Monday 3 June 2013

My Monday Note -- Saat Serafim Senang Berhitung dan Membaca

Sepulang kuliah, saya bergegas menjemput Sera ke childcarenya. Membuka pintu kelas kinder 3, kelasnya si Serafim, saya tersenyum ke arah Doris, si room leader dan Deb, salah seorang carer disitu. Seperti biasa, Doris sudah siap dengan laporan akan betapa menyenangkannya Serafim hari ini. Tampaknya Sera memang cukup menjadi favorit guru- guru childcare, karena dia adalah salah satu anak paling patuh aturan. Di kelas musik saja, saat anak lain harus diingatkan agar berdiri berdampingan di tempat yang disediakan, Sera sudah dengan teliti mengepas- ngepaskan kakinya agar benar- benar pas diatas garis yang terentang. Kadang saya sampai mengelus dada dan berharap agar anak wedok saya ini bisa sedikit lebih adventurous dan tidak sebegitunya mengikuti aturan. Have fun go mad lah! Seperti seorang anak cewek temannya yang saat diberi pita untuk digoyang- goyangkan malah iseng menggunakan si pita untuk jadi ekornya (Sera sih langsung dengan tertib menggoyangkan sesuai musik dan kemudian dengan sangat teliti menaruhnya di lantai agar pita- pita tersebut tidak saling terbelit).    

Sore itu, however, baik Deb dan Doris tampak bersemangat dan berbunga- bunga untuk segera mengabarkan 'keajaiban' yang Sera lakukan hari itu. "Look at that puzzle! Bahkan Doris saja tidak tahu bagaimana cara menyusunnya. Sera satu- satunya yang bisa menyusunnya!" lapor Deb dengan bergairah. Saya melirik si puzzle yang ternyata berisi berbagai segitiga, lingkaran, segi empat dan konco- konconya. "Oh really? Yes I guess Sera is really enjoy doing puzzle." jawab saya. Dalam pikiran saya melintas percakapan dengan Sera saat ia berusia dua setengah tahun dulu.

"Mummy, I need square tissue please," kata Sera yang sedang duduk di atas toilet.
Emaknya menyorongkan secarik tisyu toilet.
"This is not square. This is rectangle! I need square!" seru Sera dengan dahi berkerut.
"Halah, pokoknya kan segi empat! Apa bedanya sih?" gerutu emaknya dengan sebal, sambil berusaha memutar otak mengingat- ingat apa sih bedanya rectangle dengan square. Note: bangun ruang dan segala tetek bengeknya def not my forte.

Kemudian Doris bercerita bahwa hari ini di kinder sedang belajar tentang angka dan huruf. "Aku tadi sedang mengajarkan alfabet, A B C. Sera tidak sekedar belajar A B C, dia memasang- masangkan A for apple, B for banana, C for Charlie. Sera bersemangat sekali belajar alfabet."

"Oooo," komentar saya.

Kemudian Deb menunjukkan setumpuk kartu yang setengahnya berisi tulisan angka dari 1 hingga 20. Sebagian lagi berisi tulisan One sampai Twenty. "Tadi seharian, David dan Sera asyik sekali mencocokkan kartu 1 dengan One, 2 dengan Two. Dan mereka berdua bisa lho melakukannya!"

"Oh, aku nggak tahu kalau Sera sudah tahu tulisan untuk angka- angka itu," kata saya sedikit heran.

"Mereka berdua tadi bisa mencocokkan dari satu sampai sepuluh. Lalu untuk yang belasan, mereka recognize dari angka depannya. Misalnya 14, mereka recognize tulisan four nya, jadi mereka mencocokkan 14 dengan four teen. Their logic are amazing!" dengan penuh semangat Deb bercerita. 

Kemudian Deb dan Doris bertanya kalau saya sudah mengajari Sera angka dan huruf di rumah. Saya menerangkan bahwa saya tidak pernah mengajarkan soal angka dan alfabet karena saya sih sebetulnya ingin Sera belajar itu nanti saja, saat sudah berusia 5 tahun keatas. Hanya memang, Sera selama ini so eager untuk belajar soal angka dan huruf. Tiap emaknya mengetik di laptop, ia sibuk bertanya huruf ini namanya apa, lalu apa contoh katanya. "S is for Sera, double U is for Wilson" katanya selalu dengan penuh semangat. Soal berhitung pun, Sera sibuk menghitung semua benda yang ada di sekitarnya. Tak ada benda lain, jarinyapun jadilah. "I have four fingers," katanya. "Now only three fingers," katanya sambil bersusah payah menekuk satu jari gendutnya.

Selama ini, emaknya Sera sama sekali tidak pernah meng-encourage Jeng Sera untuk belajar angka dan huruf. Mungkin saya termasuk orang yang kekeh untuk tidak mau memaksa anak saya belajar hal- hal tersebut. Kenapa sih Sera harus disuruh belajar angka dan huruf kalau toh dia bisa bersenang- senang mewarnai dan menggambar? Saya jadi teringat komentar salah seorang teman saya yang bercerita bahwa ia batal memasukkan anak laki- lakinya ke salah satu playgroup karena "Mereka ternyata hanya mengajarkan angka satu sampai sepuluh, sekedar huruf, terus semacam eksperimen suruh nyelupin tangan kiri ke air hangat dan tangan kanan ke air dingin agar tahu bedanya panas dingin. Kalau hanya menghitung sampai sepuluh sih anakku sudah kuajarin."

Saat itu dalam hati saya berpikir "Lha ente maunya gimana? Anak umur dua tahun disuruh belajar angka sampai 100 gitu?"

Sambil menyetir pulang, bagaimanapun saya teringat komentar Deb. "Kita sih memang sebaiknya tidak memaksa dan mendorong- dorong anak kita untuk belajar suatu subyek. Tapi kita kan juga harus memfasilitasi minat mereka untuk belajar di hal- hal yang mereka willing to learn." Mungkin Deb melihat keengganan saya untuk 'merayakan' kegemaran Sera akan berhitung dan tetek bengeknya.

Saat Okhi pulang, saya bercerita soal kejadian di kinder. "Apa aku tu memang seharusnya lebih intens memperkenalkan Sera ke huruf dan angka sih?"

Dan Okhi kemudian bercerita bahwa duluuuuu, jaman dia masih imut- imut, diapun seperti Sera. Senang angka, senang menghitung segala benda, gemar menghitung harga- harga barang di supermarket. Dia menikmati belajar matematika, segala akar dan perkalian saat hal tersebut bahkan belum diajarkan di sekolah. "Dan mamaku nggak setuju. Dia mungkin takut kali ya melihat aku senang menghitung segala barang, menghitung harga barang dan kembalian uang. Dia nggak mbolehin papaku untuk meneruskan mengajari matematika advance yang 'belum saatnya' kupelajari."

Menurut Okhi, "dan aku jadi frustasi karena aku tu pingin belajar. Matematika sama sekali nggak susah bagiku dan belajar matematika itu hobi, bukan keharusan."

Wah, jangan- jangan saya juga sedang terlanda sindrom yang sama dengan emaknya suami saya. Kagok melihat hobi anak kami yang rada- rada ganjil; berhitung dan matematika. Mungkin, sementara selama bertahun- tahun saya belajar untuk menerima segala keanehan dan 'keterbelakangan' si Sera di kelas bermain dan berenang, saya lupa untuk belajar menerima segala kelebihan si Sera. Pengalaman membesarkan balita paling cengeng dan penakut membuat saya terbiasa menikmati kondisi si Sera yang paling parah dibanding teman- teman sekelasnya yang gagah berani. Pengalaman mengantarkan Sera berenang membuat saya bisa tetap bersorak memuji Sera meskipun kemampuan atletiknya way behind her pals, yang sudah selincah bebek dan angsa sementara Sera tetap se-clumsy badak berkaki lima yang dicemplungin ke air.

Tetapi ternyata, saya belum belajar bagaimana caranya untuk embrace dan menerima kondisi dimana anak saya yang bulat telur itu being the superstar, menjadi yang paling unggul dan terdepan, yang dengan lantang menghitung tinggal berapa burung yang tersisa di kelas musiknya.

Meskipun semua artikel modern parenting yang saya baca menekankan betapa pentingnya untuk tidak memaksa anak belajar sebelum waktunya, bahwa bermain adalah yang utama, tapi toh anak saya tetap saja berbeda dari anak- anak lain. Kalau memang Sera senang berhitung, kalau ia bahagia dengan menghitung semua benda, who am I to interfere her fondness? Lalu bagaimana jika nanti saya dikritik orang lain karena dianggap terlalu push anak saya demi ambisi agar ia bisa menguasai berhitung secepat mungkin? Yeah right, seperti saya pernah ambil pusing saja dengan pendapat orang :P.

Sementara dalam banyak kasus lain para orang tua harus belajar untuk tidak over- rated kemampuan anaknya, dalam kasus emaknya Sera, tampaknya saya justru harus lebih banyak belajar untuk tidak under-rated kemampuan anaknya sendiri. Saya harus belajar untuk menikmati dan berbangga akan kelebihan dan bakat si Sera, not only belajar menerima kekurangannya. Sama seperti keraguan kami untuk memasukkan Sera ke sekolah dengan  grade akademik yang tinggi "Gimana kalau Sera nggak bisa mengikuti? Gimana kalau dia stres dengan pelajarannya?" Menatap ke arah Sera yang sedang asyik menekuni beraneka buku dan hitungannya, saya dan Okhi bertatapan dan berucap "She'll be alright. She's a smart girl. Not necessarily genius or brilliant, but definitely a bright kid." Emak bapaknya saja yang terlalu khawatir....

Relax Mom, I'm gonna be just alright...



    

No comments:

Post a Comment