam di hari Jumat. Jadilah setiap jumat jam enam pagi saya sudah meluncur menuju 'kantor' baru saya. Dan ternyata, kembali bekerja sesudah setahun lebih di rumah itu cukup melelahkan juga yah! Saya lupa bagaimana lelahnya bekerja (walau saat awal dulu pertama kalinya berhenti bekerja dan hanya mengurus rumah dan anak saya juga merasakan kelelahan yang sangat. Ebuset, kenapa jauh lebih capek mengurus rumah ya daripada kerja di kantor?). Masalah kebiasaan saja tampaknya.
Setelah sebulan berjalan, bahkan hanya dengan satu hari bekerja per minggu di pekerjaan yang jelas bukan my cup of tea, saya seolah mendapatkan kembali kepuasan yang sudah setahun lamanya tidak saya rasakan. Kepuasan bahwa saya bisa menghasilkan uang saya sendiri (walau tentu tiada artinya sebetulnya nilainya, hehehe). Saya mandiri.
Kemudian saya mulai mendapat shift- shift tambahan, hingga akhirnya mencapai tiga hari kerja seminggu. Hohoho, duit yang masuk mulai signifikan, dan saya berada di puncak kebahagiaan. Saya menghasilkan uang, saya bekerja, tetapi sekaligus saya masih bisa mengantar Sera ke kelas musik dan renangnya. Kemudian, saya mengambil sertifikat, yang jadwal kuliahnya dua kali seminggu. Hohoho, dan ternyata 'sibuk di luar rumah' selama lima hari penuh membuat saya kehilangan kesempatan untuk sekedar menemani Sera bermain di halaman belakang, pergi ke perpustakaan atau menemaninya menjelajah taman di samping perpustakaan, pura- pura menjadi pembeli di toko kelontong Simbok Sera yang menjual aneka kelopak bunga dan daun kering. Tentu tentu, selama emaknya bekerja bukan berarti Sera terlantar. Dia dititipkan di childcare yang mungkin bahkan lebih mendidik dan menghibur daripada emaknya, tanpa TV dan lots of painting.
"Kayaknya nanti kalau kamu sudah beneran mau kerja di farmasi, kalau bisa cari kerjaan part- time yang seminggu dua atau tiga hari kerja aja deh," komentarnya si Okhi.
Hm, iya juga ya. Setelah merasakan sendiri, ternyata bekerja full time lima hari seminggu dari pagi sampai petang itu merampas waktu saya dengan Serafim terlalu banyak. Sementara tidak bekerja sama sekali merampas kesempatan saya untuk berkarir dan menghasilkan duit. Merenungkan kondisi saya sekarang, saya jadi merasa bersyukur juga bahwa saya punya pilihan untuk bekerja part time, yang hanya 2- 3 hari seminggu. Dan jadinya saya berpikir, kenapa ya ide semacam ini belum populer di Indonesia?
Di nursing home tempat saya bekerja, mereka mempunyai seorang manager terapi musik, Sharon namanya. Ia bekerja full time lima hari seminggu. Kemudian Sharon melahirkan seorang bayi kecil. Setelah masa cutinya selama setahun habis (note: disini ada pilihan cuti 6 bulan hingga setahun. Tidak dibayar sih setelah enam bulan, tetapi banyak ibu yang mengambil cuti selama setahun kalau kondisi keuangan mereka memungkinkan), Sharon kembali ke kantor. Tetapi ia memutuskan bahwa bekerja lima hari seminggu is too much for her, karena ia juga ingin menghabiskan waktu bersama bayinya. Jadilah ia bekerja tiga hari seminggu (Senin, Rabu, Jumat). Di hari Selasa dan Kamis, saat Sharon berada di rumah bersama bayinya, Joy menggantikan posisi Sharon di kantor. Joy juga mempunyai bayi, dan bekerja dua hari seminggu sudah cukup menyenangkan hatinya.
Hanya bekerja dua atau tiga hari seminggu, bagi banyak ibu disini, adalah pilihan yang menyenangkan. Karena masa balita hanyalah sekejap mata, bisa menghabiskan empat hari seminggu bersama si balita adalah hal yang menyenangkan. Memang, secara karir mungkin mereka tidak akan terlalu bersinar dibanding yang bekerja full time penuh dedikasi, dan dari segi pendapatan juga tidak akan tinggi. Tetapi, yang terpenting mereka bekerja. Kepuasan batin didapat, dan pada saat nantinya si balita sudah duduk di bangku SD, dan akan berada di sekolah seharian, si ibu akan dengan mudah menambah jam kerja. Saat si anak sudah di bangku SMP, si ibu akan bisa bekerja full time lagi. Bandingkan bila selama lima tahun usia si balita kemudian si ibu berhenti bekerja sepenuhnya. Pada saat anaknya sudah tidak sebegitunya membutuhkan si ibu di rumah, dan sebetulnya si ibu sudah bisa kembali bekerja, tapi ya kagok jugalah kalau sudah bertahun- tahun tidak bekerja. Dan biasanya jadinya rada malas juga untuk kembali berburu pekerjaan.
Salah satu artikel berita disini kemarin membahas masalah 'back to work' mom. Saat seorang wanita memutuskan berhenti bekerja saat anaknya masih kecil, dia memang akan kehilangan pendapatan. Tetapi itu bisa disebut resiko yang harus diambil karena anakmu masih kecil. Tetapi masalah timbul saat si anak sudah beranjak besar, dan sebetulnya si wanita sekarang mempunyai banyak waktu untuk bekerja kembali, tetapi karena ia sudah terlalu lama tidak bekerja, banyak yang akhirnya kagok juga. Dan berakhir dengan tidak bekerja for the rest of her life. Itulah yang disayangkan, karena mereka mempunyai potensi, kecerdasan dan waktu. Dan dengan tidak bekerja seterusnya, maka si wanita akan kehilangan kemandirian finansial, tergantung sepenuhnya pda pasangannya. Keluarga itupun, akan kehilangan potensi finansial yang dibutuhkan agar nantinya mereka bisa pensiun dengan uang yang cukup. Itulah yang sekarang sedang menjadi perhatian, bagaimana agar para emak yang berhenti bekerja selama merawat anaknya, bisa kembali masuk ke dunia kerja sesudah tugasnya membesarkan anak selesai.
Saya sendiri sempat merasakan kira- kira bagaimana rasanya akan berada di rumah seharian saat anak saya nanti sudah besar. Beberapa bulan lalu, Serafim sudah masuk ke kinder sementara kuliah saya belum dimulai. Selama dua bulan saya sendirian di rumah sementara Sera di kinder, dan saya rada mati gaya. Dengan potensi yang saya miliki, dan saya hanya menghabiskannya untuk membersihkan kaca jendela dan mengepel lantai? Itu sangat tidak memuaskan bagi saya. Saya bahagia menghabiskan hari mengurus Sera, memastikan ia berada di dalam perawatan terbaik oleh emaknya. tetapi, saat si Sera dewasa nanti, dan tidak lagi membutuhkan emaknya 24/7, lalu saya harus ngapain? Membersihkan rumah again and again sampai berkilat? Mencoba berbagai resep Jamie Oliver? Menarik sih, tapi tidak fulfilling (bagi saya).
Dan saya yakin banyak emak- emak di luar sana yang juga seperti saya. Kita ingin membesarkan anak kita, tetapi ingin juga saat si anak sudah besar nanti, kita bisa kembali bekerja, mendapatkan penghasilan dan meniti karir. Kalau saja sistem kerja part- time berkembang di Indonesia, betapa banyaknya emak- emak yang akan bersuka cita.... Bisa membesarkan anak dengan kesadaran saat si anak besar nanti, mereka bakalan bisa kembali bekerja dan berpenghasilan....
Madeline Albright, secretary of state nya Amerika serikat berkata, wanita bisa memiliki segalanya. Mereka bisa bekerja profesional, membesarkan anak, menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir cemerlang. Hanya pesannya, semuanya tidak bisa dicapai dalam satu waktu yang bersamaan. Madeline menghabiskan 12 tahun terfokus membesarkan anak- anaknya, dan saat anaknya sudah beranjak dewasa, ia memfokuskan pada karirnya.
Lets hope (and fight) bahwa suatu saat nanti kita semua bisa seperti si Madeline, dalam hidup yang hanya sekali ini, semua fase hidup bisa fruitful dan menghasilkan dengan adanya jam kerja yang fleksibel dan kemungkinan bekerja part-time...
Note tentu banyak pilihan lain, berbisnis sendiri atau gabung MLM misalnya. Selama halal, kenapa tidak?
Di nursing home tempat saya bekerja, mereka mempunyai seorang manager terapi musik, Sharon namanya. Ia bekerja full time lima hari seminggu. Kemudian Sharon melahirkan seorang bayi kecil. Setelah masa cutinya selama setahun habis (note: disini ada pilihan cuti 6 bulan hingga setahun. Tidak dibayar sih setelah enam bulan, tetapi banyak ibu yang mengambil cuti selama setahun kalau kondisi keuangan mereka memungkinkan), Sharon kembali ke kantor. Tetapi ia memutuskan bahwa bekerja lima hari seminggu is too much for her, karena ia juga ingin menghabiskan waktu bersama bayinya. Jadilah ia bekerja tiga hari seminggu (Senin, Rabu, Jumat). Di hari Selasa dan Kamis, saat Sharon berada di rumah bersama bayinya, Joy menggantikan posisi Sharon di kantor. Joy juga mempunyai bayi, dan bekerja dua hari seminggu sudah cukup menyenangkan hatinya.
Hanya bekerja dua atau tiga hari seminggu, bagi banyak ibu disini, adalah pilihan yang menyenangkan. Karena masa balita hanyalah sekejap mata, bisa menghabiskan empat hari seminggu bersama si balita adalah hal yang menyenangkan. Memang, secara karir mungkin mereka tidak akan terlalu bersinar dibanding yang bekerja full time penuh dedikasi, dan dari segi pendapatan juga tidak akan tinggi. Tetapi, yang terpenting mereka bekerja. Kepuasan batin didapat, dan pada saat nantinya si balita sudah duduk di bangku SD, dan akan berada di sekolah seharian, si ibu akan dengan mudah menambah jam kerja. Saat si anak sudah di bangku SMP, si ibu akan bisa bekerja full time lagi. Bandingkan bila selama lima tahun usia si balita kemudian si ibu berhenti bekerja sepenuhnya. Pada saat anaknya sudah tidak sebegitunya membutuhkan si ibu di rumah, dan sebetulnya si ibu sudah bisa kembali bekerja, tapi ya kagok jugalah kalau sudah bertahun- tahun tidak bekerja. Dan biasanya jadinya rada malas juga untuk kembali berburu pekerjaan.
Salah satu artikel berita disini kemarin membahas masalah 'back to work' mom. Saat seorang wanita memutuskan berhenti bekerja saat anaknya masih kecil, dia memang akan kehilangan pendapatan. Tetapi itu bisa disebut resiko yang harus diambil karena anakmu masih kecil. Tetapi masalah timbul saat si anak sudah beranjak besar, dan sebetulnya si wanita sekarang mempunyai banyak waktu untuk bekerja kembali, tetapi karena ia sudah terlalu lama tidak bekerja, banyak yang akhirnya kagok juga. Dan berakhir dengan tidak bekerja for the rest of her life. Itulah yang disayangkan, karena mereka mempunyai potensi, kecerdasan dan waktu. Dan dengan tidak bekerja seterusnya, maka si wanita akan kehilangan kemandirian finansial, tergantung sepenuhnya pda pasangannya. Keluarga itupun, akan kehilangan potensi finansial yang dibutuhkan agar nantinya mereka bisa pensiun dengan uang yang cukup. Itulah yang sekarang sedang menjadi perhatian, bagaimana agar para emak yang berhenti bekerja selama merawat anaknya, bisa kembali masuk ke dunia kerja sesudah tugasnya membesarkan anak selesai.
Saya sendiri sempat merasakan kira- kira bagaimana rasanya akan berada di rumah seharian saat anak saya nanti sudah besar. Beberapa bulan lalu, Serafim sudah masuk ke kinder sementara kuliah saya belum dimulai. Selama dua bulan saya sendirian di rumah sementara Sera di kinder, dan saya rada mati gaya. Dengan potensi yang saya miliki, dan saya hanya menghabiskannya untuk membersihkan kaca jendela dan mengepel lantai? Itu sangat tidak memuaskan bagi saya. Saya bahagia menghabiskan hari mengurus Sera, memastikan ia berada di dalam perawatan terbaik oleh emaknya. tetapi, saat si Sera dewasa nanti, dan tidak lagi membutuhkan emaknya 24/7, lalu saya harus ngapain? Membersihkan rumah again and again sampai berkilat? Mencoba berbagai resep Jamie Oliver? Menarik sih, tapi tidak fulfilling (bagi saya).
Dan saya yakin banyak emak- emak di luar sana yang juga seperti saya. Kita ingin membesarkan anak kita, tetapi ingin juga saat si anak sudah besar nanti, kita bisa kembali bekerja, mendapatkan penghasilan dan meniti karir. Kalau saja sistem kerja part- time berkembang di Indonesia, betapa banyaknya emak- emak yang akan bersuka cita.... Bisa membesarkan anak dengan kesadaran saat si anak besar nanti, mereka bakalan bisa kembali bekerja dan berpenghasilan....
Madeline Albright, secretary of state nya Amerika serikat berkata, wanita bisa memiliki segalanya. Mereka bisa bekerja profesional, membesarkan anak, menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir cemerlang. Hanya pesannya, semuanya tidak bisa dicapai dalam satu waktu yang bersamaan. Madeline menghabiskan 12 tahun terfokus membesarkan anak- anaknya, dan saat anaknya sudah beranjak dewasa, ia memfokuskan pada karirnya.
Lets hope (and fight) bahwa suatu saat nanti kita semua bisa seperti si Madeline, dalam hidup yang hanya sekali ini, semua fase hidup bisa fruitful dan menghasilkan dengan adanya jam kerja yang fleksibel dan kemungkinan bekerja part-time...
Note tentu banyak pilihan lain, berbisnis sendiri atau gabung MLM misalnya. Selama halal, kenapa tidak?
Interesting blog! Sharing sedikit ya.. Kebetulan saya juga sudah menjadi IRT selama 4 tahun, sejak menikah & tinggal di Norway. Totally agree dengan pendapat kamu di atas mengenai side positif-negatif bekerja.
ReplyDeleteDi sini pekerjaan part time juga populer. Tidak hanya jumlah hari bekerja, tapi juga jumlah jam. Misal, banyak sekretaris yg bekerja 80%, hanya untuk mendapatkan 'korting' 1,5 jam per hari (bisa berangkat lebih siang + pulang lebih awal) untuk sempat anter-jemput anak di daycare.
Tetapi tidak semua posisi menawarkan peluang untuk bekerja secara part time seperti ini. Misalnya untuk posisi sebagai engineer, posisi yg ditawarkan selalu 100%. Mungkin juga karena komitmen yg diperlukan terhadap pekerjaan lebih besar, jadi pada akhirnya antara bekerja 80% dan 100% hanya akan berbeda di jumlah gajinya saja. Apalagi kebijakan di sini sah2 saja untuk home office sampai sekian jam per minggu asal boss setuju. Jadi pilihannya pada akhirnya mirip2 juga dengan di Indonesia: bekerja atau tidak. :p