Monday 8 July 2013

My Monday Note -- A Mom, Something or Nothing?

"Mum, when did you decide you didn't want to be anything?" 

Pertanyaan itu menjadi kalimat pembuka dari artikel di majalah yang saya baca di perpustakaan, sembari menunggui si Seratun yang sedang asyik berpura- pura membaca buku. Note: Sera justru tidak pernah membaca buku di perpustakaan, dia terlalu sibuk mencoba aneka bantal bola dan karpet abjad. Hanya karena emaknya selalu mengajak pulang setiap Sera tampak tidak sedang membaca, jadi now and then dia harus pura-pura membaca (walau bola matanya tetap terarah ke si karpet norak penuh huruf dan angka).

So funny question yang dilontarkan anak laki- laki yang berusia lima tahun kearah ibunya dalam perjalanan pulang dari sekolah. Lucu karena sejauh ini yang pernah saya baca adalah cerita 'penggugah semangat' saat suatu hari seorang anak pulang dari sekolah dan menyerahkan karangan yang berjudul "Cita- citaku saat aku dewasa kelak." Dan tentu saja jawaban si anak membuat ibunya mbrebes mili terharu biru, karena ia menuliskan "Aku ingin menjadi Ibu seperti ibuku, yang senantiasa menemaniku di rumah."

Tapi oh tapi, pertanyaan butt hurt semacam ini, yang 'menuduh' bahwa ibunya is not anything, cukup untuk membuat saya memutuskan menulis ulang artikel itu disini. Begini kelanjutan artikel lucu ini.

Tekanan darah saya langsung meningkat dengan pesat. Kami (si ibu dan si anak laki- laki) sebelumnya sudah sering bercakap- cakap mengenai apa yang ingin ia lakukan saat ia dewasa kelak; ilmuwan, tukang pos, pekerja pabrik hingga bintang Rock and Roll. Tetapi kemudian anak saya mengarahkan perenungannya pada diri saya dan dalam sekejap mata saya melihat bagaimanakah diri saya dimata anak saya. Saya adalah semacam 'neutral person', bukan 'something.'

Anak laki- laki saya tahu bahwa ayahnya adalah 'something' karena setiap pagi ayahnya akan berdandan rapi dan kemudian mengejar kereta api di stasiun untuk pergi ke gedung tinggi di tengah kota dimana orang- orang dewasa bekerja di depan komputer. Sementara saya, bermarkas di rumah, memberi makan si bayi, mendorong ayunan di taman, membeli barang, memasak dan membersihkan rumah. 

Saya meneruskan mengemudi sampai kemudian memarkir mobil di depan halaman rumah. Saya kemudian menoleh kearah si sulung dan siap memberikan kuliah mengenai konsep ibu bekerja/ ibu yang tinggal di rumah, sebelum saya kemudian sadar bahwa ia tidak sedang ingin menginterogasi atau menghakimi saya. Sebaliknya, anak saya memberikan saya kesempatan untuk menjelaskan tentang apa sih yang sehari- hari saya kerjakan dan saya juga perlu meyakinkannya bahwa saya adalah 'something.' Saya kemudian menjelaskan bahwa saya sudah memilih untuk memfokuskan diri merawat dia dan dua adiknya, karena masih banyak tugas yang belum bisa dikerjakan ketiganya. Ada banyak hal yang saya ingin mereka pelajari di usia dini, dan saya ingin sayalah yang mengajarkannya ke mereka bertiga. Dan terlepas dari tugas- tugas rutin sehari- hari, saya menikmati menggunakan pemikiran dan kreativitas saya dalam tugas saya sebagai seorang ibu. 

Anak laki- laki saya menatap dengan skeptis. "Saya adalah seorang ibu," saya berkata. "Itu adalah salah satu profesi paling penting yang mengambil seluruh waktu saya saat ini." Anak laki- laki saya mengangguk mengerti.

Saya kemudian berbagi kisah mengenai kehidupan saya sebelum ia dan adik- adiknya lahir. Tampaknya saya menikmati berusaha menjelaskan status 'tanpa identitas' saya saat ini. Saya bercerita bagaimana saya sudah menjelajah penjuru dunia, bekerja di beberapa tempat yang berbeda dan bahkan mendapatkan gelar dari universitas. 

Merasa kagum, anak saya tersenyum dan bertanya "Jadi Mum benar- benar pernah bersekolah ke universitas?" Saya tidak yakin apakah anak saya merasa kagum karena ia tahu apa itu universitas atau karena ia baru menyadari bahwa ibunya pernah juga muda. Apapun alasannya, saya percaya bahwa inilah pertama kalinya anak saya menyadari bahwa ibunya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dan bukan hanya seseorang yang terkait dengan kehidupan bayi di rumah. 

"Jadi kau lihat, Ibu tidak pernah memutuskan untuk tidak menjadi 'something', Ibu selalu adalah 'something'', tetapi ada banyak jenis 'something'. Saat ini, Ibu memutuskan untuk menjadi Ibu yang tinggal di rumah bagi kalian, agar bisa menjaga, mengajari dan mencintai kalian."

Saya kemudian juga menjelaskan bahwa akan tiba saatnya anak sulung saya dan adik- adiknya akan tumbuh dan melakukan hal- hal bagi mereka sendiri. Mereka akan bepergian dan menjelajahi dunia yang lebih luas lagi dan belajar dari berbagai orang yang mereka temui. Apabila saat itu tiba, maka job description saya akan berganti, dan saya akan mempunyai target dan tujuan yang lain lagi dalam hidup saya. "Dan tahu nggak, suatu saat kamu akan bisa menambahkan di daftarmu bahwa kamu ingin menjadi seorang ayah, just as Dad did." 

Menutup majalah tersebut, saya tersenyum kecil. Tentu si ibu itu menurut pendapat saya sudah berhasil memberikan tanggapan yang paling bijaksana. Alih- alih dengan berapi- api berusaha menekankan bahwa ibu adalah profesi paling mulia dan merupakan 'pengorbanan' tertinggi dari seorang wanita, ia bisa dengan sederhana menjelaskan bahwa menjadi stay at home mum adalah salah satu profesi yang bisa dipilih dari profesi- profesi lain yang tersedia. 

Membaca artikel tersebut, membaca tanggapan si ibu saat ia menceritakan pencapaian- pencapaian yang telah ia raih di kehidupan sebelum menyandang status ibu, saya memandang kehidupan saya sendiri dan mengucap syukur. Apabila misalnya Serafim melontarkan pertanyaan yang serupa dengan si anak laki- laki tadi, saya juga bisa mengatakan hal yang sama. Bahwa saya selalu menjadi 'something'. Dalam setiap fase kehidupannya, emaknya Serafim selalu mempunyai tujuan hidup, selalu mempunyai impian dan bekerja keras demi tujuan dan target tersebut. Emaknya Serafim berjuang untuk meraih pendidikan yang setinggi- tingginya (berlebihan ding, berjuang apanya wong persentase saya nongkrong di kantin lebih tinggi daripada porsi nge-lab saya). 

Sama seperti ibu si anak laki- laki tadi, emaknya Serafim juga sudah pernah bekerja di beberapa bidang yang berbeda, bertemu dengan orang- orang dari berbagai penjuru dunia. Emaknya sudah melanglang ke berbagai tempat. Dan saat kemudian emaknya memutuskan untuk menjadi stay at home mum, hal itu bukan karena emaknya Serafim tidak bisa menjadi 'something' di dunia luar. Bukan karena emaknya tidak punya pengetahuan di luar urusan dapur yang membuat si emak memilih menghabiskan harinya di dapur (again, pengkultusan diri sendiri demi membuat citra diri sebagai ahli kuliner). Bukan karena si emak not good enough atau not brave enough untuk berjibaku di dunia luar yang membuat si emak mundur mengkeret masuk ke dalam cangkang siput yang aman.

Emaknya Serafim sudah melihat dunia luar, ia sudah menapakkan kaki dan berhasil bertahan dalam dunia karir. Dan kemudian saat Serafim lahir, dan kemudian si emak mengambil keputusan untuk meletakkan sejenak fokusnya pada dunia karir dan berganti fokus untuk semaksimal mungkin hadir secara fisik di samping Serafim, itu adalah keputusan untuk mengganti 'something' ke 'something' yang lain. Emaknya Serafim bisa menjadi apa saja, tetapi tentu tidak semua peran bisa dijalankan dalam waktu yang bersamaan. Sampai Serafim berusia tiga tahun, emaknya memutuskan bahwa yang ingin ia lakukan adalah mengejar impiannya untuk menjadi orang pertama dan utama yang mendidik Serafim, mengajarinya untuk senang makan sayur mayur (dan gagal total). Dan itu berarti mengurangi atau bahkan sementara menghilangkan kegiatan berkarir.

Dan tentu saja bahkan saat si Serafim belum berusia genap empat tahunpun, sudah mulai terasa bahwa ia tidak membutuhkan kehadiran fisik emaknya se-intens dulu lagi. Ia sudah membutuhkan berinteraksi dengan teman- temannya dan orang dewasa lain. Yang membuat emaknya sendirian terbengong- bengong di rumah saat ditinggal si Sera ke kinder. Akan tiba saatnya ia bersekolah dari pagi hingga petang, lima hari seminggu. Pada saat itulah saya akan menjadi 'something' yang lain, mengarahkan fokus pada impian yang lain. Menerbitkan novel chick lit mungkin :P. 

Have a blast fruitful life outside motherhood, have a wonderful meaningful motherhood experience, and preparing to pursue other dreams afterwards, that will make life joyful and fulfilled :D 

La la la









No comments:

Post a Comment