Monday 21 July 2014

My Monday Note -- Sometimes, I Hate Being A Mother (Confessions of a less-than-perfect-mum)

Apakah anda mempunyai anak yang lebih favorit dari anak lainnya? Atau menemukan bahwa motherhood itu membosankan? You may feel alone, but you're not.

Saya membaca nukilan sebuah buku karangan Dilvin Yasa; Good Enough: Confessions of a less-than-perfect mum. Dan isi buku itu, tepat seperti draft note yang sudah saya buat sejak tahun lalu, tapi terkubur dan terlupakan diantara tumpukan sampah draft di blog ini. Buku ini meneriakkan apa yang sudah siap saya teriakkan sejak tahun lalu, kalau saja saya tidak terlalu malas untuk menulis *menggeliat dan siap tidur siang lagi. Begini cukilannya (banyak yang tidak saya ubah ke bahasa Indonesia karena kok jadi nggak enak ya, merubah arti).

Pada tahun pertama sejak kelahiran anak perempuan saya, saya benci menjadi seorang ibu. Bukannya sekedar karena terasa berat untuk bangun di tengah malam atau muak saat mendengar lagu si Teletubbies berkumandang di TV (yang memang saya rasakan), tetapi karena dengan pahit saya menyesali pilihan yang saya ambil. Saya yakin bahwa saya sudah menghancurkan hidup saya untuk selamanya. "Kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahukan kepada kita bahwa mempunyai anak bisa semengerikan ini?" lolong saya di pertemuan mother's group, sementara bayi saya yang terkena kolik menjerit- jerit tanpa henti. 

Nb: di Australia ada yang namanya mother's group, biasanya emak- emak yang melahirkan di rumah sakit yang sama pada saat yang bersamaan (yang diasumsikan rumahnya ya berarti di area sekitaran rumah sakit itu) maka akan diperkenalkan oleh pihak rumah sakit. Mereka kemudian akan mengadakan pertemuan setiap bulan sekali misalnya, berganti- ganti di rumah masing- masing ibu. Tujuannya, semacam peer group yang saling mensuport para ibu ini, saling menguatkan dan berteman diantara mereka. 

Keluhan saya itu biasanya akan ditimpali dengan kesunyian yang terasa memekakkan dan para ibu lain di grup itu saling melempar pandang dengan kikuk. Tetapi, disaat kami tidak sedang berada dalam kelompok besar, satu atau dua ibu yang lain akan mendekat dan berbisik mengakui bahwa mereka pun juga tidak menikmati 'motherhood experience' seperti yang mereka harapkan. Kalimat penutup dari setiap percakaan kami adalah "But please don't tell anyone I told you that." 

Pesannya sangatlah jelas: In motherhood, there are subjects that are simply not open to discussion. 

Dan sejujurnya, banyak isu yang tergolong tabu untuk disuarakan adalah hal- hal yang sebetulnya sangatlah wajar. Mungkin anda 'bersalah' karena merasakan beberapa diantaranya? Mempunyai anak yang lebih favorit dibanding anak yang lain, merasa kecewa akan jenis kelamin si anak, atau merasa bahwa anda tidak menikmati menjadi seorang ibu adalah yang paling umum dirasakan. Tetapi, berbeda dengan yang mungkin anda pikirkan, psikolog klinis Laura Alfred mengatakan bahwa perasaan- perasaan 'terlarang' itu sebetulnya normal adanya.

"Menjadi seorang ibu adalah sebuah pengalaman yang seringkali membawa kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan, tetapi pengalaman itu juga bisa membuat kita sangat kewalahan, gelisah, depresi dan menjadikan kita berhati dingin (ohmaigod, apa sih terjemahannya relentless). Meskipun sering didengungkan sebagai pengalaman yang amazing, toh motherhood juga seringkali memberi syok yang dahsyat pada sistem di diri kita. 

Lah, kalau toh perasaan- perasaan itu wajar adanya, kenapa sih kok dianggap tabu? Seringkali, hal tersebut dikarenakan kita hidup di jaman dimana perasaan seorang ibu yang 'negatif', meskipun tanpa sadar, dianggap bisa menjadi racun bagi jiwa si anak. Hayo, siapa sih yang belum pernah mendengar komentar "Yang sabar ya Bunda, jangan bersedih, nanti bayinya ikut sedih lho.. Kasihan bayinya..." Mampus lu, bahkan saat kamu sedih pun itu artinya kamu sedang menyiksa bayimu. 

Ditambah lagi, kita sekarang membesarkan anak dibawah dogma "Kamu harus menjadi ibu yang lebih baik daripada semua ibu- ibu lain di luar sana." Kita juga tanpa sadar mempunyai ketakutan bahwa orang lain akan menilai dan menghakimi keputusan yang kita ambil (terutama teman dan keluarga kita). Sederhananya, ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa para ibu seharusnya 'suck it up' atau 'get on with it', dijalani saja dan nggak usah kebanyakan mengeluh. Yang pada akhirnya menghalangi kita untuk bisa secara terbuka membicarakannya.

Membaca nukilan buku ini, saya terkenang hampir lima tahun lalu, saat Serafim masih berupa bayi piyik. Setahun pertama kehidupannya, seperti penulis buku ini, saya tidak merasakan kebahagiaan dan rasa 'fulfilled' yang seharusnya dirasakan oleh seorang ibu yang baru saja dikaruniai 'anugerah terindah dalam hidup.' Terindah apanya, gerutu saya. Di mata saya, bayi Serafim adalah buntalan tukang nangis yang memberikan penyiksaan paling berat yang pernah saya rasakan. Kurang tidur super parah yang tidak saya bayangkan sebelumnya, pikiran yang lelah karena tampaknya otak saya selalu tegang, waspada menunggu kapan nih si bayi bakal meringkik lagi minta minum (yang setiap jam sepanjang malam). Oh dan keputusan memberi ASI eksklusif, yang tampak sangat heroik, berubah menjadi ajang penyiksaan karena puting saya babak belur. 

Dan saat usia si Serafim dua minggu, saya menjadi orang yang berhati dingin. Bagaimana saat kita mendengar seorang bayi menangis? Bukankah seharusnya menimbulkan iba pada orang normal? Apalagi pada ibunya sendiri. Tetapi, alih- alih menjadi iba, yang ingin saya lakukan adalah membanting si boneka rungsep itu ke lantai, menyuruhnya diam. 

Dan yang membuat semuanya menjadi lebih buruk adalah karena saya tidak bisa menceritakannya ke orang lain. Bagaimana caranya bercerita bahwa bayi kecil mungil berpipi seranum tomat itu tidak membuat hati saya melembut melainkan membuat saya benci akan hidup saya? Dengan putus asa saya bertanya- tanya kapan si bayi ini akan bisa diajak berkomunikasi, kapan si bayi akan punya jadwal tidur yang lebih masuk akal dan kapan si bayi akan bisa duduk. Yang kesemuanya dijawab oleh orang- orang disekitar saya bahwa "ya nanti kalau sudah waktunya. Masih lama! Baru juga lahir, tali puser masih nempel, sudah tanya soal kapan bisa duduk!"

Dan saat mengeluhkan puting saya yang babak belur, jawaban yang saya terima adalah "Ah, dulu putingku malah digigit sampai beneran mau copot!"

Pesannya jelas: semua ibu merasakan hal yang sama. Ya itu memang resiko menjadi ibu. Suck it up, princess! 

Dari merasa gundah, saya berubah menjadi depresi. Membesarkan bayi itu berat, tapi yang membuatnya sungguh tidak tertahankan adalah karena saya tidak diperkenankan untuk mengeluh. Pekerjaan menjadi ibu itu pekerjaan paling mulia dan anak adalah anugerah terindah. Dan kamu masih berani mengeluh dan tidak merasa bahagia? There is definitely something wrong with you. 

Kalau saya yang sekarang bisa menaiki mesin waktu dan menemui diri saya lima tahun yang lalu, my new me mungkin akan membisikkan pada my old me untuk belajar tips dan trik membuat bayi tidur lebih mudah, tips menyusui yang benar dan serangkaian tips- tips lainnya. Tetapi yang paling pertama dan utama, my new me akan memastikan my old me untuk tahu bahwa "It's ok to feel like a shit dengan rambut yang awut- awutan dan daster yang akan membuat Sebastian Gunawan bakal bunuh diri kalau melihatnya. It's ok not to love your baby straight away. It's ok to hate your life. It's ok to feel depress." 

Dan seorang bayi adalah a bundle of joy? Well, it's also ok to think that she is also a bundle of noisy shitty annoying demanding creature. 

Ohya, satu komentar yang sering saya dengar dulu, yang membuat saya bertanya apakah ada yang salah dengan diri saya adalah "Mengurus bayi itu paling enak. Dibawah satu tahun itu paling lucu. Nanti pas sudah balita, nah baru repotnya dobel- dobel."

Nah lho, mampus deh gue. Lha masih bayi saja Serafim sudah membuat saya stres, apalagi nanti pada waktu dia balita?Terrible two, kata orang.

Kalau memang masa bayi adalah masa paling menyenangkan bagi si ibu, then why the heck I didn't enjoy it? Dan ternyata, sebuah artikel di majalah ibu dan anak membuka mata saya. Bahwa setiap ibu mempunyai 'preferensi' atau kesukaan yang berbeda. Sebagian ibu paling menikmati saat si anak berusia dibawah enam bulan, sepenuhnya bayi kecil tak berdaya. Ada ibu yang menikmati fase balita kecil yang belajar berjalan dan tersaruk- saruk terjatuh. Dan meskipun mungkin lebih jarang, ada ibu yang seperti saya, yang jauh lebih menikmati porsi sebagai seorang pendidik daripada sebagai perawat.

Sementara tangisan bayi Serafim membuat saya jengkel karena tidak ada yang bisa saya lakukan (karena kan si bayi belum bisa diajak ngomong), tangisan meraung- raung balita Serafim adalah sesuatu yang menantang bagi saya. Sementara bagi banyak ibu seorang balita yang menangis meraung- raung di tengah mall adalah siksaan, tetapi tidak untuk saya. Karena saya suka menjadi pendidik. Tantrum si balita, adalah kesempatan bagi saya untuk mendidiknya. Bring it on!

Bukan berarti saya adalah ibu yang lebih baik dibanding ibu- ibu yang lain yang kewalahan dan marah saat melihat balitanya tantrum. Tapi karena kita memang berbeda. 

Menjadi ibu bagi big toddler Serafim sekarang adalah rangkaian perjalanan menyenangkan yang kami lalui berdua dengan berjongkok di perpustakaan dan bernegosiasi tentang berapa buku yang harus dibaca malam ini ("Can I have three mum? "No, ini sudah terlalu malam. Dua aja ya, besok baru tiga."). Meskipun saya selalu menuliskan dalam nada jengkel di status facebook saya, tapi saya menikmati setiap silat lidah yang saya lakukan dengan Sera, tersenyum geli melihat ketajaman mulutnya dan kecerdikan akalnya. Berdebat soal burung hantu yang seharusnya tidak terbang di siang hari dan akhirnya saya terpaksa mengakui bahwa buku cerita yang kami baca memang salah. "You're right Sera, burung hantu seharusnya tidak terbang di siang hari." Dan melihat Sera mengangguk puas sambil berkata "Yes, cause I'm smart Sera." Yang saya timpali "And very humble as well."

If only I know... Saya tidak perlu menghabiskan waktu untuk merasa bersalah...

 Don't expect motherhood will be enjoyable all the time - it won't - and don't see it as a project to be completed either.         

Dan hanya karena anda lelah, depresi, tidak berbahagia dan bertanya- tanya apakah keputusan untuk memiliki anak adalah keputusan yang tepat, bukan berarti anda adalah ibu yang tidak baik. We are less than perfect mum, we're just good enough. Hopefully we'll soon realize that being 'good enough' is exactly that - good enough.

Is your child happy, healthy and loved? You're a good mother and nothing else matter.



Sometimes, I hate being her mother. Sometimes I find motherhood is boring. And I'm less than perfect mum.That's alright.Good enough is good enough ^^ 

Monday 19 May 2014

My Monday Note -- Happy Mother's Day!

Di suatu sore menjelang jam pulang nguli, saya mengetuk pintu kantor bu wakil direktur untuk meminta ijin pulang lebih cepat di hari Jumat yang akan datang. "There is a mother's day afternoon tea in my daughter's kinder," kata saya menjelaskan.

Keluar dari kantor bu bos yang tentu saja memberi ijin, saya menggeleng- gelengkan kepala sambil bergumam kearah teman saya "Oh gee, suddenly I feel so old. Asking permission for afternoon tea with other mummies."

Pada hari Jumat pukul dua siang, saya melangkah keluar dari rumah sakit dengan cepat. Di dalam mobil, saat lampu lalu lintas berubah merah, saya membuka kotak makan siang dan menyendokkan salad ke dalam mulut. Makan siang harus dilakukan sembari menyetir, dan mungkin itu sebabnya menu makan siang orang Australia adalah salad dan burger, bukannya soto dan rawon xd.

Tidak lebih enak dari rawon tapi jauh lebih aman xd

Setelah mengemudi selama dua puluh menit, mobil saya memasuki tempat parkir kindernya si Sera. Biasanya, tempat parkir tersebut kosong melompong di siang hari, tetapi hari itu hanya tinggal tersisa dua spot kosong. Dan mobil- mobil yang datang setelah saya, mereka harus memarkir mobilnya di seberang jalan. Meraih dua kotak kue yang saya beli di supermarket, saya berjalan memasuki gedung kinder, dan memasukkan kode rahasia empat digit agar bisa membuka pintu gerbang depan (kode rahasia = kode pos daerah si kinder berada. Nggak keren kok memang). Memasuki area bermain para murid kinder, seorang anak perempuan yang sebaya dengan Serafim melihat saya dan berteriak "Sera, your mum is here!"

Sera yang sedang bermain bak pasir segera berlari menyambut emaknya sambil berseru "Mummy, mummy! My mummy is here!"

Dan kemudian saya dikerubuti beberapa anak, yang semuanya tampak tertarik pada kue cokelat yang saya bawa. "What is it, what is it?" tanya mereka.

Tak berapa lama, Liz si guru kinder menyuruh semua anak berbaris untuk masuk ke kelas. Sebelum acara minum teh, ternyata ada pertunjukan biota laut. Si Seaweed Sam, seorang pria dengan rambut gimbal yang menurut pengakuannya sendiri tidak pernah dikeramas selama lima tahun (saya jadi ragu mengenai standar kebersihan sekolahnya Sera, kok ya mengundang bintang tamu yang kemungkinana bersar berkutu) duduk di depan anak- anak dan mulai beraksi menunjukkan aneka pernak pernik makhluk laut yang dibawanya. Tulang dada ikan paus, ikan buntel, rahang hiu dan beraneka makhluk aneh- aneh lainnya. Para bocah kinder duduk di lantai sementara para oang tua dan kerabat duduk di bangku melingkar di belakang. Saya duduk bersebelahan dengan para emak yang lain dan para simbah yang salah satunya kebingungan mencari kacamatanya yang hilang.

Saya menikmati pertunjukan si rumput laut Sam, melihatnya berinteraksi dengan anak- anak. Dan saya lebih- lebih menikmati melihat si Sera duduk di baris terdepan, heboh mengacungkan tangan meminta kesempatan bicara, walau setelah diberi kesempatan dia hanya berkata "There is fish in the beach." Nyaris nggak nyambung xd.

Merubung si Seaweed Sam
Serius dengan ikan buntelnya


Sesudahnya, diadakan acara minum teh bersama, walau kok ya tidak ada setetespun teh yang dihidangkan. Kata orang Jawa, ngirit ya ngirit neng ojo ngono.

Pukul empat sore, saya menggandeng Sera pulang. Hatinya riang perutnya kenyang. Di tangannya tergenggam kotak perhiasan yang seharusnya menjadi kado untuk emaknya. Di lehernya melingkar kalung yang terbuat dari sedotan, yang seharusnya juga menjadi hadiah untuk emaknya. Keduanya sudah diklaim Sera sebagai miliknya.

Kalung yang seharusnya untuk emaknya

Jadi bagaimana rasanya menjadi seorang emak dari anak balita berumur empat tahun yang setiap hari selalu mengukur panjang kakinya ini (Sera adalah penganut teori bahwa kedewasaan seseorang ditentukan seberapa panjang betis orang tersebut)? Oh well, ternyata satu hal masih belum berubah sedari dulu, bahwa Sera mencintai emaknya lebih dari siapapun di dunia. Sejak Sera masih bayi, saya sudah menyadari bahwa baginya, emaknya adalah makhluk terpenting di dunia. Sama seperti semua anak balita kecil lainnya, seluruh dunia boleh binasa selama si emak dan pentilnya masih tersedia di sampingnya. Dan ternyata, hal tersebut masih belum berubah di usianya yang 4 tahun going to 40. Belum ada cowok alay atau bintang film Holiwut yang mengisi hatinya dan mengalahkan emaknya. Ha!! #puas.

Tetapi tentu saja ternyata ada hal yang mulai berubah. Sementara 2 years old Sera mencintai emaknya dengan segenap hatinya dan hanya ingin selalu berada di samping emaknya, 4 years old Sera (yang masih sepenuh hati mencintai Emaknya) tidak lagi puas menghabiskan seluruh waktunya hanya bersama saya. Mulai ada sosok- sosok lain yang mengisi hidupnya. Little David, little Mikayla, big Mikaela, Brown Mala, Liz the teacher, Dylan dan setumpuk makhluk- makhluk lain yang mulai sering disebut- sebut bibir mungilnya. Sera berubah  menjadi makhluk sosial yang craving untuk memiliki best friends. A lot of friends.

Si kecil Sera memang masih membutuhkan emaknya untuk memeluknya bila terbangun sembari menangis karena bermimpi buruk, tetapi bermain seluncuran ternyata lebih asyik bila dilakukan bersama David. Walau terkadang saya mengeluh kenapa si genduk ini cepat sekali besar, toh saya lega juga bahwa Sera mulai menemukan tempatnya diantara teman sebayanya, di dunia diluar emak bapaknya.

Acara afternoon tea di sore itu menjadi acara pertama di sekolahannya Sera yang saya hadiri. Dan ternyata acara tersebut membuat saya menyadari satu hal yang baru. Yang membuat saya berjanji bahwa no matter what, selama si Serafim masih kecil, tak peduli apa acara di sekolah atau perkumpulannya, I WILL HAVE TO COME! Wajib hukumnya untuk datang bagi para emak dan atau bapak.

Mother's day afternoon tea? Datanglah Mak!
Pentas seni Taman Kanak- kanak? Datanglah Pak!
Malam pembacaan puisi dimana si anak menjadi pemegang mikrofon? Datanglah!
Pentas drama dimana si anak menjadi pemeran utama batu di sungai? Datanglah!
Bazar sekolah penggalangan dana untuk menolong anak di Zimbabwe? Datanglah!
Pemberian penghargaan balita termontok tingkat RT? Datanglah!
Pentas musik di depan selusin penonton dimana si anak bertugas menjadi  pemain triangle? Datanglah

DATANGLAH, DATANGLAH, DATANGLAH!!!!
Tidak peduli seremeh apapun acara si anak, you have to come!

Seminggu sebelum acara, Serafim sudah sibuk merusuhi emaknya. Bahwa akan ada afternoon tea, akan ada hadiah untuk emaknya (It's a secret," katanya selalu sambil berbisik- bisik). Dan setiap kali saya berkata "Mama bakal datang lho ke kinder," Sera akan menari- nari gembira seperti kuda lumping kurang menyan.

Di hari dimana si afternoon tea maha penting yang mengalahkan jamuan teh di istana Buckingham itu digelar, saya tercengir- cengir. Teman- temannya si Sera (yang kebetulan orang tuanya belum datang) ikut datang merubung saat saya datang. Mereka berebut berbicara dan menarik perhatian saya. Apa yang paling dihebohkan oleh para balita ini?  Laporan pandangan mata terkait kedatangan para tamu istimewa hari itu; emak, bapak, kakek, nenek, aa, teteh, om dan kucing peliharaan.

"My mum is a bit late," lapor seorang bocah laki- laki berjambul. "Oh that's fine, you can play with your friends while waiting for your mummy," komentar saya.

"Look, that's Dylan mum," seru seorang anak sambil menunjuk- nunjuk dengan penuh semangat kearah sekelompok orang. Saya tersenyum sabar, sambil diam- diam menggerutu "Siapa nanya." *iya, saya memang nenek sihir.

"Karen mum cannot come," lapor Sera yang diiyakan teman- temannya. "Poor Karen," komentar Sera sedih, seolah mengabarkan bahwa si Karen baru saja divonis tidak akan hidup lebih lama lagi.

Saat Liz memanggil para kecebong ini untuk berbaris masuk kelas,seorang anak cowok kecil berambut pirang berseru- seru keseluruh penghuni dunia "That's my grandmother and my grandfather!" Berulang- ulang dengan wajah penuh kepuasaan.

Di dalam ruang kelas, Sera langsung duduk di barisan terdepan, disamping big Mikaela yang berwajah rada galak dan seorang bocah bernama Daniel. Kebetulan David (sahabat baiknya si Sera) sedang berlibur ke Shanghai. Kalau saja si David ada, Sera bakal dikekepin, anak lain dilarang mendekat!

Selama pertunjukan, perhatian Sera sih sepenuhnya tertuju pada si Seaweed Sam, but every now and then, Sera akan menolehkan kepalanya kearah emaknya, tersenyum puas sebelum sibuk lagi menyaksikan pertunjukan. Begitu juga semua anak lain. Terus menerus menoleh dan melirik ke keluarganya.

Aih, ternyata saya tidak hanya sekedar dicinta oleh balita saya. Balita saya, sama seperti semua balita lain di ruangan itu, ternyata menganggap orang tua mereka sebagai 'harta' yang membanggakan. Hari itu Sera tidak peduli dengan baju yang dipakainya. Sore itu ia tidak sibuk memamerkan aneka kuncir anehnya. Sore itu, hartanya yang paling berharga, yang ditatapnya setiap beberapa menit, yang diumumkannya dengan bangga kepada teman- temannya, adalah emaknya. Iya, emak tuanya yang sudah berkarat ini.

Sore itu, adalah sore dimana saya menjadi sumber kebanggaan si Sera. Betapa kehadiran emaknya means a lot for her. Dibangga- banggakan dengan seringai penuh kepuasaan. Dia merasa keren dan hebat hanya karena emaknya hadir! Ah, kalau saja bos saya sudah cukup puas dengan sekedar kehadiran saya... *keluh.

Jadi, acara seremeh apapun di sekolah atau kelas musik atau kelompok bermain bayi kecil anda, PLEASE DO COME. Your presence, mean the world for them. Funny thing that among all inhabitants of the world, you and only you that matter in your children's eyes.

Sementara Sera remaja mungkin akan lebih bangga bila konser musiknya disaksikan presiden Ameriki, Sera balita tidak akan peduli dengan keberadaan pria tua asing itu. Hanya jika emaknya (atau bapaknya atau simbahnya atau om tantenya) yang menyaksikanlah, yang akan sangat berarti baginya.

Anda harus menjaga si adik di rumah? Titipkan si bayi ke tetangga.
Anda harus bekerja? Minta ijin.
Bos tidak bakal memberi ijin untuk sekedar ke acara dansa balita? Telepon di pagi hari, bilang tak bisa datang ke kantor karena terkena penyakit kelamin.
Hari ini ada rapat penting? Berkeras bahwa menurut Ki Joko Bodo hari rabu bukanlah hari yang tepat untuk rapat. Tidak sesuai dengan shio anda.
Lagi sakit? Datang sambil mengajak ambulans untuk berjaga- jaga.

Benar- benar tidak bisa datang? Mintalah kakek nenek atau om tante untuk datang menggantikan.

Karena bagi para balita kecil ini bukan emak yang cantik rupawan atau bapak bermobil BMW yang paling membanggakan (itu sih nanti kalau mereka sudah beranjak remaja dan berubah alay) melainkan sekedar bahwa si emak dan bapak datang ke acara super pentingnya.

Saya sudah sering melihat tatapan penuh cinta dari Sera, tetapi Jumat kemarin, untuk pertama kalinya saya menyaksikan tatapan penuh kebanggaan. Hey world, look at my mummy!!! 

I am Sera's treasure xd.

And it won't last forever. Embrace it while you can. Sebentar lagi, dia justru akan mendengus kesal kalau emaknya tahu- tahu nongol di sekolahnya, hahahaha....





Monday 21 April 2014

My Monday Note -- Serafim, Our First and Best Kiddo

Serafim namanya. Empat setengah tahun usianya sekarang. Sebelum memiliki Serafim, seperti kebanyakan orang, saya berangan- angan. Betapa akan 'sempurnanya' hidup bila saya mempunyai sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Wah, bakalan bisa menjadi bintang poster keluarga berencananya BKKBN nih :P.

Dan setelah mempunyai Serafim, setelah melihatnya tumbuh dan berbahagia selama empat setengah tahun ini, kok ya saya jadi tidak peduli kalau anak kedua saya nantinya akan berjenis kelamin perempuan atau laki- laki (dan malah dalam hati secretly wish for a second baby girl saja lagi). Dan saya tidak peduli apakah memang nantinya kami akan diberi anak lagi atau Serafim akan selamanya menjadi our first, best and only. I just don't care. Saya dan Okhi, we are terribly happy and satisfied dengan si gadis kecil bergigi kelinci dengan telapak kaki datar ini. 

Di usianya yang empat setengah tahun ini, Serafim adalah anak yang menjadi impian semua orang. Dia sehat, ceria, energik, bawel, tremendously cute dan menjadi favorit para gurunya. 

Setiap pagi, saat mengantar Serafim ke kindernya, maka seorang pemuda kecil bernama David akan dengan gegap gempita menyambutnya, meneriakkan nama Serafim dengan penuh cinta dan memeluknya dengan penuh sayang sebelum menggandeng tangan Serafim dan mengajaknya bermain. Di hari dimana David sedang tidak masuk ke kinder karena pergi berlibur, giliran Mikaela, seorang gadis cilik temannya yang lain, akan dengan berseri- seri menyambut Serafim. Mereka berdua akan berdiri berhadapan, sepasang tangan kecil mungil bergandengan dan saling menyebut nama temannya. persis seperti adegan saat Esmeralda bertemu Fernando Jose. Dan kemudian si Ryder yang badung akan menabrakkan mobil- mobilan yang dikendarainya kearah kedua gadis kecil ini. Membuat Mikaela memekik sebal. 

Saat menjemput Serafim di sore hari, maka semua guru akan memeluk Serafim sambil berkata "She is the best girl! She is very sweet." Dan berkomentar betapa Serafim selalu patuh dan mendengarkan semua perkataan gurunya. "Not like other kids," bisik si guru.

Dan sementara emak saya dulu selalu ketakutan akan kapasitas otak saya yang tampaknya rada kerdil (setiap malam saya selalu menangis karena tidak bisa mengerjakan soal matematika, emak saya menatap galak sambil mengomel dan adik saya menggeleng-gelengkan kepala sambil berpikir "Goblok banget sih kakakku ini."). Dan sekarang, saya mendapatkan anak yang semua gurunya berkata bahwa Serafim adalah the brightest kid at class, mempunyai kemampuan matematika dan bahasa yang berada diatas teman- teman sekelasnya. Dan di usianya yang baru empat tahun, Serafim sudah menulis tiga buku setiap minggu. Setiap hari ia meminta lima lembar kertas, ditekuknya menjadi dua, diberinya nomor halaman dan digambarinya seturut kisah yang ingin diceritakannya. "Alright, now I'll read you my book."

Dan kemudian dia akan bercerita mengenai buku yang baru ditulisnya, eh dilukisnya. Di laporan perkembangan dari guru TKnya, gurunya menulis bahwa ia tidak akan heran bahwa di masa depan Serafim akan menjadi penulis buku.

Serafim is also cute as a button. Kecil mungil, berambut hitam lurus selembut sutera, bermata seperti buah badam, berpipi ranum dan berwajah ekspresif dengan celotehan yang paling kiyut. Dan tentu saja, Serafim adalah gadis paling modis sedunia. Tidak pernah ia lepas dari aneka rok berwarna- warni (celana adalah baju kelas rendahan, Serafim ogah memakainya). Dimanapun Serafim berada, pasti ada saja orang yang berkomentar betapa lucunya dia, betapa manis wajahnya, betapa miripnya dia dengan boneka. Senyuman Serafim, akan mencerahkan langit yang mendung.





Kalau Okhi membaca semua deskripsi saya diatas mengenai Serafim, dia bakal berkomentar "Dasar emak narsis, ya jelas aja memuja- muja anak sendiri." 

Well, hello, kalau kamu mempunyai anak, membesarkan anak itu dan menghabiskan hidup disampingnya setiap hari dan kamu tidak bisa menemukan kelebihan dan sisi positif anakmu, ya berarti dirimu adalah seorang pesimistis kelas berat. Orang yang tidak bisa menemukan kelebihan dari anaknya, kemungkinan hidupnya sangatlah menderita, batin tersiksa dan calon penghuni kerak neraka *sabdaMega. 

However, dengan segala keistimewaan milik Serafim, toh saya tetap sering memandangnya dengan menggeleng- gelengkan kepala. Karena tentu saja, sebagai keturunan saya, saya bisa melihat sifat saya (yang tidak sepenuhnya terpuji) ada di dalam diri Serafim. Dan si Okhi juga bisa melihat sifatnya dia dalam diri Serafim. Atau terkadang saya menggeleng- gelengkan kepala sambil berkomentar sedih "Kenapa sifatnya tantemu kamu tiru sih Ser?"

Dimanapun Serafim berkumpul bersama anak- anak kecil lainnya, selalu yang terdengar adalah anak lain akan memanggil- manggil Serafim untuk menarik perhatiannya atau menarik tangannya untuk mengajaknya bermain. Senang? Iya dong. Saya senang karena sejauh ini Serafim bisa berteman. Bisa mempunyai teman dan menjalin persahabatan. Dan memang banyak anak yang senang berteman dengan Serafim karena dia manis, penurut dan tipe suporter setia. Tetapi kening berkerut juga karena tidak pernah sekalipun saya melihat Serafim memanggil nama temannya atau berteriak menarik perhatian temannya atau seperti yang dilakukan Ryder, berusaha merebut Serafim dari gandengan David. Tidak. Serafim tidak pernah berinisiatif memulai persahabatan. Pertemanan harus ditawarkan pihak lainnya. Bila tidak ada yang menawarkan persahabatan, Serafim hanya akan bersedih di pojokan, tetap tidak akan menjadi pihak yang pertama kali mengulurkan tangan. Dan itu adalah sifat saya. Sifat yang membawa banyak kesusahan juga dalam hidup karena tidak selalu kita bertemu dengan orang yang berinisiatif mengulurkan tangan terlebih dahulu. Terkadang kitalah yang harus mengulurkan tangan. Dan Serafim masih harus mempelajari hal itu, melawan sifat dasarnya yang seperti emaknya, enggan menghadapi resiko penolakan.

Sewaktu Serafim berusia tiga tahun, ia sudah berhasil menyelesaikan puzzle yang cukup rumit dan membuat gurunya terkagum- kagum. Saat ditanya apakah bangun ruang kesukaannya, lingkaran atau segitiga, dengan tegas Serafim berkata "Hexagon. Circle and triangle are boring." Berhitung, menulis, menyanyi, menggambar dan membuat aneka art projects adalah semudah membalik telapak tangan bagi Serafim. Tetapi, untuk sesuatu yang tidak dengan mudah dikuasainya, Serafim akan sangat mudah merasa frustasi. Lalu mogok dan marah- marah. Keburu buteng, kata orang Jawa. Lagi- lagi itu sifat saya. Alhasil, selain memasukkannya kedalam kelas musik (dimana ia berselancar dengan riang mengikuti beat irama tanpa kesulitan), saya memutuskan memasukkannya ke kelas renang juga. Sepenuhnya adalah gadis tanpa talenta atletik dan olahraga, Serafim adalah the clumsiest kid in the pool. Melihatnya berenang, sama seperti melihat kudanil mencoba menari balet. Semoga dengan mengikuti kelas itu, ia menjadi gadis yang bugar dan yang terpenting melatihnya bahwa ada hal dalam hidup yang harus dipelajari dengan susah payah, diperjuangkan untuk dikuasai. Dan lagu wajib di rumah kami adalah lagu yang saya dengar dari acara anak- anak favorit Serafim "You try it, you can. Keep trying, keep trying don't give up, never give up."

Saya ingat beberapa tahun lalu saat baru saja bekerja di Jakarta, seorang teman cowok menjemput saya di kos untuk makan bakso di warung depan kompleks. Melihat saya keluar, teman saya itu mengerutkan kening dan berkomentar "Aneh banget sih bajumu. Nggak nyambung gitu warnanya." Saya menunduk menatap baju saya. Dan tidak menemukan apa anehnya baju saya. Tanktop garis- garis dipadu celana selutut bermotif doreng tentara. "Hanya mau ke tukang bakso aja kebanyakan rebyek!" dengus saya kesal.

Dan kemudian saya terpaksa menggeleng- gelengkan kepala saat Serafim yang baru berusia empat tahun sudah bisa merasa tidak percaya diri dan hancur lebur harinya hanya gara- gara masalah kostum. Sekedar ke kinder yang hanya diisi dengan bermain di bak pasir saja, wajib hukumnya memakai aneka rok berwarna- warni dengan kaus dan jumper yang serasi. Setiap pagi selalu terdengar dengusan emaknya yang sebal menunggu Serafim memilih kostum yang diinginkannya. "No, today is pink day," ujar Serafim sambil memilih kostum pink aneka gradasi dari atas sampai ujung kaki. Persis seperti ulat sawo.

Dan Serafim pun sudah mulai membanding- bandingkan kondisi fisiknya dengan teman- temannya. Tinggal di Australia, teman sekelasnya kebanyakan adalah orang bule dan Cina. "I want to have white skin, not brown skin," adalah keluhan yang selalu terlontar dari bibir mungilnya beberapa bulan yang lalu. "I also want to be tall," adalah obsesinya, karena ia adalah gadis termungil di kelasnya. Note: masalah kulit putih ini juga gara- gara tokoh putri dan peri favorit Serafim semua berkulit putih. Damn you Disney xd.

Hati siapa yang tidak pilu mendengar anak gadis kecilnya merasa tidak puas dengan kondisi fisiknya? Maka kemudian emaknya menceritakan keluhan Serafim kepada guru- guru kindernya, yang serentak menyanyikan "I love you just the way you are," dan mengatakan betapa mereka menyukai kulit cokelat dan rambut hitam milik Serafim. Dan kemudian dengan gemas seorang guru memeluk Serafim dan berkata ke arah saya "Silly girl. Doesn't she realize that she is the prettiest girl in the class?"

Of course not. Emaknya Serafim tidak ingin anaknya merasa sebagai yang tercantik. Tapi saya membatin kenapa Serafim tidak mewarisi sifat baik saya terkait urusan fisik? Saya tidak pernah merasa sebagai orang cantik (dan memang tidak cakep :P) tetapi saya couldn't care less soal fisik ini. Tidak pernah masalah fisik dan sekedar baju atau sepatu mempengaruhi kebahagiaan saya. Okhi pun tidak pernah ambil pusing. Dalam hal ini, saya menyalahkan adik saya yang menyeberangkan gen genitnya kepada anak saya.

Sampai akhirnya saya belajar berdamai bahwa memang soal baju adalah penting bagi Serafim. Jadi dengan tabah saya mulai menerima bahwa warna dan bentuk rok itu adalah faktor penting bagi kebahagiaan hati seorang balita. Sembari tentu saja every now and then saya berusaha mengendalikan sifatnya ini. Suatu kali, sesudah sampai di tempat tujuan wisata, Serafim mogok bersenang- senang karena baju yang dipakainya ternyata tidak sesuai dengan seleranya. Kami sudah sampai  di pantai yang selalu menjadi tempat favorit Serafim dan eh ternyata moodnya tetap bisa drop hanya gara- gara masalah kostum (dia merasa membutuhkan rok, bukan sekedar kaos terusan yang dianggapnya bukan rok). Dengan menyimpan rasa gondok, saya tangkap Serafim yang berlari berputar sambil menangis ngambek dan berkata tegas "We don't bring any skirt today (menunjukkan isi tas). Now you have two choices; keep sulking and still you won't get a skirt, or go playing with the sand and water and enjoying your day here!"

Baju kurang keren yang membuat si gadis cilik merajuk 

Awalnya berat bagi saya untuk menerima bahwa memang kebahagiaan anak saya itu salah satunya ditentukan oleh hal secemen masalah baju, tetapi ya mau bagaimana lagi. Sudah bawaan orok xd. Sekarang tinggal berusaha agar Serafim selalu merasa puas dengan outfit pilihannya sendiri. Kalau dia suka berdandan, ya be it. Tetapi tentu saya tidak ingin anak gadis saya menjadi seorang perempuan yang tergantung pada penilaian orang lain soal penampilan. Jadilah saya sekarang selalu menyuruh Serafim menentukan baju dan sepatu yang ingin dikenakannya sendiri. Resikonya? Berjalan disamping Serafim selalu membuat saya serasa seekor gagak yang berjalan disamping seekor nyonya merak sosialita yang hendak pergi arisan.



Di hari dimana Serafim sedang 'kumat' kreatifnya, maka ia akan pergi ke kinder dengan aneka aksesori 'keren' kreasinya sendiri atau hiasan rambut bertumpuk- tumpuk seperti ondel- ondel hendak berpawai. Saat melihat tokoh peri favoritnya memakai tiara, maka Serafim memutuskan menggunting enam gambar aneka tokoh yang dilukisnya dan menempelkannya ke bandonya. "This is my crown," ucapnya bangga. Emak bapaknya berebut menolak mengantarnya ke kinder pada hari itu. Malu hati melihat bentuk si anak. Di hari lain, ia membelitkan batang- batang pembersih pipa di rambutnya, membuatnya menjadi pita rambut bersulur- sulur.

Bangga setengah mati dengan hasil kreasinya sendiri 


Mengantarkan Serafim memasuki kelasnya, emaknya menguatkan hati dan menggertakkan gigi. Hari itu Serafim memakai gelang buatannya sendiri yang terbuat dari bulu burung yang ditemukannya, gambar Iggle pigle yang diguntingnya dan direkatkannya ke pembersih pipa. Gurunya dengan penuh ceria menyapa dan memuji gelang Serafim. "Oh wow, I love it! Can you make one for me?"

Siap berangkat sekolah, dengan outfit yang heboh dipilihnya sendiri

Dan kemudian gurunya bercerita bahwa tempo hari, gara- gara mahkota yang dipakai Serafim, maka semua anak ingin juga memilikinya. Jadilah kelas mereka dihari itu membuat mahkota kertas yang ditempeli gambar aneka tokoh kartun yang digambar oleh masing- masing anak. Alright Ser, kalau berdandan memang hobimu, let's try to make the most of it. Jadi seniman slash pengusaha aksesori saja di masa depan :D.

Memperhatikan Serafim, seperti semua orang tua lain saat memperhatikan anak mereka, adalah gabungan dari kebahagiaan melihatnya menjadi anak yang begitu cantik dan cerdas, kebanggaan saat bahkan petugas tur di sebuah mercusuar tak henti memuji Serafim yang tampak begitu kiyut dengan jaket merah bak Red Riding Hood nya, kecemasan melihat betapa banyak sifat 'jelek' yang akan menyulitkan hidupnya kelak, kekuatiran akan masa depannya apakah ia akan bisa sukses dan bahagia dan tentu saja harapan yang membumbung bahwa kelak ia akan bisa menjadi the fullest and greatest she can be.

Tetapi setiap saya mengutarakan kekuatiran akan sifat jelek Serafim, Okhi selalu dengan santai berucap "Lha kamu kan juga punya sifat jelek itu dan ternyata kamu ya baik- baik saja tho?"

Oh well, benar juga ya. Ah, you'll be alright little girl! No need to worry xd.






    

  

      


Monday 17 February 2014

My Monday Note -- To Work Or Not To Work, Dilema Ibu Bekerja

Setelah sebelumnya merasakan tinggal di rumah selama hampir dua tahun, sepenuhnya sibuk mengurusi akun Facebook dan balita saya,  akhirnya tahun lalu saya berkesempatan bekerja lagi. Sebagai reminder bagi para pembaca yang mungkin sedikit berdebu ingatannya karena terkena hujan vulkanik, begini sedikit kilas balik sejarah perjuangan seorang wanita tuna susila, eh seorang wanita cantik jelita yaitu saya.

Bulan Januari 2013, saya mengikuti sebuah kursus untuk mendapatkan sertifikat hospital dispensary pharmacy technician (sengaja gelarnya ditulis dalam bahasa inggris agar tampak lebih wah). Bulan Juni 2013, sebagai bagian dari kursus yang saya ikuti, saya melakukan praktek kerja di sebuah rumah sakit selama lima hari. Dan lucky lucky, rumah sakit tempat saya berpraktek kerja langsung menawari saya untuk bergabung. "Posisi sementara karena ada yang cuti melahirkan," kata bos besar sambil menyiratkan bahwa ia tidak menjanjikan bahwa saya akan terus dipekerjakan setelah si pemilik posisi kembali (cuti melahirkan di Australia berkisar 6 bulan hingga 1 tahun).

Fine by me. Karena toh yang paling susah adalah mencari pekerjaan pertama kali saat kita belum berpengalaman. Yah siapa juga sih yang mau mendapat pekerja belum berpengalaman? Jadi bagi saya ya nothing to loose. Kalau sehabis enam bulan kontrak saya tidak diperpanjang, ya saya tinggal mencari pekerjaan lain, toh saya sudah mempunyai pengalaman. Atau kalau saya cukup beruntung, biasanya si ibu yang baru melahirkan hanya akan memilih bekerja dua hingga tiga hari dalam seminggu. Semoga jadinya saya disuruh mengisi hari- hari dimana ia tidak bekerja.

Detik berganti detik, bulan berganti bulan, jadilah saya kembali bekerja secara full time. Lima hari dalam seminggu. Dalam masa transisi itu, saya mengekspor emak dan tante saya secara bergantian untuk tinggal disini selama tiga bulan. Alasan utamanya, agar ada yang membantu saya menjaga Serafim. Selama ini, Sera sudah terbiasa berada di childcare tiga hari dalam seminggu, dan dia baik- baik saja walau selalu tampak lelah sepulangnya dari childcare. For sure acara di childcare lebih padat merayap daripada acara bersantai di rumah bersama emaknya seharian. Saya rada- rada meragukan daya tahan tubuh si Sera kalau ia harus berada di childcare lima hari penuh.

Bulan Desember kemarin, genap enam bulan saya bekerja. Pekerjaannya cukup oke, lokasi rumah sakit sakit juga cuma sekitar tiga jam perjalanan dari rumah kalau dengan mengendarai sepeda roda tiganya si Sera (atau ya sekitar 15 menit kalau dengan mobil). Teman- teman saya di kantor jelas tidak akan memenangkan kontes Miss Persahabatan, tetapi ya tidak parah- parah amat lah. Manusia normal pada umumnya, yang merupakan perpaduan setan dan jin iprit. Pekerjaannya tidak susah- susah amat walaupun bukannya the most amazing job in the world. Intinya ya pekerjaan pada umumnya lah. Everybody is so happy on Friday afternoon and quite sleepy on Monday morning.

Setelah beberapa bulan bekerja, sesudah melewati masa- masa memprihatinkan yang biasa dialami di tempat kerja yang baru (berusaha menyesuaikan diri dengan teman baru dan ritme kerja), saya akhirnya bisa mulai menelaah dan mengkaji mengenai pekerjaan full time ini. Sejak awal, saya sebetulnya ingin bekerja part time saja. Tiga hari dalam seminggu would be fabulous. Dalam pikiran saya, dengan bekerja tiga hari maka saya masih akan mempunyai waktu menemani Sera, mengurus rumah, menulis dan sekaligus mendapatkan gaji. Dan setelah beberapa bulan menjalani kerja full time ini, saya menyadari bahwa saya memang tidak menikmati bekerja full time.

Meskipun super cute bin imut, ternyata saya bukanlah tipe wanita perkasa. Sepulangnya dari bekerja, saya selalu merasa terlalu lelah. Saya tidak mempunyai sisa tenaga (dan kesabaran) untuk meluangkan waktu meladeni Serafim. Padahal setelah seharian berada di childcare, Serafim tentu saja merasa perlu untuk menggrusuhi emak tuanya yang sudah kempot ini di sore hari. Ia minta ditemani melakukan berbagai kegiatan maha penting seperti membuat kartu pos untuk dikirim ke David (pacarnya di childcare) atau barbekyuan di halaman belakang dengan menggunakan rumput dan daun kering. Duh, ruwet sekali memang aktivitas anak empat tahun itu.

Selama ada emak saya di rumah, urusan rumah tangga sedikit tertolong. Saya sama sekali tidak perlu repot memasak atau menyeterika baju misalnya. Tetapi saya tentu berpikir, kalau nanti bala bantuan darurat ini sudah balik badan kembali ke Indonesia, berarti sepulang bekerja saya masih harus sibuk mengurus ini itu ono dong. Bakalan remek nih badan :(.

Bekerja full time ternyata tampak terlalu berat buat saya. Tetapi saya bertahan karena mempunyai harapan nantinya saat orang yang saya gantikan sementara sudah kembali dari cuti hamilnya, maka bos akan menawarkan posisi part time pada saya. Eh ternyatanya, setelah beberapa lama bekerja, semua teman kerja saya memberitakan kabar baik dan kabar buruk bagi saya.

Kabar baiknya: bos besar tidak pernah memutus kontrak. Jadi saya bakalan 100% akan diteruskan kontraknya dan menjadi pegawai tetap. Tidak pernah dalam sejarah bos besar memutus kontrak para pegawai sementara seperti saya ini. Wokeh, kabar baik dong! Berarti saya tidak perlu repot- repot melamar pekerjaan lagi. Terus terang saya malas membuat resume dan kemudian diinterview lagi. Tulang pinggul saya sudah berkeriut semua dan kulit paha pun sudah bergelambir. I'm just too old!!!

Tetapi, berbarengan dengan kabar gembira tersebut, tersiar juga kabar yang rada- rada kurang mengenakkan. Bahwa bos besar adalah tipe bos jadul bin konvensional. Dia tidak suka pekerja part-time! Satu- satunya alasan ia mengijinkan mereka yang baru saja melahirkan untuk kemudian bekerja part time adalah alasan peraturan legal, bisa- bisa pegawainya berdemo di HRD jika ia menolak keinginan pegawainya bekerja part-time.

Mampus gue! Lha pegimana nasib ane? Bekerja baru saja enam bulan, sekedar jadi pegawai tetap saja belum, dan jelas bukan seorang emak yang baru saja melahirkan. Lah dalah, gimana ceritanya si bos besar bakal mengabulkan permintaan saya untuk bekerja part-time? Apalagi kemudian para teman saya bercerita bahwa si ono pernah meminta untuk menjadi part-time dan ditolak. Pening. Dengkul saya berkeriut pening.

Mulailah saya merasakan yang namanya dilema. Berbagai skenario berkelebat di kepala saya. Intinya: kalau bos besar menolak permohonan saya untuk bekerja part time (yang tampaknya kemungkinan terbesar), what should I do? Resign atau melanjutkan bekerja?

Selama sebulan saya gelisah. Makan nggak enak tidurpun tak nyenyak. Galau. Silau. Sakau. Gimana ini? The clock was ticking as well. Sebentar lagi tante akan pulang. Keputusan sudah harus diambil sebelum itu. Pikiran saya berubah- ubah. Terkadang di suatu hari saya akan terbangun dengan semangat membaja dan dengan gagah berkata ke Okhi bahwa ya sudah saya keluar saja kalau bos tidak memberi saya kerja part time. Di lain hari, saya akan kelabakan bingung berusaha mencari cara bagaimana caranya agar si Sera bisa kembali mengikuti kelas- kelasnya bila saya memutuskan untuk tetap bekerja. Apakah saya bisa mencari orang untuk mengantar si Sera ke kelas? Pokoknya ayam yang mau bertelor saja kalah gaduhnya dibandingkan pikiran saya yang ruwet.

Saat saya sedang belingsatan seperti orang yang mengalami konstipasi itu, saya membuka fesbuk saya dan membaca seorang teman  bertanya di status fesbuknya "Lagi- lagi pulang malam. Diajak rapat lagi. Apa harus tetap bekerja atau resign saja ya? Kasihan anak- anak..."

Saya membaca status tersebut saat sedang menikmati kopi gratisan di basement rumah sakit tempat saya bekerja, sedang morning tea bahasa kerennya. Membaca status tersebut, saya dengan bersemangat mengetik balasan lewat pesan pribadi (kebetulan dia salah satu teman rada dekat saya). Saya menulis bahwa saya juga sedang mengalami galau perkara pekerjaan ini, apakah harus berhenti kerja saja atau gimana yah.

Mengklik tombol send, dan setelah beberapa saat hape saya tampak berusaha keras mengirimkan pesan tersebut, dan GAGAL. Dedemit!!! Sudah mengetik panjang lebar dan gagal kirim itu hampir sama penderitaannya dengan mendengarkan berita infotainment mengenai Farhat Abas mengeluhkan insiden pemencetan dirinya oleh truk gandeng (semoga truk gandengnya sudah divaksin tetanus...). Keluh, dasar rumah sakit kurang menyan, wifi kok putus sambung kayak abege pacaran aja!

Karena jam minum teh sudah berakhir, sebagai seorang pegawai teladan, saya menyimpan hape di kantong dan kembali bekerja. Pulang dari kantor, setelah selesai menidurkan ndoro Sera yang seperti biasa memerintahkan ini dan itu pada mbok embannya, saya merebahkan badan dengan senang. Akhirnya bisa bersantai! Meraih hape dan membuka fesbuk, saya melihat bahwa statusnya teman saya sudah meraih puluhan follower, eh komentator. Tampaknya, status tentang ASI, ibu bekerja dan vaksinasi memang selalu menarik perhatian khalayak umum. Berhubung saya juga sedang mengalami dilema serupa, saya akhirnya tertarik membaca komentar demi komentar.

Secara garis besar, ada tiga jenis jawaban terbanyak yang diterima teman saya.

1. " Aku sih akhirnya memutuskan berhenti bekerja Mbak! Kasihan anak- anak kalau ditinggal ibunya. Bagaimanapun kan ibu adalah pendidik yang terbaik. Masak kita tega sih kalau anak kita jadi anak pembantu? Rejeki tidak akan lari kok."

2. "Meskipun bekerja, kita juga tetap bisa jadi ibu yang baik kok bagi anak- anak kita. Aku juga sibuk, sering dinas luar, tapi anak- anak nggak terlantar. Aku tetap sempat masak untuk mereka, bikin cookie dan roti sendiri malahan! Dan tetap membantu mereka bikin pr segala."      

3. "Kodrat seorang ibu itu ya mendidik anak di rumah. Stay at home dengan anak- anak, mencurahkan waktu untuk mendidik generasi berprestasi." (Note: dan beberapa menambahkan juga melayani suami, menjadi tulang punggung kesuksesan suami)

Menutup fesbuk dan melempar hape saya ke samping kasur (pelan- pelan tapi melemparnya, takut rusak), saya berpikir bahwa kalau saja saya yang bertanya di fesbuk dan kemudian membaca pendapat para komentator, kok ya naga- naganya saya bakal tetap bingung ya? Saya bakalan tetap berkotek- kotek seperti ayam kebelet bertelur karena tidak bisa memutuskan. Buah simalakama.

Dan saat seseorang kemudian bertanya ke jamaah fesbuker apabila mereka mempunyai saran yang akan membantu saya dalam mengambil keputusan dalam kebimbangan yang melanda, most likely mereka hanya akan mendapatkan jawaban- jawaban seperti yang diterima teman saya. Pertanyaan dari seseorang yang sedang galau akan masalah pekerjaan ini, somehow tampaknya menjadi ajang dari pihak- pihak lain yang sudah lebih dulu membuat keputusan dalam masalah serupa untuk membenarkan keputusan yang ia ambil. Sekaligus mencoba meyakinkan  (entah diri sendiri atau orang lain) bahwa keputusan yang telah mereka ambil adalah keputusan yang terbaik yang patut ditiru. Dari sekitar dua puluh orang yang ikut berkomentar, hanya satu orang, SATU biji manusia doang yang bertanya balik ke si pembuat status "Memang kamu sebetulnya pingin lanjut kerja atau tinggal di rumah? Jam kerjamu gimana? Anak- anak sekarang sama siapa?"

Yang paling bikin nyesek adalah membaca komentar "Sekarang terserah kamu. Apa yang menjadi prioritasmu? Anak atau pekerjaan?" *golok mana golok!!!!!

Anyway, suatu kali saya chatting dengan seorang teman. Ia adalah seorang ibu dengan dua anak balita dan sekarang memtuskan berhenti bekerja sepenuhnya. Saya tidak meminta nasehat darinya ataupun bertanya enaknya keputusan apa yang harus kuambil yah? Saya hanya bercerita. Berbagi rasa. Dan teman saya itu memberikan jawaban terbaik yang sedikit banyak membantu saya dalam mengambil keputusan. Teman saya berbaik hati menceritakan perjalanan kisahnya, memberi saya kesempatan menengok ke kehidupannya, melihat situasi yang dihadapinya dan pertimbangan yang diambilnya sampai pada akhirnya ia mencapai keputusannya. Bukan keputusannya yang saya contek, tetapi perjalanan menuju ke keputusan itulah yang ternyata berharga untuk disimak.

Jadilah di suatu pagi, sesudah selama seminggu sebelumnya panas dingin menguatkan hati, saya mengetuk pintu bos besar. Bayangkan posisi saya, pada saat itu saya belum pegawai tetap dan bos bahkan belum menawarkan pada saya untuk tetap bekerja disitu. Lha kok saya sudah 'kepedean' minta bekerja part time? Dalam hati saya, tekad sudah bulat, kalau permohonan saya untuk bekerja part time ditolak, saya akan mengundurkan diri.

Meskipun di atas kertas kesannya mudah, tentu saja semua orang tua yang pernah merasakan dilema ini tahu betapa sulitnya keputusan itu dibuat. Lemme share my story.

Concern terbesar saya tentu saja Serafim. Saat saya bekerja lima hari, saya melihat bahwa gradually my little girl became less and less happy. Setiap hari saat saya mengantarnya ke childcare, ia tidak bersemangat. Pagi- pagi ia sudah diantar ke childcare dan baru petang hari dijemput kembali. Ia tidak lagi pergi ke kelas musik dan kelas renang kesukaannya dan keinginannya untuk bergabung dengan kelas balet tentu saja harus tertunda. Di sore hari, saya sudah terlalu lelah untuk sepenuhnya meladeni segala kegiatannya. Dan semua ibu tentu tahu betapa melelahkannya menuruti semua keinginan seorang balita. Sekedar permintaan "I wanna draw" bisa berarti perjalanan berkali- kali ke dapur. Ambil koran. Ambil air. Ambil tissue. Siapkan cat air dan kuas. Membersihkan tumpahan cat atau air yang tersenggol. Ambil kertas lagi. Bertepuk tangan memuji mahakarya masterpiece. Diminta ikut menggambar. Dimintai tolong membungkus gambar untuk dikirim ke David. Minta stapler. Minta agar si gambar ditempel.

Dan disuatu hari, saat mengantarkan Serafim ke childcarenya, Serafim cilik memeluk saya dan dengan lembut berbisik "Mummy, can you plese stay at home with me? I miss you mummy." Dan disuatu sore saya mendengarnya berkata ke boneka beruangnya "Don't cry Teddy. Mummy has to work. No need to be sad."

Sampai disini, seharusnya kisah berlanjut dengan saya sebagai ibunya tersedu- sedu merasa bersalah, memeluk Sera dan berkata "Maafkan Mama Sera, Mama telah menelantarkanmu!Mulai sekarang, Mama akan mengikutimu kemana aja!!!" Kemudian berderap serta merta mendatangi kantor bos, membanting kartu pegawai saya di hadapan pak bos dan dengan heroik berteriak histeris mengumumkan bahwa "detik ini juga saya berhenti karena saya mencintai anak saya lebih dari segala sesuatu!" Sinetron banget deh!

Tetapi seorang ibu yang pernah merasakan dilema ini pasti tahu bahwa nope, tidaklah seperti itu ceritanya. Bahkan saat saya kemudian menyetir ke kantor sambil mengusap mata setelah melepaskan pelukan Sera yang tampak sedih dan lesu, saya masih bergelut dengan berbagai pertimbangan. Saya lagi dan lagi bertanya ke si Okhi apakah uang kami akan mencukupi kalau hanya dialah yang bekerja. Okhi menghitung dan berkata ya, uang kami masih sangat cukup untuk hidup tetapi tidak berkelimpahan. Tidak bisa lagi tiap tahun pulang ke Indonesia atau berlibur, pengeluaranpun harus dipikir benar- benar agar masih ada sisa untuk ditabung.

Apa yang membuat saya juga cukup merasa berat melepas pekerjaan ini? Karena tidaklah mudah mencari pekerjaan semacam ini. Dari semua teman sekelas saya, hanya dua orang yang mendapatkan pekerjaan. Lainnya masih menganggur dan bahkan tahun ini kursus tersebut ditiadakan karena pasar yang sudah jenuh. Dan kalaupun saya berusaha mencari pekerjaan lagi di rumah sakit lain, sangatlah jarang ada posisi part time. Pekerjaan di rumah sakit lainpun hampir selalu adalah full time. Dan sebetulnya, kalau saja saya bisa bertahan sebentar saja, dan kemudian saya hamil lagi misalnya, kan sehabis itu saya jadinya bisa libur kerja setahun dan kembali bekerja hanya dua hari dalam seminggu. Plus tahun depan toh Sera sudah bersekolah, lima hari dalam seminggu. Jadi if only I hold on for a little bit longer.... Life would be easier and perfect after that!

Dan ya, some moms are happier when they are working. I think God creates mom differently. Some are content when they can be with their kids 24/7, some are content when they have life outside playground and pram. And I guess I always need to have my own identity, not only as Sera's mum. Bekerja memberi saya tujuan hidup. Mungkin dilema yang saya rasakan adalah setara dengan seorang ibu yang sebetulnya ingin tinggal di rumah sepenuhnya bersama anaknya tetapi secara ekonomi tidak memungkinkan misalnya dan ia harus bekerja.

Jadi, kalau saya memutuskan untuk berhenti bekerja sekarang, most likely saya akan end up dengan tidak bekerja sampai nanti anak kedua saya (kalau saya memutuskan punya anak lagi) sudah duduk di bangku sekolah. Ohmaigod, I will be forty at that time! Dan memulai bekerja lagi sesudah tidak bekerja selama bertahun- tahun tentu bukan hal yang mudah. Iya kalau masih ada yang menerima saya. Inilah sulitnya saat engkau baru mulai bekerja saat sudah mempunyai anak. Bukan hanya diri sendiri yang dipikirkan, tetapi ada makhluk lain yang lebih bikin pusing kepala.

If only I could just hold on for a year! Bayangkan! Betapa enaknya!

Keputusan untuk berhenti bekerja ataupun meneruskan bekerja, at least bagi saya, tampaknya tidak ada kaitannya dengan segala heroisme. Tidak ada tempat bagi segala kisah kepahlawanan dalam hal ini. Keputusan itu adalah keputusan sederhana yang diambil setelah dengan kepala penat memikirkan berbagai jalinan situasi yang ruwet. 

Setelah menimbang- nimbang, walaupun tidak sepenuhnya meyakini keputusan saya, saya memutuskan untuk ya sudahlah mari berhenti saja kalau tidak diterima bekerja part time. Pertimbangan utama keputusan itu tentu saja karena gajinya okhi cukup untuk hidup dan Sera terlalu 'not happy' untuk bisa bertahan 'setahun lagi saja ya nak'. Bukan, dia bukannya menangis menggeru- geru, tetapi dia jelas merindukan emaknya, perjalanan ke perpustakaan dan buku- buku yang dibacakan emaknya sebelum tidur. Ia rindu kelas- kelasnya dan tahun ini adalah tahun terakhir sebelum Sera masuk ke sekolah. I just don't want to loose this last chance to be with her before she's a big school student. She was just miserable....

Tetapi sebetulnya, selain dua pertimbangan utama itu, masih banyak rentetan kondisi- kondisi kecil yang kalau saja berbeda sedikit saja,maka mungkin akan membuat keputusan saya berbeda.

1. Mencari pekerjaan di australia,bagaimanapun sulitnya, tetaplah tidak sesusah mencari pekerjaan di Indonesia. At least saya bisa jadi tukang bersih- bersihlah.
4. Saya tidak menemukan alternatif lainnya dalam mengurus Sera. Mungkin ceritanya berbeda kalau saya punya sanak keluarga disini yang bisa membantu mengantar sera ke perpustakaan misalnya.
3. Saya sudah menemukan alternatif untuk tetap memiliki identitas saya sendiri. Kalau saya berhenti bekerja, saya berjanji akan benar- benar serius dalam menulis dan menemukan dunia saya disitu
4. Pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang sebegitunya membahagiakan dan memuaskan. Kalau saja saya sangat bahagia disitu, mungkin saja keputusan saya berbeda.
5. dan serangkaian hal- hal kecil lainnya yang ternyata cukup signifikan dalam membuat kepala saya berputar pening sebelum memutuskan.

Dan setelah mengambil keputusanpun, saya tidak merasa "Look at me, saya rela melepaskan karir saya demi anak! Hoho, how noble I am." Atau sebaliknya merasa menjadi duta para super mom, successfully jugling between family life and career life. Keputusan ini bukan keputusan yang diambil dengan penuh sorak sorai dan jauh dari semangat heroik kepahlawanan. Keputusan bekerja atau tidak adalah keputusan yang diambil dalam senyap, yang diambil secara sederhana dengan mempertimbangkan kondisi keluarga saya dan hanya melibatkan keluarga saya. Keputusan terbaik bagi keluarga saya, tetapi jelas tidak relevan bagi keluarga lain yang mungkin sedang mengalami dilema serupa.

Kalau saja teman saya si ibu dua balita sewaktu mendengar kisah saya kemudian dengan berbunga- bunga berbusa berkata "Kita kan ibu! Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya di tangan orang lain sementara dompetnya saja tidak bersedia dia serahkan pada tangan orang lain" maka paling-paling saya hanya akan bergumam "Ya ya, ambil dah sana semua surga yang tersedia. Emang hanya situ yang layak punya surga di bawah telapak kaki! Kalau ibu durjana macam saya ya bakalan hanya punya mata ikan berjamur di telapaknya."

Bukan retorika penuh kepahlawanan itu yang menggugah saya. Tetapi saat dia membagikan strategi yang dia lakukan. Sadar bahwa mencari pekerjaan lagi sesudah lama absen adalah suatu 'kemuskilan' maka dia berkata bahwa dia mulai menjajaki peluang pekerjaan lain yang bisa dilakukan. "I need to have something Meg. I need to be involved on something else." Persis seperti saya, yang meskipun cinta mati kepada anak saya, tetap membutuhkan hidup di luar popok kotor dan menyaring bubur tim (eh enggak ding, saya tidak pernah membuatkan makanan bayi untuk Sera. Seumur hidup Sera dia tidak pernah makan bubur XD).

Teman saya berkisah bahwa setelah sekarang balitanya berusia tiga tahun, ia mencoba membuat usaha online kecil, tas- tas rajutan hand made yang kemudian dijualnya secara online. "Aduh, sekarang sih belum ada apa-apanya Meg, hanya seperti penyalur hobi. Tetapi karena hal kecil ini, aku merasa tetap punya tujuan hidup dan future career. Aku punya impian, nanti kalau si dedek sudah masuk sekolah, aku bakal bla bla bla dengan usahaku ini."

Dan karena hal itu, salah satu keengganan terbesar saya untuk berhenti bekerja menjadi sedikit ringan. Iya sih, saya mungkin akan berakhir dengan tidak lagi bekerja formal di kantor, tetapi masih ada jalan lain untuk tetap mempunyai hidup saya sendiri. Pikiran bahwa saya akan melanjutkan menulis novel yang terhenti di halaan ke 90 atau menuliskan kisah akhir pekan di bukit Dandenong dan mengirimkannya ke majalah membuat ketakutan terbesar saya mereda. Ya, saya amsih bisa mempunyai 'sesuatu'saat berhenti bekerja pun.  

Keputusan yang saya ambil mungkin saja salah, di masa depan mungkin saja saya akan menyesalinya, tetapi untuk saat ini, itulah keputusan terbaik yang bisa saya ambil. Moto saya adalah Live your life without regret but with private jet.

Note: dan kemudian Pak Bos, setelah mendengar permohonan saya, mengatakan dia bersedia (pertama kalinya dalam sejarah kantor) mengijinkan saya bekerja part time, asalkan EMPAT HARI DALAM SEMINGGU. Nah lho, ini mah sama aja bikin saya terlanda dilema lagi. Someday I let you know the decision then XD. 

Hidup memang lebih ruwet karena kehadiran si makhluk satu meter kurang ini