Suatu siang, saya mendengar percakapan antara Serafim dengan seorang anak laki- laki sebayanya. Mereka meributkan masalah siapa yang lebih superior. "I'm already 6 years old," kata si anak laki- laki dengan intonasi sebijak kura- kura keramat berusia 100 tahun.
Serafim yang masih berusia lima setengah tahun tidak mau kalah. "But I already have a wobly tooth!" balas Serafim penuh kemenangan. Tangan kecilnya menggoyang- goyangkan sebuah gigi depannya yang sudah mulai gondal gandul menunggu lepas. Si anak cowok cemberut kesal, jelas merasa kalah. Dia meraba- raba gigi geliginya yang oh sungguh sial masih terpasang erat di gusinya.
Saya menatap kedua bocah itu sambil mendesah kecewa. Sungguh generasi muda masa kini, menilai kesusksesan hidup dari jumlah gigi yang mulai goyang. Dan merasa bangga sekedar karena usia yang terpaut enam bulan lebih tua. Sungguh para balita bermasa depan gilang gemilang.
Serafim yang masih berusia lima setengah tahun tidak mau kalah. "But I already have a wobly tooth!" balas Serafim penuh kemenangan. Tangan kecilnya menggoyang- goyangkan sebuah gigi depannya yang sudah mulai gondal gandul menunggu lepas. Si anak cowok cemberut kesal, jelas merasa kalah. Dia meraba- raba gigi geliginya yang oh sungguh sial masih terpasang erat di gusinya.
Saya menatap kedua bocah itu sambil mendesah kecewa. Sungguh generasi muda masa kini, menilai kesusksesan hidup dari jumlah gigi yang mulai goyang. Dan merasa bangga sekedar karena usia yang terpaut enam bulan lebih tua. Sungguh para balita bermasa depan gilang gemilang.
Sebagai wanita yang sudah menempuh asam garam kehidupan hingga di usia yang menjelang pertengahan dua puluhan sekarang (uhuk), mendengar percakapan kedua bocah itu kok ya saya kebelet ingin berkomentar "Gini lho ya dikbro dan diksis, bahkan meskipun gigi kalian itu goyang semua secara bersamaan, toh ya tidak akan bisa dimasukkan sebagai daftar prestasi di CV kalian. Tidak ada calon bos yang akan tergerak untuk mempekerjakan seseorang hanya karena prestasi gigi rontok sebelum berumur enam tahun."
Anyhow, tentu saja saya tidak pernah terlibat kegiatan membanggakan peristiwa rontoknya gigi saya. Kebetulan di usia 6 tahun, saya sudah mempunyai kebijaksanaan yang melebihi anak- anak seumur saya. Plus urusan gigi goyang itu dulunya identik dengan pergi ke dokter gigi.Boro- boro mau nyombong, yang ada mules duluan karena takut.
Tetapi setelah selama beberapa menit berpikir- pikir, tampaknya saya juga sebetulnya pernah mengalami kekonyolan yang serupa. Sesuatu yang di masa lalu terasa sangat penting hingga layak untuk disombongkan dan menentukan harkat dan martabat sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi, eh ternyata di masa kini justru menjadi tidak berarti. Dulu layak diperjuangkan, dan sekarang saat diingat- ingat justru terasa layak ditertawakan.
Once upon a time, kira- kira dua setengah abad yang lalu, saya masih duduk di bangku SMP. Masih kurus dan jomblo. Dan rada kurang populer (sayangnya hal itu masih bertahan sampai sekarang xd). Pada masa itu, di kalangan para abege berseragam putih biru, merk dari pakaian yang kita pakai adalah persoalan hidup dan mati. Jauh lebih penting dari sekedar isu remeh semacam kelaparan di pedalaman Papua yang gagal panen atau Timor Leste yang lepas dari Indonesia.
Boleh saja sekedar memakai kaos oblong, tetapi merk kaosnya haruslah Billabong. Perkara kaos Billabong itu harganya 50 ribu rupiah sementara kaos- kaos lain sejenisnya hanya seharga lima belas ribu, justru menjadi sumber kekerenan. Perkara desain si kaos sebetulnya bukan selera gue banget (abstrak amburadul dengan warna- warna semuram kehidupan percintaan saya) tidak membuat saya keberatan untuk memakainya. Perkara potongan si kaos yang menyesuaikan dengan badan bule membuat seorang abege cewek Indonesia nan bungkring yang memakainya seperti tenggelam dalam gumpalan kain kafan, tidak menjadi masalah. Yang penting Billabong! Surfing kagak, yang penting berpakaian ala surfer. Tehehehe *ketawa ngenes.
Dan kemudian, sebagai hadiah ulang tahun, emak membelikan saya sebuah celana Billabong berwarna cokelat dengan pipa celana super lebar. Plus sebuah jaket hijau bergaris- garis yang sudah lama saya idamkan. Membuat saya terlihat seperti perkawinan silang antara buah sawo matang dengan ulat jambu. Tetapi tentu saja, saat saya bercermin, saya menatap bayangan dari makhluk paling keren sedunia. Oh, plus topi biru mbladhus dengan lambang Rip Curl paling besar yang bisa saya temukan di toko. Kalau saja di jaman itu sudah ada instagram, mungkin saya juga akan memajang video bobok- bobok siang di atas rumput lapangan upacara di sekolah saya sambil menjerit- jerit "I feel free!!!"
Boleh saja sekedar memakai kaos oblong, tetapi merk kaosnya haruslah Billabong. Perkara kaos Billabong itu harganya 50 ribu rupiah sementara kaos- kaos lain sejenisnya hanya seharga lima belas ribu, justru menjadi sumber kekerenan. Perkara desain si kaos sebetulnya bukan selera gue banget (abstrak amburadul dengan warna- warna semuram kehidupan percintaan saya) tidak membuat saya keberatan untuk memakainya. Perkara potongan si kaos yang menyesuaikan dengan badan bule membuat seorang abege cewek Indonesia nan bungkring yang memakainya seperti tenggelam dalam gumpalan kain kafan, tidak menjadi masalah. Yang penting Billabong! Surfing kagak, yang penting berpakaian ala surfer. Tehehehe *ketawa ngenes.
Dan kemudian, sebagai hadiah ulang tahun, emak membelikan saya sebuah celana Billabong berwarna cokelat dengan pipa celana super lebar. Plus sebuah jaket hijau bergaris- garis yang sudah lama saya idamkan. Membuat saya terlihat seperti perkawinan silang antara buah sawo matang dengan ulat jambu. Tetapi tentu saja, saat saya bercermin, saya menatap bayangan dari makhluk paling keren sedunia. Oh, plus topi biru mbladhus dengan lambang Rip Curl paling besar yang bisa saya temukan di toko. Kalau saja di jaman itu sudah ada instagram, mungkin saya juga akan memajang video bobok- bobok siang di atas rumput lapangan upacara di sekolah saya sambil menjerit- jerit "I feel free!!!"
Atau contoh lainnya, adalah kegandrungan akan celana jeans merk Guess. Demi lambang segitiga di bagian bokong si celana, saat akhirnya saya mempunyai sepasang celana jins berwarna hitam bermerk itu (kebetulan ada diskon besar- besaran, sehingga celana itu terjangkau oleh kantong saya yang cekak), saya memastikan bahwa saya selalu memasukkan kaos saya ke dalam celana. Bukan, saya bukan ingin pamer keseksian bokong atau perut yang serata para pengungsi Afrika. Saya hanya mau pamer si segitiga itu!
Kalau mengingat segala 'tragedi' mode di jaman SMP itu, benar- benar musibah rasanya. Malu, eyke malu cin.... Merasa harga diri melambung hanya gara- gara sebentuk segitiga di bokong celana. Kalau memang lambang segitiga itu sedemikian pentingnya, kenapa nggak sekalian saja ya saya dulu membuat kaos dari karung terigu segitiga biru?
Saya juga merasa 'galau' saat mendengar kisah tentang seorang anak cewek yang kebetulan tidak terlalu saya sukai, dan eh sialnya si anak cewek ini ternyata kabar beritanya mempunyai selemari penuh baju bermerek keren. "Nggak banyak sih bajunya, tapi semuanya Billabong, Oakley, Esprit, bla bla bla," kata si pewarta berita. Saya manyun dengki mendengarnya. Telinga memerah dan hati mendidih.
Dan bahkan pernah juga saya merasa sakit hati saat beberapa anak cewek remaja 'gaol' berkomentar bahwa celana jins yang saya pakai mengingatkan mereka pada celana jins yang dipakai mas- mas tukang bangunan. Merk palsu. Note: tampaknya waktu itu saya memakai celana jins bermerk palsu tanpa saya sadari. Masih buta mode ceritanya. Dan tentu saja kesalahan terbesar dalam sejarah peradaban manusia itu tidak luput dari mata elang para fashion police haram jadah itu.
Setelah melewati masa remaja yang penuh haru biru nan syahdu itu, tampaknya seperti kebanyakan orang yang normal, sumber kebanggaan dalam hidup saya mulai agak bergeser. Materi tentu saja masih penting juga, tetapi sudah tidak menjadi perkara hidup mati. Di kala SMA, saat saya memakai sepatu olahraga dengan merk Nike atau Reebok, masih ada rasa bangga saat ada anak lain yang mengaguminya. Di kala baru menjadi pegawai anyaran, kemampuan untuk bisa memegang segelas Frapucino bermerk Starbuck di tangan masih sedikit banyak mengerek rasa bangga. Biarpun bertampang mirip Walrus, tapi minumnya ala Miley Cyrus!
Pelan- pelan, kebanggaan diri kemudian bergeser bukan lagi pada kepemilikan materi semata, tetapi pada pencapaian. Berapa tinggi IPK saya, dimana saya diterima bekerja, keberhasilan dipromosikan menjadi manager dan seterusnya sekarang menjadi sumber 'harga diri.' Rasanya bangga saat diterima bekerja di perusahaan yang bonafid. Rasanya bangga saat ditunjuk untuk memimpin suatu proyek. Rasanya bangga saat mengikuti sebuah pelatihan dengan peserta dari banyak perusahaan berbeda, dan meraih ranking pertama (iya, ranking ala anak SD xd).
Gara- gara masalah gigi copot si Apim cilik, saya jadi berpikir. "Iya, ya, kebanggaan diri itu memang salah satu sifat bawaan orok. Kita memang terlahir dengan sifat itu. Yang melahirkan ambisi. Yang membuat manusia sekarang menghasilkan peradaban yang jauh lebih modern dibandingkan dengan peradaban para manusia gua Trinil, sementara para lumba- lumba masih saja berenang- renang di lautan sama seperti yang sudah mereka lakukan ratusan tahun lamanya.
Dan mengingat bahwa sampai di level SMP dan bahkan hingga saat inipun toh saya masih juga memiliki keinginan untuk berbangga diri, yah memang tampaknya Serafim butuh bertumbuh dan 'merasakan' sendiri sebelum pada akhirnya, someday in the future, menyadari bahwa "OMG, membanggakan gigi yang goyang itu sama kerennya dengan memamerkan bulu ketek yang memanjang."
Saya membayangkan bagaimana bila dulu dulu emak saya, yang pastinya rada enek juga dulu melihat penampilan saya yang bak makhluk kurang menyan, mengkritik pedas dan 'mencibir' perilaku saya yang Billabong maniac. Saya yakin nasehatnya tidak bakal mampu menembus batok kepala seorang abege yang tebal bin bebal. Paling- paling saya dengan sebal menggerutu "Ah tahu apa si emak soal gaya hidup metropolis ala kawula muda!"
Setelah merenung, saya memutuskan untuk membatalkan rencana mengguncang- guncang pundak Serafim sambil meratap histeris "Sadar nduk, sadar, hidup itu hanya sementara! Jangan bikin malu nenek moyangmu dengan meributkan soal gigi yang goyang!"
Saat menengok ke masa lampau, saya menemukan bahwa kebanggaan ataupun kegalauan akan harta benda seperti kaos billabong dan kopi Starbuck ternyata selalu berubah menjadi semacam 'lelucon' bagi diri saya di masa kini. Bangga sekedar karena menenteng tas bermerk Michael Kors? Kok ya di masa kini jadi terasa menyedihkan. Dan merasa dunia akan kiamat karena tidak berhasil membeli celana jins Guess? Oh teenager Mega, you were so helpless -_-. Nggak heran saya sulit jodoh.
Sementara itu, kebanggaan akan pencapaian semacam berhasil diangkat menjadi business manager di perusahaan tempat saya bekerja dulu ternyata juga tidak bertahan lama. Bukannya saya malu atau merasa konyol karena memiliki kebanggaan itu sih (tidak seperti kasus kaos Billabong tadi), tetapi 10 tahun kemudian toh rasa bangga itu sudah sirna. Biasa saja tuh. Dan sebaliknya, kegagalan untuk masuk fakultas idaman yang di masa lampau cukup membuat saya termehek- mehek, eh sekarang tidak ada jejak bekas penyesalannya lho di otak saya! Mungkin karena saya toh akhirnya mengalami sendiri bahwa hidup itu tidak hanya menyediakan satu jalur saja. Kalau tidak lewat jalur itu, kamu bakal gagal merana masuk neraka! Enggak lho, hidup ini kok ya ternyata baik- baik saja meskipun jalur hidup saya melenceng jauh dari angan- angan masa muda.
Saya kemudian bertanya pada rumput yang bergoyang ngebor, apabila celana Guess ataupun kegagalan masuk fakultas idaman tidak menimbulkan penyesalan bagi saya di masa kini, lalu apa dong yang rasanya masih akan saya ingat dengan sisa penyesalan? Jawab si rumput "emang lu pikir gue Mario Teguh apa, disuruh mikir begituan?"
Ternyata, ada dua kejadian yang masih menimbulkan penyesalan di diri saya. Dan kedua- duanya adalah saat saya memutuskan untuk diam disaat seseorang membutuhkan 'bantuan' saya. Yang pertama, saat simbah buyut saya yang sedang menginap di rumah saya berkata dia ingin juga makan bakso seperti yang sedang saya makan. Saya berkata "Itu abangnya lagi muterin kompleks. Tunggu aja mbah, nanti kan muter lagi depan rumah." Dan kemudian saya tidur siang. Dan bangun satu jam kemudian untuk melihat simbah tua saya masih berjongkok di depan pintu rumah dengan mangkok kosong di tangannya.
Penyesalan lainnya adalah mengenai seorang anak baru di pelajaran agama kala SMA dulu. Saat kami mengikuti misa bersama anak- anak dari SMA yang lain, si anak baru mengikuti saya terus. Dan kemudian, sesudah kami duduk berdampingan, saya melihat gerombolan geng saya duduk di bangku yang lain. Dengan enteng saya berkata "Eh, aku kesana sebentar ya, kamu duduk sini aja." dan berlari meninggalkan si anak baru yang jelas bukan tipe Miss Congeniality duduk sendirian di deretan bangku terdepan di gereja. Saya masih ingat tatapannya ke saya, saat saya melirik kearahnya dari deretan bangku dimana saya sibuk senggol- senggolan bersama- teman- teman saya. Tetapi tentu saat itu saya terlalu sibuk merasa keren untuk mau ambil pusing akan tatapan memohon si anak baru.
Kata pepatah, What I regret most in my life are failures of kindness.
Setiap kali saya ingin berbangga atau bersedih banget- banget atas sesuatu hal, semoga si gigi goyang akan jadi pengingat saya. Jangan norak ah, jangan sampai 10 tahun lagi mengingat hal ini sambil tutup muka karena malu xd.
Note: dan tentu saja selalu lebih mudah mengatakan daripada melakukan. Beberapa bulan lalu saya membeli mobil baru. Terdorong hasrat ingin 'berbagi kegembiraan', saya mulai memasang foto- foto si mobil baru di facebook. Tentu saja agar terhindar dari tuduhan tukang riya, saya memasang Serafim sebagai cameo. Jadilah selama beberapa waktu foto Serafim dengan berbagai gayanya (di dalam mobil dengan sudut pengambilan foto yang jelas memperlihatkan atap mobil yang dari kaca) berseliweran di halaman fesbuk saya. Dengan berdebar- debar saya menanti saatnya seseorang menyadari bahwa SAYA ITU BARU BELI MOBIL EUY. Tunggu punya tunggu, tidak ada satu makhlukpun yang sadar. Semua hanya sibuk mengomentari Sera nya. Who cares about Sera! Pay attention to my goddamn new car people!!! *punya temen kok ya rabun ayam semua, nggak sadar ada barang baru -_-
![]() |
| Kurang jelas gimana sih kalau saya itu niatnya mamerin eh menunjukkan atap keren mobil saya!! |
