Monday 21 April 2014

My Monday Note -- Serafim, Our First and Best Kiddo

Serafim namanya. Empat setengah tahun usianya sekarang. Sebelum memiliki Serafim, seperti kebanyakan orang, saya berangan- angan. Betapa akan 'sempurnanya' hidup bila saya mempunyai sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Wah, bakalan bisa menjadi bintang poster keluarga berencananya BKKBN nih :P.

Dan setelah mempunyai Serafim, setelah melihatnya tumbuh dan berbahagia selama empat setengah tahun ini, kok ya saya jadi tidak peduli kalau anak kedua saya nantinya akan berjenis kelamin perempuan atau laki- laki (dan malah dalam hati secretly wish for a second baby girl saja lagi). Dan saya tidak peduli apakah memang nantinya kami akan diberi anak lagi atau Serafim akan selamanya menjadi our first, best and only. I just don't care. Saya dan Okhi, we are terribly happy and satisfied dengan si gadis kecil bergigi kelinci dengan telapak kaki datar ini. 

Di usianya yang empat setengah tahun ini, Serafim adalah anak yang menjadi impian semua orang. Dia sehat, ceria, energik, bawel, tremendously cute dan menjadi favorit para gurunya. 

Setiap pagi, saat mengantar Serafim ke kindernya, maka seorang pemuda kecil bernama David akan dengan gegap gempita menyambutnya, meneriakkan nama Serafim dengan penuh cinta dan memeluknya dengan penuh sayang sebelum menggandeng tangan Serafim dan mengajaknya bermain. Di hari dimana David sedang tidak masuk ke kinder karena pergi berlibur, giliran Mikaela, seorang gadis cilik temannya yang lain, akan dengan berseri- seri menyambut Serafim. Mereka berdua akan berdiri berhadapan, sepasang tangan kecil mungil bergandengan dan saling menyebut nama temannya. persis seperti adegan saat Esmeralda bertemu Fernando Jose. Dan kemudian si Ryder yang badung akan menabrakkan mobil- mobilan yang dikendarainya kearah kedua gadis kecil ini. Membuat Mikaela memekik sebal. 

Saat menjemput Serafim di sore hari, maka semua guru akan memeluk Serafim sambil berkata "She is the best girl! She is very sweet." Dan berkomentar betapa Serafim selalu patuh dan mendengarkan semua perkataan gurunya. "Not like other kids," bisik si guru.

Dan sementara emak saya dulu selalu ketakutan akan kapasitas otak saya yang tampaknya rada kerdil (setiap malam saya selalu menangis karena tidak bisa mengerjakan soal matematika, emak saya menatap galak sambil mengomel dan adik saya menggeleng-gelengkan kepala sambil berpikir "Goblok banget sih kakakku ini."). Dan sekarang, saya mendapatkan anak yang semua gurunya berkata bahwa Serafim adalah the brightest kid at class, mempunyai kemampuan matematika dan bahasa yang berada diatas teman- teman sekelasnya. Dan di usianya yang baru empat tahun, Serafim sudah menulis tiga buku setiap minggu. Setiap hari ia meminta lima lembar kertas, ditekuknya menjadi dua, diberinya nomor halaman dan digambarinya seturut kisah yang ingin diceritakannya. "Alright, now I'll read you my book."

Dan kemudian dia akan bercerita mengenai buku yang baru ditulisnya, eh dilukisnya. Di laporan perkembangan dari guru TKnya, gurunya menulis bahwa ia tidak akan heran bahwa di masa depan Serafim akan menjadi penulis buku.

Serafim is also cute as a button. Kecil mungil, berambut hitam lurus selembut sutera, bermata seperti buah badam, berpipi ranum dan berwajah ekspresif dengan celotehan yang paling kiyut. Dan tentu saja, Serafim adalah gadis paling modis sedunia. Tidak pernah ia lepas dari aneka rok berwarna- warni (celana adalah baju kelas rendahan, Serafim ogah memakainya). Dimanapun Serafim berada, pasti ada saja orang yang berkomentar betapa lucunya dia, betapa manis wajahnya, betapa miripnya dia dengan boneka. Senyuman Serafim, akan mencerahkan langit yang mendung.





Kalau Okhi membaca semua deskripsi saya diatas mengenai Serafim, dia bakal berkomentar "Dasar emak narsis, ya jelas aja memuja- muja anak sendiri." 

Well, hello, kalau kamu mempunyai anak, membesarkan anak itu dan menghabiskan hidup disampingnya setiap hari dan kamu tidak bisa menemukan kelebihan dan sisi positif anakmu, ya berarti dirimu adalah seorang pesimistis kelas berat. Orang yang tidak bisa menemukan kelebihan dari anaknya, kemungkinan hidupnya sangatlah menderita, batin tersiksa dan calon penghuni kerak neraka *sabdaMega. 

However, dengan segala keistimewaan milik Serafim, toh saya tetap sering memandangnya dengan menggeleng- gelengkan kepala. Karena tentu saja, sebagai keturunan saya, saya bisa melihat sifat saya (yang tidak sepenuhnya terpuji) ada di dalam diri Serafim. Dan si Okhi juga bisa melihat sifatnya dia dalam diri Serafim. Atau terkadang saya menggeleng- gelengkan kepala sambil berkomentar sedih "Kenapa sifatnya tantemu kamu tiru sih Ser?"

Dimanapun Serafim berkumpul bersama anak- anak kecil lainnya, selalu yang terdengar adalah anak lain akan memanggil- manggil Serafim untuk menarik perhatiannya atau menarik tangannya untuk mengajaknya bermain. Senang? Iya dong. Saya senang karena sejauh ini Serafim bisa berteman. Bisa mempunyai teman dan menjalin persahabatan. Dan memang banyak anak yang senang berteman dengan Serafim karena dia manis, penurut dan tipe suporter setia. Tetapi kening berkerut juga karena tidak pernah sekalipun saya melihat Serafim memanggil nama temannya atau berteriak menarik perhatian temannya atau seperti yang dilakukan Ryder, berusaha merebut Serafim dari gandengan David. Tidak. Serafim tidak pernah berinisiatif memulai persahabatan. Pertemanan harus ditawarkan pihak lainnya. Bila tidak ada yang menawarkan persahabatan, Serafim hanya akan bersedih di pojokan, tetap tidak akan menjadi pihak yang pertama kali mengulurkan tangan. Dan itu adalah sifat saya. Sifat yang membawa banyak kesusahan juga dalam hidup karena tidak selalu kita bertemu dengan orang yang berinisiatif mengulurkan tangan terlebih dahulu. Terkadang kitalah yang harus mengulurkan tangan. Dan Serafim masih harus mempelajari hal itu, melawan sifat dasarnya yang seperti emaknya, enggan menghadapi resiko penolakan.

Sewaktu Serafim berusia tiga tahun, ia sudah berhasil menyelesaikan puzzle yang cukup rumit dan membuat gurunya terkagum- kagum. Saat ditanya apakah bangun ruang kesukaannya, lingkaran atau segitiga, dengan tegas Serafim berkata "Hexagon. Circle and triangle are boring." Berhitung, menulis, menyanyi, menggambar dan membuat aneka art projects adalah semudah membalik telapak tangan bagi Serafim. Tetapi, untuk sesuatu yang tidak dengan mudah dikuasainya, Serafim akan sangat mudah merasa frustasi. Lalu mogok dan marah- marah. Keburu buteng, kata orang Jawa. Lagi- lagi itu sifat saya. Alhasil, selain memasukkannya kedalam kelas musik (dimana ia berselancar dengan riang mengikuti beat irama tanpa kesulitan), saya memutuskan memasukkannya ke kelas renang juga. Sepenuhnya adalah gadis tanpa talenta atletik dan olahraga, Serafim adalah the clumsiest kid in the pool. Melihatnya berenang, sama seperti melihat kudanil mencoba menari balet. Semoga dengan mengikuti kelas itu, ia menjadi gadis yang bugar dan yang terpenting melatihnya bahwa ada hal dalam hidup yang harus dipelajari dengan susah payah, diperjuangkan untuk dikuasai. Dan lagu wajib di rumah kami adalah lagu yang saya dengar dari acara anak- anak favorit Serafim "You try it, you can. Keep trying, keep trying don't give up, never give up."

Saya ingat beberapa tahun lalu saat baru saja bekerja di Jakarta, seorang teman cowok menjemput saya di kos untuk makan bakso di warung depan kompleks. Melihat saya keluar, teman saya itu mengerutkan kening dan berkomentar "Aneh banget sih bajumu. Nggak nyambung gitu warnanya." Saya menunduk menatap baju saya. Dan tidak menemukan apa anehnya baju saya. Tanktop garis- garis dipadu celana selutut bermotif doreng tentara. "Hanya mau ke tukang bakso aja kebanyakan rebyek!" dengus saya kesal.

Dan kemudian saya terpaksa menggeleng- gelengkan kepala saat Serafim yang baru berusia empat tahun sudah bisa merasa tidak percaya diri dan hancur lebur harinya hanya gara- gara masalah kostum. Sekedar ke kinder yang hanya diisi dengan bermain di bak pasir saja, wajib hukumnya memakai aneka rok berwarna- warni dengan kaus dan jumper yang serasi. Setiap pagi selalu terdengar dengusan emaknya yang sebal menunggu Serafim memilih kostum yang diinginkannya. "No, today is pink day," ujar Serafim sambil memilih kostum pink aneka gradasi dari atas sampai ujung kaki. Persis seperti ulat sawo.

Dan Serafim pun sudah mulai membanding- bandingkan kondisi fisiknya dengan teman- temannya. Tinggal di Australia, teman sekelasnya kebanyakan adalah orang bule dan Cina. "I want to have white skin, not brown skin," adalah keluhan yang selalu terlontar dari bibir mungilnya beberapa bulan yang lalu. "I also want to be tall," adalah obsesinya, karena ia adalah gadis termungil di kelasnya. Note: masalah kulit putih ini juga gara- gara tokoh putri dan peri favorit Serafim semua berkulit putih. Damn you Disney xd.

Hati siapa yang tidak pilu mendengar anak gadis kecilnya merasa tidak puas dengan kondisi fisiknya? Maka kemudian emaknya menceritakan keluhan Serafim kepada guru- guru kindernya, yang serentak menyanyikan "I love you just the way you are," dan mengatakan betapa mereka menyukai kulit cokelat dan rambut hitam milik Serafim. Dan kemudian dengan gemas seorang guru memeluk Serafim dan berkata ke arah saya "Silly girl. Doesn't she realize that she is the prettiest girl in the class?"

Of course not. Emaknya Serafim tidak ingin anaknya merasa sebagai yang tercantik. Tapi saya membatin kenapa Serafim tidak mewarisi sifat baik saya terkait urusan fisik? Saya tidak pernah merasa sebagai orang cantik (dan memang tidak cakep :P) tetapi saya couldn't care less soal fisik ini. Tidak pernah masalah fisik dan sekedar baju atau sepatu mempengaruhi kebahagiaan saya. Okhi pun tidak pernah ambil pusing. Dalam hal ini, saya menyalahkan adik saya yang menyeberangkan gen genitnya kepada anak saya.

Sampai akhirnya saya belajar berdamai bahwa memang soal baju adalah penting bagi Serafim. Jadi dengan tabah saya mulai menerima bahwa warna dan bentuk rok itu adalah faktor penting bagi kebahagiaan hati seorang balita. Sembari tentu saja every now and then saya berusaha mengendalikan sifatnya ini. Suatu kali, sesudah sampai di tempat tujuan wisata, Serafim mogok bersenang- senang karena baju yang dipakainya ternyata tidak sesuai dengan seleranya. Kami sudah sampai  di pantai yang selalu menjadi tempat favorit Serafim dan eh ternyata moodnya tetap bisa drop hanya gara- gara masalah kostum (dia merasa membutuhkan rok, bukan sekedar kaos terusan yang dianggapnya bukan rok). Dengan menyimpan rasa gondok, saya tangkap Serafim yang berlari berputar sambil menangis ngambek dan berkata tegas "We don't bring any skirt today (menunjukkan isi tas). Now you have two choices; keep sulking and still you won't get a skirt, or go playing with the sand and water and enjoying your day here!"

Baju kurang keren yang membuat si gadis cilik merajuk 

Awalnya berat bagi saya untuk menerima bahwa memang kebahagiaan anak saya itu salah satunya ditentukan oleh hal secemen masalah baju, tetapi ya mau bagaimana lagi. Sudah bawaan orok xd. Sekarang tinggal berusaha agar Serafim selalu merasa puas dengan outfit pilihannya sendiri. Kalau dia suka berdandan, ya be it. Tetapi tentu saya tidak ingin anak gadis saya menjadi seorang perempuan yang tergantung pada penilaian orang lain soal penampilan. Jadilah saya sekarang selalu menyuruh Serafim menentukan baju dan sepatu yang ingin dikenakannya sendiri. Resikonya? Berjalan disamping Serafim selalu membuat saya serasa seekor gagak yang berjalan disamping seekor nyonya merak sosialita yang hendak pergi arisan.



Di hari dimana Serafim sedang 'kumat' kreatifnya, maka ia akan pergi ke kinder dengan aneka aksesori 'keren' kreasinya sendiri atau hiasan rambut bertumpuk- tumpuk seperti ondel- ondel hendak berpawai. Saat melihat tokoh peri favoritnya memakai tiara, maka Serafim memutuskan menggunting enam gambar aneka tokoh yang dilukisnya dan menempelkannya ke bandonya. "This is my crown," ucapnya bangga. Emak bapaknya berebut menolak mengantarnya ke kinder pada hari itu. Malu hati melihat bentuk si anak. Di hari lain, ia membelitkan batang- batang pembersih pipa di rambutnya, membuatnya menjadi pita rambut bersulur- sulur.

Bangga setengah mati dengan hasil kreasinya sendiri 


Mengantarkan Serafim memasuki kelasnya, emaknya menguatkan hati dan menggertakkan gigi. Hari itu Serafim memakai gelang buatannya sendiri yang terbuat dari bulu burung yang ditemukannya, gambar Iggle pigle yang diguntingnya dan direkatkannya ke pembersih pipa. Gurunya dengan penuh ceria menyapa dan memuji gelang Serafim. "Oh wow, I love it! Can you make one for me?"

Siap berangkat sekolah, dengan outfit yang heboh dipilihnya sendiri

Dan kemudian gurunya bercerita bahwa tempo hari, gara- gara mahkota yang dipakai Serafim, maka semua anak ingin juga memilikinya. Jadilah kelas mereka dihari itu membuat mahkota kertas yang ditempeli gambar aneka tokoh kartun yang digambar oleh masing- masing anak. Alright Ser, kalau berdandan memang hobimu, let's try to make the most of it. Jadi seniman slash pengusaha aksesori saja di masa depan :D.

Memperhatikan Serafim, seperti semua orang tua lain saat memperhatikan anak mereka, adalah gabungan dari kebahagiaan melihatnya menjadi anak yang begitu cantik dan cerdas, kebanggaan saat bahkan petugas tur di sebuah mercusuar tak henti memuji Serafim yang tampak begitu kiyut dengan jaket merah bak Red Riding Hood nya, kecemasan melihat betapa banyak sifat 'jelek' yang akan menyulitkan hidupnya kelak, kekuatiran akan masa depannya apakah ia akan bisa sukses dan bahagia dan tentu saja harapan yang membumbung bahwa kelak ia akan bisa menjadi the fullest and greatest she can be.

Tetapi setiap saya mengutarakan kekuatiran akan sifat jelek Serafim, Okhi selalu dengan santai berucap "Lha kamu kan juga punya sifat jelek itu dan ternyata kamu ya baik- baik saja tho?"

Oh well, benar juga ya. Ah, you'll be alright little girl! No need to worry xd.