Monday 26 August 2013

My Monday Note -- Hujan Batu di Negeri Sendiri Masih Lebih Enak Dari Hujan Emas Di Negeri Orang

"I'm moving back to Indonesia. For good." kata seorang teman melalui telepon.
"Why? Why why why?" tanya saya.
"Yah, after long consideration and lots of thought sih," jawabnya.

Karena kebetulan pada saat itu saya sedang bekerja, jadi perbincangan tidak bisa dilanjutkan panjang dan lebar. But then I reckoned that many people I know memutuskan hal serupa. Sudah tiga tahun tinggal disini dan akhirnya mendapatkan Permanent Resident, kok ya kemudian memutuskan untuk kembali saja ke Indonesia? Why?

Kenapa sampai harus heran saat seseorang yang sudah mempunyai Permanent Resident (PR) Australia misalnya kemudian memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia, melepaskan status Permanent Residentnya? Ilustrasinya begini. Demi penghematan, Okhi selalu memotong rambutnya di tukang cukur pinggir jalan alias tukang cukur kelas teri xD. Nah, sembari menunggu giliran dicukur atau sembari dicukur rambutnya, ia mendengarkan obrolan orang disekitarnya. Selalu dan selalu pembicaraan para imigran ini terkait dengan perjuangan mereka untuk mendapatkan PR. Ada yang sudah tinggal di Melbourne selama sepuluh tahun, mengajukan permohonan PR berkali-kali, dan lagi dan lagi permohonannya ditolak. Ada mahasiswa yang selepas kuliah dan belum mendapat PR, kemudian terpaksa mendaftar untuk ikut kursus ini itu supaya diperbolehkan tinggal di Australia, sembari mencoba lagi melamar PR. Dan saat orang tahu bahwa si Okhi mendapat PR tanpa dia harus sekolah dulu di Australia dan kami cukup mendaftar dari Jakarta (jadi kami tidak merasakan luntang- lantung terlunta- lunta hanya demi mendapatkan PR), maka setengah tidak percaya mereka akan berkomentar "You are so lucky! I've been applying for years without success!!!!"

Mendapatkan visa PR seolah seperti mendapatkan kunci pembuka sukses. Kamu akan bisa hidup di Australia, merasakan berbagai fasilitas dan kenyamanan hidup, pendidikan dan kesehatan yang terjamin bagi anakmu. Kamu akan serupa dengan warga negara Australia, hanya kagak boleh ikut pemilu (siapa juga yang tertarik ikut pemilu). Dan untuk mendapatkan status PR itu tidak mudah ataupun murah. Berliku dan makan biaya. Jadi kalau PR itu sesuatu yang didambakan, sesuatu yang akan memberikan garansi kehidupan yang nyaman dan bermasa depan, kenapa banyak juga orang yang kemudian memutuskan untuk pulang kampung sajalah ke Indonesia???

Saya jadi tertarik untuk mengintip ke artikel dan blog yang ditulis orang lain. Apa ya yang ada di pikiran mereka? Entah itu tulisan yang dibuat seseorang yang memutuskan untuk pulang atau yang memutuskan bertahan dalam perantauannya. Blog pertama yang saya baca ditulis seorang pria yang meskipun sudah mendapat tiket menuju 'tangga kesuksesan' di Australia, kemudian memutuskan untuk pulang karena ia yakin masih banyak yang bisa diperbuatnya bagi bangsa dan negara. "Negara tercinta masih membutuhkan saya.", demikian alasannya.

Walau tentu saya menghargai semangat heroiknya, saya tidak bisa merasakan keterikatan dengan alasannya. Too rhetoric for my liking :P. Awas aja kalau terakhir- terakhirnya kerja di Jakarta :P. Di blog lain, saya menemukan seorang yang memutuskan bertahan untuk tetap menetap di Eropah dan bercerita bahwa iya memang hidup di Eropah (pake H) itu berat, nggak ada pembantu, makanannya aneh dan beraneka kendala hidup di negara asing lainnya. Tapi dia memutuskan untuk bertahan. Menurutnya "Ya masalahnya tergantung tingkat kemanjaan masing- masing orang. Kalau kamu termasuk orang manja yang nggak bisa hidup tanpa pembantu, ya kamu bakal pingin pulang aja ke Indonesia. Kalau aku sih memutuskan bertahan."

Saya terkekeh dan berniat menunjukkan artikel tersebut ke teman saya yang memutuskan untuk mudik tadi. "Oh, jadi elu itu termasuk orang manja yang butuh pembantu untuk nyebokin elu ya... xD"

Anyway, sebetulnya saya pernah (dan masih) mempertanyakan keputusan untuk menetap di Australia ini. Saya juga pernah (dan masih) berpikir untuk kembali sajalah ke Indonesia. Kenapa? Hm, butuh merenung juga saya untuk menemukan kenapa sih saya masih dan masih ingin kembali ke Indonesia? Dan lucunya perasaan itu menguat justru setelah saya bekerja full time di rumah sakit, menjadi asisten apoteker (saya dulu seorang apoteker di Indonesia, walau kagak pernah menyentuh resep sama sekali. Apoteker abal- abal :D).

Setelah saya berusaha merenung apa sih alasan mendasar saya masih memikirkan untuk pulkam saja, saya menemukan bahwa hal tersebut karena perasaan I don't belong. I don't belong here..... I don't belong dengan jenis pekerjaan saya, I don't belong dengan teman- temannya, I don't belong dengan bahasanya. I just don't belong. Setiap makan siang, saya berkumpul dengan sesama asisten lainnya. Don't get me wrong, bukannya saya bermaksud merendahkan, tetapi I just don't belong. Seorang asisten tertarik dengan supir perusahaan ekspedisi yang tiap siang mengantar obat ke rumah sakit. Saya tidak bisa berbagi ketertarikan itu. Saya tidak serta merta secara otomatis akan tertarik melihat si sopir kiyut dengan tato di sekujur lengannya dan rambut cepaknya. Tetapi saya terpikat saat seorang apoteker senior menerangkan tentang program hormon dengan gaya yang oh-so-smart.

Bukan, bukan saya tidak akan sudi menikahi si sopir misalnya. Saya membayangkan tetangga sebelah rumah saya yang tukang bikin kebun. Apakah saya bisa tertarik padanya? Bisa banget. Karena saya kenal dia dan menemukan bahwa dia sangat menyenangkan, santai dan baik hati. Tapi saya tidak bisa berkata bahwa melihat dia mengangkut adukan semen membuat hati saya berdesir. Topik yang dianggap menarik oleh teman- teman asisten saya, saya tidak tertarik.

Tetapi runyamnya, saya juga tidak bisa masuk dalam golongan para apoteker. Saya tidak paham dengan apa sih yang mereka omongkan? Saya tidak familiar dengan bahasan- bahasan mereka. Ditambah lagi sepintar- pintarnya saya berbahasa Inggris, saya itu terbiasa dengan Inggris gaya Amerika. Memahami gaya Australia ini sungguh membuat perut melilit.

Sejak dulu saya sadar, saya bukanlah orang yang cekatan dan terampil. Oleh karena itu saya tidak bakal sukses kerja di bagian Quality Control di pabrik farmasi yang harus berurusan dengan berbagai peralatan tetek bengek kecil- kecil misalnya. Sialnya, disini ya satu- satunya jenis pekerjaan yang bisa saya jangkau adalah level technician. Yang berarti harus cekatan dengan tangan mereka. Saya sering memandang para apoteker klinis yang sibuk membaca aneka jurnal, membuat paper dan mempresentasikannya. Dan itulah jenis pekerjaan yang I belong. Bukan menghitung kapsul. Sumprit jari- jari saya ini sebengkak jemarinya kudanil :(.

Sebagai manusia yang dikarunia sifat tidak pandai bergaul, no matter how I really want to mingle with the locals, I just can't. I just don't belong.

Dan perasaan I belong ini yang dulu saya rasakan di Indonesia. I belong to my own kind. To the kind of job I'm good at. Lalu apa yang membuat saya memutuskan untuk bertahan sampai saat ini? Karena pertimbangan what matter most for me. Serafim. Dengan gayanya si Serafim, sampai saat ini saya berpendapat bahwa model pendidikan di Australia adalah yang lebih sesuai baginya. Dengan tinggal disini pun, meskipun kami tidak bisa seberfoya- foya di Indonesia yang masih memungkinkan untuk makan di restoran tiap saat dan beli cemilan di Indomaret, tapi kami akan mampu membiayai Serafim untuk bersekolah dimanapun dia mau. Setinggi apapun dia mau. Keahlian Okhi sebagai programmer dihargai tinggi disini, sementara di Indonesia tidak.

Kemudian, saat saya berkesempatan untuk berbincang panjang lebar dengan si teman yang memutuskan untuk mudik, saya menemukan alasannya adalah sama persis dengan alasan saya. Hanya berkebalikan. Alasannya adalah anaknya. Baginya, pendidikan di Indonesia lebih sesuai dibandingkan pendidikan di Australia yang hanya diajari menyanyi menari haha hihi dansa dansi. Dan sementara pendapatan kami disini lebih memadai daripada di Indonesia, teman saya yang seorang dokter itu sebetulnya berpeluang untuk hidup lebih berada bila dia tinggal di Indonesia. Dokter gitu lho. Apalagi kalau spesialis. Dibandingkan dengan disini dimana dia bekerja banting tulang dan masih saja harus menyewakan salah satu kamar di apartemen sewaannya demi menekan pengeluaran. Dengan menjadi dokter di Indonesia, dia akan sanggup membiayai anaknya besekolah dimanapun.

Tentu tentu, ada pertimbangan tambahan semacam kesulitan hidup jauh dari sanak keluarga. Kalau kondisi lagi baik- baik saja sih memang tidak masalah. Tetapi saat Serafim sakit sementara emak bapaknya ahrus bekerja misalnya, atau emaknya sakit parah sementara si balita harus tetap diurus, itu benar- benar menyesakkan jiwa raga. Atau ya itu tadi nggak ada pembantu yang bisa membantu saya. Apalagi kalau si Okhi juga kuliah seperti sekarang. Atau juga kenikmatan di Australia dimana kehidupan berjalan aman nyaman tentram karta raharja. Dengan rumah- rumah yang luas dan asri. Tetapi semua pertimbangan itu saya yakin hanyalah tambahan. What matter the most for your life, itulah yang akan menentukan keputusan seorang imigran untuk tetap bertahan atau balik badan pulang kampung.

Ah... a toddler... Semua keputusan selalu tergantung si toddler cilik, isn't it? Apapun untuk mereka...

Tersenyum walau dikepang pake selotip ama tante santi

Bangga jadi kucing
     


      






Monday 12 August 2013

My Monday Note : Thanks to you, dear writers....

Saya tidak sering- sering amat mengucap syukur. Tidak seperti adik saya yang selalu berdoa sebelum makan, saya amat sangat jarang melakukannya. Mungkin kalau saya sehabis tersesat di gurun Gobi selama dua minggu, baru saya akan mengucap syukur saat melihat segelas es teler di hadapan saya. Tidak seperti suami saya yang terbiasa berdiam sejenak saat bangun pagi untuk berdoa bagi hari baru yang membentang, saya selalu terbangun dengan gerutuan, karena menyeret tubuh dari atas tempat tidur adalah siksaan terberat bagi seorang pemalas seperti saya. Tetapi satu hal tidak pernah membuat saya lupa untuk berucap "I thank God because of you."

Saat pulang ke Indonesia kemarin (sepenuhnya bukan liburan karena hanya satu minggu yang diisi dengan naik pesawat setiap dua hari), saya tidak sempat menyambangi aneka tempat makan yang sudah saya idam- idamkan untuk memenuhi dahaga akan makanan kampung halaman. Saya gagal mengunjungi bu Rudi dan sambal udangnya dan satu- satunya empek- empek yang sempat saya santap hanyalah yang dijual di Carefour saat saya membeli magic jar baru untuk dibawa ke Australia. Rasa empek- empeknya? Lebih mirip lem sagu yang diduduki gajah lima hari lima malam. Tetapi, meskipun gagal mengunjungi restoran ataupun bertemu sahabat- sahabat lama saya, saya toh tetap meluangkan waktu untuk dua kali datang ke Gramedia dan menikmati rak demi rak yang dipenuhi berbagai harta karun yang membuat mata saya lebih berbinar daripada jika melihat gantungan baju di butiknya Oscar Lawalata. 

Kelak kemudian, di dalam bandara LCCT yang sumpek dalam rangka penerbangan kembali ke Melbourne, saya membuka ransel dan mengeluarkan buku bersampul biru kuning dengan gambar seorang pemuda melompat dari atas batang pohon yang sudah meranggas kering. Mungkin melompat ke tengah danau berair jernih atau sungai berlumpur yang dihiasi sekuintal sampah yang mengambang. Novel yang mengisahkan cerita perjalanan dari seorang pemuda ceking ke negeri- negeri nun jauh; dusun di kaki gunung Himalaya, tanah Mongol hingga kota Kabul yang sulit membedakan kata turis dan teroris. 



Menikmati lembar demi lembar novel itu, tentu saya menikmati alun untaian kisah dari negeri antah berantah yang nyaris tidak akan pernah saya datangi dalam kehidupan saya ini. Bukan hanya karena saya tidak punya duit untuk kesana, tetapi lebih karena saya tidak punya setetes pun keinginan untuk mengunjungi pasar di Kabul, dimana hanya sekedar membeli sayur di pasar pun mempunyai peluang besar untuk membuat seseorang pulang tinggal nama. Dan siapa pula orang 'waras' yang akan memilih melakukan perjalanan lintas benua dengan kereta api? Bukan kereta sekelas Argo Bromo, tetapi kereta dimana kaki kotor orang lain bertemu muka dengan wajah kita di tengah udara gurun dengan debu kemerahan beterbangan menyesaki paru- paru. 

Seperti saat membaca majalah perjalanan wisata, novel ini mengajak saya menikmati deskripsi mengenai surga eksotis yang selama ini hanya bisa dikhayalkan. Tetapi, saat engkau beruntung membaca goresan pena seorang anak manusia yang merupakan seorang pejalan sederhana, seorang musafir, engkau juga akan mendapati kisah manusia di balik monumen megah dan alam yang eksotis. Bahwa di kaki gunung di Nepal, trekking menjadi sumber pendapatan terbesar dari pariwisata, meski dibayangi oleh para gerilyawan Maois yang menteror para turis. Bukan dengan bom atau senapan, tetapi sekedar pajak yang tak seberapa tanda dukungan kepada gerakan pembebasan mereka yang mulia. Dan si teroris pun bukannya sosok seram memanggul senapan mitraliur, tetapi seorang pria kecil bersuara lembut yang memalak dengan menambahkan kata "please..." di akhir kalimatnya.

Bahwa kalau engkau ingin melihat jajaran penis dan pantat yang terpampang tanpa malu dan ragu di dunia nyata, stasiun kereta api di pelosok India adalah tempatnya. Saat kereta beranjak, engkau mungkin akan mendapatkan rejeki nomplok melihat deretan penis dengan berbagai bentuk dan ukurannya, yang bergelantungan dan mengucurkan air dengan santai di hadapan ribuan anak manusia yang menyemuti stasiun. 

Dan lebih dari sekedar gambaran tentang penis yang lonjong ataupun bulat, engkau akan mengerti bahwa ada alasan budaya yang melatar belakangi cara seseorang bertindak. Dulu, saat bekerja di perusahaan ekspor impordi Jakarta, satu hal yang paling saya benci adalah bekerja dengan penjual dari Pakistan. Kapan engkau akan mengirim produk itu ke Indonesia? -- Besok pagi, Inshalah! Dua hari kemudian tanpa kabar berita, dengan asumsi si barang sudah dikirim, saya bertanya lagi, "Apakah produk sudah dikirim?" -- Besok pasti, Inshalah! Dan selanjutnya sampai dua minggu kemudian saya kelimpungan mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi pada produk yang sudah saya pesan dan bayar ini. Kesimpulan saya, orang Pakistan adalah penipu dan kalimat Inshalah bagi mereka sama artinya dengan "Kalau ane nggak lupa ye, kalau lupa ya derita ente."       

Dan di Asia Tengah, si penulis novel menemukan bahwa konsep waktu di belahan dunia itu totally completely different. Waktu adalah abadi. Tak perlu kau terburu- buru. Dan memang janji adalah hutang. Tidak seperti di India, tidak ada orang yang akan menipumu di Pakistan, tidak ada penarik rickshaw yang akan sengaja membawamu tersesat. Karena agama melarang mereka menipu. Dan saat engkau adalah seorang tamu, maka mereka akan menyembelih satu- satunya lembu yang mereka punyai untuk mengenyangkanmu sementara mereka bersedia kelaparan. Saat engkau menginap di rumah seorang Pakistan dan uangmu raib (entah siapa yang mengambil), maka diam- diam tuan rumah akan menggantinya lebih banyak. Malu! Aib! Bila tetamu kecurian di rumah mereka. Jadi apakah para Pakistani yang mengartikan besok adalah hari sesudah hari ini (bisa esok hari atau esok lusa atau esok abad) simply adalah seorang penipu atau sekedar mempunyai konsep yang berbeda soal ketepatan waktu? You decide.

Dan saat sepenjuru dunia sibuk berdebat mengenai kesetaraan gender, agama, perdamaian ataupun menumpas Taliban, bagi penduduk lokal Afghanistan masalah terpenting dan satu- satunya yang merasuki benak mereka adalah soal MAKAN. Apa untuk dimakan hari ini? Dimana bisa mendapat makan untuk si bayi yang berusia tujuh bulan tetapi kerut merut wajahnya serupa dengan wajah kakek renta tujuh puluh tahun? Dan negara yang dulunya adalah tanah persinggahan, tanah surgawi persilangan dua kebudayaan, sekarang adalah tanah suram yang bahkan korban bom pun sudah tidak didata lagi namanya. Bayangkan bila ada bom meledakkan sebuah bus di tengah pasar Senen dan menewaskan 35 petugas polisi muda, tentu sepenjuru Jakarta akan terhenyak. Koran- koran nasional akan dihiasi headline dengan berbagai variasi, namun intinya 35 nyawa yang melayang sia- sia itu jelas suatu tragedi nasional. Di Afghanistan? Mendengar suara ledakan bom, penjual sayur tetap meneruskan melayani pelanggannya. Toko dan warung tetap buka seperti biasa. Hanya para jurnalis dan polisi yang kalang kabut menuju tempat ledakan. Dan seorang ayah dengan merenung berucap apakah ia sebaiknya menjadi pelaku bom bunuh diri saja, karena walaupun mati paling tidak ia akan mendapat imbalan sejumlah uang untuk memberi makan anaknya.   

Menutup novel setebal 552 halaman itu, saya berucap "Thank God because of you, dear writer!"

Weekend kemarin,sembari menunggu Sera memilih buku di perpustakaan, saya memutuskan meminjam satu buku tentang kisah seorang pendaki gunung kawakan dari Australia. Ia menceritakan kisahnya mendaki puncak Himalaya.



Sementara bila yang membaca buku itu adalah seorang pecinta alam juga, mungkin yang paling menarik minatnya adalah deskripsi tentang tehnik dan kesulitan memanjat. Tetapi bagi saya yang seumur- umur hanya pernah memanjat Gunung Taliwongso, tentu kesulitan pendakian Himalaya tidak bisa sepenuhnya meresap ke dalam sanubari saya.

Gunung Taliwongso yang biasa saya panjat adalah gundukan berbatu dengan jalan tanah setapak berdebu dan hanya ramai di masa lebaran. Itu adalah gunung terkenal di desa Tlingsing, Klaten, desanya simbah saya (Gunung adalah istilah hiperbola bagi gundukan tanah ini :D). Sementara di sepanjang pendakian menuju puncak Himalaya si penulis harus membangun belasan camp di tengah salju, saya harus melewati belasan warung bakso dan es buah yang menghiasi jalan menuju puncak Taliwongso. Sementara si penulis harus berhati- hati dalam mengambil gambar dari puncak Himalaya karena luas tanah datar yang sangat sempit dan lengah sedikit ia akan terjun bebas menuju kematian instan, saya harus berhati- hati agar dompet saya tidak kecopetan ditengah konser dangdut nan meriah yang digelar di atas puncak 'gunung' taliwongso. Sementara selama perjalanan mendaki Gunung Taliwongso itu yang saya temui adalah bangkai tikus yang setengah terburai ususnya, si pendaki Himalaya menemui tiga tubuh beku para pendaki yang sudah tewas setahun yang lalu. Hawa dingin di atap dunia yang melayang diatas awan membuat mayat- mayat itu terjaga kesegarannya, menjadi semacam mumi penunggu abadi "Dewi Bumi Semesta" (sebutan para sherpa bagi si puncak Himalaya). 

Anda bertanya kenapa mayat- mayat pendaki ini tidak dibawa turun dari puncak Himalaya? Mungkin jawaban filosofis akan  pertanyaan itu adalah "Adakah kuburan yang lebih baik bagi para pecinta gunung ini selain di puncak tertinggi yang selalu menjadi mimpi mereka?" Jawaban yang lebih logis namun kurang romantis tentu saja karena tidak ada cara untuk membawa sesosok mayat turun. Semua pendaki gunung berpengalaman tahu bahwa naik ke puncak gunung adalah bagian yang lebih mudah daripada menuruninya.

Si penulis buku menceritakan mengenai Sir Edmund Hillary, pendaki pertama yang menjejakkan kaki di puncak Himalaya dan Tenzing Sherpa. Ia menuliskan bahwa sesudah keberhasilannya, Sir Hillary terus dan terus datang ke Himalaya. Bukan untuk mendakinya lagi, tetapi untuk menancapkan paku pada dinding kayu bangunan sekolah yang ia sumbangkan bagi anak- anak para sherpa. Para sherpa adalah penduduk termiskin dari negara termiskin. Si Sir berkeliling dunia mengumpulkan dana sumbangan dan ia mewujudkan rasa terima kasih pada sherpa yang membantunya dnegan membangun sarana lapangan terbang dan sekolah bagi mereka. 

Sebelumnya, dalam novel Titik Nol, saya membaca bahwa saat mencapai puncak Himalaya, si Sir Hillary meluapkan perasaannya dengan berteriak "Saya berhasil menaklukkan si Bastard!" dan kemudian mengencinginya. Membuat saya menganggap sosok si Sir serupa dengan anjing kurap yang menandai daerah teritorinya dengan pipis crit crit crit. Sementara itu, si sherpa dengan khusuk bersujud dan mengucapkan sembah pada "Dewi Semesta Alam yang Agung".

Di buku petualangan yang baru saya baca, saya menemukan bahwa si Sir bukannya berhati bajingan. Ia berhati mulia tetapi dengan kepongahan ala Columbus yang menganggap semua bentang alam adalah lawan yang harus ditundukkan. 

Bukannya si bule habis ikut nyoblos pemilu di 10 TPS, tetapi beginilah penampakan jari- jari yang terkena frosbite gara- gara mendaki si Dewi Semesta Alam

Sebelum membaca buku petualangan si Australia ini, saya tahu sherpa adalah semacam porter untuk melayani dan membantu para pendaki mencapi puncak. Sekarang, saya tahu bahwa sherpa berarti orang sher dan mereka semua miskin semiskin- miskinnya orang. Dan toh mereka adalah orang- orang paling berbahagia di dunia. Si penulis menuturkan bahwa ia menemukan kunci kebahagiaan mereka adalah pada keyakinan Budha yang mereka anut. Sekarang saya tahu bahwa kalau saya ingin bahagia, maka pilihannya dua; menganut ajaran Budha atau menang lotere 30 juta dolar. Saya belum bisa memutuskan yang mana yang hendak saya ikuti. 

Penulis- penulis terbaik membagikan perasaan hati dan kehidupan mereka dengan jujur. Mereka membuka dunia bagi para pembacanya. Tidak perlu bersusah payah menggurui atau membenarkan pandangan mereka. Mereka membiarkan imaji pembaca mengembara, membuka jendela pengetahuan baru. Dan tidak selalu novel based on true story atau yang bermuatan filosofis. Banyak pula para penulis yang menawaran kisah ringan, syahdu tanpa mengharu biru. Tarian Bumi adalah novel yang membuat saya terguguk tanpa harus menangis. Novel ini meraih penghargaan penulisan sastra dan saat membacanya saya mengakui bahwa ini adalah salah satu karya penulisan terbaik yang pernah saya baca. Tetapi lucunya, saya hanya bisa membaca novel ini sekali, sementara saya bisa berulang kali membaca novel berisi kisah cinta seorang pemuda alim yang sedang menuntut ilmu di negeri nun jauh dan abrakadabra ternyata karena takdir kok ya ndilalah menikah dengan seorang gadis jutawan Jerman cantik jelita berkakhlak mulia. Hadiah perkawinan bagi si pemuda? Kartu ATM berisi jutaan dolar (Cinderella versi Mesir, eh?).

Bahwa kisah si cinderella jantan Mesir ini jauh lebih terkenal dan difilmkan dengan laris dibanding si Tarian Bumi yang mendapat anugerah penulisan sastra terbaik, hal itu membuktikan bahwa semua orang berhak mempunyai seleranya masing- masing akan jenis tulisan yang membuat mereka bahagia. Karena memang akan lebih mudah bahagia membaca tulisan yang mengaduk- aduk emosi dan berakhir bahagia walau sedikit absurd daripada menikmati tulisan yang tidak jauh beda daripada realita kehidupan nyata. Di Tarian Bumi, si tokoh utama yang seorang gadis bangsawan menikahi pria idaman  (yang membuatnya diusir dari puri) dan hidup miskin tapi bahagia. Bahagia dong? Hehe, not really. Beberapa saat kemudian, si pria meninggal mendadak, meninggalkan si gadis bangsawan dalam kemiskinan dan kepapaan hidup bersama anak semata wayang mereka. Dan sampai akhir novel, tetap saja si gadis tidak bertemu pria yang eh kok ya ndilalah anaknya Aburizal Bakrie yang mempunyai rumah selebar waduk Lapindo. Novel yang menyebalkan bagi pemburu kebahagiaan instan ala Cinderella seperti saya ^^. Bring back si Cinderella Mesir again please....  


Wahai Agustinus Wibowo, Oka Rukmini, Frances Hodgson, I thank God because of you.....

Saya sih bukannya sedang membuat resensi buku, hanya sedang mengucap terima kasih bagi anugerah yang diberikan kehidupan pada saya; para penulis luar biasa yang karyanya membuat hidup saya lebih berwarna.  

Note: dari hasil mengamat- amati berbagai novel di Gramedia, tampaknya yang menjadi tren sekarang adalah novel bernuansa religi atau yang bernafas luar negeri. Mengejar pelangi di Antartika, bertasbih di kota New York, sepenggal hati di Palermo, senja di Alexandria dan aneka judul nan syahdu lainnya. Mengikuti tren ini, novel yang akan saya tulis akan berjudul "Terengah- engah Membayar hutang KPR di Melbourne" -- based on true story       

“The person, be it gentleman or lady, who has not pleasure in a good novel, must be intolerably stupid.” 
― Jane Austen