Dua minggu lalu, saya membuka email dan menemukan sebuah pesan yang berbunyi "Halo Vincentia, saya tertarik untuk memuat artikelmu soal kota Melbourne untuk majalah edisi Oktober. Apakah artikel tersebut sudah pernah dimuat di majalah lain?"
Setelah agak bingung selama lima detik, saya teringat satu artikel yang dulu, mungkin tiga bulan lalu, saya kirimkan ke satu majalah. Artikel kedua sekaligus kemungkinan yang terakhir yang akan saya kirimkan ke media untuk tahun ini. Setelah berbalas email dan mengirimkan foto- foto terkait, saya bertanya berapa fee yang akan saya dapatkan. Di email balasan akan pertanyaan saya soal fee, sang editor menyebutkan nominal yang setara dengan gaji saya selama satu setengah hari kerja setelah dipotong pajak 30% #halah, ribet amat.
Gara- gara email itu, saya jadi teringat akan beberapa hal:
1. Saya kangen menulis. Boro- boro mau berpikir soal mengirim tulisan ke majalah, sekedar menulis note dengan rutin saja terasa berat. Maklum, saya kan wanita karir profesional nan sibuk # oles- oles kuteks ke jempol kaki sambil mikir status FB untuk diaplot.
2. Menulis itu sulit untuk membuat orang jadi kaya. Saya kurang tahu juga sih sebetulnya berapa fee yang bisa didapatkan. Mungkin saja kebetulan majalah yang menerima artikel saya ini yang terlalu pelit. Tetapi, saat mencoba googling berapa sih fee yang bisa didapat, dari sebuah majalah cukup terkenal, seorang penulis berkisah kalau biasanya mendapatkan sekitar 300 ribu per artikel. WATTT??? 300 rebu doang? Yang lebih menyakitkan kalau kemudian si duit dialihkan menjadi dolar. 300 ribu rupiah = 30 dolar= tiga piring nasi gudeg di restoran pinggir stasiun.
Walau untungnya honor menulis yang saya terima tidak sememelas itu dan bisa mencapai angka juta per artikelnya (mungkin kalau saya tinggal di Indonesia ya rada lumayan ya), tetap saja bila saya ingin menggantungkan hidup dari menulis dan keluar dari pekerjaan saya sekarang, saya harus mampu memasukkan at least 12 artikel per bulannya! Alamak....
Apakah mungkin saya mampu untuk membuat 12 artikel yang layak tampil setiap bulannya? Mungkin saja sih, tetapi pasti tidak straight away. Saya tentu harus membaca dulu aneka majalah yang ingin saya kirimi hasil karya saya, mencari tahu gaya penulisan dan jenis artikel yang mereka tampilkan. Karena bahkan dua majalah yang sama- sama membahas soal travelling pun akan mempunyai warna artikel yang berbeda. Kemudian mencoba- coba untuk mengirim artikel ke majalah- majalah tersebut.
Aih, saya sih tidak sedang ingin menulis tentang kegiatan tulis menulis untuk majalah. Hanya begini lho ceritanya, saya suka sekali menulis. Terkadang, saat sedang mengetik resep di rumah sakit untuk seorang pasien penderita flu babi (agak syok juga waktu membaca resep dan tertulis di tinta ungu HAS SWINE FLU-- langsung buru- buru cuci tangan dan menggosok telapak tangan saya dengan amplas), saya tiba- tiba longing untuk menuliskan ide yang melintas di otak saya. Atau betapa inginnya saya meneruskan membuat rancangan novel mengenai empat orang sahabat yang bekerja di Jakarta yang terkatung- katung setelah mencapai 50 halaman karena sekarang saya simply TOO TIRED to do anything but sleep. Atau betapa saya sudah gatel tingkat dewa untuk meneruskan cerita tentang teman saya seorang dokter PTT dengan kisah mencengangkannya, mulai dari digedor tengah malam untuk memeriksa keperawanan seorang gadis belia (teman saya ini dokter jejaka belia :P) dan mengusir sekeluarga kadal raksasa yang bersarang di belakang lemari pakaian di rumah dinasnya.
Tetapi, karena tahun ini adalah tahun sibuk bagi kami dan sekaligus tahun dimana kami sangat butuh duit (Okhi kuliah dan kami baru saja membeli rumah yang menguras tabungan -- tuh kan saya sampai tidak sempat membuat tulisan tentang berburu rumah ini) mau tidak mau saya harus memilih; apakah bekerja di rumah sakit besar (yang bentuk bangunannya dari luar tampak seperti gudang batubara kumal) yang membuat saya terlalu lelah untuk melakukan hal lain tetapi menghasilkan pemasukan yang rutin, atau keluar dari pekerjaan itu dan mempunyai banyak waktu luang untuk melakukan hal yang saya sukai, menulis. Konsekuensinya, saya harus berusaha membuat kegiatan menulis ini bisa menghasilkan duit. Dan itu sama artinya seperti berusaha membangun bisnis saya sendiri. Butuh waktu dan usaha sebelum benar- benar berhasil. Saya baru pernah mengirim dua tulisan dan dua- duanya dimuat. Jadi yak, meskipun tidak sekelas Marah Rusli, saya yakin masih mungkinlah tulisan saya tentang tips dan trik memasak dan memanggang kue diterima oleh majalah :P.
Tetapi, dua tulisan dalam tempo setengah tahun jelas not good enough dari segi materi. Itu mah hanya cukup buat beli selusin beha berbusa tebal doang. Dan seperti lazimnya membangun bisnis atau usaha baru, dibutuhkan pengorbanan waktu dan usaha yang tidak serta merta akan menghasilkan uang. Saya perlu membeli berbagai majalah, memilih yang menarik minat saya dan mempelajari jenis artikel yang mereka butuhkan. Atau kalau saya ingin membuat novel, mungkin setidaknya saya butuh enam bulan untuk menyelesaikan keseluruhan novel, mengeditnya, menulis ulang, menawarkan ke penerbit dan kemudian mengancam akan membakar rumah si penerbit kalau naskah saya tidak diterbitkan. Barulah saya bisa mendapatkan uang untuk usaha saya itu. Menulis untuk mendapatkan uang, jelas tidak sama dengan menulis blog ini yang semau gue-elu protes gue bacok.
Saat ini, saya akhirnya merasakan apa yang dirasakan seorang teman saya beberapa tahun lampau. Impiannya? Menjadi penjahit dan membuat aneka baju anak nan unyu. Saat itu ia sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Menjahit ia lakukan di sela waktu luang, sepulang bekerja dan sehabis menidurkan anaknya. Alhasil, paling- paling dalam sebulan ia semata menghasilkan beberapa pasang baju dan modelnya ya itu- itu saja. Ia tidak punya waktu untuk mempelajari pasar, mencari aneka model baju dan mencoba beraneka tehnik aneh- aneh. Kegiatan menjahit tetap saja sebatas hobi belaka untuk menambah uang jajan, bukan bisnis serius. Mau keluar dari pekerjaan untuk benar- benar serius menekuni kegiatan jahit menjahit, kok ya dia butuh duit... Duit, duit, deritanya tiada akhir......
Membagi waktu antara bekerja di gudang batubara berkedok rumah sakit, membereskan rumah yang baru kami beli (yang artinya mengecat sendiri seantero rumah karena biaya tukang cat disini adalah 450 dolar per kamar) dan membantu si Okhi memperbaiki assignment nya yang bergrammar acakadut, saya mengelus si laptop penuh sayang sambil berucap "See you next year ya....."
Tetapi, sama seperti teman saya si penjahit yang sekarang sudah benar- benar beralih profesi menjadi penjahit, saya tahu sih bahwa kalau tidak benar- benar diniatkan dengan bulat, ya impian untuk menghabiskan hari dengan menulis (dan menghasilkan uang) hanya akan rencana tinggal rencana. Seperti kata Agatha Christie, sekali engkau berhenti menulis, engkau akan semakin malas dan malas. Meski tahun ini saya harus merelakan untuk tidak memulai 'bisnis menulis' saya karena rumah butuh dicat dan lemari dapur butuh digosok, saya tahu bahwa nasib novel saya berada di ujung jurang apabila saya tidak segera menyelesaikannya. Dia akan menjadi naskah yang tak akan terselesaikan.
Tetapi, tidak seperti teman saya yang sekarang sepenuhnya beralih profesi menjadi penjahit, saya kok ya tidak ingin benar- benar menggantungkan hidup dari menulis ya? At least not for now. Saya menikmati menuliskan apa yang ingin saya tulis, and now and then dapat duit dari kegiatan ini. Dan saya berniat sedikit menseriusinya (bahasa apa pula ini) sehingga tidak lagi dua artikel per enam bulan. Tetapi, sepenuhnya menjadi penulis, dikejar deadline 12 artikel per bulan demi menghidupi uap dapur, apakah akan sepenuhnya menyenangkan? Terkadang, hobi juga bisa berubah memuakkan kalau dilakukan atas dasar kewajiban mencari uang. Mungkin ini yang dirasakan para musisi yang memutuskan untuk ber-indie karir daripada bergabung dengan major label.
Ahahahai, kenapa saya jadi melantur kesana kemari yak... Ngaku deh itu karena saya tidak punya ide apa- apa untuk ditulis di sini. Otak saya terlalu tumpul dan berkarat. But I really longing for next year, saat dimana hopefully, fingers cross, saya akan mempunyai sedikit waktu untuk mengelus si laptop. Doakan rencana mengelus eh membujuk pak direktur agar saya diijinkan hanya bekerja tiga hari berhasil.
Ohya, here's a little bit raw draft tentang my beloved young doctor yang sedang bertugas di pedalaman kalimantan sana.
Baru berhasil menyuapkan tiga sendok nasi ke mulutnya, Rendy mendengar suara ribut- ribut dari arah depan puskesmas. Sambil menyeka mulutnya, ia beranjak keluar dari ruangannya untuk melihat ada keributan apa. Serombongan orang tampak menggotong seorang wanita paruh baya yang terbaring di atas tikar. Dengan segera Rendy memerintahkan agar si pasien dibaringkan di atas tempat tidur poli. Dengan sigap Rendy segera mengambil stetoskop dan mulai memeriksa pasien. “Pasien mengorok. GCS 1-2-1. Pupil mata anisokor.”
Rendy memeriksa tekanan darah pasien. 239/110. “Kalah deh voltase listrik,” gumamnya sambil bersiul perlahan. “Jelas ini stroke, curiganya intracerebral haemorrhage karena perdarahan otak,” kata Rendy kepada Dokter Ari yang berdiri disampingnya."
“Ibu sudah pernah terkena stroke sebelum ini dok, sekitar dua tahun lalu,” kata seorang wanita berusia tiga puluh tahunan yang rupanya adalah anak si pasien. “Ibu juga punya darah tinggi tapi nggak pernah mau diajak periksa ke puskesmas,” tambahnya lagi.
Tak lama berselang, si ibu tidak mengorok lagi, melainkan henti nafas. Dengan segera Rendy melakukan manuver Jaw Thrust, mengangkat rahang pasien untuk membebaskan jalan nafasnya. Karena kesadaran pasien terus menurun, seluruh lidahnya jatuh ke belakang dan menyumbat kerongkongannya. Bulir- bulir keringat mulai menghiasi dahi Rendy. Manuver jaw thrust sungguh melelahkan. Bayangkan saja, menahan rahang agar terus keatas. Di rumah sakit bear, terdapat alat yang khusus dipergunakan untuk menahan rahang yang kolaps, tetapi di pueskesmas di pedalaman ini, terpaksalah Rendy menahan secara manual dengan kedua tangannya.
“Dok, kami memutuskan supaya Ibu dibawa ke rumah sakit,” kata Ibu Jumiyah kearah Rendy yang sedang menahan rahang pasien.
“Oke, saya yang akan mengantar,” kata Rendy.
Akhirnya diputuskan Rendy yang akan mengantar pasien ke rumah sakit dengan didampingi Pak Mulana yang akan menyetir ambulans. “Dari keluarga pasien dua orang saja yang ikut ya,” ujar Rendy. “Nggak cukup ambulansnya kalau semua mau ikut.”
Sambil rahang pasien terus dipegang oleh Rendy, si ibu segera didorong menuju ke ambulans yang sudah diparkir tepat di pintu depan puskesmas. Pak Mulyana sudah bersiaga di belakang kemudi. Mas Aris dan tiga orang keluarga pasien dengan berhati- hati menaikkan pasien ke dalam ambulans. Dua orang anak si ibu ikut serta di dalam ambulans. Pintu ambulans ditutup, dan ambulans melaju diiringi tatapan sendu dari keluarga pasien. Baru saja ambulans berjalan sejauh lima ratus meter, kembali si ibu mengalami henti nafas. “Pak, berhenti dulu Pak!” perintah Rendy pada Pak Mulyana.
“Pak pegang seperti ini ya, tahan rahang ibu,” perintah Rendy lagi pada anak laki- laki si ibu yang ikut menemani di dalam ambulans. Segera Rendy memompa jantung si ibu dan meniup dengan ambu bag. Lima menit kemudian, si ibu kembali bernafas. Sambil mengusap peluh, Rendy berkata “Ayo jalan lagi Pak Mulyana!”
Kira- kira tiga kilometer dari puskesmas, kembali si ibu mengalami henti nafas. Kembali ambulans berhenti. Jalan yang berlubang dan tidak rata serta fasilitas ambulans yang kurang layak membuat kegiatan memompa jantung tidak memungkinkan untuk dilakukan dengan kondisi ambulans berjalan. Lima menit berlalu. Belum ada tanda- tanda pasien mulai bernafas. Sepuluh menit. Rendy memeriksa pupil mata pasien. “Masih belum midirasis, belum melebar,” pikir Rendy, pertanda pasien masih hidup.
Keringat membasahi baju seragam Rendy yang berwarna cokelat tua. Nafasnya tersengal- sengal dan wajahnya merah padam. “Duh Gusti, aku capek banget. Nggak kuat lagi ini….” pikir Rendy sambil menghela nafas dan mengusap dahinya dengan lengan kemejanya.
Akhirnya si ibu kembali bernafas. Dengan suara lusuh Rendy berkata “Ayo Pak, jalan!"
Pak Mulyana menggerakkan tongkat persneling, bersiap menjalankan ambulans. “Ya ampun, henti nafas lagi,” desah Rendy sambil kembali memompa jantung sang pasien.
Beberapa menit berlalu. Bagian dalam ambulans dipenuhi suara nafas Rendy yang menderu ditingkahi isak tangis kedua anak si ibu. Sampai akhirnya Bu Jumiyah, berteriak dengan histeris dan tersedu- sedu menangis “Sudah Pak!!!! Berhenti Pak Dokter!!!! Jangan dipompa lagi Ibu, biar ibu meninggal dengan tenang… Ya Allah Ya Robbi,” jeritnya.
Dengan lemas Rendy menghentikan gerakannya dan merosot terduduk di lantai ambulans. Kedua anak si ibu saling berpelukan, menangis tersedu- sedu dan kemudian memeluk tubuh ibunya. Rendy membuka pintu ambulans, melangkah keluar dan menghirup nafas dalam- dalam. Ditengadahkannya kepalanya dan disekanya wajahnya yang basah. Pak Mulyana ikut keluar dari mobil ambulans dan menjajari Rendy. “Minum Dok,” ujarnya sambil menyorongkan sebotol air putih.
Rendy mengambil botol yang disorongkan ke arahnya dan tanpa berkata- kata meneguk habis air di botol. Keduanya menatap kearah mobil ambulans yang masih dipenuhi isak tangis. Setelah beberapa saat, Rendy berjalan kembali ke arah ambulans dan berkata “Saya ikut berduka yang sedalam- dalamnya ya Bu, Pak.”
Malam harinya, Rendy memijat- mijat lengannya yang terasa pegal dengan balsam. “Gila, berasa kayak fitness tujuh jam nonstop,” gumamnya sambil mengoleskan lagi balsam ke lengannya.
Jam sembilan malam, blackberrynya berdering. “Oh no, jangan bilang ada orang lain yang sekarat,” dengus Rendy dengan ekspresi pasrah.
“Halo Dokter Rendy?” terdengar suara Mas Aris, perawatnya di puskesmas.
“Ya Mas, ada apa?” jawab Rendy.
“Oh, saya hanya mau memberi tahu Dok, baru saja Nenek Pixie meninggal. Tadi jam delapan malam,” ujar Mas Aris. Nenek Pixie adalah seorang pasien yang mengalami alergi obat, yang membuatnya harus mendapatkan perawatan albumin yang mahal. Karena ketiadaan dana, terpaksalah si nenek dirawat seadanya di rumah.
“Oh, ikut berduka… Makasih ya Mas sudah memberitahu saya. Dikubur malam ini nenek?” tanya Rendy lagi.
Saat memutus telepon, rasa bersalah menyengat hati Rendy. Tadi secara otomatis, ia merasa lega bahwa Mas Aris menyampaikan berita tentang kematian seseorang, bukannya ada pasien sekarat yang membutuhkan pertolongannya. Sungguh malam ini ia tidak ingin keluar rumah. Kedua lengannya kaku dan bengkak tak bisa digerakkan, sekujur tubuhnya seperti habis digebukin orang sekampung.
“Tuhan, tolong untuk malam ini saja, jangan kirim orang sekarat ke tempat saya,” pintanya sebelum membaringkan diri di atas kasur udara bermotif Spongebob yang mulai mengempis. “Aku capek sekali Tuhan. Tolong biarkan aku istirahat semalam ini saja…”
Memompa jantung pasien terus menerus jelas menguras tenaga. Tetapi yang lebih membuat Rendy merasa lelah dan terkuras adalah menyaksikan selama empat bulan ini bagaimana kondisi medis yang seharusnya masih bisa tertolong, tetapi karena sikap abai ataupun keterbatasan dana, menjadi kasus tak tertolong. Betapa nyawa manusia lebih murah daripada serum tetanus seharga Rp. 50.000,-. Betapa ambulans yang lebih mirip kotak sabun tanpa ketiadaan alat penunjang membuat si ambulans mengantarkan pasien ke liang kubur, bukannya rumah sakit. Menyaksikan itu semua tanpa bisa melakukan apa- apa sungguh membuat frustasi.
“Apa kumatikan saja ya blackberryku,” pikir Rendy. “Semalam ini saja, toh aku nggak ada kewajiban juga kok selalu online. Emangnya dokter on call 24/7?”
Tetapi setelah menimbang- nimbang sejenak, ia mengurungkan niatnya. Hati kecilnya tidak tega melakukannya. “Semalam ini saja Tuhan…” bisik Rendy sambil memejamkan mata.
Semesta rupanya mendengarkan doa Rendy. Malam itu ia tidak terbangun sama sekali. Tidur nyenyak seperti orang mati. Bahkan suara pak tokek yang biasanya selalu membangunkannya setiap pukul tiga pagi tidak didengarnya.