Monday 21 October 2013

My Monday Note -- Masih Tetap Saling Menyukai

Pindah rumah itu menyebalkan.

Pindah rumah sembari mengecat seluruh dinding rumah sendirian tanpa bantuan tukang itu lebih menyebalkan lagi. 

Pindah rumah, mengecat sembari tetap bekerja full time itu memuakkan. 

Pindah rumah, mengecat, bekerja sembari kuliah itu bikin pingin bunuh diri saja. 

Dan malam ini, di depan meja dapur di rumah baru yang di lantainya masih berserakan aneka kardus dan boks plastik, di depan laptop yang akhirnya bisa digunakan setelah chargernya ditemukan di dalam kardus bertuliskan "Pecah belah dapur" (keluarga saya memang calon penerima nobel fisika), saya belajar dua hal. Pertama,saya terlalu pengecut untuk melakukan bunuh diri. Kedua, kecuali suami saya adalah bandot semacam Patonah yang penghasilannya tanpa batasan nominal dan senyumnya semesum kambing overdosis jamu pasak bumi, ancaman utama dalam pernikahan pasangan normal tampaknya bukanlah deretan penyanyi dangdut pantura yang siap bergoyang diatas pangkuan suami, melainkan kesibukan kehidupan modern (eciye berasa sosialita deh eyke) yang membuat semuanya menjadi just an average day..

Baru sekitar tiga bulan yang lalu saya mulai bekerja di tempat baru. Dan selama tiga bulan pertama ini saya sungguh harus berjuang untuk berangkat ke tempat kerja setiap pagi. Maklum, sindrom tempat kerja baru. Secara bawaan orok, saya adalah tipe orang yang suka melakukan satu pekerjaan dengan tekun dan tidak diburu- buru. Dan saya benci interupsi yang terus menerus. Pokoknya fast paced job jelas bukan my cup of tea. Sialnya, rumah sakit tempat saya bekerja adalah rumah sakit pemerintah terbesar yang melayani seperempat penduduk senegara bagian. Penyakitnya pun bervariasi mulai dari TBC (heeh nggak ada bedanya sama kerja di puskesmas pojok kelurahan), transplan ginjal sampai scabies dan flu babi. Akibatnya, alih- alih mengerjakan resep dengan tenang, saya mengerjakan resep sambil mendengarkan dering telepon tiada henti yang harus diangkat, aliran resep urgent untuk pasien yang ambulansnya sudah nongkrong di pelataran hingga pasien yang tiba- tiba nggeblak di tengah- tengah antrian apotek. Belum lagi nanti si perawat menelepon bahwa si pasien psikiatri mulai mengamuk karena kelamaan menunggu obat. Plus banyak rekan kerja yang yah sebut saja tidak bakal memenangkan kontes miss personality. Lengkaplah penderitaan saya.

Saat kita melakukan hal yang tidak kita sukai, maka energi yang harus dikeluarkan jadilah berlipat- lipat. Saya selalu pulang ke rumah dengan perasaan terkuras dan di pagi hari bangun dengan perasaan sangat berat bin enggan.

Nah, sementara saya merasa lelah terutama karena capek hati, Okhi amat sangat capek karena dia harus bekerja, kuliah plus mengecat rumah. Pagi- pagi buta dia sudah langsung kabur untuk mengecat rumah baru sebelum pergi ke kantor. Malamnya, bila tidak ada kuliah, kembali ia mengecat rumah. Weeekend nongkrong di kampus, kuliah atau membuat paper.

Lupakan artikel di majalah konsultasi pernikahan tentang tips dan trik bagaimana agar pernikahan tetap gemerlap semerbak berbunga merona seperti di kala pacaran, saat sekedar bersentuhan tanganpun sudah bisa membuat berdesir. Lupakan pula nasehat- nasehat sederhana nan logis bahwa sesibuk apapun kita, tetap harus sempatkan waktu untuk pergi kencan berdua. Pada saat- saat tersibuk dalam hidup, saat pulang ke rumah hanyalah untuk makan, mandi dan tidur, maka ancaman terbesar bukanlah bagaimana agar pernikahan tetap panas membara, tetapi bagaimana agar saya tidak membenci si Okhi. Dan bagaimana agar si Okhi tidak membenci saya.

Rumah yang kami beli adalah rumah tua dengan cat yang sudah mengelupas dimana- mana. Sebelum bisa dicat ulang, cat lama di langit- langit harus dikelupas pelan- pelan. Berjam- jam Okhi melakukannya. Kemudian didempul. Kemudian diamplas. Kemudian dicuci. Kemudian dicat dasar. Kemudian ditunggu beberapa jam dan dicat lapisan pertama (menghabiskan seluruh harinya di akhir pekan). Ditinggal dulu ke kantor, dan nanti sorenya sepulang dari kantor akan dicat lapisan terakhir. Dan di sore hari, setelah terburu- buru kabur dari kantor agar bisa menyelesaikan mengecat, ternyata catnya menggelembung dan mengelupas.

Kalau tidak ingat melempari kaca jendela itu akan mengakibatkan kaca pecah berkeping- keping dan berarti harus membeli kaca baru, Okhi pasti sudah gatel pingin ngelempar kaleng cat ke jendela. Kerja keras berjam- jam sia- sia. Dan deadline semakin mepet.

Dan saat si Okhi pulang ke rumah, ia akan bertemu saya yang sedang capek hati karena tadi siang di tempat kerja, seorang rekan kerja separuh baya separuh buaya yang tujuan hidupnya adalah membuat semua makhluk lain sama merananya dengan dirinya, memberikan komentar melecehkan yang membuat saya yang sudah merasa tolol karena belum bisa menyesuaikan ritme di tempat baru menjadi serasa seekor badak yang diberi rok tutu dan didorong ke tengah panggung pertunjukan balet. Perannya? Menjadi black swan.

Tidak perlu Okhi melakukan kesalahan besar tak termaafkan seperti meminta ijin untuk kawin lagi atau saya ketahuan menabrakkan mobil ke tiang jemuran misalnya, sekedar Okhi yang berdehem- dehem secara konstan (Okhi dan musim dingin bukanlah sahabat baik) bisa membuat saya sangat sebal. Atau sekedar kenyataan bahwa saya tidak tahu caranya membayar tagihan (fakta yang sudah diketahui Okhi sejak pertama kali menikah hampir lima tahun lalu) bisa mencetuskan komentar ketus atau nada meninggi yang berakhir dengan saling membentak dan tidur saling memunggungi.

Sudah menikah selama lima tahun dan pacaran selama belasan abad, tentu saya dan Okhi sudah sedikit banyak belajar bahwa kami berdua memiliki sifat kurang terpuji pada saat lelah atau sibuk. Itulah sebabnya saat kesibukan dan kepenatan mulai merasuk, saat cinta serasa memudar dan bahkan sekedar berpelukan di tempat tidur (sambil masing- masing memegang laptop) sudah tidak pernah dilakukan lagi, tanpa sadar saya dan Okhi mulai menerapkan 'our safety net'.

Saat Okhi yang jelas sedang kesal karena catnya yang mengelupas kemudian pulang kerumah dan dengan nada sedikit meninggi bertanya kenapa tadi siang saya tidak bisa dihubungi (yang sudah jelas karena saya bekerja di basement tanpa sinyal), saya menahan diri untuk tidak snap him back. "Elu kan tahu gue nguli di kamp batu bara! Pake nanya lagi kenapa kagak bisa dihubungi!!!"

Maka dengan pengendalian diri yang tidak mudah juga sebenarnya, saya akan menjawab dengan nada datar "Ya kamu kan tahu aku kerja di tempat tanpa sinyal." Saya menolak untuk terprovokasi oleh si Okhi yang sedang mencari cara menyalurkan emosinya, tapi sekaligus memberikan 'peringatan' please don't push your luck mister. Karena kalau dia masih nggerundel lagi atau meneruskan nada tingginya, for sure saya yang juga bukannya sedang riang gembira tralalala akan sangat marah dan dengan segera ikut serta dalam pertengkaran. Begitu juga sebaliknya saat saya yang sedang mulai mencari perkara, saya bisa melihat Okhi menahan dirinya untuk tidak terprovokasi.

Saat menemukan fakta bahwa Okhi membeli jenis cat yang salah, maka kami berdua (masing- masing dengan raut wajah jengkel) akan menutup mulut dan menghindari berkomentar. Biasanya untuk beberapa saat saya dan Okhi akan saling menghindar, dia membersihkan halaman sementara saya berada di dalam rumah sampai emosi sedikit mereda. Saya menahan diri untuk tidak berkomentar "Gimana sih kok bisa salah beli?" dan saya rasa Okhi juga harus menahan mulutnya dari keinginan melampiaskan frustasi dengan berkata "Apa- apa harus aku yang mikir. Kamu nggak mbantuin sama sekali."

Pada saat- saat sibuk dan penat, bukan kata- kata manis atau belaian cinta yang menyelamatkan pernikahan saya (boro- boro mau mikir berkata manis, nggak saling membentak saja sudah untung) tetapi mengendalikan diri untuk tidak menjadi emosi dan menghindari segala bentuk pertengkaran. Disaat- saat hidup terasa penat, kalau saya harus menghadapi pasangan yang emosi dan bertengkar untuk hal- hal yang tidak prinsip itu sungguh melelahkan. Dan emosi semua orang tentu lebih gampang terpantik disaat sedang lelah. Disaat itulah saya memasang safety net erat- erat, kesadaran untuk menekan emosi, mengunci mulut dan menunda komentar yang hanya akan membuat suasana memanas. Dan mencegah diri dari mengatakan hal- hal tak termaafkan yang pada saat itu sungguh memang saya rasakan "Mending cerai aja" atau "Enakan sebelum nikah daripada sekarang".  

Kadang saya jadi berpikir, kalau untuk sekedar tidak bertengkar atau membenci Okhi saja harus berjuang, apakah itu berarti saya sudah tidak cinta dia lagi ya? Apakah pernikahan kami masih berdasar cinta atau sekedar karena kami tidak mau bercerai? Bukankah cinta seharusnya mudah? Bukankah seharusnya saya tetap rindu ingin memeluk dan menciumnya? Kalau toh saya harus menahan diri dari keinginan bertengkar dengan Okhi, apa bedanya dengan perlakuan saya ke teman- teman di kantor? Bukankah saya juga tidak pernah bertengkar dengan mereka karena masing- masing dari kami saling menahan diri? Kan nggak profesional sama sekali kalau jambak- jambakan di kantor atau saling mengumpat?

Malam jumat kemarin, saat sudah tinggal di rumah baru, semua sudah mulai tertata dan kebun belakangpun sudah mulai rada layak pakai, saya duduk santai di atas tempat tidur bersama Okhi. Sera sudah melungker dengan damai di pojok kasur. Sebelah lengan Okhi mendekap saya (suatu gesture simpel yang selalu ia lakukan tetapi sudah selama beberapa bulan tidak pernah dilakukan) sementara satu tangan lainnya sibuk mengklik keyboard laptop. Ceritanya Okhi merasa menemukan website untuk mendownload film- film sensual yang bukan film bokep. Walaupun tidak ada satu filmpun yang berhasil didownload demi menggairahkan percintaan (gemetar membaca judul- judul semacam paint me with red blood dengan cover cewek bertelanjang dada dengan belati di genggaman -- "Ini film erotis atau film horor kampung sih?" kata Okhi bengong), saya berpikir-pikir.

Cinta tidak berarti membuat segalanya mudah setiap saat. Ada saatnya cinta serasa menguap dan saya dengan jujur harus berkata bahwa pada saat itu saya tidak merasakan cinta pada pasangan saya karena otak dan badan saya hanya craving untuk tidur dan beristirahat. Pada saat kehidupan berjalan mudah seperti saat kehidupan sudah mapan atau liburan membentang, cinta terwujud dari kata- kata manis dan romantisme. Pada saat- saat berat, cinta terwujud dari sekedar perjuangan mengendalikan emosi. Dan kalau dipikir- pikir, bisa bertahan hidup serumah dan seranjang berdua selama 24 jam tujuh hari seminggu disaat fase kehidupan sedang low (meskipun minus romantisme dan cinta- cintaan ala abege) dengan sebiji makhluk yang sama, apakah itu bukan berarti cinta?

Di kantor, saya 'bersahabat' dengan dua pria yang kebetulan mempunyai kegemaran yang sama akan dark humor dan kami bisa saling terkekeh saat saling melontarkan komentar sarkas (Why so sad little Meg? -- Oh because today is Friday. I'm so devastated not gonna go to work for 2 days. I'm gonna miss this place...) dan hati saya selalu riang gembira bila kedua pria ini nongol. Sindiran- sindiran yang saling terlontar membuat hidup terasa mudah. Hidup bersama mereka terasa mudah. Tetapi itukan hanya beberapa jam sehari. Dan percakapan yang terjadi di basement pengap itu hanya semacam "Are you busy?" dan dijawab "Nope. I'm just standing here, sunbathing and enjoying the beautiful sky."

What if I have to discuss about house painting or paying bills with them? Saya akan mulai memesan santet dari gunung kawi.

Disaat- saat berat dan penat, memang mudah untuk mempertanyakan apakah masih ada cinta. Tanpa romantisme, tanpa waktu luang untuk bercakap- cakap. Tetapi pada suatu malam, saat Okhi berbalik dan menarik tubuh saya agar mendekat dan memeluk, saya melanjutkan tidur sambil tersenyum. Satu gesture sederhana yang hanya akan bertahan lima menit sebelum Okhi membalik badannya lagi, tetapi mengingatkan saya bahwa I'm loved. Dan disuatu pagi, saya menciumnya sekilas sebelum kami melaju ke arah yang berbeda dengan mobil masing- masing. Semoga dia juga ingat bahwa he's loved.

Cinta itu terkadang go with the wind, kadang harus berjuang melawan angin. Bagaimana kalau saya membiarkan emosi mengambil alih dan bertengkar hampir setiap hari karena saya capek dan penat? Ya suka- suka saya. Toh yang menjalani saya sendiri. Kalau saya ingin hidup dalam pernikahan bak neraka, ya monggo saja. Kata orang betawi, toh elu sendiri yang ngerasain. Hidup hanya sekali, terserah saja ente memutuskan mau berbahagia atau sengsara. Masak sih sudah terlanjur punya suami yang tidak lebih tampan dari bekantan, saya masih juga harus sengsara dengan bertengkar dengannya setiap hari?


Wajah teler sehabis mengecat. Hanya Sera yang tampak bahagia


4 comments:

  1. Pantes lama gak nongol .... hehe2.
    Salam dr Jogja dan Indonesia. Juga dari Evan Dimas ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya masih dalam masa pemulihan setelah operasi plastik dan sedot lemak ^^

      Delete
  2. mba.. salam kenal yaaa..

    saya dapat rekomen ini dari temen.. ini bagus sekali lo mba... terus terang saya langsung membaca mundur semua postingannya. tapi kenapa ngga banyak yang hits yaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kenapa ya? *manyun. Mungkin gara2 dulu lupa bayar perpanjangan nama blog, jadi expire dan terpaksa semua tulisan yang lama diangkut pindah rumah ke sini -_-

      Delete