Monday 21 July 2014

My Monday Note -- Sometimes, I Hate Being A Mother (Confessions of a less-than-perfect-mum)

Apakah anda mempunyai anak yang lebih favorit dari anak lainnya? Atau menemukan bahwa motherhood itu membosankan? You may feel alone, but you're not.

Saya membaca nukilan sebuah buku karangan Dilvin Yasa; Good Enough: Confessions of a less-than-perfect mum. Dan isi buku itu, tepat seperti draft note yang sudah saya buat sejak tahun lalu, tapi terkubur dan terlupakan diantara tumpukan sampah draft di blog ini. Buku ini meneriakkan apa yang sudah siap saya teriakkan sejak tahun lalu, kalau saja saya tidak terlalu malas untuk menulis *menggeliat dan siap tidur siang lagi. Begini cukilannya (banyak yang tidak saya ubah ke bahasa Indonesia karena kok jadi nggak enak ya, merubah arti).

Pada tahun pertama sejak kelahiran anak perempuan saya, saya benci menjadi seorang ibu. Bukannya sekedar karena terasa berat untuk bangun di tengah malam atau muak saat mendengar lagu si Teletubbies berkumandang di TV (yang memang saya rasakan), tetapi karena dengan pahit saya menyesali pilihan yang saya ambil. Saya yakin bahwa saya sudah menghancurkan hidup saya untuk selamanya. "Kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahukan kepada kita bahwa mempunyai anak bisa semengerikan ini?" lolong saya di pertemuan mother's group, sementara bayi saya yang terkena kolik menjerit- jerit tanpa henti. 

Nb: di Australia ada yang namanya mother's group, biasanya emak- emak yang melahirkan di rumah sakit yang sama pada saat yang bersamaan (yang diasumsikan rumahnya ya berarti di area sekitaran rumah sakit itu) maka akan diperkenalkan oleh pihak rumah sakit. Mereka kemudian akan mengadakan pertemuan setiap bulan sekali misalnya, berganti- ganti di rumah masing- masing ibu. Tujuannya, semacam peer group yang saling mensuport para ibu ini, saling menguatkan dan berteman diantara mereka. 

Keluhan saya itu biasanya akan ditimpali dengan kesunyian yang terasa memekakkan dan para ibu lain di grup itu saling melempar pandang dengan kikuk. Tetapi, disaat kami tidak sedang berada dalam kelompok besar, satu atau dua ibu yang lain akan mendekat dan berbisik mengakui bahwa mereka pun juga tidak menikmati 'motherhood experience' seperti yang mereka harapkan. Kalimat penutup dari setiap percakaan kami adalah "But please don't tell anyone I told you that." 

Pesannya sangatlah jelas: In motherhood, there are subjects that are simply not open to discussion. 

Dan sejujurnya, banyak isu yang tergolong tabu untuk disuarakan adalah hal- hal yang sebetulnya sangatlah wajar. Mungkin anda 'bersalah' karena merasakan beberapa diantaranya? Mempunyai anak yang lebih favorit dibanding anak yang lain, merasa kecewa akan jenis kelamin si anak, atau merasa bahwa anda tidak menikmati menjadi seorang ibu adalah yang paling umum dirasakan. Tetapi, berbeda dengan yang mungkin anda pikirkan, psikolog klinis Laura Alfred mengatakan bahwa perasaan- perasaan 'terlarang' itu sebetulnya normal adanya.

"Menjadi seorang ibu adalah sebuah pengalaman yang seringkali membawa kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan, tetapi pengalaman itu juga bisa membuat kita sangat kewalahan, gelisah, depresi dan menjadikan kita berhati dingin (ohmaigod, apa sih terjemahannya relentless). Meskipun sering didengungkan sebagai pengalaman yang amazing, toh motherhood juga seringkali memberi syok yang dahsyat pada sistem di diri kita. 

Lah, kalau toh perasaan- perasaan itu wajar adanya, kenapa sih kok dianggap tabu? Seringkali, hal tersebut dikarenakan kita hidup di jaman dimana perasaan seorang ibu yang 'negatif', meskipun tanpa sadar, dianggap bisa menjadi racun bagi jiwa si anak. Hayo, siapa sih yang belum pernah mendengar komentar "Yang sabar ya Bunda, jangan bersedih, nanti bayinya ikut sedih lho.. Kasihan bayinya..." Mampus lu, bahkan saat kamu sedih pun itu artinya kamu sedang menyiksa bayimu. 

Ditambah lagi, kita sekarang membesarkan anak dibawah dogma "Kamu harus menjadi ibu yang lebih baik daripada semua ibu- ibu lain di luar sana." Kita juga tanpa sadar mempunyai ketakutan bahwa orang lain akan menilai dan menghakimi keputusan yang kita ambil (terutama teman dan keluarga kita). Sederhananya, ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa para ibu seharusnya 'suck it up' atau 'get on with it', dijalani saja dan nggak usah kebanyakan mengeluh. Yang pada akhirnya menghalangi kita untuk bisa secara terbuka membicarakannya.

Membaca nukilan buku ini, saya terkenang hampir lima tahun lalu, saat Serafim masih berupa bayi piyik. Setahun pertama kehidupannya, seperti penulis buku ini, saya tidak merasakan kebahagiaan dan rasa 'fulfilled' yang seharusnya dirasakan oleh seorang ibu yang baru saja dikaruniai 'anugerah terindah dalam hidup.' Terindah apanya, gerutu saya. Di mata saya, bayi Serafim adalah buntalan tukang nangis yang memberikan penyiksaan paling berat yang pernah saya rasakan. Kurang tidur super parah yang tidak saya bayangkan sebelumnya, pikiran yang lelah karena tampaknya otak saya selalu tegang, waspada menunggu kapan nih si bayi bakal meringkik lagi minta minum (yang setiap jam sepanjang malam). Oh dan keputusan memberi ASI eksklusif, yang tampak sangat heroik, berubah menjadi ajang penyiksaan karena puting saya babak belur. 

Dan saat usia si Serafim dua minggu, saya menjadi orang yang berhati dingin. Bagaimana saat kita mendengar seorang bayi menangis? Bukankah seharusnya menimbulkan iba pada orang normal? Apalagi pada ibunya sendiri. Tetapi, alih- alih menjadi iba, yang ingin saya lakukan adalah membanting si boneka rungsep itu ke lantai, menyuruhnya diam. 

Dan yang membuat semuanya menjadi lebih buruk adalah karena saya tidak bisa menceritakannya ke orang lain. Bagaimana caranya bercerita bahwa bayi kecil mungil berpipi seranum tomat itu tidak membuat hati saya melembut melainkan membuat saya benci akan hidup saya? Dengan putus asa saya bertanya- tanya kapan si bayi ini akan bisa diajak berkomunikasi, kapan si bayi akan punya jadwal tidur yang lebih masuk akal dan kapan si bayi akan bisa duduk. Yang kesemuanya dijawab oleh orang- orang disekitar saya bahwa "ya nanti kalau sudah waktunya. Masih lama! Baru juga lahir, tali puser masih nempel, sudah tanya soal kapan bisa duduk!"

Dan saat mengeluhkan puting saya yang babak belur, jawaban yang saya terima adalah "Ah, dulu putingku malah digigit sampai beneran mau copot!"

Pesannya jelas: semua ibu merasakan hal yang sama. Ya itu memang resiko menjadi ibu. Suck it up, princess! 

Dari merasa gundah, saya berubah menjadi depresi. Membesarkan bayi itu berat, tapi yang membuatnya sungguh tidak tertahankan adalah karena saya tidak diperkenankan untuk mengeluh. Pekerjaan menjadi ibu itu pekerjaan paling mulia dan anak adalah anugerah terindah. Dan kamu masih berani mengeluh dan tidak merasa bahagia? There is definitely something wrong with you. 

Kalau saya yang sekarang bisa menaiki mesin waktu dan menemui diri saya lima tahun yang lalu, my new me mungkin akan membisikkan pada my old me untuk belajar tips dan trik membuat bayi tidur lebih mudah, tips menyusui yang benar dan serangkaian tips- tips lainnya. Tetapi yang paling pertama dan utama, my new me akan memastikan my old me untuk tahu bahwa "It's ok to feel like a shit dengan rambut yang awut- awutan dan daster yang akan membuat Sebastian Gunawan bakal bunuh diri kalau melihatnya. It's ok not to love your baby straight away. It's ok to hate your life. It's ok to feel depress." 

Dan seorang bayi adalah a bundle of joy? Well, it's also ok to think that she is also a bundle of noisy shitty annoying demanding creature. 

Ohya, satu komentar yang sering saya dengar dulu, yang membuat saya bertanya apakah ada yang salah dengan diri saya adalah "Mengurus bayi itu paling enak. Dibawah satu tahun itu paling lucu. Nanti pas sudah balita, nah baru repotnya dobel- dobel."

Nah lho, mampus deh gue. Lha masih bayi saja Serafim sudah membuat saya stres, apalagi nanti pada waktu dia balita?Terrible two, kata orang.

Kalau memang masa bayi adalah masa paling menyenangkan bagi si ibu, then why the heck I didn't enjoy it? Dan ternyata, sebuah artikel di majalah ibu dan anak membuka mata saya. Bahwa setiap ibu mempunyai 'preferensi' atau kesukaan yang berbeda. Sebagian ibu paling menikmati saat si anak berusia dibawah enam bulan, sepenuhnya bayi kecil tak berdaya. Ada ibu yang menikmati fase balita kecil yang belajar berjalan dan tersaruk- saruk terjatuh. Dan meskipun mungkin lebih jarang, ada ibu yang seperti saya, yang jauh lebih menikmati porsi sebagai seorang pendidik daripada sebagai perawat.

Sementara tangisan bayi Serafim membuat saya jengkel karena tidak ada yang bisa saya lakukan (karena kan si bayi belum bisa diajak ngomong), tangisan meraung- raung balita Serafim adalah sesuatu yang menantang bagi saya. Sementara bagi banyak ibu seorang balita yang menangis meraung- raung di tengah mall adalah siksaan, tetapi tidak untuk saya. Karena saya suka menjadi pendidik. Tantrum si balita, adalah kesempatan bagi saya untuk mendidiknya. Bring it on!

Bukan berarti saya adalah ibu yang lebih baik dibanding ibu- ibu yang lain yang kewalahan dan marah saat melihat balitanya tantrum. Tapi karena kita memang berbeda. 

Menjadi ibu bagi big toddler Serafim sekarang adalah rangkaian perjalanan menyenangkan yang kami lalui berdua dengan berjongkok di perpustakaan dan bernegosiasi tentang berapa buku yang harus dibaca malam ini ("Can I have three mum? "No, ini sudah terlalu malam. Dua aja ya, besok baru tiga."). Meskipun saya selalu menuliskan dalam nada jengkel di status facebook saya, tapi saya menikmati setiap silat lidah yang saya lakukan dengan Sera, tersenyum geli melihat ketajaman mulutnya dan kecerdikan akalnya. Berdebat soal burung hantu yang seharusnya tidak terbang di siang hari dan akhirnya saya terpaksa mengakui bahwa buku cerita yang kami baca memang salah. "You're right Sera, burung hantu seharusnya tidak terbang di siang hari." Dan melihat Sera mengangguk puas sambil berkata "Yes, cause I'm smart Sera." Yang saya timpali "And very humble as well."

If only I know... Saya tidak perlu menghabiskan waktu untuk merasa bersalah...

 Don't expect motherhood will be enjoyable all the time - it won't - and don't see it as a project to be completed either.         

Dan hanya karena anda lelah, depresi, tidak berbahagia dan bertanya- tanya apakah keputusan untuk memiliki anak adalah keputusan yang tepat, bukan berarti anda adalah ibu yang tidak baik. We are less than perfect mum, we're just good enough. Hopefully we'll soon realize that being 'good enough' is exactly that - good enough.

Is your child happy, healthy and loved? You're a good mother and nothing else matter.



Sometimes, I hate being her mother. Sometimes I find motherhood is boring. And I'm less than perfect mum.That's alright.Good enough is good enough ^^