"Dia kan sarjana, mana mau kerja jadi sales gini. Gengsi lah!"
Kalimat tersebut dilontarkan seorang pemuda lulusan SMK yang saat itu bekerja sebagai salesman pada sebuah perusahaan FMCG multinasional. Sehari- hari, ia berkeliling dengan menggunakan motor bebeknya, mendatangi warung, pasar dan minimarket yang termasuk dalam wilayah kerjanya, menawarkan produk perusahaan semacam detergen, sabun dan pembalut.
Beberapa tahun lalu, saya baru saja bergabung dengan salah satu perusahaan consumer goods sebagai staf marketing. Sebagai staf marketing, nantinya tugas saya adalah duduk manis di depan komputer, mengikuti aneka meeting dan presentasi mengenai strategi pemasaran dan iklan untuk mendongkrak market share produk. Tetapi, sebagai pegawai baru, salah satu materi orientasi saya meliputi 'sehari bersama mas salesman', membonceng motor bebeknya dan mengikut si Mas mampir dan menyapa para pedagang serta keluar masuk lapak- lapak di pasar. Membantunya menata barang dagangan di warung Abah sembari mengobrol mengenai kesebelasan sepakbola jagoan Abah yang baru kalah bertanding. "Bah, pesan sabunnya tambahin ya Bah, biar targetku masuk," rayu si Mas pada Abah.
"Atur deh, tambahin aja selusin- selusin untuk warna ijo sama biru," jawab Abah pemilik warung.
Saat jam makan siang, mas salesman mengajak saya ke warung langganannya. Saat melangkah ke dalam warung, si Mas melihat salah seorang temannya yang ternyata juga sedang makan siang di warung itu. Jadilah kami makan siang bertiga sambil mengobrol. "Ini seragam perusahaan ya?" tanya teman si Mas Salesman sambil menunjuk kemeja yang digunakan oleh saya dan Mas salesman. Kebetulan pada hari itu saya memakai hem bergaris- garis hijau sementara si Mas Salesman memakai baju seragam dengan logo perusahaan yang kok ya kebetulan bermotif sama dengan kemeja saya.
"Wei, biarpun kelihatannya mirip, ya beda. Si Mbak ini nantinya kerja di kantoran, nggak kayak aku muter- muter seharian. Dia juga nggak perlu pakai seragam. Hanya sales yang pake seragam, kalau staf sih enggak. Bebas merdeka!" kata si Mas Salesman menjelaskan kedudukan saya tanpa diminta.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, si Mas bercerita bahwa temannya itu sudah enam bulan lebih menganggur, selepas lulus dan menyandang gelar sarjana. "Tiap hari masih keluyuran aja kerjaannya," komentar si Mas.
"Kenapa nggak diajak jadi sales kayak kamu?" usul saya.
"Mana mau, dia kan sarjana. Ya gengsi lah!" jawab si Mas.
"Ya sementara saja, anggap batu loncatan sampai dapat pekerjaan yang sesuai. Lha daripada nganggur?"
"Mana ada sarjana yang mau kerjaan ginian, Mbak. Mending nganggur daripada disuruh keliling- keliling jualan gini," jawab si Mas lagi sambil tertawa.
"Ah, kerjaan apapun kan yang penting halal!" sanggah saya.
Pada detik itu, saya sepenuhnya percaya pada pendapat semua pekerjaan itu baik dan terhormat. Selama pekerjaan itu halal, kenapa harus malu? Yang malu itu kalau nggak punya pekerjaan, pengangguran dan harus terus dibiayai emak bapak yang sudah tua renta. Itu baru malu.
Tetapi tentu saja, selama tinggal di Indonesia, saya selalu mempunyai pekerjaan yang sesuai dengan level pendidikan dan sosial saya. Sebagai seorang sarjana, saya selalu menjadi pekerja kantoran, staf yang punya meja sendiri, kubikel saya sendiri. Saya mengerjakan pekerjaan yang memang sesuai dengan kapasitas otak saya. Bukannya saya menganggap pekerjaan saya di Jakarta dulu bergengsi sih, lha wong gajinya ya segitu- segitu saja, standarnya karyawan lah, tetapi saya juga tidak merasa bahwa pekerjaan itu dibawah 'level' saya. Saya tidak harus malu atau salah tingkah saat seseorang bertanya "Kerja dimana?" atau "Kerja di bagian apa?"
Nah, saat saya kemudian pindah ke Australia, barulah saya bisa merasakan bagaimana sih rasanya mempunyai pekerjaan yang tidak sesuai dengan 'level' saya. Bulan November tahun lalu, saya diterima bekerja untuk menjadi cleaner di satu rumah sakit. Gajinya lumayan lah, 20 dolar per jam. Pekerjaannya juga sebetulnya menyenangkan, nggak dikejar- kejar waktu dan cukup mudah. Dan saya dibiarkan bekerja sendiri, dengan ritme sesuka hati saya. Yang penting kerjaan beres! Yang lebih menyenangkan lagi, rumah sakit tempat saya bekerja ternyata diisi oleh orang- orang yang sebagian besar ramah dan menyenangkan, yang tak segan menyapa dan tersenyum setiap berpapasan dengan saya yang sedang memegang kemoceng.
Tetapi bahkan dengan lingkungan kerja yang se-egaliter itu, dimana para direktur pun menyapa ramah dan profesor senior dengan hangat berkata "Thanks Darling," setelah saya membersihkan meja kerja beliau, tapi tak bisa dipungkiri ada rasa 'kecil hati' yang saya rasakan. Sebagai seorang tukang bersih- bersih, saya merasa menjadi yang terendah dalam piramida karyawan. Sementara para suster berlalu lalang untuk mengurus pasien dan para fisioterapis dengan sabar berjalan dibelakang para simbah, sementara para pegawai administrasi sibuk mengetik di depan komputer mereka dan para eksekutif dalam setelan jas duduk di ruang rapat, tugas saya bukan berhubungan dengan perawaan pasien atau strategi rumah sakit agar bisa bertahan dalam masa- masa peotongan budget.Tugas saya berhubungan dengan mengosongkan tempat sampah di bawah meja, merapikan meja dan kursi serta mengoperasikan alat untuk mengepel. Aduh, penting sekali ya, vital sekali peran saya... # ya memangnya penting sih, kalau dua hari saja tempat sampah nggak dikosongkan kan ya berabe. Tetapi disaat orang- orang lain sibuk dengan misi pentingnya menyelamatkan dunia, saya sibuk dengan misi saya menyelamatkan toilet dari sindrom 'kehabisan tisyu toilet', kondisi medis sangat genting yang membuat korbannya menggeram kesal. Jadi ya, pekerjaan saya juga sangat penting!!!
Saat makan siang di ruangan, seorang cleaner senior yang berasal dari Fiji dan bermulut cablak dengan blak- blakan bercerita bahwa di awal- awal menjadi cleaner di sebuah nursing home, ia melihat saudaranya datang ke nursing home tersebut untuk menengok seseorang. "Aku langsung lari ngibrit meninggalkan trolley ku, pokoknya jangan sampai kelihatan saudaraku itu. Waduh, bisa hilang muka aku kalau sampai ketahuan jadi tukang bersih- bersih!"
Seorang cleaner yang lain, orang lokal Australia dengan sedikit heran bertanya "Emangnya di Fiji nggak ada cleaner?" Mungkin dia heran kok sampai segitunya malu hati kalau ketahuan jadi cleaner.
Si Fiji menjelaskan bahwa di Fiji ya tukang bersih- bersih itu benar- benar orang- orang yang miskin, yang sudah tua dan tidak berpendidikan. Nah, jadinya saya berpikir juga. Selama ini saya merasa cukup ringan menjadi cleaner ya karena saya tinggal di negara asing. Tidak ada kenalan, teman atau saudara yang akan kebetulan melintas saat saya sibuk mengelap jendela. Jadi sejauh ini saya hanya merasa kecil hati karena merasa job desc saya itu paling tidak penting semata. Sekarang bagaimana kalau misalnya saya menjadi cleaner di satu mall di Surabaya? Dan setiap menit harus was- was bahwa ada teman kuliah atau sepupu saya yang sedang makan di food court dan sayalah yang bertugas membersihkan meja mereka?
Dan sekarang saya tidak senaif dulu lagi yang dengan gagah perkasa berkata bahwa kerja apa saja itu terhormat selama halal!!!! Nope, ada masalah harga diri dan gengsi yang memang tidak mungkin dinafikkan.
Seperti yang saya tuliskan, menjadi cleaner di negara asing itu lebih mudah karena tidak ada seorangpun yang tahu kapasitas asli saya. Semua orang berpikir saya adalah imigran dari negara antah berantah yang memang tidak punya pilihan lain selain menjaid cleaner. Supervisor saya tahu bahwa saya adalah seorang farmasis dan dia berkata suatu hari nanti saya harus menjelaskan kenapa seorang farmasis mau- maunya menjadi cleaner. Tapi he kept the information for himself. Masalah timbul saat saya menjalani placement di rumah sakit lain yang ternyata satu grup dengan rumah sakit tempat saya menjadi cleaner. Salah satu pharmacy technician di rumah sakit itu ternyata juga menjadi technician di rumah sakit saya, dan dia bercerita ke salah satu cleaner bahwa saya adalah farmasis yang sekarang sedang menjalani placement di tempatnya.
Dan saudara- saudara, saat saya sendiri tidak merasa bermasalah menjalani profesi maha rendah yang jauh di bawah kapabilitas saya, ternyata orang- orang di sekitarlah yang 'tidak siap' dengan keputusan saya itu. Saya mulai menerima komentar yang bagi saya terasa sangat menyebalkan. "You'll do the pharmacy today right?" Dan kemudian dilanjutkan "A pharmacist do the pharmacy."
Tadinya saya enggan untuk berhenti menjadi cleaner, maunya tetap saja sehari bekerja menjadi cleaner sementara hari lain kerja di farmasi, tetapi mendengar komentar itu tekad saya langsung membulat untuk meninggalkan pekerjaan ini. Walaupun saya sangat menyukainya karena bersih- bersih itu memberi saya ketenangan, sementara bekerja di farmasi itu dikejar- kejar dan tidak bisa santai.
Itu yang saya rasakan di tempat kerja. Di lingkungan sosial lain lagi. Kalau di lingkungan orang Indonesia sebetulnya justru tidak terlalu bermasalah, karena teman- teman saya kebanyakan adalah mahasiswa yang juga sama- sama terbiasa bekerja apapun asal bayarannya dolar. Dan ya maklum saja kalau ada yang menjadi tukang cuci di dapur atau buka tutup toko atau loper koran. KArena ya itu memang pekerjaan yang terbuka bagi para mahasiswa yang bukan penduduk tetap. Toh pas nanti balik ke Indonesia, uang sekedar menjadi loper koran sudah bisa untuk membeli mobil.
Tetapi lingkungan sosial saya yang berhubungan dengan orang lokal sini, itu lain perkara. Saya tinggal di suburb yang cukup bagus, saya memasukkan Sera ke kelas- kelas bermain yang berbayar, childcare Sera terletak di daerah mahal. Aktivitas itu adalah aktivitas yang biasanya dijalani anak- anak yang orang tuanya seorang profesional. Temannya Sera di kelas musik bukan orang kaya raya, tetapi jelas tidak ada yang ibunya berprofesi sebagai cleaner. Karena kalau ibunya seorang cleaner, ya kemungkinan besar bapaknya juga berlevel technician. Dan bila kedua orang tuanya adalah technician, kecil kemungkinannya mereka akan membeli rumah di suburb saya sekarang ini dan memasukkan anak- anaknya ke kelas- kelas itu. Karena bagi para cleaner, menghabiskan uang 20 dolar untuk kelas satu jam balita tiga tahun jelas pemborosan. Sementara saya, karena latar belakang saya adalah seorang profesional berpendidikan tinggi, ditambah saya adalah orang Asia, cara berpikir saya tentu berbeda. Kelas semahal apapun itu, selama Sera suka, be it! Walau itu berarti bisa dihitung berapa sering kami makan diluar atau membeli baju.
Jadi, memang agak berat untuk mengakui bahwa saat ini saya adalah seorang cleaner misalnya, saat teman- teman Sera di childcare memiliki orang tua seorang dokter atau agen real estate atau guru. Saya harus mengakui bahwa saya agak tertolong dengan fakta bahwa saya bisa berkata "Saya sekarang menjadi cleaner sembari mengambil sertifikat." Jadi saya bisa mencari 'pembenaran' bahwa wajarlah saya menjadi cleaner, karena saya masih sekolah, jadi sekedar kerja sambilan, bukan profesi saya yang permanen.
Nah, mulai minggu depan saya akan mempunyai pekerjaan baru sebagai seorang pharmacy technician. Sebetulnya dari segi pendapatan sih nggak sebegitunya berbeda dari menjadi cleaner, hanya beda 3 dolar per jam, dan sama- sama sekelas blue collar sebetulnya. Tetapi, gengsinya berbeda. Masuk akal bagi saya yang seorang farmasis dari negara lain untuk menjadi asisten farmasi disini, karena untuk diakui sebagai farmasis saya harus mengikuti banyak tes (yang saya malas melakukannya). Saat ditanya dimana tempat kerja saya, saya bisa berkata saya bekerja di rumah sakit A di bagian farmasinya, dengan tugas untuk dispensing resep. Sounds nice eh? Dibanding saat saya harus berkata saya adalah seorang cleaner yang tugasnya mengosongkan tempat sampah.
Kalau saya sudah membuktikan sendiri bahwa idiom kerja apapun yang penting halal itu tidak semudah kedengarannya, lalu apakah sekarang saya setuju dengan si mas yang lebih baik menganggur daripada bekerja yang di bawah levelnya? Absolutely not. Walau sekarang saya bisa memahami rasa gengsi dan malu hati yang mungkin harus kita rasakan saat menjadi sarjana yang jadi tukang bersih- bersih misalnya, tetapi kenyataan hidup mengajarkan bahwa bagaimanapun juga tukang bersih- bersih menghasilkan uang, sementara pengangguran menengadahkan tangan minta uang. Dan yang lebih penting, pekerjaan seremeh apapun itu bisa menjadi pembuka jalan untuk masa depan yang lebih baik, sementara keluyuran luntang lantung atau mendekam di rumah tidak. Sejak awal saya bersemangat dalam bekerja dan menjadi cleaner yang berdedikasi. Saya tidak bekerja berdasar "Yang penting melakukan minimal effort tapi nggak dimarahin." Saya bekerja dengan code of conduct saya sendiri, puas bila saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Dan beberapa kali pipi saya memerah saat seorang staf berkata "I love the way yo cleaning. Nobody ever clean the desk before" atau seorang bapak tua yang menjadi relawan disitu sambil mendorong seorang pasien di kursi roda berkata ke pasiennya "This little girl always works so hard. She's all over the place!"
Dan saat seseorang melakukan hal yang terbaik dan bersungguh- sungguh dalam pekerjaannya, semesta akan membukakan jalan. Semesta campur tangan mengatur agar saya menjalani magang di rumah sakit yang merupakan satu grup dengan rumah sakit tempat saya menjadi cleaner. Semesta mengatur agar pada saat ini seorang technician sedang cuti hamil selama setahun. Dan meskipun saat ini adalah saat yang paling suram karena semua rumah sakit cutting budget dan bahkan teman saya yang lain ditolak untuk sekedar menyerahkan CV nya di tempatnya magang, tanpa babibu saya diterima bekerja di rumah sakit tempat saya magang. Bahkan sebelum saya lulus.
Saya beruntung? Sangat. Tapi coba bayangkan kalau pada saat saya menjadi cleaner kemudian saya bekerja ogah- ogahan karena toh itu hanya pekerjaan sementara dan pekerjaan itu terlalu rendah bagi saya, dan kemudian rumah sakit magang saya ingin mempekerjakan saya. Karena berada dalam satu grup, direktur farmasi bisa saja menelpon manager saya untuk bertanya tentang etos kerja saya. Apa nggak mampus kalau kemudian manager saya berkata bahwa saya adalah cleaner paling malas yang pernah dikenalnya, yang selalu datang terlambat?
Kitalah dirigen untuk orkestra jalan hidup kita sendiri.
Hanya berpegang pada keyakinan "Semua diciptakan Tuhan dengan sempurna" untuk mencegah bunuh diri setiap habis berkaca
Monday 17 June 2013
Wednesday 12 June 2013
Cerita Serafim: Tricked by Serafim
Lupa belum ngeshare http://www.ceritaserafim.com/2013/06/emaks-tale-tricked-by-serafim.html
"Mama," panggil Serafim suatu sore. "Yap, kenapa Ser?" jawab Emak.
"I wanna use upsy daisy skirt," kata Sera sambil menunjuk baju pink yang dua nomor terlalu besar, yang selama ini hanya disimpan di dalam lemari, menunggu Serafim tumbuh cukup besar untuk memakainya (biasa, nasib membeli baju dari toko online).
"Oke," jawab Emak sambil mengangsurkan baju terusan berumbai- rumbai penuh renda dan manik. Biasa, paling-paling Sera lagi ingin berpura- pura menjadi penari balet.
"I wanna take picture!" kata Sera. "Oke" jawab Emak lagi sambil mengerutkan kening, tumben ni anak minta difoto.
"In the backyard, please..." jawab Sera sembari meraup sepatu pink yang disebutnya "Pretty shoes" or "Ballet shoes"
"Oke...." jawab emak, masih dengan kening berkerut sembari mengambil kamera.
Berdiri di tengah halaman belakang, dengan baju kedodoran dan sepatu kebesaran, Sera mulai berpose.
Meletakkan satu tangannya di atas kepala....
"Mama," panggil Serafim suatu sore. "Yap, kenapa Ser?" jawab Emak.
"I wanna use upsy daisy skirt," kata Sera sambil menunjuk baju pink yang dua nomor terlalu besar, yang selama ini hanya disimpan di dalam lemari, menunggu Serafim tumbuh cukup besar untuk memakainya (biasa, nasib membeli baju dari toko online).
"Oke," jawab Emak sambil mengangsurkan baju terusan berumbai- rumbai penuh renda dan manik. Biasa, paling-paling Sera lagi ingin berpura- pura menjadi penari balet.
"I wanna take picture!" kata Sera. "Oke" jawab Emak lagi sambil mengerutkan kening, tumben ni anak minta difoto.
"In the backyard, please..." jawab Sera sembari meraup sepatu pink yang disebutnya "Pretty shoes" or "Ballet shoes"
"Oke...." jawab emak, masih dengan kening berkerut sembari mengambil kamera.
Berdiri di tengah halaman belakang, dengan baju kedodoran dan sepatu kebesaran, Sera mulai berpose.
Meletakkan satu tangannya di atas kepala....
Monday 3 June 2013
My Monday Note -- Saat Serafim Senang Berhitung dan Membaca
Sepulang kuliah, saya bergegas menjemput Sera ke childcarenya. Membuka pintu kelas kinder 3, kelasnya si Serafim, saya tersenyum ke arah Doris, si room leader dan Deb, salah seorang carer disitu. Seperti biasa, Doris sudah siap dengan laporan akan betapa menyenangkannya Serafim hari ini. Tampaknya Sera memang cukup menjadi favorit guru- guru childcare, karena dia adalah salah satu anak paling patuh aturan. Di kelas musik saja, saat anak lain harus diingatkan agar berdiri berdampingan di tempat yang disediakan, Sera sudah dengan teliti mengepas- ngepaskan kakinya agar benar- benar pas diatas garis yang terentang. Kadang saya sampai mengelus dada dan berharap agar anak wedok saya ini bisa sedikit lebih adventurous dan tidak sebegitunya mengikuti aturan. Have fun go mad lah! Seperti seorang anak cewek temannya yang saat diberi pita untuk digoyang- goyangkan malah iseng menggunakan si pita untuk jadi ekornya (Sera sih langsung dengan tertib menggoyangkan sesuai musik dan kemudian dengan sangat teliti menaruhnya di lantai agar pita- pita tersebut tidak saling terbelit).
Sore itu, however, baik Deb dan Doris tampak bersemangat dan berbunga- bunga untuk segera mengabarkan 'keajaiban' yang Sera lakukan hari itu. "Look at that puzzle! Bahkan Doris saja tidak tahu bagaimana cara menyusunnya. Sera satu- satunya yang bisa menyusunnya!" lapor Deb dengan bergairah. Saya melirik si puzzle yang ternyata berisi berbagai segitiga, lingkaran, segi empat dan konco- konconya. "Oh really? Yes I guess Sera is really enjoy doing puzzle." jawab saya. Dalam pikiran saya melintas percakapan dengan Sera saat ia berusia dua setengah tahun dulu.
"Mummy, I need square tissue please," kata Sera yang sedang duduk di atas toilet.
Emaknya menyorongkan secarik tisyu toilet.
"This is not square. This is rectangle! I need square!" seru Sera dengan dahi berkerut.
"Halah, pokoknya kan segi empat! Apa bedanya sih?" gerutu emaknya dengan sebal, sambil berusaha memutar otak mengingat- ingat apa sih bedanya rectangle dengan square. Note: bangun ruang dan segala tetek bengeknya def not my forte.
Kemudian Doris bercerita bahwa hari ini di kinder sedang belajar tentang angka dan huruf. "Aku tadi sedang mengajarkan alfabet, A B C. Sera tidak sekedar belajar A B C, dia memasang- masangkan A for apple, B for banana, C for Charlie. Sera bersemangat sekali belajar alfabet."
"Oooo," komentar saya.
Kemudian Deb menunjukkan setumpuk kartu yang setengahnya berisi tulisan angka dari 1 hingga 20. Sebagian lagi berisi tulisan One sampai Twenty. "Tadi seharian, David dan Sera asyik sekali mencocokkan kartu 1 dengan One, 2 dengan Two. Dan mereka berdua bisa lho melakukannya!"
"Oh, aku nggak tahu kalau Sera sudah tahu tulisan untuk angka- angka itu," kata saya sedikit heran.
"Mereka berdua tadi bisa mencocokkan dari satu sampai sepuluh. Lalu untuk yang belasan, mereka recognize dari angka depannya. Misalnya 14, mereka recognize tulisan four nya, jadi mereka mencocokkan 14 dengan four teen. Their logic are amazing!" dengan penuh semangat Deb bercerita.
"Mummy, I need square tissue please," kata Sera yang sedang duduk di atas toilet.
Emaknya menyorongkan secarik tisyu toilet.
"This is not square. This is rectangle! I need square!" seru Sera dengan dahi berkerut.
"Halah, pokoknya kan segi empat! Apa bedanya sih?" gerutu emaknya dengan sebal, sambil berusaha memutar otak mengingat- ingat apa sih bedanya rectangle dengan square. Note: bangun ruang dan segala tetek bengeknya def not my forte.
Kemudian Doris bercerita bahwa hari ini di kinder sedang belajar tentang angka dan huruf. "Aku tadi sedang mengajarkan alfabet, A B C. Sera tidak sekedar belajar A B C, dia memasang- masangkan A for apple, B for banana, C for Charlie. Sera bersemangat sekali belajar alfabet."
"Oooo," komentar saya.
Kemudian Deb menunjukkan setumpuk kartu yang setengahnya berisi tulisan angka dari 1 hingga 20. Sebagian lagi berisi tulisan One sampai Twenty. "Tadi seharian, David dan Sera asyik sekali mencocokkan kartu 1 dengan One, 2 dengan Two. Dan mereka berdua bisa lho melakukannya!"
"Oh, aku nggak tahu kalau Sera sudah tahu tulisan untuk angka- angka itu," kata saya sedikit heran.
"Mereka berdua tadi bisa mencocokkan dari satu sampai sepuluh. Lalu untuk yang belasan, mereka recognize dari angka depannya. Misalnya 14, mereka recognize tulisan four nya, jadi mereka mencocokkan 14 dengan four teen. Their logic are amazing!" dengan penuh semangat Deb bercerita.
Kemudian Deb dan Doris bertanya kalau saya sudah mengajari Sera angka dan huruf di rumah. Saya menerangkan bahwa saya tidak pernah mengajarkan soal angka dan alfabet karena saya sih sebetulnya ingin Sera belajar itu nanti saja, saat sudah berusia 5 tahun keatas. Hanya memang, Sera selama ini so eager untuk belajar soal angka dan huruf. Tiap emaknya mengetik di laptop, ia sibuk bertanya huruf ini namanya apa, lalu apa contoh katanya. "S is for Sera, double U is for Wilson" katanya selalu dengan penuh semangat. Soal berhitung pun, Sera sibuk menghitung semua benda yang ada di sekitarnya. Tak ada benda lain, jarinyapun jadilah. "I have four fingers," katanya. "Now only three fingers," katanya sambil bersusah payah menekuk satu jari gendutnya.
Selama ini, emaknya Sera sama sekali tidak pernah meng-encourage Jeng Sera untuk belajar angka dan huruf. Mungkin saya termasuk orang yang kekeh untuk tidak mau memaksa anak saya belajar hal- hal tersebut. Kenapa sih Sera harus disuruh belajar angka dan huruf kalau toh dia bisa bersenang- senang mewarnai dan menggambar? Saya jadi teringat komentar salah seorang teman saya yang bercerita bahwa ia batal memasukkan anak laki- lakinya ke salah satu playgroup karena "Mereka ternyata hanya mengajarkan angka satu sampai sepuluh, sekedar huruf, terus semacam eksperimen suruh nyelupin tangan kiri ke air hangat dan tangan kanan ke air dingin agar tahu bedanya panas dingin. Kalau hanya menghitung sampai sepuluh sih anakku sudah kuajarin."
Saat itu dalam hati saya berpikir "Lha ente maunya gimana? Anak umur dua tahun disuruh belajar angka sampai 100 gitu?"
Sambil menyetir pulang, bagaimanapun saya teringat komentar Deb. "Kita sih memang sebaiknya tidak memaksa dan mendorong- dorong anak kita untuk belajar suatu subyek. Tapi kita kan juga harus memfasilitasi minat mereka untuk belajar di hal- hal yang mereka willing to learn." Mungkin Deb melihat keengganan saya untuk 'merayakan' kegemaran Sera akan berhitung dan tetek bengeknya.
Saat Okhi pulang, saya bercerita soal kejadian di kinder. "Apa aku tu memang seharusnya lebih intens memperkenalkan Sera ke huruf dan angka sih?"
Dan Okhi kemudian bercerita bahwa duluuuuu, jaman dia masih imut- imut, diapun seperti Sera. Senang angka, senang menghitung segala benda, gemar menghitung harga- harga barang di supermarket. Dia menikmati belajar matematika, segala akar dan perkalian saat hal tersebut bahkan belum diajarkan di sekolah. "Dan mamaku nggak setuju. Dia mungkin takut kali ya melihat aku senang menghitung segala barang, menghitung harga barang dan kembalian uang. Dia nggak mbolehin papaku untuk meneruskan mengajari matematika advance yang 'belum saatnya' kupelajari."
Menurut Okhi, "dan aku jadi frustasi karena aku tu pingin belajar. Matematika sama sekali nggak susah bagiku dan belajar matematika itu hobi, bukan keharusan."
Wah, jangan- jangan saya juga sedang terlanda sindrom yang sama dengan emaknya suami saya. Kagok melihat hobi anak kami yang rada- rada ganjil; berhitung dan matematika. Mungkin, sementara selama bertahun- tahun saya belajar untuk menerima segala keanehan dan 'keterbelakangan' si Sera di kelas bermain dan berenang, saya lupa untuk belajar menerima segala kelebihan si Sera. Pengalaman membesarkan balita paling cengeng dan penakut membuat saya terbiasa menikmati kondisi si Sera yang paling parah dibanding teman- teman sekelasnya yang gagah berani. Pengalaman mengantarkan Sera berenang membuat saya bisa tetap bersorak memuji Sera meskipun kemampuan atletiknya way behind her pals, yang sudah selincah bebek dan angsa sementara Sera tetap se-clumsy badak berkaki lima yang dicemplungin ke air.
Tetapi ternyata, saya belum belajar bagaimana caranya untuk embrace dan menerima kondisi dimana anak saya yang bulat telur itu being the superstar, menjadi yang paling unggul dan terdepan, yang dengan lantang menghitung tinggal berapa burung yang tersisa di kelas musiknya.
Meskipun semua artikel modern parenting yang saya baca menekankan betapa pentingnya untuk tidak memaksa anak belajar sebelum waktunya, bahwa bermain adalah yang utama, tapi toh anak saya tetap saja berbeda dari anak- anak lain. Kalau memang Sera senang berhitung, kalau ia bahagia dengan menghitung semua benda, who am I to interfere her fondness? Lalu bagaimana jika nanti saya dikritik orang lain karena dianggap terlalu push anak saya demi ambisi agar ia bisa menguasai berhitung secepat mungkin? Yeah right, seperti saya pernah ambil pusing saja dengan pendapat orang :P.
Sementara dalam banyak kasus lain para orang tua harus belajar untuk tidak over- rated kemampuan anaknya, dalam kasus emaknya Sera, tampaknya saya justru harus lebih banyak belajar untuk tidak under-rated kemampuan anaknya sendiri. Saya harus belajar untuk menikmati dan berbangga akan kelebihan dan bakat si Sera, not only belajar menerima kekurangannya. Sama seperti keraguan kami untuk memasukkan Sera ke sekolah dengan grade akademik yang tinggi "Gimana kalau Sera nggak bisa mengikuti? Gimana kalau dia stres dengan pelajarannya?" Menatap ke arah Sera yang sedang asyik menekuni beraneka buku dan hitungannya, saya dan Okhi bertatapan dan berucap "She'll be alright. She's a smart girl. Not necessarily genius or brilliant, but definitely a bright kid." Emak bapaknya saja yang terlalu khawatir....
Selama ini, emaknya Sera sama sekali tidak pernah meng-encourage Jeng Sera untuk belajar angka dan huruf. Mungkin saya termasuk orang yang kekeh untuk tidak mau memaksa anak saya belajar hal- hal tersebut. Kenapa sih Sera harus disuruh belajar angka dan huruf kalau toh dia bisa bersenang- senang mewarnai dan menggambar? Saya jadi teringat komentar salah seorang teman saya yang bercerita bahwa ia batal memasukkan anak laki- lakinya ke salah satu playgroup karena "Mereka ternyata hanya mengajarkan angka satu sampai sepuluh, sekedar huruf, terus semacam eksperimen suruh nyelupin tangan kiri ke air hangat dan tangan kanan ke air dingin agar tahu bedanya panas dingin. Kalau hanya menghitung sampai sepuluh sih anakku sudah kuajarin."
Saat itu dalam hati saya berpikir "Lha ente maunya gimana? Anak umur dua tahun disuruh belajar angka sampai 100 gitu?"
Sambil menyetir pulang, bagaimanapun saya teringat komentar Deb. "Kita sih memang sebaiknya tidak memaksa dan mendorong- dorong anak kita untuk belajar suatu subyek. Tapi kita kan juga harus memfasilitasi minat mereka untuk belajar di hal- hal yang mereka willing to learn." Mungkin Deb melihat keengganan saya untuk 'merayakan' kegemaran Sera akan berhitung dan tetek bengeknya.
Saat Okhi pulang, saya bercerita soal kejadian di kinder. "Apa aku tu memang seharusnya lebih intens memperkenalkan Sera ke huruf dan angka sih?"
Dan Okhi kemudian bercerita bahwa duluuuuu, jaman dia masih imut- imut, diapun seperti Sera. Senang angka, senang menghitung segala benda, gemar menghitung harga- harga barang di supermarket. Dia menikmati belajar matematika, segala akar dan perkalian saat hal tersebut bahkan belum diajarkan di sekolah. "Dan mamaku nggak setuju. Dia mungkin takut kali ya melihat aku senang menghitung segala barang, menghitung harga barang dan kembalian uang. Dia nggak mbolehin papaku untuk meneruskan mengajari matematika advance yang 'belum saatnya' kupelajari."
Menurut Okhi, "dan aku jadi frustasi karena aku tu pingin belajar. Matematika sama sekali nggak susah bagiku dan belajar matematika itu hobi, bukan keharusan."
Wah, jangan- jangan saya juga sedang terlanda sindrom yang sama dengan emaknya suami saya. Kagok melihat hobi anak kami yang rada- rada ganjil; berhitung dan matematika. Mungkin, sementara selama bertahun- tahun saya belajar untuk menerima segala keanehan dan 'keterbelakangan' si Sera di kelas bermain dan berenang, saya lupa untuk belajar menerima segala kelebihan si Sera. Pengalaman membesarkan balita paling cengeng dan penakut membuat saya terbiasa menikmati kondisi si Sera yang paling parah dibanding teman- teman sekelasnya yang gagah berani. Pengalaman mengantarkan Sera berenang membuat saya bisa tetap bersorak memuji Sera meskipun kemampuan atletiknya way behind her pals, yang sudah selincah bebek dan angsa sementara Sera tetap se-clumsy badak berkaki lima yang dicemplungin ke air.
Tetapi ternyata, saya belum belajar bagaimana caranya untuk embrace dan menerima kondisi dimana anak saya yang bulat telur itu being the superstar, menjadi yang paling unggul dan terdepan, yang dengan lantang menghitung tinggal berapa burung yang tersisa di kelas musiknya.
Meskipun semua artikel modern parenting yang saya baca menekankan betapa pentingnya untuk tidak memaksa anak belajar sebelum waktunya, bahwa bermain adalah yang utama, tapi toh anak saya tetap saja berbeda dari anak- anak lain. Kalau memang Sera senang berhitung, kalau ia bahagia dengan menghitung semua benda, who am I to interfere her fondness? Lalu bagaimana jika nanti saya dikritik orang lain karena dianggap terlalu push anak saya demi ambisi agar ia bisa menguasai berhitung secepat mungkin? Yeah right, seperti saya pernah ambil pusing saja dengan pendapat orang :P.
Sementara dalam banyak kasus lain para orang tua harus belajar untuk tidak over- rated kemampuan anaknya, dalam kasus emaknya Sera, tampaknya saya justru harus lebih banyak belajar untuk tidak under-rated kemampuan anaknya sendiri. Saya harus belajar untuk menikmati dan berbangga akan kelebihan dan bakat si Sera, not only belajar menerima kekurangannya. Sama seperti keraguan kami untuk memasukkan Sera ke sekolah dengan grade akademik yang tinggi "Gimana kalau Sera nggak bisa mengikuti? Gimana kalau dia stres dengan pelajarannya?" Menatap ke arah Sera yang sedang asyik menekuni beraneka buku dan hitungannya, saya dan Okhi bertatapan dan berucap "She'll be alright. She's a smart girl. Not necessarily genius or brilliant, but definitely a bright kid." Emak bapaknya saja yang terlalu khawatir....
![]() |
| Relax Mom, I'm gonna be just alright... |
Subscribe to:
Posts (Atom)
