Monday 26 August 2013

My Monday Note -- Hujan Batu di Negeri Sendiri Masih Lebih Enak Dari Hujan Emas Di Negeri Orang

"I'm moving back to Indonesia. For good." kata seorang teman melalui telepon.
"Why? Why why why?" tanya saya.
"Yah, after long consideration and lots of thought sih," jawabnya.

Karena kebetulan pada saat itu saya sedang bekerja, jadi perbincangan tidak bisa dilanjutkan panjang dan lebar. But then I reckoned that many people I know memutuskan hal serupa. Sudah tiga tahun tinggal disini dan akhirnya mendapatkan Permanent Resident, kok ya kemudian memutuskan untuk kembali saja ke Indonesia? Why?

Kenapa sampai harus heran saat seseorang yang sudah mempunyai Permanent Resident (PR) Australia misalnya kemudian memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia, melepaskan status Permanent Residentnya? Ilustrasinya begini. Demi penghematan, Okhi selalu memotong rambutnya di tukang cukur pinggir jalan alias tukang cukur kelas teri xD. Nah, sembari menunggu giliran dicukur atau sembari dicukur rambutnya, ia mendengarkan obrolan orang disekitarnya. Selalu dan selalu pembicaraan para imigran ini terkait dengan perjuangan mereka untuk mendapatkan PR. Ada yang sudah tinggal di Melbourne selama sepuluh tahun, mengajukan permohonan PR berkali-kali, dan lagi dan lagi permohonannya ditolak. Ada mahasiswa yang selepas kuliah dan belum mendapat PR, kemudian terpaksa mendaftar untuk ikut kursus ini itu supaya diperbolehkan tinggal di Australia, sembari mencoba lagi melamar PR. Dan saat orang tahu bahwa si Okhi mendapat PR tanpa dia harus sekolah dulu di Australia dan kami cukup mendaftar dari Jakarta (jadi kami tidak merasakan luntang- lantung terlunta- lunta hanya demi mendapatkan PR), maka setengah tidak percaya mereka akan berkomentar "You are so lucky! I've been applying for years without success!!!!"

Mendapatkan visa PR seolah seperti mendapatkan kunci pembuka sukses. Kamu akan bisa hidup di Australia, merasakan berbagai fasilitas dan kenyamanan hidup, pendidikan dan kesehatan yang terjamin bagi anakmu. Kamu akan serupa dengan warga negara Australia, hanya kagak boleh ikut pemilu (siapa juga yang tertarik ikut pemilu). Dan untuk mendapatkan status PR itu tidak mudah ataupun murah. Berliku dan makan biaya. Jadi kalau PR itu sesuatu yang didambakan, sesuatu yang akan memberikan garansi kehidupan yang nyaman dan bermasa depan, kenapa banyak juga orang yang kemudian memutuskan untuk pulang kampung sajalah ke Indonesia???

Saya jadi tertarik untuk mengintip ke artikel dan blog yang ditulis orang lain. Apa ya yang ada di pikiran mereka? Entah itu tulisan yang dibuat seseorang yang memutuskan untuk pulang atau yang memutuskan bertahan dalam perantauannya. Blog pertama yang saya baca ditulis seorang pria yang meskipun sudah mendapat tiket menuju 'tangga kesuksesan' di Australia, kemudian memutuskan untuk pulang karena ia yakin masih banyak yang bisa diperbuatnya bagi bangsa dan negara. "Negara tercinta masih membutuhkan saya.", demikian alasannya.

Walau tentu saya menghargai semangat heroiknya, saya tidak bisa merasakan keterikatan dengan alasannya. Too rhetoric for my liking :P. Awas aja kalau terakhir- terakhirnya kerja di Jakarta :P. Di blog lain, saya menemukan seorang yang memutuskan bertahan untuk tetap menetap di Eropah dan bercerita bahwa iya memang hidup di Eropah (pake H) itu berat, nggak ada pembantu, makanannya aneh dan beraneka kendala hidup di negara asing lainnya. Tapi dia memutuskan untuk bertahan. Menurutnya "Ya masalahnya tergantung tingkat kemanjaan masing- masing orang. Kalau kamu termasuk orang manja yang nggak bisa hidup tanpa pembantu, ya kamu bakal pingin pulang aja ke Indonesia. Kalau aku sih memutuskan bertahan."

Saya terkekeh dan berniat menunjukkan artikel tersebut ke teman saya yang memutuskan untuk mudik tadi. "Oh, jadi elu itu termasuk orang manja yang butuh pembantu untuk nyebokin elu ya... xD"

Anyway, sebetulnya saya pernah (dan masih) mempertanyakan keputusan untuk menetap di Australia ini. Saya juga pernah (dan masih) berpikir untuk kembali sajalah ke Indonesia. Kenapa? Hm, butuh merenung juga saya untuk menemukan kenapa sih saya masih dan masih ingin kembali ke Indonesia? Dan lucunya perasaan itu menguat justru setelah saya bekerja full time di rumah sakit, menjadi asisten apoteker (saya dulu seorang apoteker di Indonesia, walau kagak pernah menyentuh resep sama sekali. Apoteker abal- abal :D).

Setelah saya berusaha merenung apa sih alasan mendasar saya masih memikirkan untuk pulkam saja, saya menemukan bahwa hal tersebut karena perasaan I don't belong. I don't belong here..... I don't belong dengan jenis pekerjaan saya, I don't belong dengan teman- temannya, I don't belong dengan bahasanya. I just don't belong. Setiap makan siang, saya berkumpul dengan sesama asisten lainnya. Don't get me wrong, bukannya saya bermaksud merendahkan, tetapi I just don't belong. Seorang asisten tertarik dengan supir perusahaan ekspedisi yang tiap siang mengantar obat ke rumah sakit. Saya tidak bisa berbagi ketertarikan itu. Saya tidak serta merta secara otomatis akan tertarik melihat si sopir kiyut dengan tato di sekujur lengannya dan rambut cepaknya. Tetapi saya terpikat saat seorang apoteker senior menerangkan tentang program hormon dengan gaya yang oh-so-smart.

Bukan, bukan saya tidak akan sudi menikahi si sopir misalnya. Saya membayangkan tetangga sebelah rumah saya yang tukang bikin kebun. Apakah saya bisa tertarik padanya? Bisa banget. Karena saya kenal dia dan menemukan bahwa dia sangat menyenangkan, santai dan baik hati. Tapi saya tidak bisa berkata bahwa melihat dia mengangkut adukan semen membuat hati saya berdesir. Topik yang dianggap menarik oleh teman- teman asisten saya, saya tidak tertarik.

Tetapi runyamnya, saya juga tidak bisa masuk dalam golongan para apoteker. Saya tidak paham dengan apa sih yang mereka omongkan? Saya tidak familiar dengan bahasan- bahasan mereka. Ditambah lagi sepintar- pintarnya saya berbahasa Inggris, saya itu terbiasa dengan Inggris gaya Amerika. Memahami gaya Australia ini sungguh membuat perut melilit.

Sejak dulu saya sadar, saya bukanlah orang yang cekatan dan terampil. Oleh karena itu saya tidak bakal sukses kerja di bagian Quality Control di pabrik farmasi yang harus berurusan dengan berbagai peralatan tetek bengek kecil- kecil misalnya. Sialnya, disini ya satu- satunya jenis pekerjaan yang bisa saya jangkau adalah level technician. Yang berarti harus cekatan dengan tangan mereka. Saya sering memandang para apoteker klinis yang sibuk membaca aneka jurnal, membuat paper dan mempresentasikannya. Dan itulah jenis pekerjaan yang I belong. Bukan menghitung kapsul. Sumprit jari- jari saya ini sebengkak jemarinya kudanil :(.

Sebagai manusia yang dikarunia sifat tidak pandai bergaul, no matter how I really want to mingle with the locals, I just can't. I just don't belong.

Dan perasaan I belong ini yang dulu saya rasakan di Indonesia. I belong to my own kind. To the kind of job I'm good at. Lalu apa yang membuat saya memutuskan untuk bertahan sampai saat ini? Karena pertimbangan what matter most for me. Serafim. Dengan gayanya si Serafim, sampai saat ini saya berpendapat bahwa model pendidikan di Australia adalah yang lebih sesuai baginya. Dengan tinggal disini pun, meskipun kami tidak bisa seberfoya- foya di Indonesia yang masih memungkinkan untuk makan di restoran tiap saat dan beli cemilan di Indomaret, tapi kami akan mampu membiayai Serafim untuk bersekolah dimanapun dia mau. Setinggi apapun dia mau. Keahlian Okhi sebagai programmer dihargai tinggi disini, sementara di Indonesia tidak.

Kemudian, saat saya berkesempatan untuk berbincang panjang lebar dengan si teman yang memutuskan untuk mudik, saya menemukan alasannya adalah sama persis dengan alasan saya. Hanya berkebalikan. Alasannya adalah anaknya. Baginya, pendidikan di Indonesia lebih sesuai dibandingkan pendidikan di Australia yang hanya diajari menyanyi menari haha hihi dansa dansi. Dan sementara pendapatan kami disini lebih memadai daripada di Indonesia, teman saya yang seorang dokter itu sebetulnya berpeluang untuk hidup lebih berada bila dia tinggal di Indonesia. Dokter gitu lho. Apalagi kalau spesialis. Dibandingkan dengan disini dimana dia bekerja banting tulang dan masih saja harus menyewakan salah satu kamar di apartemen sewaannya demi menekan pengeluaran. Dengan menjadi dokter di Indonesia, dia akan sanggup membiayai anaknya besekolah dimanapun.

Tentu tentu, ada pertimbangan tambahan semacam kesulitan hidup jauh dari sanak keluarga. Kalau kondisi lagi baik- baik saja sih memang tidak masalah. Tetapi saat Serafim sakit sementara emak bapaknya ahrus bekerja misalnya, atau emaknya sakit parah sementara si balita harus tetap diurus, itu benar- benar menyesakkan jiwa raga. Atau ya itu tadi nggak ada pembantu yang bisa membantu saya. Apalagi kalau si Okhi juga kuliah seperti sekarang. Atau juga kenikmatan di Australia dimana kehidupan berjalan aman nyaman tentram karta raharja. Dengan rumah- rumah yang luas dan asri. Tetapi semua pertimbangan itu saya yakin hanyalah tambahan. What matter the most for your life, itulah yang akan menentukan keputusan seorang imigran untuk tetap bertahan atau balik badan pulang kampung.

Ah... a toddler... Semua keputusan selalu tergantung si toddler cilik, isn't it? Apapun untuk mereka...

Tersenyum walau dikepang pake selotip ama tante santi

Bangga jadi kucing
     


      






No comments:

Post a Comment