Minggu lalu saya melihat video pesta ulang tahun seorang keponakan di sebuah restoran cepat saji. Si anak yang cantik berseri dengan baju merah menyala mengembang penuh bunga, pita dan renda serta memakai tiara dan membawa tongkat peri berujung bintang. Seperti layaknya pesta ulang tahun, kue cantik berhias krim yang didekor sesuai kesenangan si anak pada tokoh barbie dengan elok menghiasi meja kecil, lengkap dengan empat buah lilin mungil berwarna merah. Namanya pesta ulang tahun, si anak tentu saja menjadi little princess sehari, menjadi pusat perhatian, meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya, dikelilingi oleh keluarga yang mencintainya yang bertepuk tangan meriah saat ia meniup lilinnya. Teriring doa- doa bagi masa depan yang penuh kebahagiaan bagi si anak.
Selesai menuntaskan video yang dipenuhi senyum dan kebahagiaan, saya tentu saja ikut tersenyum. Sekarang saja, meskipun baru berusia tiga tahun dan emaknya bukanlah seorang yang bergairah dengan aneka perayaan, Serafim sudah mengerti arti ulang tahun. Ritual menyanyi happy birthday dan meniup lilin di atas kue cantik merupakan ritual yang menyenangkan bagi anak kecil. And I have nothing against this beautiful moment, yang melambangkan kegembiraan akan peristiwa lahirnya si anak ke dunia sekaligus harapan doa untuk masa depannya.
Sekali lagi saya memutar video itu, karena si Serafim ingin melihat lagi "Birthday Party". Si princess kecil berpose di tengah- tengah anak- anak lain, membuka kado. Kemudian, tibalah saatnya para anak- anak teman si princess ini untuk menerima bingkisan yang dibagikan dalam kantong plastik berwarna- warni. Anak cowok mendapat kantong bergambar The Cars sementara para balita cewek mendapat bagian kantong hello kitty pink.
Everyone is happy. Perayaan ulang tahun balita memang membawa kebahagiaan bagi semua orang (kecuali mungkin orang tua si anak yang harus mengeluarkan duit untuk membeli kue ulang tahun, hihi). Saya sudah pernah mengikuti acara ulang tahun balita di berbagai tempat, kediaman pribadi si anak, restoran cepat saji atau malah hotel berbintang nan mewah (kalau yang terakhir adalah tempat saya berburu mencari calon mantu).
Satu lagi tempat yang sekarang rupanya menjadi tren untuk merayakan ulang tahun, mulai dari para balita hingga para artis, yaitu panti asuhan. Sayapun, saat ulang tahun Serafim yang pertama, memutuskan untuk merayakannya di sebuah panti asuhan yang menjadi tempat bernaung bagi para anak yang memiliki keterbelakangan mental maupun cacat tubuh. Pertimbangan saya pada saat itu adalah "Toh Serafim masih bayi, belum paham artinya pesta ulang tahun dan belum punya teman juga, jadi kenapa tidak merayakan pesta ulang tahun bersama mereka yang membutuhkan?"
Dan tentu saja walaupun judulnya pesta ulang tahun, dan tersedia pernak- pernik khas ulang tahun semacam kue, bingkisan dan makanan, tetapi for sure that's not all. Saya juga membawa sumbangan uang, beras dan beberapa barang kebutuhan pokok lainnya. Seperti lazimnya yang dibawa orang kalau pergi ke panti asuhan lah. Acara berjalan dengan lancar. Bayi Serafim yang masih bulet ipel- ipel sepenuhnya tidak peduli dengan si pesta, dia sibuk sendiri menggigiti pita gaun berendanya. Para penghuni panti asuhan, di bawah bimbingan suster penjaga mereka, duduk dengan tertib, menyanyi dengan riang dan menyantap makanan dengan lahap. Saat emaknya Serafim memotong kue, anak- anak yang lebih kecil menggerumbul di depan si kue, penasaran akan bentuk si kue. Dan kemudian dengan mata berbinar berlalu sambil membawa potongan kue berhias krim. Hati saya puas bahwa di pesta ulang tahun balita saya, saya tidak menghambur- hamburkan uang demi perayaan mewah tak berarti. Duit saya 'terbelanjakan' untuk membantu panti asuhan yang memang hanya hidup dari derma dan anak- anak penghuninya yang mungkin tidak sering menikmati pesta.
Tadi pagi, sembari menunggui Sera berenang, saya membuka- buka halaman facebook saya. Seorang teman memposting album yang berisi pesta ulang tahun anak gadis ciliknya di sebuah panti asuhan. Adegan demi adegan yang terekam dalam foto di albumnya persis sama dengan acara ulang tahun ponakan saya di restoran cepat saji atau dengan pestanya Serafim di panti asuhan dua tahun silam. Ada kue ulang tahun, ada bingkisan, ada si princess dengan baju megah dan ada orang- orang dewasa anggota keluarga si anak yang turut hadir; aa, teteh, nenek, kakek, simbah buyut, pakde, budhe, sepupu dan (mungkin) lurah dan camat yang turut mengundang (lha kok kayak acara nikahan?). Hanya bedanya, saat dulu melihat foto semacam ini saya hanya akan ikut senang, tapi kok sekarang saya jadi tersentuh ya? Apa mungkin karena saya sekarang sudah merasakan bagaimana rasanya punya anak balita yang sudah mengerti arti perayaan ulang tahun?
Hati saya tersentuh melihat wajah- wajah kecil dalam balutan seragam hijau panti asuhan mereka. Yang duduk dengan tertib saat si princess berdiri berseri sembari dikelilingi orang- orang dewasa yang mencintainya. Dengan patuh mereka ikut mendendangkan lagu happy birthday bagi si princess. Dan mata mereka terbelalak saat kue ulang tahun dipotong, bergerumbul tak sabar melihat lapisan cokelat dibalik krim warna- warni. Ibu pengurus panti asuhan kemudian ikut serta memimpin permainan dan games, dan paduan suara riuh rendah pun berkumandang, mengucapkan selamat ulang tahun bagi si princess (sesuai keterangan foto). Dengan sabar mereka meletakkan bingkisan yang dibagikan keluarga si princess, dan saat ibu pimpinan memberi tanda untuk membukanya, tangan- tangan mungil itu segera beraksi, dan wajah mereka mengingatkan saya akan wajah saya saat menerima bingkisan saat saya menghadiri pesta ulang tahun teman saya saat dulu saya masih duduk di bangkus SD.
Dulu, merayakan ulang tahun di panti asuhan hanya berarti berbagi berkat dengan anak- anak panti asuhan, berbagi suka cita di hari ulang tahun. Tetapi pagi ini, saat melihat anak- anak kecil ini dalam seragam mereka, saya jadi bertanya- tanya sendiri "Bagaimana ya perasaan anak- anak ini saat melihat seorang anak lain dirayakan ulang tahunnya dengan meriah, tersedia kue dan baju megah dan dikelilingi belasan saudara dan keluarga, meniup kue ulang tahun didampingi ayah dan ibu yang nantinya mencium penuh haru dan sayang?"
Apakah mereka akan sepenuhnya mensyukuri karena bisa ikut bersuka cita dalam suatu perayaan meriah? Ataukah melihat semua hal itu membuat anak- anak ini diingatkan kembali akan kenyataan bahwa tidak seperti teman- teman mereka yang lain, tidak akan ada ayah dan ibu yang akan mendampingi di hari ulang tahun mereka. Tidak seperti teman mereka yang dikelilingi kakek nenek om dan tante, mereka akan didampingi oleh para pengurus panti asuhan yang cinta kasih dan perhatiannya harus dibagi bersama puluhan anak lainnya. Dan tentu not likely anak- anak ini akan mendapat kue nan indah, baju meriah dan tumpukan kado seperti teman- teman mereka itu.
Siangnya, saya mengobrol dengan seorang teman. Saya menceritakan 'pemikiran baru' yang tiba- tiba melintas terkait dengan merayakan ulang tahun anak kita di panti asuhan. "Bagaimana kalau sebetulnya aku berniat baik dengan merayakan pesta di panti asuhan, tetapi tanpa sengaja aku justru menyakiti hati para anak- anak itu ya, karena memamerkan yang tidak mereka miliki; orang tua, sanak keluarga dan kemewahan hidup (perayaan ulang tahun 'biasa' pun bisa terhitung mewah kan bagi anak- anak ini)?"
Teman saya dengan bijak menjawab bahwa saya berpikir seperti itu karena saya melihat dari sudut pandang ala seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga normal. "Mungkin bagi anak- anak ini, mereka sudah terbiasa hidup tidak bersama keluarga mereka, dan pengurus panti asuhan serta sesama penghuni adalah keluarga mereka. Mungkin mereka memang tidak didampingi ayah dan ibu saat ulang tahun, tetapi aku yakin di panti asuhan yang baik, ulang tahun anak- anak ini tetap dirayakan. Mungkin sangat sederhana bagi standarmu, tapi yang penting anak- anak ini tetap dianggap penting dan diingat kan. Jadi rasanya kita tidak perlu kuatir bahwa kita akan menyakiti mereka."
Berpikir- pikir lagi, saya cukup bisa bersepakat dengan pemikiran teman saya ini. Toh sayapun juga tidak sakit hati saat dulu ada teman SD yang acara ulang tahunnya dirayakan dengan megah (dia anaknya konglomerat). Jadi kenapa saya harus sebegitu berburuk sangka bahwa anak- anak panti asuhan ini adalah sekelompok anak berhati super sensitif yang merasa dirinya sebagai korban keadaan dan menghabiskan harinya dengan meratapi kondisi mereka? Toh saat saya dulu merayakan ulang tahunnya si Sera, anak- anak panti asuhan itu adalah sekelompok anak paling ramah dan menyenangkan, yang bersemangat untuk maju menyanyi dan riang gembira menggoda si Sera. Jadi ya, saya akan lagi dan lagi mencoba membagikan berkat di panti asuhan.
Hanya, sekarang, mungkin saya akan sedikit lebih bijaksana. Saat saya memutuskan untuk merayakan ulang tahun si Sera di panti asuhan misalnya, saya harus ingat bahwa audiens pesta saya berbeda. Bila saya mengadakan pesta bagi teman- teman TK nya si Sera, maka saya bisa yakin bahwa anak- anak itu adalah anak- anak yang juga mempunyai orang tua dan sanak keluarga dan MAMPU mengadakan pesta ulang tahun mereka sendiri. Sementara, anak- anak panti asuhan adalah mereka yang tidak mempunyai orang tua dan sanak saudara serta not likely akan mempunyai kesempatan merayakan pesta ulang tahun dengan semeriah ini, dimana mereka mendapat kesempatan menjadi makhluk paling penting sejagad raya hari itu.
Saat mengadakan pesta ulang tahun bagi teman- teman TK nya Serafim, maka fokus perhatian saya semata mengadakan pesta yang meriah, dengan pengisi acara yang ciamik sehingga bocah- bocah ini terhibur, dan tentu saja yang terpenting Serafim benar- benar merasa sebagai balita paling penting abad ini. Masalah kebutuhan anak- anak lain akan perayaan ulang tahun bagi diri mereka sendiri ataupun perasaan dianggap penting dan berarti, ya itu urusannya emak bapaknya sendiri, bukan urusan saya :P.
Sementara kalau saya berniat mengadakan di panti asuhan, saya harus berusaha mengingat bahwa selain bingkisan, makanan dan kemeriahan pesta, para audiens saya juga longing untuk dianggap sebagai manusia yang berarti. Yang mempunyai makna bagi dunia. Yang juga membutuhkan dicintai dan diperhatikan. Dan mungkin mempunyai dahaga tidak hanya terhadap bingkisan dan kue ulang tahun, tetapi terhadap kasih sayang dan perasaan dianggap penting (seperti seorang anak yang langsung minta dipangku dan dipeluk saat pestanya Sera dulu).
Sementara kalau saya berniat mengadakan di panti asuhan, saya harus berusaha mengingat bahwa selain bingkisan, makanan dan kemeriahan pesta, para audiens saya juga longing untuk dianggap sebagai manusia yang berarti. Yang mempunyai makna bagi dunia. Yang juga membutuhkan dicintai dan diperhatikan. Dan mungkin mempunyai dahaga tidak hanya terhadap bingkisan dan kue ulang tahun, tetapi terhadap kasih sayang dan perasaan dianggap penting (seperti seorang anak yang langsung minta dipangku dan dipeluk saat pestanya Sera dulu).
Kalau punya rejeki berlebih, bolehlah mengatur dengan pihak panti asuhan agar setiap bulan kita bisa ikut berperan serta menyumbang semampunya untuk merayakan ulang tahun para penghuni panti asuhan yang berulang tahun pada bulan itu. Karena seenak- enaknya menjadi penonton, saya percaya tidak ada yang lebih membahagiakan anak- anak ini daripada bila ulang tahun mereka lah yang dirayakan dan merekalah yang menjadi pusat perhatian. Bila belum mampu, dan kita ingin sekedar merayakan ulang tahun anak kita di panti asuhan, berusahalah untuk mengingat bahwa kita seharusnya merayakannya di panti asuhan dengan tujuan berbagi berkat dan perhatian bagi mereka. Jangan sampai kita sekedar membuat mereka justru teringat apa yang tidak mereka miliki di dunia ini.
Bagi saya, kalau memang ingin merayakan pesta ulang tahun di panti asuhan, janganlah misalnya semua kado yang diterima anak kita dari ratusan sanak keluarga dan temannya dibawa ke panti asuhan dan dibuka disana. Kalau memang Serafim punya ratusan keluarga yang tak sabar memeluk dan menciumnya di hari ulang tahun, apakah perlu membawa mereka semua ke panti asuhan dan kemudian menunjukkan pada anak- anak ini prosesi penuh haru saat Sera disirami kasih sayang dan perhatian dari semua saudaranya? Do we really want to remind these kids that they will never get those things? Kalau anda merasa semua itu harus dilakukan, just do somewhere else then.
Dengan merayakan di panti asuhan, kita berkomitmen untuk membagi berkat. Berkat itu berupa makanan, bingkisan, kemeriahan pesta dan kalau bisa juga berupa cinta serta perhatian. Saya sedang berpikir- pikir kira- kira ide acara seperti apa ya yang akan membuat Serafim sebagai si ratu pesta senang di hari ulang tahunnya, tapi sekaligus membuat para anak panti asuhan juga merasa penting dan di-uwong-ke. Oh well, I still have plenty times to think :D
Note: sempat juga terpikir bagaimana kalau sekaligus merayakan ulang tahun anak- anak yang berulang tahun pada bulan itu ya? Hanya setelah dipikir- pikir sepertinya bukan ide bagus untuk membuat sebagian anak dirayakan ulang tahunnya sementara yang lainnya tidak.
Note: sempat juga terpikir bagaimana kalau sekaligus merayakan ulang tahun anak- anak yang berulang tahun pada bulan itu ya? Hanya setelah dipikir- pikir sepertinya bukan ide bagus untuk membuat sebagian anak dirayakan ulang tahunnya sementara yang lainnya tidak.
![]() |
| Belajar untuk membagi pusat perhatian di hari ulang tahun si Sera |
![]() |
| Karena merekapun ingin dianggap penting dan bermakana, tidak sekedar pelengkap penderita |


Pemikiran yang bagus. Jempol untuk atensinya kepada yang berkekurangan. Bagaimana kalau kita ingin merayakan ulang tahun di Panti asuhan sekaligus merayakan ulang tahun penghuni panti yang berulang tahun pada bulan yang sama. Misal ada 5 yg ulang tahun berarti prince dan princessnya juga ditambah 5.
ReplyDeleteMm....
ReplyDeleteBerhasil makin bijaksananya?
Sekolah opo buk saiki?
sekolah menjahit dan merajut.....
DeleteGood thinking. Boleh tau, itu di panti asuhan mana? daerah mana
ReplyDeleteterima kasih
Mbak itu dipanti asuhan mana ya? Thank u
ReplyDelete