Monday 6 May 2013

My Monday Note -- Pendidikan Karakter Di Sekolah Bagi Anak Kita

Kira- kira beberapa minggu yang lalu, news feed facebook saya dikunjungi oleh satu buah foto yang rupanya sedang trend dan banyak dibagikan oleh teman- teman saya. Ini fotonya. Jangan- jangan anda mengenali foto dan cerita yang menyertainya, atau justru ikut membagikannya? 


Long story short, foto ini menceritakan bagaimana sekolah di Jepang adalah kawah candradimuka bagi pendidikan moral bagi para bocah- bocah piyik murid SD. Membaca deskripsi tentang nilai moral yang diajarkan di SD- SD Jepang, langsung terbayang bahwa memang itulah gaya Jepang yang saya kenal (kebetulan dulu saya bekerja di perusahaan Jepang dan bergaul terlalu akrab, 12 jam sehari kalau saya sedang 'beruntung' -_-).

Para rekan kerja Jepang saya punya tipikal sangat sopan, tidak emosional dan sangat menghargai orang yang lebih tua. Suatu kali, bos Indonesia saya yang sudah uzur mengunjungi pabrik supplier di Jepang. Semua pekerja pabrik membungkuk hormat pada si kakek. Si kakek balas membungkuk. Semua pekerja pabrik kembali membungkuk. Si kakek balas membungkuk lagi. Para pekerja membalas membungkuk. Si kakek mulai kebingungan kapan selesainya ini acara membungkuk, boyoknya sudah pegel. Sang penterjemah berbisik "Sudah Pak, tidak perlu membungkuk lagi" karena ternyata para pekerja pabrik akan terus membungkuk selama si tetua masih membalas membungkuk. Si kakek menggerutu pegal. Saya terkekeh geli (pelan- pelan dong, daripada dipecat).

Dan tentu saja salah satu hal paling menonjol dari orang Jepang adalah kerapian dan kedisiplinan dalam segala hal.  

Dan ternyata, karakter ini bukanlah hasil sulap sim salabim mengandalkan genetika semata. Semua itu hasil pendidikan tanpa henti dimana anak- anak dikenalkan akan nilai moral bangsa Jepang yang sangat teratur, disiplin, pekerja keras dan hormat kepada yang lebih tua sejak dini.   

Membaca cerita soal pendidikan moral di Jepang, dimana anak- anaknya sudah selalu diajarkan menata sepatu dengan rapi, bergiliran membersihkan toilet dan sebagainya, sama seperti kebanyakan teman yang men-share cerita ini di Facebook, saya juga berdecak kagum. Tetapi sementara teman- teman saya membandingkannya dengan situasi pendidikan di Indonesia (yang hasil perbandingannya kebanyakan menghasilkan keprihatinan "Kalau saja Indonesia juga bisa begini"), saya membandingkannya dengan situasi di Australia, lebih tepatnya Melbourne. Tentu saja karena kebetulan si Sera sedang bersekolah disini.

Membaca deskripsi pendidikan karakter di sekolah Jepang, dengan segala kerapian dan disiplinnya dan bagaimana anak- anak dididik membersihkan toilet bergantian, saya jadi berpikir- pikir, "Hm, tampaknya kok pendidikan karakter ini juga tidak ada ya di sekolah di Melbourne?" Setiap mengantar Sera ke kelas kindernya, saya hanya menggeletakkan si tas di satu sudut yang sudah ditentukan, tidak berjejer rapi. Dan tampaknya tidak ada penekanan soal disiplin dan kerapian whatsoever. Ya biasa sajalah. "Wah, sama aja dengan Indonesia ini berarti," pikir saya. Saat menjemput Sera pun, saya akan menemukan jaketnya teronggok di tempatnya, tidak dilipat dengan apik dan rapi (saya yakin di Jepang pasti tidak ada jaket teronggok bak kain gombal begitu).

Sampai pada suatu hari, Liz, guru kindernya Sera mengajak saya mengobrol saat menjemput Sera. "Vincentia (she really loves my name, very pretty katanya -_-), good morning is selamat pagi, right?" Saya tertegun dan menjawab "Yes, that's correct."

"Lalu kalau good afternoon or good night apakah berbeda ucapannya?" tanya Liz lagi. Saya menerangkan dan kemudian Liz menjelaskan bahwa ia sedang belajar cara mengucapkan salam di berbagai bahasa, terutama yang memang merupakan bahasa ibu para murid- murid kinder.

Gara- gara pertanyaan si Liz, saya jadinya sedikit lebih aware, dan menperhatikan bahwa di dinding ruang kinder terpajang aneka bendera berbagai negara. Di buku harian milik guru kinder, tertulis bahwa hari ini mereka belajar lagu dalam bahasa Yunani dan minggu depan mereka akan mempelajari lagu Frere Jacques dari Perancis.

Suatu kali saya menceritakan kegundahan hati pada Doris, guru kinder yang lain, terkait kelakuan Sera yang saat sedang bermain di toko, melihat boneka bayi berkulit hitam dan berkomentar "Yuck! Baby is dirty! Black!" Minggu berikutnya, saat saya menjemput Sera lagi, di pintu masuk dan di dinding- dinding, berjajar aneka foto dan poster bergambar orang- orang Aborigin berkulit kelam. Saya hanya menduga- duga, pastilah Doris seharian ini berusaha mengenalkan bahwa dunia ini juga dihuni etnis- etnis berkulit gelap, karena sepulang dari kinder Sera berseru "Mommy, Mia is white. Sera is brown."

"How about Dirya?" tanya saya menanyakan teman Indianya si Sera. Berpikir sejenak Sera menjawab "Dirya is brown." Disampaikan dengan bahasa lugas, matter of fact. Ada orang berkulit putih, ada yang cokelat. Nothing's wrong with it.

Dan di buku program milik ibu guru, saya melihat satu paragraf bertuliskan "Kami mendukung anak- anak yang dibesarkan dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Kami juga akan berusaha mempelajari beberapa kata sederhana dalam bahasa Ibu si anak untuk membuat mereka merasa nyaman dan aman."

Mengingat- ingat itu semua, saya jadi berpikir bahwa ternyata sekolah si Sera yang sekedar diisi bayi- bayi berusia tiga tahunpun sudah memberikan pelajaran moral, sama seperti sekolah di Jepang. Tetapi sementara sekolah di Jepang menekankan pada kerapian, kedisiplinan dan rasa hormat pada orang tua, sekolah di Australia menekankan pada hal- hal lain yang memang menjadi 'jati diri dan kebutuhan' bangsa ini. Sebagai bangsa multikultural, dimana sepertiga penduduknya dilahirkan di luar Australia, yang hampir setengah penduduknya mempunyai akar budaya lain, masalah persinggungan budaya dan etnis yang berbeda adalah masalah penting disini. Dan itulah yang dijadikan salah satu inti pelajaran moral di sekolah Australia. Di levelnya kinder, para anak dikenalkan berbagai kebudayaan yang berbeda, berbagai warna kulit yang berlainan. Di level dewasa seperti di sekolah saya, para murid dikenalkan konsep bahwa diskriminasi berdasar rasisme, religi dll itu unacceptable. Di kelas komunikasi, kami dikenalkan bahwa ras dan budaya yang berbeda itu bisa menjadi batu sandungan dalam berkomunikasi. Dan karena hal itulah saya bisa maklum saat seorang siswa lain, imigran dari Cina, berkata ke saya "Can you move? That's my chair." Walau tentu dengan santai saya menjawab "I don't see your name on it" dan menolak pindah, saya tidak sakit hati. Gegar budaya saja kok, sekedar beda kultur. Dan karena itulah meskipun saya bisa melihat bahwa Adam tidak mengerti dan mungkin menganggap aneh kehisterisan si Samena saat si anjing penuntun berusaha mengendusnya (orang Melbourne mencintai tiga hal; footy, bir dan anjing), dia segera mengendalikan si anjing dan meminta maaf saat saya menerangkan bahwa agama yang dianut Samena memang tidak memperbolehkannya bersentuhan dengan anjing. "I don't believe your religion and I may think that your culture is nonsense, but I respect it." adalah way of thinking yang dimiliki si Adam.

Selain soal toleransi dan pemahaman akan perbedaan budaya dan ras, karena Australia adalah salah satu negara terkering di dunia, maka masalah penghematan air dan energi selalu menjadi masalah penting di sekolah. Seorang Ibu yang sudah lama bermukim di Melbourne bercerita, bahwa saat ia kedatangan tamu dari Indonesia yang menginap di rumahnya, maka si tamu Indonesia akan mencuci piring dengan gaya Indonesia. Buka keran semaksimal mungkin dan selama menyabuni piringnya si keran tetap terbuka. Dan piring dicuci satu persatu dengan cara tersebut. Si ibu, tidak ingin menyinggung perasaan tamunya, memilih berdiam diri. Anaknya, yang duduk di bangku SMP yang menjadi sangat gusar. "Ini bukan soal tagihan air kita jadi tinggi! Tapi kalau cara mencucinya seperti itu, berapa banyak air tersia-sia??? Victoria itu krisis air, kok malah air dibuang- buang seperti itu!!!"

Dan tentu saja pelajaran moral tentang konsep menghargai privasi orang lain. Secara perlahan anak diajari bahwa dia tidak diijinkan sembarangan menyentuh temannya. Di usia Sera, mereka diajari bahwa tidak boleh mendorong atau menjahati tubuh anak lain. Semakin besar, mereka diajari bahwa menyentuh tubuh temannya itu tidaklah sopan, termasuk pelanggaran privasi (anda boleh tidak setuju, tetapi itu konsep di sini). Itu sebabnya saya bisa menilai apakah seseorang itu adalah orang asli Australia atau bukan. Saat mengajak Sera ke sekolah saya, teman- teman pria saya dari Asia atau Amerika Latin dengan sayang mencowel pipi Sera dan mengelus rambutnya. Sementara, there is no way seorang pria Australia berani menyentuh seujung rambut anak gadis saya kecuali kami berteman amat sangat akrab. Mengambil foto anak lain saja saya tidak akan berani.

Berkaca dari keadaan sekolah di Australia, membaca mengenai sekolah di Jepang, saya tentu sependapat dengan artikel mengenai pelajaran moral; IT'S STRONGLY VERY IMPORTANT. Tetapi, alih- alih latah ingin bersegera meniru pelajaran moral di Jepang dengan segala kerapian dan disiplin tingginya, kenapa kita tidak berpikir dengan sungguh- sungguh, apakah pelajaran moral yang kita inginkan bagi anak kita? Apakah pelajaran moral yang benar- benar dibutuhkan dan sesuai dengan karakter bangsa kita? Sama seperti kerapian dan kedisiplinan adalah karakter masyarakat Jepang.

Ketika saya menanyakan apa karakter bangsa kita yang menonjol pada beberapa kawan, dengan serius tapi bercanda mereka memberikan jawaban; suka korupsi, jam karet, hobi tawuran dan pemalas. Astajim, apa iya sih itu karakter bangsa kita? Sedih amat....

Semua yang disampaikan teman- teman saya itu tentu ada unsur kebenarannya. Tetapi setelah sempat merasakan tinggal di negara lain, bergaul dengan orang dari berbagai bangsa, inilah yang menjadi karakter bangsa kita menurut saya; ramah, suka bergotong royong, murah senyum, kurang disiplin, suka mencari celah dari peraturan. Some of them are negative, some are positive.

Jadi, kalau kita memang menginginkan pelajaran moral di sekolah, seharusnya materinya mengenai apa dong? Penekanan akan pelajaran moralnya hendak diprioritaskan dalam hal apa? Semua orang punya pendapatnya sendiri- sendiri. Bagi saya, paling bijaksana adalah dengan memulai dari hal- hal yang menjadi kekuatan dan kebutuhan kita. Salah satu kekuatan kita sekaligus ancaman besar bila salah mengelolanya, tentu soal takdir kita sebagai bangsa yang paling beragam segala- galanya. Ya budayanya, sukunya, adat istiadatnya, bahasanya dan agamanya. Sementara Jepang ya hanya terdiri dari satu ras doang (CMIIW) dan Australia berisi orang bule yang sekarang diserbu imigran dari penjuru dunia, Indonesia is in another class. Bayangkan, sekedar Jawa Tengah dan Yogyakarta yang paling dekat jarak geografisnya dan sama sukunya saja punya makanan dan busana pengantin yang berbeda kok! Dan sementara Australia masih tertatih- tatih berusaha memasukkan pelajaran moral akan hidup bersama dalam situasi multikultural akhir- akhir ini (baru beberapa tahun berjalan), kita sudah melakukannya selama puluhan tahun! Saya ingat di jaman SD, saya terkagum- kagum melihat teman saya anak Bali yang di sanggulnya dipenuhi bunga kamboja. Cantik sekali.... Dan betapa saya menganggap anak Irian yang berambut kruwel dan anak Jawa yang berhidung pesek tapi seksi dan ayu (#ngaca) adalah saudara. Kalau ada hal baik yang ditinggalkan Pak Harto, itu adalah kuatnya bhineka tunggal ika.

Sejak dulu kita sudah melakukan pelajaran moral akan kondisi multi etnis, multi kultural dan multi religi, hanya kita cenderung meremehkannya. Itu kekayaan bangsa kita dan sekaligus bom waktu bila salah mengelolanya. Seorang anak SD menangis pulang karena setiap Jumat, sementara temannya yang lain memakai kerudung, sebagai seorang Kristen ia tidak memakainya. Dan temannya berkata "Kata Bapakku kamu bakal masuk neraka kalau nggak pake kerudung." Satu contoh sederhana bahwa keragaman yang tidak dikelola adalah bencana yang siap melanda. Note: saya tahu bicara agama itu selalu terkesan tabu. Tapi sebagai umat beragama kita toh tidak hidup sendiri, ada sopan santun dan etika bermasyarakat yang harus dihargai. Dan tentu sayapun pernah merasakan dikucilkan oleh teman- teman saya yang berasal dari etnis tionghoa, karena saya adalah satu- satunya orang berkulit gelap di kelas (oho, jangan dipikir diskriminasi hanya dialami oleh kelompok minoritas. Minoritas pun bisa melakukan diskriminasi). I don't like it dan saya tidak ingin siapapun merasa diperlakukan berbeda hanya karena agama atau budayanya. Dan ingatkah kita bahwa anak- anak di pucuk Irian Jaya pun adalah anak- anak Indonesia juga?

Selain bhineka tunggal ika, salah satu kultur bangsa yang ingin sekali saya lestarikan adalah gotong royong. Saat ada seorang wanita tua yang pindah ke rumah sebelah, maka si Rob tetangga saya yang perkasa dengan otot bisep nan menawan (#mulai ngelantur) tidak pernah sekalipun menawarkan bantuan untuk sekedar mengecat atau membantu apalah ini itu kecil- kecil. Bukan, bukannya Rob itu jahat. Dia justru salah satu orang paling baik yang saya kenal. Hanya memang bukan budaya mereka untuk menolong untuk hal- hal semacam itu. Semua orang harus bisa membereskan urusannya masing- masing atau ya memanggil tukang. Pokoknya beda jauh deh dengan budaya kita. Dan saya merindukan kehangatan kampung saya dalam hal tolong menolong hal- hal sepele semacam itu.

Selain kekuatan bangsa, tentu tidaklah bijaksana mengabaikan 'kelemahan' bangsa kita. Australia adalah salah satu negara paling rasis di dunia (dulunya) dan sadar akan hal tersebut pemerintah sekarang berusaha keras untuk memperbaikinya. Karena sungguh tidak ada yang lebih berbahaya daripada kekerasan rasialis (kalau di Indonesia kekerasan sektarian). Begitu juga dengan Indonesia. Negara kita sekarang dipenuhi korupsi dan ketidakjujuran, jadi kenapa tidak kita mulai untuk mendidik anak- anak kita akan masalah kejujuran? Ya susah juga sih kalau saat Ujian Nasional saja malah pada diminta nyontek berjamaah :P. Teman- teman saya kebetulan banyak bekerja sebagai manager di pabrik farmasi di daerah- daerah pinggir, dan mereka bercerita kecenderungan para lulusan SMA yang mendaftar ke pabrik. Nilai ujian nasional matematika 10, tapi 500 rupiah sebanyak 500 lembar = ... rupiah mereka tidak bisa menjawab. Nilai kimia 97.8, singkatan HCl itu apa saja tidak tahu... #eits tidak boleh pesimis, semangat semangat!

Dan mungkin sudah saatnya mengajarkan tentang lingkungan hidup pada anak- anak kita. Memang tampaknya sudah agak terlambat, karena hutan sudah gundul, sampah menggunung dan air langka, tetapi janganlah berputus asa. Australia pun relatif baru saja memfokuskan pada masalah lingkungan hidup setelah air semakin langka. Mereka baru memulai gerakan konservasi dan pendidikan lingkungan sekitar sepuluh tahun yang lalu kok, setelah selama puluhan tahun cuek bebek acuh beibeh soal ini. Begitu juga soal keragaman kultur dan gerakan anti diskriminasi. Saat menceritakan tentang pengalaman saya yang sekarang dijejali aneka ajaran multi kultur, beberapa teman yang sempat merasakan tinggal di Australia beberapa tahun silam berkomentar berbeda. Mereka mengingat Australia sebagai salah satu negara rasis yang menyebalkan. Jadi, gerakan anti diskriminasi ini memang baru saja mulai ditanamkan beberapa tahun lalu dan mulai menuai hasilnya sekarang.

Mungkin juga nilai moral hormat pada orang yang lebih tua hendak dimasukkan? Note: di Australia yang diajarkan respek pada semua orang, karena tua muda mempunyai kedudukan yang sama untuk sama- sama dihormati. Beda budaya euy.

Setelah fokus- fokus moral ditentukan, masalah berikutnya tentu saja bagaimana mengajarkannya? Dalam hal ini, barulah mencontoh caranya Jepang. Atau Australia. Komprehensif, menyeluruh, benar- benar diterapkan bukan sekedar dihapalkan. Dan disesuaikan dengan usia si anak. Jadikan itu bagian dari kehidupan sehari- hari setiap anak, di rumah dan di sekolah. Jangan sekedar beri buku setebal bantal berisi ratusan nama suku bangsa tarian dan lagu dan hapalkan untuk ujian #cabe deh....

Mengajarkan penghargaan pada budaya yang berbeda? Misalkan setiap minggu mengenal satu atau dua budaya dan suku (bisa dimulai dari budaya yang kebetulan ada anak di kelas yang berasal dari suku itu). Minggu ini belajar budaya Bali, minta mamanya seorang murid yang bernama Luh Ayu untuk datang ke sekolah dengan baju adat dan sanggul cantiknya, buat anak- anak terpesona akan budayanya. Anak- anak diminta menghafal satu dua patah kata dari bahasa Bali, mungkin sama- sama belajar dua gerakan dari tari Pendet. Begitu juga soal agama. Nope, saya tidak bilang semua anak harus belajar semua agama. Tapi kenapa tidak belajar bahwa rumah ibadat agama Kristen yang namanya gereja itu biasanya gedungnya lancip- lancip karena terbawa gaya arsitektur Eropa tempat agama tersebut pertama berkembang (dan apakah burung gereja mendapatkan namanya karena biasa bersarang disana?), rumah ibadat Hindu itu bentuknya seperti candi karena memang candi dulu adalah pusat ibadah agama Hindu (pengetahuan ngaco ala saya, jangan percaya akan kebenarannya :P). Atau buatlah proyek dimana masing- masing anak harus membuat 'paparan' tentang kebudayaan suatu daerah misalnya. Pada hari presentasi, mereka bisa datang dengan baju atau aksesori adat, membawa gambar- gamabr tentang kondisi alam dan para penduduk disana, mengajarkan sepatah dua patah kata dalam bahasa daerahnya dan mungkin menyanyikan satu lagu daerahnya.

Salah satu cara di Australia untuk mengenalkan keberagaman etnis saya saksikan pada tayangan acara untuk anak balita, Playschool. Acara selama setengah jam ini dipandu oleh dua orang dewasa (berganti- ganti setiap hari) yang akan menari, menyanyi dan membuat aneka kerajinan. Satu hal yang unik, pemandu acara berasal dari etnis yang berbeda, ada Karen si etnis China, Alex si Greek, Theo si Italia, Luke si negro, Leah si India dan Matthew si bule Australia. Semua etnis yang banyak terdapat di Australia. Para pemandu playschool ini tidak pernah bicara soal teori menghargai etnis yang berbeda, tetapi keberadaan etnis yang berbeda yang bermain bersama, memberikan contoh nyata pada anak- anak bahwa perbedaan fisik dan warna kulit itu hal yang biasa wae, bukan suatu masalah besar.

Soal gotong royong? Setiap anak mempunyai tugas masing- masing di kelas dan mungkin secara bergiliran setiap kelas membersihkan ruang publik di seantero sekolah.

Tentu tidak bijak untuk berharap anak seumur Sera sudah mengerti apa itu penghematan air. Tetapi siapa bilang hal tersebut tidak bisa mulai diajarkan sejak dini? Si kecil Serafim yang baru berusia tiga tahun, saat mencuci tangannya sendiri di wastafel , akan melakukan hal ini; menggulung lengan bajunya, membuka keran, membasahi tangannya, mematikan keran, mengambil sabun, menggosokkan sabun ke kedua belah tangannya, membuka keran untuk membasuh tangan, dan kemudian mematikan kerannya dengan sempurna. Jadi, apa istimewanya? Coba saya tanya, berapa banyak dari kita yang membiarkan keran tetap mengalir saat mengambil sabun untuk cuci tangan? Atau saat menggosok gigi? Atau saat mencuci piring? Berapa puluh liter air bersih yang terbuang percuma karena kita tidak terbiasa menutup keran di sela- sela kegiatan cuci mencuci gosok menggosok kita?

Saat saya membantu Serafim, misalnya karena kerannya terlalu berat untuk dia putar sendiri, maka dia akan berteriak "It's too big Mama" kalau saya memutar keran dengan maksimal sehingga air yang keluar terlalu deras. Dan saat saya iseng membiarkan keran tetap menyala saat Serafim menggosok tangannya dengan sabun, ia akan langsung meminta saya untuk mematikan dulu keran itu. Dan tidak ada ceritanya Serafim tidak mematikan lampu kamar mandi sehabis mandi. No way. Itu sudah otomatis.

Sera kecil tentu belum memahami filosofi dibalik ajaran menutup keran disela- sela kegiatan mencuci tangannya atau kenapa lampu kamar mandi harus dimatikan, tetapi guru- guru kindernya dengan konsisten mengajarkan konsep tersebut. Barulah di kelas- kelas kemudian, menyesuaikan dengan perkembangan intelegensianya, anak- anak ini dikenalkan realita bahwa Australia adalah benua terkering di dunia, air itu langka dan harus dihemat bla bla bla.

Memulai pelajaran moral ini tentu saja bukan sim salabim. Butuh proses dan persiapan yang panjang. Mungkin para guru di seantero Indonesia harus pertama kali dikenalkan dulu dengan konsep yang ingin diajarkan, misal masalah penghematan air. Lalu diberikan contoh tindakan nyata yang harus dilakukan para guru, misal seperti kelasnya Sera ya diajarkan cara mencuci tangan yang ramah lingkungan. Dan tentu saja karena kebanyakan guru sendiri belum merasa familiar dengan konsep ini, ya edukasi dan pemantauan berkelanjutan harus terus dilakukan. Jangan sekedar proyek instan selama dua bulan, turun perintah bahwa mulai sekarang para guru harus mengajarkan soal air dan keragaman budaya (tanpa kejelasan detil dan pelatihan bagi gurunya, pokoknya Kemendikbud sudah menjalankan tugasnya menulis di kurikulum, sabodo teing kalau gurunya kagak ngarti) lalu bubar. Karena dibutuhkan puluhan tahun untuk merubah paradigma orang Indonesia yang selama ini dengan riang gembira membuang- buang air bersih untuk menyirami jalanan aspal depan rumahnya (I have no idea hasil apa sih yang diharapkan dengan membuang berember- ember air bersih ke jalanan aspal? Biar tumbuh singkong gitu di tengah jalan?).

Mencuci tangan tidak harus menghabiskan air sebanyak mencuci traktor

Setelah saya berkeluh kesah akan kelakuan Serafim yang menolak memegang boneka berwarna gelap

2 comments:

  1. Mbak Serafim, di update lagi dong.
    Salam

    ReplyDelete
  2. Eh ini maksudnya yang disapa si Serafim atau emaknya Serafim yak? Kalau si Serafim karena baru 3 tahun jadi baru bisa ngompol di kasur, belum bisa update blog :D

    ReplyDelete