Setelah sebelumnya merasakan tinggal di rumah selama hampir dua tahun, sepenuhnya sibuk mengurusi akun Facebook dan balita saya, akhirnya tahun lalu saya berkesempatan bekerja lagi. Sebagai reminder bagi para pembaca yang mungkin sedikit berdebu ingatannya karena terkena hujan vulkanik, begini sedikit kilas balik sejarah perjuangan seorang wanita tuna susila, eh seorang wanita cantik jelita yaitu saya.
Bulan Januari 2013, saya mengikuti sebuah kursus untuk mendapatkan sertifikat hospital dispensary pharmacy technician (sengaja gelarnya ditulis dalam bahasa inggris agar tampak lebih wah). Bulan Juni 2013, sebagai bagian dari kursus yang saya ikuti, saya melakukan praktek kerja di sebuah rumah sakit selama lima hari. Dan lucky lucky, rumah sakit tempat saya berpraktek kerja langsung menawari saya untuk bergabung. "Posisi sementara karena ada yang cuti melahirkan," kata bos besar sambil menyiratkan bahwa ia tidak menjanjikan bahwa saya akan terus dipekerjakan setelah si pemilik posisi kembali (cuti melahirkan di Australia berkisar 6 bulan hingga 1 tahun).
Fine by me. Karena toh yang paling susah adalah mencari pekerjaan pertama kali saat kita belum berpengalaman. Yah siapa juga sih yang mau mendapat pekerja belum berpengalaman? Jadi bagi saya ya nothing to loose. Kalau sehabis enam bulan kontrak saya tidak diperpanjang, ya saya tinggal mencari pekerjaan lain, toh saya sudah mempunyai pengalaman. Atau kalau saya cukup beruntung, biasanya si ibu yang baru melahirkan hanya akan memilih bekerja dua hingga tiga hari dalam seminggu. Semoga jadinya saya disuruh mengisi hari- hari dimana ia tidak bekerja.
Detik berganti detik, bulan berganti bulan, jadilah saya kembali bekerja secara full time. Lima hari dalam seminggu. Dalam masa transisi itu, saya mengekspor emak dan tante saya secara bergantian untuk tinggal disini selama tiga bulan. Alasan utamanya, agar ada yang membantu saya menjaga Serafim. Selama ini, Sera sudah terbiasa berada di childcare tiga hari dalam seminggu, dan dia baik- baik saja walau selalu tampak lelah sepulangnya dari childcare. For sure acara di childcare lebih padat merayap daripada acara bersantai di rumah bersama emaknya seharian. Saya rada- rada meragukan daya tahan tubuh si Sera kalau ia harus berada di childcare lima hari penuh.
Bulan Desember kemarin, genap enam bulan saya bekerja. Pekerjaannya cukup oke, lokasi rumah sakit sakit juga cuma sekitar tiga jam perjalanan dari rumah kalau dengan mengendarai sepeda roda tiganya si Sera (atau ya sekitar 15 menit kalau dengan mobil). Teman- teman saya di kantor jelas tidak akan memenangkan kontes Miss Persahabatan, tetapi ya tidak parah- parah amat lah. Manusia normal pada umumnya, yang merupakan perpaduan setan dan jin iprit. Pekerjaannya tidak susah- susah amat walaupun bukannya the most amazing job in the world. Intinya ya pekerjaan pada umumnya lah. Everybody is so happy on Friday afternoon and quite sleepy on Monday morning.
Setelah beberapa bulan bekerja, sesudah melewati masa- masa memprihatinkan yang biasa dialami di tempat kerja yang baru (berusaha menyesuaikan diri dengan teman baru dan ritme kerja), saya akhirnya bisa mulai menelaah dan mengkaji mengenai pekerjaan full time ini. Sejak awal, saya sebetulnya ingin bekerja part time saja. Tiga hari dalam seminggu would be fabulous. Dalam pikiran saya, dengan bekerja tiga hari maka saya masih akan mempunyai waktu menemani Sera, mengurus rumah, menulis dan sekaligus mendapatkan gaji. Dan setelah beberapa bulan menjalani kerja full time ini, saya menyadari bahwa saya memang tidak menikmati bekerja full time.
Meskipun super cute bin imut, ternyata saya bukanlah tipe wanita perkasa. Sepulangnya dari bekerja, saya selalu merasa terlalu lelah. Saya tidak mempunyai sisa tenaga (dan kesabaran) untuk meluangkan waktu meladeni Serafim. Padahal setelah seharian berada di childcare, Serafim tentu saja merasa perlu untuk menggrusuhi emak tuanya yang sudah kempot ini di sore hari. Ia minta ditemani melakukan berbagai kegiatan maha penting seperti membuat kartu pos untuk dikirim ke David (pacarnya di childcare) atau barbekyuan di halaman belakang dengan menggunakan rumput dan daun kering. Duh, ruwet sekali memang aktivitas anak empat tahun itu.
Selama ada emak saya di rumah, urusan rumah tangga sedikit tertolong. Saya sama sekali tidak perlu repot memasak atau menyeterika baju misalnya. Tetapi saya tentu berpikir, kalau nanti bala bantuan darurat ini sudah balik badan kembali ke Indonesia, berarti sepulang bekerja saya masih harus sibuk mengurus ini itu ono dong. Bakalan remek nih badan :(.
Bekerja full time ternyata tampak terlalu berat buat saya. Tetapi saya bertahan karena mempunyai harapan nantinya saat orang yang saya gantikan sementara sudah kembali dari cuti hamilnya, maka bos akan menawarkan posisi part time pada saya. Eh ternyatanya, setelah beberapa lama bekerja, semua teman kerja saya memberitakan kabar baik dan kabar buruk bagi saya.
Kabar baiknya: bos besar tidak pernah memutus kontrak. Jadi saya bakalan 100% akan diteruskan kontraknya dan menjadi pegawai tetap. Tidak pernah dalam sejarah bos besar memutus kontrak para pegawai sementara seperti saya ini. Wokeh, kabar baik dong! Berarti saya tidak perlu repot- repot melamar pekerjaan lagi. Terus terang saya malas membuat resume dan kemudian diinterview lagi. Tulang pinggul saya sudah berkeriut semua dan kulit paha pun sudah bergelambir. I'm just too old!!!
Tetapi, berbarengan dengan kabar gembira tersebut, tersiar juga kabar yang rada- rada kurang mengenakkan. Bahwa bos besar adalah tipe bos jadul bin konvensional. Dia tidak suka pekerja part-time! Satu- satunya alasan ia mengijinkan mereka yang baru saja melahirkan untuk kemudian bekerja part time adalah alasan peraturan legal, bisa- bisa pegawainya berdemo di HRD jika ia menolak keinginan pegawainya bekerja part-time.
Mampus gue! Lha pegimana nasib ane? Bekerja baru saja enam bulan, sekedar jadi pegawai tetap saja belum, dan jelas bukan seorang emak yang baru saja melahirkan. Lah dalah, gimana ceritanya si bos besar bakal mengabulkan permintaan saya untuk bekerja part-time? Apalagi kemudian para teman saya bercerita bahwa si ono pernah meminta untuk menjadi part-time dan ditolak. Pening. Dengkul saya berkeriut pening.
Mulailah saya merasakan yang namanya dilema. Berbagai skenario berkelebat di kepala saya. Intinya: kalau bos besar menolak permohonan saya untuk bekerja part time (yang tampaknya kemungkinan terbesar), what should I do? Resign atau melanjutkan bekerja?
Selama sebulan saya gelisah. Makan nggak enak tidurpun tak nyenyak. Galau. Silau. Sakau. Gimana ini? The clock was ticking as well. Sebentar lagi tante akan pulang. Keputusan sudah harus diambil sebelum itu. Pikiran saya berubah- ubah. Terkadang di suatu hari saya akan terbangun dengan semangat membaja dan dengan gagah berkata ke Okhi bahwa ya sudah saya keluar saja kalau bos tidak memberi saya kerja part time. Di lain hari, saya akan kelabakan bingung berusaha mencari cara bagaimana caranya agar si Sera bisa kembali mengikuti kelas- kelasnya bila saya memutuskan untuk tetap bekerja. Apakah saya bisa mencari orang untuk mengantar si Sera ke kelas? Pokoknya ayam yang mau bertelor saja kalah gaduhnya dibandingkan pikiran saya yang ruwet.
Saat saya sedang belingsatan seperti orang yang mengalami konstipasi itu, saya membuka fesbuk saya dan membaca seorang teman bertanya di status fesbuknya "Lagi- lagi pulang malam. Diajak rapat lagi. Apa harus tetap bekerja atau resign saja ya? Kasihan anak- anak..."
Saya membaca status tersebut saat sedang menikmati kopi gratisan di basement rumah sakit tempat saya bekerja, sedang morning tea bahasa kerennya. Membaca status tersebut, saya dengan bersemangat mengetik balasan lewat pesan pribadi (kebetulan dia salah satu teman rada dekat saya). Saya menulis bahwa saya juga sedang mengalami galau perkara pekerjaan ini, apakah harus berhenti kerja saja atau gimana yah.
Mengklik tombol send, dan setelah beberapa saat hape saya tampak berusaha keras mengirimkan pesan tersebut, dan GAGAL. Dedemit!!! Sudah mengetik panjang lebar dan gagal kirim itu hampir sama penderitaannya dengan mendengarkan berita infotainment mengenai Farhat Abas mengeluhkan insiden pemencetan dirinya oleh truk gandeng (semoga truk gandengnya sudah divaksin tetanus...). Keluh, dasar rumah sakit kurang menyan, wifi kok putus sambung kayak abege pacaran aja!
Karena jam minum teh sudah berakhir, sebagai seorang pegawai teladan, saya menyimpan hape di kantong dan kembali bekerja. Pulang dari kantor, setelah selesai menidurkan ndoro Sera yang seperti biasa memerintahkan ini dan itu pada mbok embannya, saya merebahkan badan dengan senang. Akhirnya bisa bersantai! Meraih hape dan membuka fesbuk, saya melihat bahwa statusnya teman saya sudah meraih puluhan follower, eh komentator. Tampaknya, status tentang ASI, ibu bekerja dan vaksinasi memang selalu menarik perhatian khalayak umum. Berhubung saya juga sedang mengalami dilema serupa, saya akhirnya tertarik membaca komentar demi komentar.
Secara garis besar, ada tiga jenis jawaban terbanyak yang diterima teman saya.
1. " Aku sih akhirnya memutuskan berhenti bekerja Mbak! Kasihan anak- anak kalau ditinggal ibunya. Bagaimanapun kan ibu adalah pendidik yang terbaik. Masak kita tega sih kalau anak kita jadi anak pembantu? Rejeki tidak akan lari kok."
2. "Meskipun bekerja, kita juga tetap bisa jadi ibu yang baik kok bagi anak- anak kita. Aku juga sibuk, sering dinas luar, tapi anak- anak nggak terlantar. Aku tetap sempat masak untuk mereka, bikin cookie dan roti sendiri malahan! Dan tetap membantu mereka bikin pr segala."
3. "Kodrat seorang ibu itu ya mendidik anak di rumah. Stay at home dengan anak- anak, mencurahkan waktu untuk mendidik generasi berprestasi." (Note: dan beberapa menambahkan juga melayani suami, menjadi tulang punggung kesuksesan suami)
Menutup fesbuk dan melempar hape saya ke samping kasur (pelan- pelan tapi melemparnya, takut rusak), saya berpikir bahwa kalau saja saya yang bertanya di fesbuk dan kemudian membaca pendapat para komentator, kok ya naga- naganya saya bakal tetap bingung ya? Saya bakalan tetap berkotek- kotek seperti ayam kebelet bertelur karena tidak bisa memutuskan. Buah simalakama.
Dan saat seseorang kemudian bertanya ke jamaah fesbuker apabila mereka mempunyai saran yang akan membantu saya dalam mengambil keputusan dalam kebimbangan yang melanda, most likely mereka hanya akan mendapatkan jawaban- jawaban seperti yang diterima teman saya. Pertanyaan dari seseorang yang sedang galau akan masalah pekerjaan ini, somehow tampaknya menjadi ajang dari pihak- pihak lain yang sudah lebih dulu membuat keputusan dalam masalah serupa untuk membenarkan keputusan yang ia ambil. Sekaligus mencoba meyakinkan (entah diri sendiri atau orang lain) bahwa keputusan yang telah mereka ambil adalah keputusan yang terbaik yang patut ditiru. Dari sekitar dua puluh orang yang ikut berkomentar, hanya satu orang, SATU biji manusia doang yang bertanya balik ke si pembuat status "Memang kamu sebetulnya pingin lanjut kerja atau tinggal di rumah? Jam kerjamu gimana? Anak- anak sekarang sama siapa?"
Yang paling bikin nyesek adalah membaca komentar "Sekarang terserah kamu. Apa yang menjadi prioritasmu? Anak atau pekerjaan?" *golok mana golok!!!!!
Anyway, suatu kali saya chatting dengan seorang teman. Ia adalah seorang ibu dengan dua anak balita dan sekarang memtuskan berhenti bekerja sepenuhnya. Saya tidak meminta nasehat darinya ataupun bertanya enaknya keputusan apa yang harus kuambil yah? Saya hanya bercerita. Berbagi rasa. Dan teman saya itu memberikan jawaban terbaik yang sedikit banyak membantu saya dalam mengambil keputusan. Teman saya berbaik hati menceritakan perjalanan kisahnya, memberi saya kesempatan menengok ke kehidupannya, melihat situasi yang dihadapinya dan pertimbangan yang diambilnya sampai pada akhirnya ia mencapai keputusannya. Bukan keputusannya yang saya contek, tetapi perjalanan menuju ke keputusan itulah yang ternyata berharga untuk disimak.
Jadilah di suatu pagi, sesudah selama seminggu sebelumnya panas dingin menguatkan hati, saya mengetuk pintu bos besar. Bayangkan posisi saya, pada saat itu saya belum pegawai tetap dan bos bahkan belum menawarkan pada saya untuk tetap bekerja disitu. Lha kok saya sudah 'kepedean' minta bekerja part time? Dalam hati saya, tekad sudah bulat, kalau permohonan saya untuk bekerja part time ditolak, saya akan mengundurkan diri.
Meskipun di atas kertas kesannya mudah, tentu saja semua orang tua yang pernah merasakan dilema ini tahu betapa sulitnya keputusan itu dibuat. Lemme share my story.
Concern terbesar saya tentu saja Serafim. Saat saya bekerja lima hari, saya melihat bahwa gradually my little girl became less and less happy. Setiap hari saat saya mengantarnya ke childcare, ia tidak bersemangat. Pagi- pagi ia sudah diantar ke childcare dan baru petang hari dijemput kembali. Ia tidak lagi pergi ke kelas musik dan kelas renang kesukaannya dan keinginannya untuk bergabung dengan kelas balet tentu saja harus tertunda. Di sore hari, saya sudah terlalu lelah untuk sepenuhnya meladeni segala kegiatannya. Dan semua ibu tentu tahu betapa melelahkannya menuruti semua keinginan seorang balita. Sekedar permintaan "I wanna draw" bisa berarti perjalanan berkali- kali ke dapur. Ambil koran. Ambil air. Ambil tissue. Siapkan cat air dan kuas. Membersihkan tumpahan cat atau air yang tersenggol. Ambil kertas lagi. Bertepuk tangan memuji mahakarya masterpiece. Diminta ikut menggambar. Dimintai tolong membungkus gambar untuk dikirim ke David. Minta stapler. Minta agar si gambar ditempel.
Dan disuatu hari, saat mengantarkan Serafim ke childcarenya, Serafim cilik memeluk saya dan dengan lembut berbisik "Mummy, can you plese stay at home with me? I miss you mummy." Dan disuatu sore saya mendengarnya berkata ke boneka beruangnya "Don't cry Teddy. Mummy has to work. No need to be sad."
Sampai disini, seharusnya kisah berlanjut dengan saya sebagai ibunya tersedu- sedu merasa bersalah, memeluk Sera dan berkata "Maafkan Mama Sera, Mama telah menelantarkanmu!Mulai sekarang, Mama akan mengikutimu kemana aja!!!" Kemudian berderap serta merta mendatangi kantor bos, membanting kartu pegawai saya di hadapan pak bos dan dengan heroik berteriak histeris mengumumkan bahwa "detik ini juga saya berhenti karena saya mencintai anak saya lebih dari segala sesuatu!" Sinetron banget deh!
Tetapi seorang ibu yang pernah merasakan dilema ini pasti tahu bahwa nope, tidaklah seperti itu ceritanya. Bahkan saat saya kemudian menyetir ke kantor sambil mengusap mata setelah melepaskan pelukan Sera yang tampak sedih dan lesu, saya masih bergelut dengan berbagai pertimbangan. Saya lagi dan lagi bertanya ke si Okhi apakah uang kami akan mencukupi kalau hanya dialah yang bekerja. Okhi menghitung dan berkata ya, uang kami masih sangat cukup untuk hidup tetapi tidak berkelimpahan. Tidak bisa lagi tiap tahun pulang ke Indonesia atau berlibur, pengeluaranpun harus dipikir benar- benar agar masih ada sisa untuk ditabung.
Apa yang membuat saya juga cukup merasa berat melepas pekerjaan ini? Karena tidaklah mudah mencari pekerjaan semacam ini. Dari semua teman sekelas saya, hanya dua orang yang mendapatkan pekerjaan. Lainnya masih menganggur dan bahkan tahun ini kursus tersebut ditiadakan karena pasar yang sudah jenuh. Dan kalaupun saya berusaha mencari pekerjaan lagi di rumah sakit lain, sangatlah jarang ada posisi part time. Pekerjaan di rumah sakit lainpun hampir selalu adalah full time. Dan sebetulnya, kalau saja saya bisa bertahan sebentar saja, dan kemudian saya hamil lagi misalnya, kan sehabis itu saya jadinya bisa libur kerja setahun dan kembali bekerja hanya dua hari dalam seminggu. Plus tahun depan toh Sera sudah bersekolah, lima hari dalam seminggu. Jadi if only I hold on for a little bit longer.... Life would be easier and perfect after that!
Dan ya, some moms are happier when they are working. I think God creates mom differently. Some are content when they can be with their kids 24/7, some are content when they have life outside playground and pram. And I guess I always need to have my own identity, not only as Sera's mum. Bekerja memberi saya tujuan hidup. Mungkin dilema yang saya rasakan adalah setara dengan seorang ibu yang sebetulnya ingin tinggal di rumah sepenuhnya bersama anaknya tetapi secara ekonomi tidak memungkinkan misalnya dan ia harus bekerja.
Jadi, kalau saya memutuskan untuk berhenti bekerja sekarang, most likely saya akan end up dengan tidak bekerja sampai nanti anak kedua saya (kalau saya memutuskan punya anak lagi) sudah duduk di bangku sekolah. Ohmaigod, I will be forty at that time! Dan memulai bekerja lagi sesudah tidak bekerja selama bertahun- tahun tentu bukan hal yang mudah. Iya kalau masih ada yang menerima saya. Inilah sulitnya saat engkau baru mulai bekerja saat sudah mempunyai anak. Bukan hanya diri sendiri yang dipikirkan, tetapi ada makhluk lain yang lebih bikin pusing kepala.
If only I could just hold on for a year! Bayangkan! Betapa enaknya!
Keputusan untuk berhenti bekerja ataupun meneruskan bekerja, at least bagi saya, tampaknya tidak ada kaitannya dengan segala heroisme. Tidak ada tempat bagi segala kisah kepahlawanan dalam hal ini. Keputusan itu adalah keputusan sederhana yang diambil setelah dengan kepala penat memikirkan berbagai jalinan situasi yang ruwet.
Setelah menimbang- nimbang, walaupun tidak sepenuhnya meyakini keputusan saya, saya memutuskan untuk ya sudahlah mari berhenti saja kalau tidak diterima bekerja part time. Pertimbangan utama keputusan itu tentu saja karena gajinya okhi cukup untuk hidup dan Sera terlalu 'not happy' untuk bisa bertahan 'setahun lagi saja ya nak'. Bukan, dia bukannya menangis menggeru- geru, tetapi dia jelas merindukan emaknya, perjalanan ke perpustakaan dan buku- buku yang dibacakan emaknya sebelum tidur. Ia rindu kelas- kelasnya dan tahun ini adalah tahun terakhir sebelum Sera masuk ke sekolah. I just don't want to loose this last chance to be with her before she's a big school student. She was just miserable....
Tetapi sebetulnya, selain dua pertimbangan utama itu, masih banyak rentetan kondisi- kondisi kecil yang kalau saja berbeda sedikit saja,maka mungkin akan membuat keputusan saya berbeda.
1. Mencari pekerjaan di australia,bagaimanapun sulitnya, tetaplah tidak sesusah mencari pekerjaan di Indonesia. At least saya bisa jadi tukang bersih- bersihlah.
4. Saya tidak menemukan alternatif lainnya dalam mengurus Sera. Mungkin ceritanya berbeda kalau saya punya sanak keluarga disini yang bisa membantu mengantar sera ke perpustakaan misalnya.
3. Saya sudah menemukan alternatif untuk tetap memiliki identitas saya sendiri. Kalau saya berhenti bekerja, saya berjanji akan benar- benar serius dalam menulis dan menemukan dunia saya disitu
4. Pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang sebegitunya membahagiakan dan memuaskan. Kalau saja saya sangat bahagia disitu, mungkin saja keputusan saya berbeda.
5. dan serangkaian hal- hal kecil lainnya yang ternyata cukup signifikan dalam membuat kepala saya berputar pening sebelum memutuskan.
Dan setelah mengambil keputusanpun, saya tidak merasa "Look at me, saya rela melepaskan karir saya demi anak! Hoho, how noble I am." Atau sebaliknya merasa menjadi duta para super mom, successfully jugling between family life and career life. Keputusan ini bukan keputusan yang diambil dengan penuh sorak sorai dan jauh dari semangat heroik kepahlawanan. Keputusan bekerja atau tidak adalah keputusan yang diambil dalam senyap, yang diambil secara sederhana dengan mempertimbangkan kondisi keluarga saya dan hanya melibatkan keluarga saya. Keputusan terbaik bagi keluarga saya, tetapi jelas tidak relevan bagi keluarga lain yang mungkin sedang mengalami dilema serupa.
Kalau saja teman saya si ibu dua balita sewaktu mendengar kisah saya kemudian dengan berbunga- bunga berbusa berkata "Kita kan ibu! Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya di tangan orang lain sementara dompetnya saja tidak bersedia dia serahkan pada tangan orang lain" maka paling-paling saya hanya akan bergumam "Ya ya, ambil dah sana semua surga yang tersedia. Emang hanya situ yang layak punya surga di bawah telapak kaki! Kalau ibu durjana macam saya ya bakalan hanya punya mata ikan berjamur di telapaknya."
Bukan retorika penuh kepahlawanan itu yang menggugah saya. Tetapi saat dia membagikan strategi yang dia lakukan. Sadar bahwa mencari pekerjaan lagi sesudah lama absen adalah suatu 'kemuskilan' maka dia berkata bahwa dia mulai menjajaki peluang pekerjaan lain yang bisa dilakukan. "I need to have something Meg. I need to be involved on something else." Persis seperti saya, yang meskipun cinta mati kepada anak saya, tetap membutuhkan hidup di luar popok kotor dan menyaring bubur tim (eh enggak ding, saya tidak pernah membuatkan makanan bayi untuk Sera. Seumur hidup Sera dia tidak pernah makan bubur XD).
Teman saya berkisah bahwa setelah sekarang balitanya berusia tiga tahun, ia mencoba membuat usaha online kecil, tas- tas rajutan hand made yang kemudian dijualnya secara online. "Aduh, sekarang sih belum ada apa-apanya Meg, hanya seperti penyalur hobi. Tetapi karena hal kecil ini, aku merasa tetap punya tujuan hidup dan future career. Aku punya impian, nanti kalau si dedek sudah masuk sekolah, aku bakal bla bla bla dengan usahaku ini."
Dan karena hal itu, salah satu keengganan terbesar saya untuk berhenti bekerja menjadi sedikit ringan. Iya sih, saya mungkin akan berakhir dengan tidak lagi bekerja formal di kantor, tetapi masih ada jalan lain untuk tetap mempunyai hidup saya sendiri. Pikiran bahwa saya akan melanjutkan menulis novel yang terhenti di halaan ke 90 atau menuliskan kisah akhir pekan di bukit Dandenong dan mengirimkannya ke majalah membuat ketakutan terbesar saya mereda. Ya, saya amsih bisa mempunyai 'sesuatu'saat berhenti bekerja pun.
Keputusan yang saya ambil mungkin saja salah, di masa depan mungkin saja saya akan menyesalinya, tetapi untuk saat ini, itulah keputusan terbaik yang bisa saya ambil. Moto saya adalah Live your life without regret but with private jet.
Note: dan kemudian Pak Bos, setelah mendengar permohonan saya, mengatakan dia bersedia (pertama kalinya dalam sejarah kantor) mengijinkan saya bekerja part time, asalkan EMPAT HARI DALAM SEMINGGU. Nah lho, ini mah sama aja bikin saya terlanda dilema lagi. Someday I let you know the decision then XD.
![]() |
| Hidup memang lebih ruwet karena kehadiran si makhluk satu meter kurang ini |
