Puluhan tahun yang lalu, di jaman saya masih muda belia penuh pesona, saya dan seorang teman sedang duduk nongkrong sambil menunggu siomay kami selesai diracik si abang. Ah, memang tidak ada siomay seenak siomay abang- abang. Yang tercipta dari sekarung tepung, seember MSG (plus dua gram daging sapi) dan disiram dengan saus kacang berpewarna tekstil. Bang siomay, nikahi aku bang! Nikahi aku!
Duduklah kami berdua diatas bangku kayu yang langsung berkeriut saat menerima beban bokong kami masih bungkring. Duduk manis di samping sebuah ember plastik kecil berisi air dan gumpalan plastik yang akan dipakai si abang untuk membersihkan piring yang kami pakai. Celup celup air, gosok- gosok sejenak dengan gumpalan plastik, dan TADAAA piring siap kembali digunakan oleh pelanggan berikutnya. Memang benar kata pepatah, apa yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu. Atau memberimu muntaber.
Teman saya meraih telpon genggamnya, Nokia legendaris yang konon saking kuatnya bisa menahan peluru. "Halo ma, aku mau nonton bioskop sama Mega ya. Agak telat pulangnya," kira- kira begitu kata- kata teman saya.
Kemudian, mungkin karena wajah teman saya yang manis dan baik hati, seorang ibu sepuh yang sedang duduk menunggu angkot di samping kami mengajaknya bercakap- cakap. "Tadi nelpon orang tuanya ya Mbak?" tanya si ibu. "Wah kamu anak baik ya," lanjut si ibu. "Nggak kayak anak saya, jarang banget telpon." Dan mengalirlah cerita si ibu bahwa di masa tuanya ini, dimana ia ingin disayang, diperhatikan dan dilayani anak dan cucunya, eh justru si anak jarang datang. Selalu sibuk. Tidak punya waktu bagi kedua orang tuanya yang sudah sepuh dan kesepian. Cucu- cucunya pun sama saja, sibuk les ini itu. Mana mau menyempatkan diri menelepon neneknya.
Duduklah kami berdua diatas bangku kayu yang langsung berkeriut saat menerima beban bokong kami masih bungkring. Duduk manis di samping sebuah ember plastik kecil berisi air dan gumpalan plastik yang akan dipakai si abang untuk membersihkan piring yang kami pakai. Celup celup air, gosok- gosok sejenak dengan gumpalan plastik, dan TADAAA piring siap kembali digunakan oleh pelanggan berikutnya. Memang benar kata pepatah, apa yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu. Atau memberimu muntaber.
Teman saya meraih telpon genggamnya, Nokia legendaris yang konon saking kuatnya bisa menahan peluru. "Halo ma, aku mau nonton bioskop sama Mega ya. Agak telat pulangnya," kira- kira begitu kata- kata teman saya.
Kemudian, mungkin karena wajah teman saya yang manis dan baik hati, seorang ibu sepuh yang sedang duduk menunggu angkot di samping kami mengajaknya bercakap- cakap. "Tadi nelpon orang tuanya ya Mbak?" tanya si ibu. "Wah kamu anak baik ya," lanjut si ibu. "Nggak kayak anak saya, jarang banget telpon." Dan mengalirlah cerita si ibu bahwa di masa tuanya ini, dimana ia ingin disayang, diperhatikan dan dilayani anak dan cucunya, eh justru si anak jarang datang. Selalu sibuk. Tidak punya waktu bagi kedua orang tuanya yang sudah sepuh dan kesepian. Cucu- cucunya pun sama saja, sibuk les ini itu. Mana mau menyempatkan diri menelepon neneknya.
Saya ikut menggeleng- gelengkan kepala tanda bersimpati. Gimana sih tuh anak- anak durhaka? Apa susahnya nelpon emak mereka? *lupa kalau dirinya sendiri jarang nelpon emak.
Setelah saya menikah dan mempunyai anak, kisah- kisah mengenai orang tua yang tidak bahagia di masa tuanya menjadi semakin sering saya dengar. Seiring berlalunya waktu, beberapa cerita itu bahkan saya dengar dari orang- orang yang saya kenal cukup dekat, bukan sekedar dari seorang asing di warung siomay pinggir jalan. Teman saya, saudara, dan bahkan ada yang pernah menyangkut diri saya sendiri. Dan membuat saya merenung, ternyata begitu banyak orang yang tidak bahagia di masa tuanya. Kisah yang paling umum adalah sekedar menelepon pun jarang. Berkunjung pun jarang- jarang. Terlalu sibuk dengan hidupnya, pekerjaannya.
Membaca semua status di facebook, mendengar sendiri kisah dari para orang sepuh yang merasa tidak bahagia karena merasa diabaikan oleh anak- anak mereka, saya memperhatikan kedua telapak tangan saya yang sudah mulai berkeriput. Apakah kelak saya juga akan seperti mereka? Yang tampak tidak berbahagia, kesepian, terabaikan. Yang menghabiskan masa sepuh mereka dengan mengeluhkan keadaan, menceritakan kisah sedih mereka bahkan kepada seorang anak muda asing yang sedang makan siomay berperwarna tekstil. Yang mengeluhkan persendian mereka yang membengkak rematik dan katarak yang menggila.
Dan saya rada- rada deg- degan juga jadinya. A bit scared.
Saya bertanya- tanya apakah seperti itukah saya kelak saat beranjak tua? Kesepian, merasa diabaikan, merasa terkurung di dalam tubuh yang mulai renta, dan setiap detik melihat kearah layar handphone untuk mengecek apakah Serafim menelepon saya.
Bulan lalu, saya ditempatkan sebagai tenaga bantuan di salah satu sudut rumah sakit. Saya bekerja bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak bisa disebut 'menyenangkan'. Dia membenci pekerjaannya tetapi terperangkap dalam pekerjaan itu. Mendengarkan ia berbicara adalah mendengarkan rentetan kepahitan di tempat kerja; bos yang menyebalkan, pekerjaan yang tidak menantang yang 'seekor monyet saja bisa mengerjakan', dan standar janda eh ganda yang berlaku. Yang membuat saya teringat sebuah quote "If you don't like where you are, move. You are not a tree."
Sambil mendengarkan keluh kesah Doris (sebut saja namanya itu), saya memperhatikan dinding di tempat kerjanya yang dipenuhi tempelan foto yang saya asumsikan adalah foto anggota keluarganya. Saya bertanya tentang foto- foto tersebut dan to my amazement, raut wajahnya berubah drastis. Wajahnya melembut, senyumnya tersungging dan dengan suara yang hangat ia mulai bercerita. Tentang anak perempuannya Charlotte yang bekerja di sebuah kota kecil berjarak dua jam perjalanan dari Melbourne, tentang anak laki- lakinya dan menantunya yang mempunyai seorang balita chubby berusia tiga tahun. Tertarik (plus daripada harus mendengarkan keluh kesahnya soal pekerjaan), saya dengan senang hati melanjutkan bertanya.
Tanpa perlu usaha keras untuk membuatnya bercerita, dalam tempo singkat saya tahu bahwa setiap bulan, kalau jadwal kerja Charlotte memungkinkan, ia akan datang ke Melbourne dan mereka berdua akan menghabiskan hari dengan pergi ke kota, having brunch (makan di jam nanggung. Telat untuk sarapan tapi kepagian untuk makan siang) atau berbelanja. Dan karena Charlotte akan menikah, maka kesibukan mereka bertambah dengan berburu baju pengantin dan pernak pernik acara bersama. Sementara kisah dengan anak cowoknya lebih banyak adalah kisah mengenai si cucu kecil. Josh sekarang sudah bisa begini, nanti hari sabtu akan datang dan mau bikin cupcake bareng, dst dst.
"You seem very close to your daughter," celetuk saya.
"I do," jawab Doris
"And you seem to be Josh's favorite grandma,"
"I think so," jawabnya sambil tertawa. Jelas senang.
Mata saya bercahaya. Kalau orang yang menyebalkan seperti dia saja bisa memiliki hubungan yang hangat dengan anak- anaknya, masih sering bertemu dan berkomunikasi, tidak merasa tersia- sia dan terisolir, berarti saya masih mempunyai harapan! Gini- gini saya kan 11 12 sama si teman yang hobi ngomel itu xd.
Jadilah saya tekun mendengarkan kisahnya. Kebetulan saya diperbantukan selama sebulan lebih disana. Berhubung saya juga memiliki satu anak perempuan, maka saya antusias bertanya mengenai fakta bahwa teman saya ini masih secara rutin menghabiskan waktunya untuk berakhir pekan dengan anaknya. "How come?"
1. Miliki TRADISI
"Kamu harus membangun rutinitas itu semenjak mereka kecil. Nggak bisa kalau kamu berharap saat mereka sudah bekerja, dan tahu- tahu kalian akan mempunyai rutinitas pergi keluar, jikalau hal itu tidak pernah kalian lakukan sebelumnya," kata Doris.
Ia berkisah bahwa sejak dulu ia berusaha mempunyai waktu spesial dengan masing- masing anaknya, terutama anak perempuannya. Setiap hari Rabu, sepulang sekolah, mereka akan pergi ke sebuah kafe kecil dan membeli es krim dan muffin. Dan hal kecil itu menjadi pondasi untuk hubungan yang terus hangat hingga sekarang. Tradisi.
Berhubung saya dan suami bekerja nyaris full time, saya agak galau juga masalah mempunyai tradisi ini. Gimana caranya ya punya tradisi? Tetapi kemarin Sera berkata bahwa hari kamis adalah 'my lucky day." "Kenapa?" tanya saya. "Karena mummy and I bisa makan sushi dan beli Cha time di shopping center," katanya.
Oalah. Sementara saya berpikir ingin memiliki tradisi pergi ke kafe kecil yang cantik, minum baby chino dan makan cheese cake strawberry (pokoknya tradisi yang instagramable deh), sekedar pergi ke toko sushi di pojokan pasar sambil minum bubble tea sebelum berenang itu sudah cukup membuat Sera mendaulat sebagai her lucky day. Note: makan sushi disini bukan barang mewah seperti di Indonesia. Satu gulung sushi seharga dua dolar sudah cukup mengenyangkan.
Jadilah saya merubah strategi. Tadinya seringkali saya membeli sushi dan bubble tea duluan karena menghemat waktu. Tahu sendiri kan kalau membeli sesuatu dengan mengajak anak, bisa membutuhkan waktu tiga kali lipat karena Sera merasa perlu melompat kesana kemari dulu, ndeprok di sono dulu, lihat- lihat boneka elsa yang dipajang dan sebagainya. Toh intinya Sera tetap dapat sushi dan bubble tea favoritnya. Tetapi ternyata pergi berdua ke warung sushi, memilih sushi yang dia mau, dan kemudian duduk di pojokan sambil menyesap bubble tea itu can be count as a tradition juga. Dan memang pada saat itu Sera akan bercerita banyak mengenai teman- temannya, mengenai gurunya dan pelajarannya.
Small little things can be a basic foundation for a long life warm tradition. Tidak usah memikirkan some grandiose tradition seperti berski bersama di lereng pegunungan alpen setiap musim dingin. Kalau ada yang saya pelajari dari liburan bersama anak, mereka tidak ambil pusing apakah diajak berenang di kolam kecil di kecamatan sebelah atau kolam air panas di Iceland. Selama mereka diajak berenang dan orang tuanya ikut, that's fine by me mummy.
Yang kedua, jangan pernah take it for granted. "Ketika aku pergi keluar dengan Charlotte, kami selalu share the bill. Kalau ke restoran ya bergantian membayar. Dan kemarin kami pergi ke Sydney liburan berdua, girls only. Ya kami berbagi billnya. Dia membayar penginapan dan makan, aku membayar tiket pesawat dan transport disana. It works very well for us."
Bukan berarti semua harus 50: 50. Tetapi menurut Doris, hanya karena sewaktu anaknya kecil dahulu, ialah yang harus selalu membayar saat mereka berlibur (ya iyalah, anak enam tahun mah paling- paling punya duit 2 dolar doang), bukan berarti sekarang adalah saatnya anaknya yang harus membayar semua biaya saat mereka keluar. "Kalau aku ingin dia sekarang nyaman pergi denganku, ya aku harus menempatkan diriku sebagai teman. Dan tidak pernah persahabatan bisa langgeng saat uang menjadi kendala. Kalau Charlotte merasa ia harus selalu membayariku saat makan di restoran atau berlibur, ia akan merasa itu sebagai beban. Dia kan juga sedang butuh uang. Dia akan menikah, menabung untuk membeli rumah."
Saya mencoba menangkap apa yang Doris katakan. Lebih dari sekedar berbagi bill (sesuatu yang secara wajar kita lakukan saat bersama teman), there's something deeper than that. Paradigma. Saya merasa bahwa Doris tidak berpikir bahwa "I have done everything for you, now it's time to payback."
"Lalu bagaimana kalau Charlotte sibuk? Apa kamu berharap tiap minggu dia akan datang?" tanya saya, teringat keluhan banyak orang tua bahwa anak mereka jarang mengunjungi. Bertemu sebulan sekali tampaknya rada- rada gimana gitu.
2. Don't COMPLAINT all the time
Dengan serius Doris menjawab "The more you nag your kid about how they don't spend enough time with you, the more unlikely they will come. Aku selalu berusaha mengerti bahwa dia sibuk, dia bekerja lima hari seminggu dan waktu luangnya hanyalah di akhir pekan. Dan dia harus membaginya dengan mengerjakan laundry, bertemu teman- temannya, mengantar mobil ke bengkel atau sekedar tidur seharian karena capek. Belum lagi kalau dia punya pasangan dan anak. Kamu ajalah, kan masih muda. Gimana sibuknya sih kamu?"
Yang dilakukan Doris, dia akan mengirim pesan singkat ke anaknya, sekedar bertanya bagaimana kabarnya atau menelepon singkat dan every now and then dia akan menyetir ke kota kecil tempat anaknya bekerja, dan kemudian mereka berdua akan makan siang bersama.
"Aku nggak suka nyetir," kata Doris. "Tapi ya I'll do it biar bisa ketemu Charlotte."
We can't force our kids to spend time with us. We have to make them want to spend time with us. Mengomel serta mengeluh bahwa anak kita tidak memperhatikan kita, mengabaikan kita, is one sure ticket to make them even more reluctant.
Di sebuah artikel di majalah wanita yang saya baca di rumah sakit (majalah yang seharusnya diperuntukkan bagi para pasien sementara karyawan rumah sakit seharusnya terlalu sibuk bekerja), dikisahkan seorang ibu sepuh mengeluhkan anaknya yang tidak pernah menelepon. Jarang sekali. Paling sebulan sekali. Si ibu ini kesepian, hatinya terluka karena ketidakacuhan anaknya. Mirip status di facebook yang biasanya diakhiri pesan agar kita tidak mengabaikan orang tua kita.
Hanya bedanya di artikel ini, si penulis mengupas juga dari sudut pandang si anak. Karena setiap cerita selalu mempunyai dua sisi kisah.
Begini penuturan si anak. Karena si ibu sekarang sudah tidak bekerja dan tidak bergabung dengan klub apapun, ia tidak lagi mempunyai kegiatan. Tidak lagi mempunyai teman atau komunitas where she belong. Jadilah ia kesepian. Dan dalam kesepiannya, telepon dari anaknya adalah salah satu caranya mengusir perasaan terisolasinya.
Akibatnya? "Setiap saya menelepon Ibu, itu berarti saya harus meluangkan waktu paling tidak dua jam karena ia ingin mengobrol panjang lebar. Tidak mungkin memutus pembicaraan dengannya. She'll go on and on. And I really don't have time to talk for 2 hours everyday. Saya punya dua anak balita dan saya bekerja shift. Saat menelepon ibu, saya ingin menyapanya dan menanyakan kabarnya, tapi saya tidak memiliki kemewahan waktu luang untuk bisa mengobrol panjang lebar berjam- jam setiap hari. Dan ia akan menjadi marah bila saya berkata saya sibuk dan tidak bisa mengobrol panjang."
Jadilah si anak semakin jarang dan jarang menelepon. Dan saat ia mengurangi frekuensi meneleponnya, jadilah si ibu semakin menuntut. Setiap percakapan telepon selalu dimulai dengan rentetan keluhan dan kesedihan. Dan bak lingkaran setan, si anak semakin enggan menelepon.
And let's just face it. Tidak ada orang yang suka terus menerus mendengarkan keluhan dari orang lain. Suatu kali, sehabis mengunjungi seorang kerabat, Emak saya menghela nafas panjang dan berkata "Rasanya capek tiap dari rumah Bude."
Saya berpikir, iya ya, somehow tanpa saya sadari saya tuh selalu merasa enggan untuk mengunjungi kerabat kami yang ini, tanpa tahu apa alasan dibalik keengganan saya itu. Dan gara- gara komentar Emak saya yang sambil lalu, saya menyadari hal tersebut dikarenakan selama percakapan kami, beliau selalu dan selalu mengeluhkan hidupnya, anak- anaknya, sakitnya, suaminya dan entahlah apa yang lain. Hidup ini sudah berat, tanpa harus mendengarkan seseorang constantly reminding us how hard life is.
Buatlah anak kita senang bertemu dengan kita, sama seperti kita menanti- nantikan acara buka puasa bersama dengan teman SMA. Apabila bertemu saya terasa seperti kewajiban dan membalas budi semata, apa bedanya dengan melakukan upacara bendera setiap Senin? Siapa sih yang suka? *eh mungkin ada ya :P. I know I have to, but not looking forward to it.
3. BERSOSIALISASI
Our kid is our whole life. Unfortunately, we are not their whole universe. Pesan itu yang saya tangkap dari Doris, saat ia berkata bahwa anaknya memiliki banyak teman, ada pacar dan seabrek kegiatan.
Sejak Sera masuk sekolah, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah her whole universe anymore. Ada Elisha dan Ellen, Mrs Das dan Sebastian yang mulai mengambil porsi orang tuanya. Dia mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama komunitasnya sendiri. Dan saya bahagia. Tidak ada kelegaan yang lebih besar daripada disaat engkau menjemput anakmu di sekolah, dan dia meminta waktu sebentar lagi untuk bermain bersama temannya. She has friends. She is happy. She is accepted by her friends. Sera selalu berlari menyongsong saya sambil membuka tangannya untuk memeluk. Tetapi sambil membenamkan kepala kecilnya di pelukan saya, dia akan berkata "Mummy, I need 5 more minutes to play with Elisha."
Saat ini sih saya tidak keberatan dengan segala kesibukannya Sera. Saat ia menerima undangan playdate di rumah salah satu temannya, hati ini bersorak girang. Yes! Empat jam bebas dari anak pesut! Bisa bersih- bersih rumah atau sekedar nonton bioskop sama bapak pesut. Tetapi kelak, disaat saya sudah tua dan pensiun, jangan- jangan kesibukan Sera akan menjadi hal yang menyedihkan bagi saya. Kenapa kamu gak menghabiskan tiap waktu luangmu dengan emakmu Ser????
Dulu, jaman Sera masih belum sekolah, saya sempat membawanya ke playgroup. Kebanyakan playgroup di Melbourne tidak memungut biaya atau hanya sekedar memungut biaya administrasi. Playgroup- playgroup ini bisa bertahan karena bantuan para sukarelawan. Playgroup tempat saya membawa Sera dulu terletak di sebuah gedung gereja dan yang menyelenggarakan adalah para sukarelawan jemaat gereja tersebut. Ada satu orang koordinator yang masih berusia empat puluhan, tetapi selebihnya personel penyelenggara playgroup itu adalah para simbah- simbah dengan rambut seputih salju dan senyuman secemerlang mutiara. Mereka bertugas menyiapkan ruangan bermain, secara bergiliran menyediakan morning tea, membacakan cerita dan memimpin acara bernyanyi serta memutuskan mainan apa yang akan dikeluarkan setiap harinya.
And they were a bunch of happy grandmas.
Tidak pernah saya mendengar mereka mengeluh, Selalu tersenyum. Bahkan saat bercerita kalau ia harus pelan- pelan berjalan karena baru saja menjalani operasi knee replacement karena dengkul yang soak termakan usia. Mereka bercakap- cakap dengan para ibu- ibu yang menunggui anak mereka, membacakan cerita bagi para krucil dan merapikan serta mengelap mainan yang habis dipakai. Mereka rapi dan wangi.
Mengingat sekelompok simbah ini, membuat harapan saya tumbuh. They were definitely happy. Mungkin salah satu alasannya adalah karena kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang butuh untuk merasa dibutuhkan. Selama tiga hari dalam seminggu, para simbah ini akan meluangkan waktunya menjadi sukarelawan. Dengan menjadi sukarelawan selama beberapa jam saja setiap harinya, mereka bisa merasa memiliki komunitas dan bisa bercengkerama dengan orang dewasa lainnya. Saat bangun di pagi hari, mereka memiliki purpose of life. "I have to run the playgroup, so I will need to have shower, tidying up and go somewhere."
Jadi ya, bila disaat muda kita disibukkan dengan mengurus anak dan pekerjaan yang menyita waktu, menjelang masa pensiun rasanya sangatlah penting untuk mulai memikirkan kegiatan bersosialisasi yang akan kita lakukan di masa pensiun.
Dan anak kita memang akan sibuk. Sibuk dengan karirnya, sibuk dengan anak- anaknya, sibuk mencari waktu untuk bisa bercengkerama dengan pasangannya. Bukan sok sibuk. Tetapi memang sibuk.
Dan belajarlah menyetir sekarang! Tidak ada yang lebih menyebalkan di hari tua daripada harus tergantung ke orang lain untuk sekedar mengantarkan ke penjahit. Dan kalau Sera nanti ternyata bakalan rada- rada mirip dengan adik saya, maka saya bakal sakit hati berkelanjutan kalau berharap ia akan mempunyai waktu untuk mengantar saya kesana kemari.
4. Be Kind To Our Grandkids (And Their Mum's Rules)
Sementara kisah dengan si anak perempuan adalah kisah kedekatan antara mum and daughter, Doris mengakui bahwa kedekatan yang sama tidak ia rasakan dengan anak laki- lakinya. Dengan legowo ia berkata bahwa tentu saja anak laki- lakinya akan lebih condong pada keluarga istrinya. Itu sudah hukum alam. Apa yang ia lakukan? Ia biasanya menawarkan untuk menjaga Josh di akhir pekan (tidak setiap akhir pekan) atau di malam hari, dan memberi kesempatan pasangan muda yang exhausted ini untuk bersantai. "They can just watch movie or have dinner while I have Josh."
Merasakan sendiri bagaimana demandingnya hidup sebagai pasangan (yang tidak terlalu muda lagi), uluran tangan semacam itu serasa angin surga. Kalau emak saya kebetulan sedang di Melbourne, saya dan Okhi akan sigap menunggu Sera tertidur dan kami akan mengendap- endap menuju mobil, dan menonton any cheesy movie we can find. Bodo amat dengan kualitas filmnya, pokoknya kami bisa nonton di bioskop.
Sebete- betenya seorang menantu pada mertuanya (yang umum terjadi), mereka akan sukarela mengalah bila anak mereka mencintai nenek kakeknya. Sebete- betenya menantu ke mertuanya, mereka akan bersedia datang dan datang lagi untuk makan malam bersama dan berkunjung, apabila mereka merasa bisa mempercayakan anak- anak mereka di tangan kakek neneknya. Apabila mereka melihat bahwa anak mereka bahagia saat berada bersama kakek neneknya.
"Kamu tahu cara yang efektif untuk bertemu anak- anakmu? Terutama yang sudah punya anak kecil?" tanya Doris sambil menyeringai.
Saya menggeleng.
"Undang barbekyu atau makan malam. Dan sediakan mainan yang banyak untuk cucumu. Dan biarkan anak- anakmu menikmati makan malam mereka dengan damai sementara kamu menemani the little ones makan."
It's all about making them love coming to your house. Be a fun granny for the grandkids.
Golden rule dalam berurusan dengan cucu: hargai aturan dari ibu mereka. Kelak saya harus bertanya ke Sera, hal- hal fundamental apa yang harus saya terapkan ke cucu saya saat mereka menginap di rumah saya. Kami harus bernegosiasi dan setuju dengan 'acceptable rule'. Tidak boleh makan mi instan sama sekali tetapi boleh makan dua lolipop di rumah simbah. Boleh dapat HANYA satu mainan baru setiap minggu. Harus sudah mandi sebelum nonton TV tapi boleh tidur telat kalau di rumah simbah. Dan hal terburuk yang bisa dilakukan? Menentang emak si bocah atau mengkritik gaya parentingnya. Terimalah dengan lapang hati bahwa itu adalah daerah kekuasannya.
Sounds not fair? Setelah semua jerih payah, air mata dan darah yang kita curahkan untuk membesarkan anak kita? Setelah semua uang yang tercurah untuk membiayai pendidikannya? Setelah puluhan malam tanpa tidur yang layak saat si anak muntaber? Setelah semua pengorbanan yang kita lakukan bagi anak kita? Kok ya masih harus berusaha agar anak kita senang bertemu dengan kita.
Well, we are parents. Seperti sebait lirik lagu, Hanya Memberi, Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia.
| Tidak ada yang saya harapkan to get it back from her. Satu-satunya harapan adalah agar ia berbahagia, be a kind hearted woman dan mencintai anak- anaknya kelak. Just as much as I love her. |
Note: Ini note bagi diri saya untuk mempersiapkan masa tua dengan anak gadis saya. Don't be an asshole dan menuntut orang tua kita untuk menjadi fun grandparents, menyalahkan mereka kalau sering mengeluh atau karena tidak bisa menyetir dan merepotkan. Learn from their wisdom (and their shortcoming) and prepare ourselves to be the better one. And why not start the small little tradition with our mum? Bring her to small cafe once a month, just the two of you. Be the bigger person.