Monday 1 August 2016

Monday Note -- Menua Dengan Bahagia (Catatan Untuk Diri Saya)

Puluhan tahun yang lalu, di jaman saya masih muda belia penuh pesona, saya dan seorang teman sedang duduk nongkrong sambil menunggu siomay kami selesai diracik si abang. Ah, memang tidak ada siomay seenak siomay abang- abang. Yang tercipta dari sekarung tepung, seember MSG (plus dua gram daging sapi) dan disiram dengan saus kacang  berpewarna tekstil.  Bang siomay, nikahi aku bang! Nikahi aku!

Duduklah kami berdua diatas bangku kayu yang langsung berkeriut saat menerima beban bokong kami masih bungkring. Duduk manis di samping sebuah ember plastik kecil berisi air dan gumpalan plastik yang akan dipakai si abang untuk membersihkan piring yang kami pakai. Celup celup air, gosok- gosok sejenak dengan gumpalan plastik, dan TADAAA piring siap kembali digunakan oleh pelanggan berikutnya. Memang benar kata pepatah, apa yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu. Atau memberimu muntaber.

Teman saya meraih telpon genggamnya, Nokia legendaris yang konon saking kuatnya bisa menahan peluru. "Halo ma, aku mau nonton bioskop sama Mega ya. Agak telat pulangnya," kira- kira begitu kata- kata teman saya.

Kemudian, mungkin karena wajah teman saya yang manis dan baik hati, seorang ibu sepuh yang sedang duduk menunggu angkot di samping kami mengajaknya bercakap- cakap. "Tadi nelpon orang tuanya ya Mbak?" tanya si ibu. "Wah kamu anak baik ya," lanjut si ibu. "Nggak kayak anak saya, jarang banget telpon." Dan mengalirlah cerita si ibu bahwa di masa tuanya ini, dimana ia ingin disayang, diperhatikan dan dilayani anak dan cucunya, eh justru si anak jarang datang. Selalu sibuk. Tidak punya waktu bagi kedua orang tuanya yang sudah sepuh dan kesepian. Cucu- cucunya pun sama saja, sibuk les ini itu. Mana mau menyempatkan diri menelepon neneknya.

Saya ikut menggeleng- gelengkan kepala tanda bersimpati. Gimana sih tuh anak- anak durhaka? Apa susahnya nelpon emak mereka? *lupa kalau dirinya sendiri jarang nelpon emak.

Setelah saya menikah dan mempunyai anak, kisah- kisah mengenai orang tua yang tidak bahagia di masa tuanya menjadi semakin sering saya dengar. Seiring berlalunya waktu, beberapa cerita itu bahkan saya dengar dari orang- orang yang saya kenal cukup dekat, bukan sekedar dari seorang asing di warung siomay pinggir jalan. Teman saya, saudara, dan bahkan ada yang pernah menyangkut diri saya sendiri. Dan membuat saya merenung, ternyata begitu banyak orang yang tidak bahagia di masa tuanya. Kisah yang paling umum adalah sekedar menelepon pun jarang. Berkunjung pun jarang- jarang. Terlalu sibuk dengan hidupnya, pekerjaannya.

Membaca semua status di facebook, mendengar sendiri kisah dari para orang sepuh yang merasa tidak bahagia karena merasa diabaikan oleh anak- anak mereka, saya memperhatikan kedua telapak tangan saya yang sudah mulai berkeriput. Apakah kelak saya juga akan seperti mereka? Yang tampak tidak berbahagia, kesepian, terabaikan. Yang menghabiskan masa sepuh mereka dengan mengeluhkan keadaan, menceritakan kisah sedih mereka bahkan kepada seorang anak muda asing yang sedang makan siomay berperwarna tekstil. Yang mengeluhkan persendian mereka yang membengkak rematik dan katarak yang menggila.

Dan saya rada- rada deg- degan juga jadinya. A bit scared.

Saya bertanya- tanya apakah seperti itukah saya kelak saat beranjak tua? Kesepian, merasa diabaikan, merasa terkurung di dalam tubuh yang mulai renta, dan setiap detik melihat kearah layar handphone untuk mengecek apakah Serafim menelepon saya.

Bulan lalu, saya ditempatkan sebagai tenaga bantuan di salah satu sudut rumah sakit. Saya bekerja bersama seorang perempuan paruh baya yang tidak bisa disebut 'menyenangkan'. Dia membenci pekerjaannya tetapi terperangkap dalam pekerjaan itu. Mendengarkan ia berbicara adalah mendengarkan rentetan kepahitan di tempat kerja; bos yang menyebalkan, pekerjaan yang tidak menantang yang 'seekor monyet saja bisa mengerjakan', dan standar janda eh ganda yang berlaku. Yang membuat saya teringat sebuah quote "If you don't like where you are, move. You are not a tree."

Sambil mendengarkan keluh kesah Doris (sebut saja namanya itu), saya memperhatikan dinding di tempat kerjanya yang dipenuhi tempelan foto yang saya asumsikan adalah foto anggota keluarganya. Saya bertanya tentang foto- foto tersebut dan to my amazement, raut wajahnya berubah drastis. Wajahnya melembut, senyumnya tersungging dan dengan suara yang hangat ia mulai bercerita. Tentang anak perempuannya Charlotte yang bekerja di sebuah kota kecil berjarak dua jam perjalanan dari Melbourne, tentang anak laki- lakinya dan menantunya yang mempunyai seorang balita chubby berusia tiga tahun. Tertarik (plus daripada harus mendengarkan keluh kesahnya soal pekerjaan), saya dengan senang hati melanjutkan bertanya.

Tanpa perlu usaha keras untuk membuatnya bercerita, dalam tempo singkat saya tahu bahwa setiap bulan, kalau jadwal kerja Charlotte memungkinkan, ia akan datang ke Melbourne dan mereka berdua akan menghabiskan hari dengan pergi ke kota, having brunch (makan di jam nanggung. Telat untuk sarapan tapi kepagian untuk makan siang) atau berbelanja. Dan karena Charlotte akan menikah, maka kesibukan mereka bertambah dengan berburu baju pengantin dan pernak pernik acara bersama. Sementara kisah dengan anak cowoknya lebih banyak adalah kisah mengenai si cucu kecil. Josh sekarang sudah bisa begini, nanti hari sabtu akan datang dan mau bikin cupcake bareng, dst dst.

"You seem very close to your daughter," celetuk saya.

"I do," jawab Doris

"And you seem to be Josh's favorite grandma,"

"I think so," jawabnya sambil tertawa. Jelas senang.

Mata saya bercahaya. Kalau orang yang menyebalkan seperti dia saja bisa memiliki hubungan yang hangat dengan anak- anaknya, masih sering bertemu dan berkomunikasi, tidak merasa tersia- sia dan terisolir, berarti saya masih mempunyai harapan! Gini- gini saya kan 11 12 sama si teman yang hobi ngomel itu xd.

Jadilah saya tekun mendengarkan kisahnya. Kebetulan saya diperbantukan selama sebulan lebih disana. Berhubung saya juga memiliki satu anak perempuan, maka saya antusias bertanya mengenai fakta bahwa teman saya ini masih secara rutin menghabiskan waktunya untuk berakhir pekan dengan anaknya. "How come?"

1. Miliki TRADISI

"Kamu harus membangun rutinitas itu semenjak mereka kecil. Nggak bisa kalau kamu berharap saat mereka sudah bekerja, dan tahu- tahu kalian akan mempunyai rutinitas pergi keluar, jikalau hal itu tidak pernah kalian lakukan sebelumnya," kata Doris.

Ia berkisah bahwa sejak dulu ia berusaha mempunyai waktu spesial dengan masing- masing anaknya, terutama anak perempuannya. Setiap hari Rabu, sepulang sekolah, mereka akan pergi ke sebuah kafe kecil dan membeli es krim dan muffin. Dan hal kecil itu menjadi pondasi untuk hubungan yang terus hangat hingga sekarang. Tradisi.

Berhubung saya dan suami bekerja nyaris full time, saya agak galau juga masalah mempunyai tradisi ini. Gimana caranya ya punya tradisi? Tetapi kemarin Sera berkata bahwa hari kamis adalah 'my lucky day." "Kenapa?" tanya saya. "Karena mummy and I bisa makan sushi dan beli Cha time di shopping center," katanya.

Oalah. Sementara saya berpikir ingin memiliki tradisi pergi ke kafe kecil yang cantik, minum baby chino dan makan cheese cake strawberry (pokoknya tradisi yang instagramable deh), sekedar pergi ke toko sushi di pojokan pasar sambil minum bubble tea sebelum berenang itu sudah cukup membuat Sera mendaulat sebagai her lucky day. Note: makan sushi disini bukan barang mewah seperti di Indonesia. Satu gulung sushi seharga dua dolar sudah cukup mengenyangkan.

Jadilah saya merubah strategi. Tadinya seringkali saya membeli sushi dan bubble tea duluan karena menghemat waktu. Tahu sendiri kan kalau membeli sesuatu dengan mengajak anak, bisa membutuhkan waktu tiga kali lipat karena Sera merasa perlu melompat kesana kemari dulu, ndeprok di sono dulu, lihat- lihat boneka elsa yang dipajang dan sebagainya. Toh intinya Sera tetap dapat sushi dan bubble tea favoritnya. Tetapi ternyata pergi berdua ke warung sushi, memilih sushi yang dia mau, dan kemudian duduk di pojokan sambil menyesap bubble tea itu can be count as a tradition juga. Dan memang pada saat itu Sera akan bercerita banyak mengenai teman- temannya, mengenai gurunya dan pelajarannya.

Small little things can be a basic foundation for a long life warm tradition. Tidak usah memikirkan some grandiose tradition seperti berski bersama di lereng pegunungan alpen setiap musim dingin. Kalau ada yang saya pelajari dari liburan bersama anak, mereka tidak ambil pusing apakah diajak berenang di kolam kecil di kecamatan sebelah atau kolam air panas di Iceland. Selama mereka diajak berenang dan orang tuanya ikut, that's fine by me mummy.

Yang kedua, jangan pernah take it for granted. "Ketika aku pergi keluar dengan Charlotte, kami selalu share the bill. Kalau ke restoran ya bergantian membayar. Dan kemarin kami pergi ke Sydney liburan berdua, girls only. Ya kami berbagi billnya. Dia membayar penginapan dan makan, aku membayar tiket pesawat dan transport disana. It works very well for us."

Bukan berarti semua harus 50: 50. Tetapi menurut Doris, hanya karena sewaktu anaknya kecil dahulu, ialah yang harus selalu membayar saat mereka berlibur (ya iyalah, anak enam tahun mah paling- paling punya duit 2 dolar doang), bukan berarti sekarang adalah saatnya anaknya yang harus membayar semua biaya saat mereka keluar. "Kalau aku ingin dia sekarang nyaman pergi denganku, ya aku harus menempatkan diriku sebagai teman. Dan tidak pernah persahabatan bisa langgeng saat uang menjadi kendala. Kalau Charlotte merasa ia harus selalu membayariku saat makan di restoran atau berlibur, ia akan merasa itu sebagai beban. Dia kan juga sedang butuh uang. Dia akan menikah, menabung untuk membeli rumah."

Saya mencoba menangkap apa yang Doris katakan. Lebih dari sekedar berbagi bill (sesuatu yang secara wajar kita lakukan saat bersama teman), there's something deeper than that. Paradigma. Saya merasa bahwa Doris tidak berpikir bahwa "I have done everything for you, now it's time to payback."

"Lalu bagaimana kalau Charlotte sibuk? Apa kamu berharap tiap minggu dia akan datang?" tanya saya, teringat keluhan banyak orang tua bahwa anak mereka jarang mengunjungi. Bertemu sebulan sekali tampaknya rada- rada gimana gitu.

2. Don't COMPLAINT all the time

Dengan serius Doris menjawab "The more you nag your kid about how they don't spend enough time with you, the more unlikely they will come. Aku selalu berusaha mengerti bahwa dia sibuk, dia bekerja lima hari seminggu dan waktu luangnya hanyalah di akhir pekan. Dan dia harus membaginya dengan mengerjakan laundry, bertemu teman- temannya, mengantar mobil ke bengkel atau sekedar tidur seharian karena capek. Belum lagi kalau dia punya pasangan dan anak. Kamu ajalah, kan masih muda. Gimana sibuknya sih kamu?"

Yang dilakukan Doris, dia akan mengirim pesan singkat ke anaknya, sekedar bertanya bagaimana kabarnya atau menelepon singkat dan every now and then dia akan menyetir ke kota kecil tempat anaknya bekerja, dan kemudian mereka berdua akan makan siang bersama.

"Aku nggak suka nyetir," kata Doris. "Tapi ya I'll do it biar bisa ketemu Charlotte."

We can't force our kids to spend time with us. We have to make them want to spend time with us. Mengomel serta mengeluh bahwa anak kita tidak memperhatikan kita, mengabaikan kita, is one sure ticket to make them even more reluctant.

Di sebuah artikel di majalah wanita yang saya baca di rumah sakit (majalah yang seharusnya diperuntukkan bagi para pasien sementara karyawan rumah sakit seharusnya terlalu sibuk bekerja), dikisahkan seorang ibu sepuh mengeluhkan anaknya yang tidak pernah menelepon. Jarang sekali. Paling sebulan sekali. Si ibu ini kesepian, hatinya terluka karena ketidakacuhan anaknya. Mirip status di facebook yang biasanya diakhiri pesan agar kita tidak mengabaikan orang tua kita.

Hanya bedanya di artikel ini, si penulis mengupas juga dari sudut pandang si anak. Karena setiap cerita selalu mempunyai dua sisi kisah.

Begini penuturan si anak. Karena si ibu sekarang sudah tidak bekerja dan tidak bergabung dengan klub apapun, ia tidak lagi mempunyai kegiatan. Tidak lagi mempunyai teman atau komunitas where she belong. Jadilah ia kesepian. Dan dalam kesepiannya, telepon dari anaknya adalah salah satu caranya mengusir perasaan terisolasinya.

Akibatnya? "Setiap saya menelepon Ibu, itu berarti saya harus meluangkan waktu paling tidak dua jam karena ia ingin mengobrol panjang lebar. Tidak mungkin memutus pembicaraan dengannya. She'll go on and on. And I really don't have time to talk for 2 hours everyday. Saya punya dua anak balita dan saya bekerja shift. Saat menelepon ibu, saya ingin menyapanya dan menanyakan kabarnya, tapi saya tidak memiliki kemewahan waktu luang untuk bisa mengobrol panjang lebar berjam- jam setiap hari. Dan ia akan menjadi marah bila saya berkata saya sibuk dan tidak bisa mengobrol panjang."

Jadilah si anak semakin jarang dan jarang menelepon. Dan saat ia mengurangi frekuensi meneleponnya, jadilah si ibu semakin menuntut. Setiap percakapan telepon selalu dimulai dengan rentetan keluhan dan kesedihan. Dan bak lingkaran setan, si anak semakin enggan menelepon.

And let's just face it. Tidak ada orang yang suka terus menerus mendengarkan keluhan dari orang lain. Suatu kali, sehabis mengunjungi seorang kerabat, Emak saya menghela nafas panjang dan berkata "Rasanya capek tiap dari rumah Bude."

Saya berpikir, iya ya, somehow tanpa saya sadari saya tuh selalu merasa enggan untuk mengunjungi kerabat kami yang ini, tanpa tahu apa alasan dibalik keengganan saya itu. Dan gara- gara komentar Emak saya yang sambil lalu, saya menyadari hal tersebut dikarenakan selama percakapan kami, beliau selalu dan selalu mengeluhkan hidupnya, anak- anaknya, sakitnya, suaminya dan entahlah apa yang lain. Hidup ini sudah berat, tanpa harus mendengarkan seseorang constantly reminding us how hard life is.

Buatlah anak kita senang bertemu dengan kita, sama seperti kita menanti- nantikan acara buka puasa bersama dengan teman SMA. Apabila bertemu saya terasa seperti kewajiban dan membalas budi semata, apa bedanya dengan melakukan upacara bendera setiap Senin? Siapa sih yang suka? *eh mungkin ada ya :P. I know I have to, but not looking forward to it.


3. BERSOSIALISASI

Our kid is our whole life. Unfortunately, we are not their whole universe. Pesan itu yang saya tangkap dari Doris, saat ia berkata bahwa anaknya memiliki banyak teman, ada pacar dan seabrek kegiatan.

Sejak Sera masuk sekolah, saya mulai merasa bahwa saya bukanlah her whole universe anymore. Ada Elisha dan Ellen, Mrs Das dan Sebastian yang mulai mengambil porsi orang tuanya. Dia mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama komunitasnya sendiri. Dan saya bahagia. Tidak ada kelegaan yang lebih besar daripada disaat engkau menjemput anakmu di sekolah, dan dia meminta waktu sebentar lagi untuk bermain bersama temannya. She has friends. She is happy. She is accepted by her friends. Sera selalu berlari menyongsong saya sambil membuka tangannya untuk memeluk. Tetapi sambil membenamkan kepala kecilnya di pelukan saya, dia akan berkata "Mummy, I need 5 more minutes to play with Elisha."

Saat ini sih saya tidak keberatan dengan segala kesibukannya Sera. Saat ia menerima undangan playdate di rumah salah satu temannya, hati ini bersorak girang. Yes! Empat jam bebas dari anak pesut! Bisa bersih- bersih rumah atau sekedar nonton bioskop sama bapak pesut. Tetapi kelak, disaat saya sudah tua dan pensiun, jangan- jangan kesibukan Sera akan menjadi hal yang menyedihkan bagi saya. Kenapa kamu gak menghabiskan tiap waktu luangmu dengan emakmu Ser????

Dulu, jaman Sera masih belum sekolah, saya sempat membawanya ke playgroup. Kebanyakan playgroup di Melbourne tidak memungut biaya atau hanya sekedar memungut biaya administrasi. Playgroup- playgroup ini bisa bertahan karena bantuan para sukarelawan. Playgroup tempat saya membawa Sera dulu terletak di sebuah gedung gereja dan yang menyelenggarakan adalah para sukarelawan jemaat gereja tersebut. Ada satu orang koordinator yang masih berusia empat puluhan, tetapi selebihnya personel penyelenggara playgroup itu adalah para simbah- simbah dengan rambut seputih salju dan senyuman secemerlang mutiara. Mereka bertugas menyiapkan ruangan bermain, secara bergiliran menyediakan morning tea, membacakan cerita dan memimpin acara bernyanyi serta memutuskan mainan apa yang akan dikeluarkan setiap harinya.

And they were a bunch of happy grandmas.

Tidak pernah saya mendengar mereka mengeluh, Selalu tersenyum. Bahkan saat bercerita kalau ia harus pelan- pelan berjalan karena baru saja menjalani operasi knee replacement karena dengkul yang soak termakan usia. Mereka bercakap- cakap dengan para ibu- ibu yang menunggui anak mereka, membacakan cerita bagi para krucil dan merapikan serta mengelap mainan yang habis dipakai. Mereka rapi dan wangi.

Mengingat sekelompok simbah ini, membuat harapan saya tumbuh. They were definitely happy. Mungkin salah satu alasannya adalah karena kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang butuh untuk merasa dibutuhkan. Selama tiga hari dalam seminggu, para simbah ini akan meluangkan waktunya menjadi sukarelawan. Dengan menjadi sukarelawan selama beberapa jam saja setiap harinya, mereka bisa merasa memiliki komunitas dan bisa bercengkerama dengan orang dewasa lainnya. Saat bangun di pagi hari, mereka memiliki purpose of life. "I have to run the playgroup, so I will need to have shower, tidying up and go somewhere."

Jadi ya, bila disaat muda kita disibukkan dengan mengurus anak dan pekerjaan yang menyita waktu, menjelang masa pensiun rasanya sangatlah penting untuk mulai memikirkan kegiatan bersosialisasi yang akan kita lakukan di masa pensiun.

Dan anak kita memang akan sibuk. Sibuk dengan karirnya, sibuk dengan anak- anaknya, sibuk mencari waktu untuk bisa bercengkerama dengan pasangannya. Bukan sok sibuk. Tetapi memang sibuk.

Dan belajarlah menyetir sekarang! Tidak ada yang lebih menyebalkan di hari tua daripada harus tergantung ke orang lain untuk sekedar mengantarkan ke penjahit. Dan kalau Sera nanti ternyata bakalan rada- rada mirip dengan adik saya, maka saya bakal sakit hati berkelanjutan kalau berharap ia akan mempunyai waktu untuk mengantar saya kesana kemari.


4. Be Kind To Our Grandkids (And Their Mum's Rules)

Sementara kisah dengan si anak perempuan adalah kisah kedekatan antara mum and daughter, Doris mengakui bahwa kedekatan yang sama tidak ia rasakan dengan anak laki- lakinya. Dengan legowo ia berkata bahwa tentu saja anak laki- lakinya akan lebih condong pada keluarga istrinya. Itu sudah hukum alam. Apa yang ia lakukan? Ia biasanya menawarkan untuk menjaga Josh di akhir pekan (tidak setiap akhir pekan) atau di malam hari, dan memberi kesempatan pasangan muda yang exhausted ini untuk bersantai. "They can just watch movie or have dinner while I have Josh."

Merasakan sendiri bagaimana demandingnya hidup sebagai pasangan (yang tidak terlalu muda lagi), uluran tangan semacam itu serasa angin surga. Kalau emak saya kebetulan sedang di Melbourne, saya dan Okhi akan sigap menunggu Sera tertidur dan kami akan mengendap- endap menuju mobil, dan menonton any cheesy movie we can find. Bodo amat dengan kualitas filmnya, pokoknya kami bisa nonton di bioskop.

Sebete- betenya seorang menantu pada mertuanya (yang umum terjadi), mereka akan sukarela mengalah bila anak mereka mencintai nenek kakeknya. Sebete- betenya menantu ke mertuanya, mereka akan bersedia datang dan datang lagi untuk makan malam bersama dan berkunjung, apabila mereka merasa bisa mempercayakan anak- anak mereka di tangan kakek neneknya. Apabila mereka melihat bahwa anak mereka bahagia saat berada bersama kakek neneknya.

"Kamu tahu cara yang efektif untuk bertemu anak- anakmu? Terutama yang sudah punya anak kecil?" tanya Doris sambil menyeringai.

Saya menggeleng.

"Undang barbekyu atau makan malam. Dan sediakan mainan yang banyak untuk cucumu. Dan biarkan anak- anakmu menikmati makan malam mereka dengan damai sementara kamu menemani the little ones makan."

It's all about making them love coming to your house. Be a fun granny for the grandkids.

Golden rule dalam berurusan dengan cucu: hargai aturan dari ibu mereka. Kelak saya harus bertanya ke Sera, hal- hal fundamental apa yang harus saya terapkan ke cucu saya saat mereka menginap di rumah saya. Kami harus bernegosiasi dan setuju dengan 'acceptable rule'. Tidak boleh makan mi instan sama sekali tetapi boleh makan dua lolipop di rumah simbah. Boleh dapat HANYA satu mainan baru setiap minggu. Harus sudah mandi sebelum nonton TV tapi boleh tidur telat kalau di rumah simbah. Dan hal terburuk yang bisa dilakukan? Menentang emak si bocah atau mengkritik gaya parentingnya. Terimalah dengan lapang hati bahwa itu adalah daerah kekuasannya.

Sounds not fair? Setelah semua jerih payah, air mata dan darah yang kita curahkan untuk membesarkan anak kita? Setelah semua uang yang tercurah untuk membiayai pendidikannya? Setelah puluhan malam tanpa tidur yang layak saat si anak muntaber? Setelah semua pengorbanan yang kita lakukan bagi anak kita? Kok ya masih harus berusaha agar anak kita senang bertemu dengan kita.

Well, we are parents. Seperti sebait lirik lagu, Hanya Memberi, Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia.

 Tidak ada yang saya harapkan to get it back from her. Satu-satunya harapan adalah agar ia berbahagia, be a kind hearted woman dan mencintai anak- anaknya kelak. Just as much as I love her.

Note: Ini note bagi diri saya untuk mempersiapkan masa tua dengan anak gadis saya. Don't be an asshole dan menuntut orang tua kita untuk menjadi fun grandparents, menyalahkan mereka kalau sering mengeluh atau karena tidak bisa menyetir dan merepotkan. Learn from their wisdom (and their shortcoming) and prepare ourselves to be the better one. And why not start the small little tradition with our mum? Bring her to small cafe once a month, just the two of you. Be the bigger person.





Monday 31 August 2015

My Monday Note -- Apa Sih Yang Mau Disombongin Itu?

Suatu siang, saya mendengar percakapan antara Serafim dengan seorang anak laki- laki sebayanya. Mereka meributkan masalah siapa yang lebih superior. "I'm already 6 years old," kata si anak laki- laki dengan intonasi sebijak kura- kura keramat berusia 100 tahun.

Serafim yang masih berusia lima setengah tahun tidak mau kalah. "But I already have a wobly tooth!" balas Serafim penuh kemenangan. Tangan kecilnya menggoyang- goyangkan sebuah gigi depannya yang sudah mulai gondal gandul menunggu lepas. Si anak cowok cemberut kesal, jelas merasa kalah. Dia meraba- raba gigi geliginya yang oh sungguh sial masih terpasang erat di gusinya.

Saya menatap kedua bocah itu sambil mendesah kecewa. Sungguh generasi muda masa kini, menilai kesusksesan hidup dari jumlah gigi yang mulai goyang. Dan merasa bangga sekedar karena usia yang terpaut enam bulan lebih tua. Sungguh para balita bermasa depan gilang gemilang. 

Sebagai wanita yang sudah menempuh asam garam kehidupan hingga di usia yang menjelang pertengahan dua puluhan sekarang (uhuk), mendengar percakapan kedua bocah itu kok ya saya kebelet ingin berkomentar "Gini lho ya dikbro dan diksis, bahkan meskipun gigi kalian itu goyang semua secara bersamaan, toh ya tidak akan bisa dimasukkan sebagai daftar prestasi di CV kalian. Tidak ada calon bos yang akan tergerak untuk mempekerjakan seseorang hanya karena prestasi gigi rontok sebelum berumur enam tahun." 

Anyhow, tentu saja saya tidak pernah terlibat kegiatan membanggakan peristiwa rontoknya gigi saya. Kebetulan di usia 6 tahun, saya sudah mempunyai kebijaksanaan yang melebihi anak- anak seumur saya. Plus urusan gigi goyang itu dulunya identik dengan pergi ke dokter gigi.Boro- boro mau nyombong, yang ada mules duluan karena takut. 

Tetapi setelah selama beberapa menit berpikir- pikir, tampaknya saya juga sebetulnya pernah mengalami kekonyolan yang serupa. Sesuatu yang di masa lalu terasa sangat penting hingga layak untuk disombongkan dan menentukan harkat dan martabat sebagai makhluk Tuhan yang paling seksi, eh ternyata di masa kini justru menjadi tidak berarti. Dulu layak diperjuangkan, dan sekarang saat diingat- ingat justru terasa layak ditertawakan.

Once upon a time, kira- kira dua setengah abad yang lalu, saya masih duduk di bangku SMP. Masih kurus dan jomblo. Dan rada kurang populer (sayangnya hal itu masih bertahan sampai sekarang xd). Pada masa itu, di kalangan para abege berseragam putih biru, merk dari pakaian yang kita pakai adalah persoalan hidup dan mati. Jauh lebih penting dari sekedar isu remeh semacam kelaparan di pedalaman Papua yang gagal panen atau Timor Leste yang lepas dari Indonesia.

Boleh saja sekedar memakai kaos oblong, tetapi merk kaosnya haruslah Billabong. Perkara kaos Billabong itu harganya 50 ribu rupiah sementara kaos- kaos lain sejenisnya hanya seharga lima belas ribu, justru menjadi sumber kekerenan. Perkara desain si kaos sebetulnya bukan selera gue banget (abstrak amburadul dengan warna- warna semuram kehidupan percintaan saya) tidak membuat saya keberatan untuk memakainya. Perkara potongan si kaos yang menyesuaikan dengan badan bule membuat seorang abege cewek Indonesia nan bungkring yang memakainya seperti tenggelam dalam gumpalan kain kafan, tidak menjadi masalah. Yang penting Billabong! Surfing kagak, yang penting berpakaian ala surfer. Tehehehe *ketawa ngenes.

Dan kemudian, sebagai hadiah ulang tahun, emak membelikan saya sebuah celana Billabong berwarna cokelat dengan pipa celana super lebar. Plus sebuah jaket hijau bergaris- garis yang sudah lama saya idamkan. Membuat saya terlihat seperti perkawinan silang antara buah sawo matang dengan ulat jambu. Tetapi tentu saja, saat saya bercermin, saya menatap bayangan dari makhluk paling keren sedunia. Oh, plus topi biru mbladhus dengan lambang Rip Curl paling besar yang bisa saya temukan di toko. Kalau saja di jaman itu sudah ada instagram, mungkin saya juga akan memajang video bobok- bobok siang di atas rumput lapangan upacara di sekolah saya sambil menjerit- jerit "I feel free!!!" 

Atau contoh lainnya, adalah kegandrungan akan celana jeans merk Guess. Demi lambang segitiga di bagian bokong si celana, saat akhirnya saya mempunyai sepasang celana jins berwarna hitam bermerk itu (kebetulan ada diskon besar- besaran, sehingga celana itu terjangkau oleh kantong saya yang cekak), saya memastikan bahwa saya selalu memasukkan kaos saya ke dalam celana. Bukan, saya bukan ingin pamer keseksian bokong atau perut yang serata para pengungsi Afrika. Saya hanya mau pamer si segitiga itu!

Kalau mengingat segala 'tragedi' mode di jaman SMP itu, benar- benar musibah rasanya. Malu, eyke malu cin.... Merasa harga diri melambung hanya gara- gara sebentuk segitiga di bokong celana. Kalau memang lambang segitiga itu sedemikian pentingnya, kenapa nggak sekalian saja ya saya dulu membuat kaos dari karung terigu segitiga biru?

Saya juga merasa 'galau' saat mendengar kisah tentang seorang anak cewek yang kebetulan tidak terlalu saya sukai, dan eh sialnya si anak cewek ini ternyata kabar beritanya mempunyai selemari penuh baju bermerek keren. "Nggak banyak sih bajunya, tapi semuanya Billabong, Oakley, Esprit, bla bla bla," kata si pewarta berita. Saya manyun dengki mendengarnya. Telinga memerah dan hati mendidih.

Dan bahkan pernah juga saya merasa sakit hati saat beberapa anak cewek remaja 'gaol' berkomentar bahwa celana jins yang saya pakai mengingatkan mereka pada celana jins yang dipakai mas- mas tukang bangunan. Merk palsu. Note: tampaknya waktu itu saya memakai celana jins bermerk palsu tanpa saya sadari. Masih buta mode ceritanya. Dan tentu saja kesalahan terbesar dalam sejarah peradaban manusia itu tidak luput dari mata elang para fashion police haram jadah itu.

Setelah melewati masa remaja yang penuh haru biru nan syahdu itu, tampaknya seperti kebanyakan orang yang normal, sumber kebanggaan dalam hidup saya mulai agak bergeser. Materi tentu saja masih penting juga, tetapi sudah tidak menjadi perkara hidup mati. Di kala SMA, saat saya memakai sepatu olahraga dengan merk Nike atau Reebok, masih ada rasa bangga saat ada anak lain yang mengaguminya. Di kala baru menjadi pegawai anyaran, kemampuan untuk bisa memegang segelas Frapucino bermerk Starbuck di tangan masih sedikit banyak mengerek rasa bangga. Biarpun bertampang mirip Walrus, tapi minumnya ala Miley Cyrus!

Pelan- pelan, kebanggaan diri kemudian bergeser bukan lagi pada kepemilikan materi semata, tetapi pada pencapaian. Berapa tinggi IPK saya, dimana saya diterima bekerja, keberhasilan dipromosikan menjadi manager dan seterusnya sekarang menjadi sumber 'harga diri.' Rasanya bangga saat diterima bekerja di perusahaan yang bonafid. Rasanya bangga saat ditunjuk untuk memimpin suatu proyek. Rasanya bangga saat mengikuti sebuah pelatihan dengan peserta dari banyak perusahaan berbeda, dan meraih ranking pertama (iya, ranking ala anak SD xd).

Gara- gara masalah gigi copot si Apim cilik, saya jadi berpikir. "Iya, ya, kebanggaan diri itu memang salah satu sifat bawaan orok. Kita memang terlahir dengan sifat itu. Yang melahirkan ambisi. Yang membuat manusia sekarang menghasilkan peradaban yang jauh lebih modern dibandingkan dengan peradaban para manusia gua Trinil, sementara para lumba- lumba masih saja berenang- renang di lautan sama seperti yang sudah mereka lakukan ratusan tahun lamanya.

Dan mengingat bahwa sampai di level SMP dan bahkan hingga saat inipun toh saya masih juga memiliki keinginan untuk berbangga diri, yah memang tampaknya Serafim butuh bertumbuh dan 'merasakan' sendiri sebelum pada akhirnya, someday in the future, menyadari bahwa "OMG, membanggakan gigi yang goyang itu sama kerennya dengan memamerkan bulu ketek yang memanjang."

Saya membayangkan bagaimana bila dulu dulu emak saya, yang pastinya rada enek juga dulu melihat penampilan saya yang bak makhluk kurang menyan, mengkritik pedas dan 'mencibir' perilaku saya yang Billabong maniac. Saya yakin nasehatnya tidak bakal mampu menembus batok kepala seorang abege yang tebal bin bebal. Paling- paling saya dengan sebal menggerutu "Ah tahu apa si emak soal gaya hidup metropolis ala kawula muda!"

Setelah merenung, saya memutuskan untuk membatalkan rencana mengguncang- guncang pundak Serafim sambil meratap histeris "Sadar nduk, sadar, hidup itu hanya sementara! Jangan bikin malu nenek moyangmu dengan meributkan soal gigi yang goyang!"

Saat menengok ke masa lampau, saya menemukan bahwa kebanggaan ataupun kegalauan akan harta benda seperti kaos billabong dan kopi Starbuck ternyata selalu berubah menjadi semacam 'lelucon' bagi diri saya di masa kini. Bangga sekedar karena menenteng tas bermerk Michael Kors? Kok ya di masa kini jadi terasa menyedihkan. Dan merasa dunia akan kiamat karena tidak berhasil membeli celana jins Guess? Oh teenager Mega, you were so helpless -_-. Nggak heran saya sulit jodoh.

Sementara itu, kebanggaan akan pencapaian semacam berhasil diangkat menjadi business manager di perusahaan tempat saya bekerja dulu ternyata juga tidak bertahan lama. Bukannya saya malu atau merasa konyol karena memiliki kebanggaan itu sih (tidak seperti kasus kaos Billabong tadi), tetapi 10 tahun kemudian toh rasa bangga itu sudah sirna. Biasa saja tuh. Dan sebaliknya, kegagalan untuk masuk fakultas idaman yang di masa lampau cukup membuat saya termehek- mehek, eh sekarang tidak ada jejak bekas penyesalannya lho di otak saya! Mungkin karena saya toh akhirnya mengalami sendiri bahwa hidup itu tidak hanya menyediakan satu jalur saja. Kalau tidak lewat jalur itu, kamu bakal gagal merana masuk neraka! Enggak lho, hidup ini kok ya ternyata baik- baik saja meskipun jalur hidup saya melenceng jauh dari angan- angan masa muda.

Saya kemudian bertanya pada rumput yang bergoyang ngebor, apabila celana Guess ataupun kegagalan masuk fakultas idaman tidak menimbulkan penyesalan bagi saya di masa kini, lalu apa dong yang rasanya masih akan saya ingat dengan sisa penyesalan? Jawab si rumput "emang lu pikir gue Mario Teguh apa, disuruh mikir begituan?"

Ternyata, ada dua kejadian yang masih menimbulkan penyesalan di diri saya. Dan kedua- duanya adalah saat saya memutuskan untuk diam disaat seseorang membutuhkan 'bantuan' saya. Yang pertama, saat simbah buyut saya yang sedang menginap di rumah saya berkata dia ingin juga makan bakso seperti yang sedang saya makan. Saya berkata "Itu abangnya lagi muterin kompleks. Tunggu aja mbah, nanti kan muter lagi depan rumah." Dan kemudian saya tidur siang. Dan bangun satu jam kemudian untuk melihat simbah tua saya masih berjongkok di depan pintu rumah dengan mangkok kosong di tangannya.

Penyesalan lainnya adalah mengenai seorang anak baru di pelajaran agama kala SMA dulu. Saat kami mengikuti misa bersama anak- anak dari SMA yang lain, si anak baru mengikuti saya terus. Dan kemudian, sesudah kami duduk berdampingan, saya melihat gerombolan geng saya duduk di bangku yang lain. Dengan enteng saya berkata "Eh, aku kesana sebentar ya, kamu duduk sini aja." dan berlari meninggalkan si anak baru yang jelas bukan tipe Miss Congeniality duduk sendirian di deretan bangku terdepan di gereja. Saya masih ingat tatapannya ke saya, saat saya melirik kearahnya dari deretan bangku dimana saya sibuk senggol- senggolan bersama- teman- teman saya. Tetapi tentu saat itu saya terlalu sibuk merasa keren untuk mau ambil pusing akan tatapan memohon si anak baru.

Kata pepatah, What I regret most in my life are failures of kindness.

Setiap kali saya ingin berbangga atau bersedih banget- banget atas sesuatu hal, semoga si gigi goyang akan jadi pengingat saya. Jangan norak ah, jangan sampai 10 tahun lagi mengingat hal ini sambil tutup muka karena malu xd.

Note: dan tentu saja selalu lebih mudah mengatakan daripada melakukan. Beberapa bulan lalu saya membeli mobil baru. Terdorong hasrat ingin 'berbagi kegembiraan', saya mulai memasang foto- foto si mobil baru di facebook. Tentu saja agar terhindar dari tuduhan tukang riya, saya memasang Serafim sebagai cameo. Jadilah selama beberapa waktu foto Serafim dengan berbagai gayanya (di dalam mobil dengan sudut pengambilan foto yang jelas memperlihatkan atap mobil yang dari kaca) berseliweran di halaman fesbuk saya. Dengan berdebar- debar saya menanti  saatnya seseorang menyadari bahwa SAYA ITU BARU BELI MOBIL EUY. Tunggu punya tunggu, tidak ada satu makhlukpun yang sadar. Semua hanya sibuk mengomentari Sera nya. Who cares about Sera! Pay attention to my goddamn new car people!!! *punya temen kok ya rabun ayam semua, nggak sadar ada barang baru -_-



Kurang jelas gimana sih kalau saya itu niatnya mamerin eh menunjukkan atap keren mobil saya!!









Monday 21 July 2014

My Monday Note -- Sometimes, I Hate Being A Mother (Confessions of a less-than-perfect-mum)

Apakah anda mempunyai anak yang lebih favorit dari anak lainnya? Atau menemukan bahwa motherhood itu membosankan? You may feel alone, but you're not.

Saya membaca nukilan sebuah buku karangan Dilvin Yasa; Good Enough: Confessions of a less-than-perfect mum. Dan isi buku itu, tepat seperti draft note yang sudah saya buat sejak tahun lalu, tapi terkubur dan terlupakan diantara tumpukan sampah draft di blog ini. Buku ini meneriakkan apa yang sudah siap saya teriakkan sejak tahun lalu, kalau saja saya tidak terlalu malas untuk menulis *menggeliat dan siap tidur siang lagi. Begini cukilannya (banyak yang tidak saya ubah ke bahasa Indonesia karena kok jadi nggak enak ya, merubah arti).

Pada tahun pertama sejak kelahiran anak perempuan saya, saya benci menjadi seorang ibu. Bukannya sekedar karena terasa berat untuk bangun di tengah malam atau muak saat mendengar lagu si Teletubbies berkumandang di TV (yang memang saya rasakan), tetapi karena dengan pahit saya menyesali pilihan yang saya ambil. Saya yakin bahwa saya sudah menghancurkan hidup saya untuk selamanya. "Kenapa tidak ada seorangpun yang memberitahukan kepada kita bahwa mempunyai anak bisa semengerikan ini?" lolong saya di pertemuan mother's group, sementara bayi saya yang terkena kolik menjerit- jerit tanpa henti. 

Nb: di Australia ada yang namanya mother's group, biasanya emak- emak yang melahirkan di rumah sakit yang sama pada saat yang bersamaan (yang diasumsikan rumahnya ya berarti di area sekitaran rumah sakit itu) maka akan diperkenalkan oleh pihak rumah sakit. Mereka kemudian akan mengadakan pertemuan setiap bulan sekali misalnya, berganti- ganti di rumah masing- masing ibu. Tujuannya, semacam peer group yang saling mensuport para ibu ini, saling menguatkan dan berteman diantara mereka. 

Keluhan saya itu biasanya akan ditimpali dengan kesunyian yang terasa memekakkan dan para ibu lain di grup itu saling melempar pandang dengan kikuk. Tetapi, disaat kami tidak sedang berada dalam kelompok besar, satu atau dua ibu yang lain akan mendekat dan berbisik mengakui bahwa mereka pun juga tidak menikmati 'motherhood experience' seperti yang mereka harapkan. Kalimat penutup dari setiap percakaan kami adalah "But please don't tell anyone I told you that." 

Pesannya sangatlah jelas: In motherhood, there are subjects that are simply not open to discussion. 

Dan sejujurnya, banyak isu yang tergolong tabu untuk disuarakan adalah hal- hal yang sebetulnya sangatlah wajar. Mungkin anda 'bersalah' karena merasakan beberapa diantaranya? Mempunyai anak yang lebih favorit dibanding anak yang lain, merasa kecewa akan jenis kelamin si anak, atau merasa bahwa anda tidak menikmati menjadi seorang ibu adalah yang paling umum dirasakan. Tetapi, berbeda dengan yang mungkin anda pikirkan, psikolog klinis Laura Alfred mengatakan bahwa perasaan- perasaan 'terlarang' itu sebetulnya normal adanya.

"Menjadi seorang ibu adalah sebuah pengalaman yang seringkali membawa kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan, tetapi pengalaman itu juga bisa membuat kita sangat kewalahan, gelisah, depresi dan menjadikan kita berhati dingin (ohmaigod, apa sih terjemahannya relentless). Meskipun sering didengungkan sebagai pengalaman yang amazing, toh motherhood juga seringkali memberi syok yang dahsyat pada sistem di diri kita. 

Lah, kalau toh perasaan- perasaan itu wajar adanya, kenapa sih kok dianggap tabu? Seringkali, hal tersebut dikarenakan kita hidup di jaman dimana perasaan seorang ibu yang 'negatif', meskipun tanpa sadar, dianggap bisa menjadi racun bagi jiwa si anak. Hayo, siapa sih yang belum pernah mendengar komentar "Yang sabar ya Bunda, jangan bersedih, nanti bayinya ikut sedih lho.. Kasihan bayinya..." Mampus lu, bahkan saat kamu sedih pun itu artinya kamu sedang menyiksa bayimu. 

Ditambah lagi, kita sekarang membesarkan anak dibawah dogma "Kamu harus menjadi ibu yang lebih baik daripada semua ibu- ibu lain di luar sana." Kita juga tanpa sadar mempunyai ketakutan bahwa orang lain akan menilai dan menghakimi keputusan yang kita ambil (terutama teman dan keluarga kita). Sederhananya, ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa para ibu seharusnya 'suck it up' atau 'get on with it', dijalani saja dan nggak usah kebanyakan mengeluh. Yang pada akhirnya menghalangi kita untuk bisa secara terbuka membicarakannya.

Membaca nukilan buku ini, saya terkenang hampir lima tahun lalu, saat Serafim masih berupa bayi piyik. Setahun pertama kehidupannya, seperti penulis buku ini, saya tidak merasakan kebahagiaan dan rasa 'fulfilled' yang seharusnya dirasakan oleh seorang ibu yang baru saja dikaruniai 'anugerah terindah dalam hidup.' Terindah apanya, gerutu saya. Di mata saya, bayi Serafim adalah buntalan tukang nangis yang memberikan penyiksaan paling berat yang pernah saya rasakan. Kurang tidur super parah yang tidak saya bayangkan sebelumnya, pikiran yang lelah karena tampaknya otak saya selalu tegang, waspada menunggu kapan nih si bayi bakal meringkik lagi minta minum (yang setiap jam sepanjang malam). Oh dan keputusan memberi ASI eksklusif, yang tampak sangat heroik, berubah menjadi ajang penyiksaan karena puting saya babak belur. 

Dan saat usia si Serafim dua minggu, saya menjadi orang yang berhati dingin. Bagaimana saat kita mendengar seorang bayi menangis? Bukankah seharusnya menimbulkan iba pada orang normal? Apalagi pada ibunya sendiri. Tetapi, alih- alih menjadi iba, yang ingin saya lakukan adalah membanting si boneka rungsep itu ke lantai, menyuruhnya diam. 

Dan yang membuat semuanya menjadi lebih buruk adalah karena saya tidak bisa menceritakannya ke orang lain. Bagaimana caranya bercerita bahwa bayi kecil mungil berpipi seranum tomat itu tidak membuat hati saya melembut melainkan membuat saya benci akan hidup saya? Dengan putus asa saya bertanya- tanya kapan si bayi ini akan bisa diajak berkomunikasi, kapan si bayi akan punya jadwal tidur yang lebih masuk akal dan kapan si bayi akan bisa duduk. Yang kesemuanya dijawab oleh orang- orang disekitar saya bahwa "ya nanti kalau sudah waktunya. Masih lama! Baru juga lahir, tali puser masih nempel, sudah tanya soal kapan bisa duduk!"

Dan saat mengeluhkan puting saya yang babak belur, jawaban yang saya terima adalah "Ah, dulu putingku malah digigit sampai beneran mau copot!"

Pesannya jelas: semua ibu merasakan hal yang sama. Ya itu memang resiko menjadi ibu. Suck it up, princess! 

Dari merasa gundah, saya berubah menjadi depresi. Membesarkan bayi itu berat, tapi yang membuatnya sungguh tidak tertahankan adalah karena saya tidak diperkenankan untuk mengeluh. Pekerjaan menjadi ibu itu pekerjaan paling mulia dan anak adalah anugerah terindah. Dan kamu masih berani mengeluh dan tidak merasa bahagia? There is definitely something wrong with you. 

Kalau saya yang sekarang bisa menaiki mesin waktu dan menemui diri saya lima tahun yang lalu, my new me mungkin akan membisikkan pada my old me untuk belajar tips dan trik membuat bayi tidur lebih mudah, tips menyusui yang benar dan serangkaian tips- tips lainnya. Tetapi yang paling pertama dan utama, my new me akan memastikan my old me untuk tahu bahwa "It's ok to feel like a shit dengan rambut yang awut- awutan dan daster yang akan membuat Sebastian Gunawan bakal bunuh diri kalau melihatnya. It's ok not to love your baby straight away. It's ok to hate your life. It's ok to feel depress." 

Dan seorang bayi adalah a bundle of joy? Well, it's also ok to think that she is also a bundle of noisy shitty annoying demanding creature. 

Ohya, satu komentar yang sering saya dengar dulu, yang membuat saya bertanya apakah ada yang salah dengan diri saya adalah "Mengurus bayi itu paling enak. Dibawah satu tahun itu paling lucu. Nanti pas sudah balita, nah baru repotnya dobel- dobel."

Nah lho, mampus deh gue. Lha masih bayi saja Serafim sudah membuat saya stres, apalagi nanti pada waktu dia balita?Terrible two, kata orang.

Kalau memang masa bayi adalah masa paling menyenangkan bagi si ibu, then why the heck I didn't enjoy it? Dan ternyata, sebuah artikel di majalah ibu dan anak membuka mata saya. Bahwa setiap ibu mempunyai 'preferensi' atau kesukaan yang berbeda. Sebagian ibu paling menikmati saat si anak berusia dibawah enam bulan, sepenuhnya bayi kecil tak berdaya. Ada ibu yang menikmati fase balita kecil yang belajar berjalan dan tersaruk- saruk terjatuh. Dan meskipun mungkin lebih jarang, ada ibu yang seperti saya, yang jauh lebih menikmati porsi sebagai seorang pendidik daripada sebagai perawat.

Sementara tangisan bayi Serafim membuat saya jengkel karena tidak ada yang bisa saya lakukan (karena kan si bayi belum bisa diajak ngomong), tangisan meraung- raung balita Serafim adalah sesuatu yang menantang bagi saya. Sementara bagi banyak ibu seorang balita yang menangis meraung- raung di tengah mall adalah siksaan, tetapi tidak untuk saya. Karena saya suka menjadi pendidik. Tantrum si balita, adalah kesempatan bagi saya untuk mendidiknya. Bring it on!

Bukan berarti saya adalah ibu yang lebih baik dibanding ibu- ibu yang lain yang kewalahan dan marah saat melihat balitanya tantrum. Tapi karena kita memang berbeda. 

Menjadi ibu bagi big toddler Serafim sekarang adalah rangkaian perjalanan menyenangkan yang kami lalui berdua dengan berjongkok di perpustakaan dan bernegosiasi tentang berapa buku yang harus dibaca malam ini ("Can I have three mum? "No, ini sudah terlalu malam. Dua aja ya, besok baru tiga."). Meskipun saya selalu menuliskan dalam nada jengkel di status facebook saya, tapi saya menikmati setiap silat lidah yang saya lakukan dengan Sera, tersenyum geli melihat ketajaman mulutnya dan kecerdikan akalnya. Berdebat soal burung hantu yang seharusnya tidak terbang di siang hari dan akhirnya saya terpaksa mengakui bahwa buku cerita yang kami baca memang salah. "You're right Sera, burung hantu seharusnya tidak terbang di siang hari." Dan melihat Sera mengangguk puas sambil berkata "Yes, cause I'm smart Sera." Yang saya timpali "And very humble as well."

If only I know... Saya tidak perlu menghabiskan waktu untuk merasa bersalah...

 Don't expect motherhood will be enjoyable all the time - it won't - and don't see it as a project to be completed either.         

Dan hanya karena anda lelah, depresi, tidak berbahagia dan bertanya- tanya apakah keputusan untuk memiliki anak adalah keputusan yang tepat, bukan berarti anda adalah ibu yang tidak baik. We are less than perfect mum, we're just good enough. Hopefully we'll soon realize that being 'good enough' is exactly that - good enough.

Is your child happy, healthy and loved? You're a good mother and nothing else matter.



Sometimes, I hate being her mother. Sometimes I find motherhood is boring. And I'm less than perfect mum.That's alright.Good enough is good enough ^^ 

Monday 19 May 2014

My Monday Note -- Happy Mother's Day!

Di suatu sore menjelang jam pulang nguli, saya mengetuk pintu kantor bu wakil direktur untuk meminta ijin pulang lebih cepat di hari Jumat yang akan datang. "There is a mother's day afternoon tea in my daughter's kinder," kata saya menjelaskan.

Keluar dari kantor bu bos yang tentu saja memberi ijin, saya menggeleng- gelengkan kepala sambil bergumam kearah teman saya "Oh gee, suddenly I feel so old. Asking permission for afternoon tea with other mummies."

Pada hari Jumat pukul dua siang, saya melangkah keluar dari rumah sakit dengan cepat. Di dalam mobil, saat lampu lalu lintas berubah merah, saya membuka kotak makan siang dan menyendokkan salad ke dalam mulut. Makan siang harus dilakukan sembari menyetir, dan mungkin itu sebabnya menu makan siang orang Australia adalah salad dan burger, bukannya soto dan rawon xd.

Tidak lebih enak dari rawon tapi jauh lebih aman xd

Setelah mengemudi selama dua puluh menit, mobil saya memasuki tempat parkir kindernya si Sera. Biasanya, tempat parkir tersebut kosong melompong di siang hari, tetapi hari itu hanya tinggal tersisa dua spot kosong. Dan mobil- mobil yang datang setelah saya, mereka harus memarkir mobilnya di seberang jalan. Meraih dua kotak kue yang saya beli di supermarket, saya berjalan memasuki gedung kinder, dan memasukkan kode rahasia empat digit agar bisa membuka pintu gerbang depan (kode rahasia = kode pos daerah si kinder berada. Nggak keren kok memang). Memasuki area bermain para murid kinder, seorang anak perempuan yang sebaya dengan Serafim melihat saya dan berteriak "Sera, your mum is here!"

Sera yang sedang bermain bak pasir segera berlari menyambut emaknya sambil berseru "Mummy, mummy! My mummy is here!"

Dan kemudian saya dikerubuti beberapa anak, yang semuanya tampak tertarik pada kue cokelat yang saya bawa. "What is it, what is it?" tanya mereka.

Tak berapa lama, Liz si guru kinder menyuruh semua anak berbaris untuk masuk ke kelas. Sebelum acara minum teh, ternyata ada pertunjukan biota laut. Si Seaweed Sam, seorang pria dengan rambut gimbal yang menurut pengakuannya sendiri tidak pernah dikeramas selama lima tahun (saya jadi ragu mengenai standar kebersihan sekolahnya Sera, kok ya mengundang bintang tamu yang kemungkinana bersar berkutu) duduk di depan anak- anak dan mulai beraksi menunjukkan aneka pernak pernik makhluk laut yang dibawanya. Tulang dada ikan paus, ikan buntel, rahang hiu dan beraneka makhluk aneh- aneh lainnya. Para bocah kinder duduk di lantai sementara para oang tua dan kerabat duduk di bangku melingkar di belakang. Saya duduk bersebelahan dengan para emak yang lain dan para simbah yang salah satunya kebingungan mencari kacamatanya yang hilang.

Saya menikmati pertunjukan si rumput laut Sam, melihatnya berinteraksi dengan anak- anak. Dan saya lebih- lebih menikmati melihat si Sera duduk di baris terdepan, heboh mengacungkan tangan meminta kesempatan bicara, walau setelah diberi kesempatan dia hanya berkata "There is fish in the beach." Nyaris nggak nyambung xd.

Merubung si Seaweed Sam
Serius dengan ikan buntelnya


Sesudahnya, diadakan acara minum teh bersama, walau kok ya tidak ada setetespun teh yang dihidangkan. Kata orang Jawa, ngirit ya ngirit neng ojo ngono.

Pukul empat sore, saya menggandeng Sera pulang. Hatinya riang perutnya kenyang. Di tangannya tergenggam kotak perhiasan yang seharusnya menjadi kado untuk emaknya. Di lehernya melingkar kalung yang terbuat dari sedotan, yang seharusnya juga menjadi hadiah untuk emaknya. Keduanya sudah diklaim Sera sebagai miliknya.

Kalung yang seharusnya untuk emaknya

Jadi bagaimana rasanya menjadi seorang emak dari anak balita berumur empat tahun yang setiap hari selalu mengukur panjang kakinya ini (Sera adalah penganut teori bahwa kedewasaan seseorang ditentukan seberapa panjang betis orang tersebut)? Oh well, ternyata satu hal masih belum berubah sedari dulu, bahwa Sera mencintai emaknya lebih dari siapapun di dunia. Sejak Sera masih bayi, saya sudah menyadari bahwa baginya, emaknya adalah makhluk terpenting di dunia. Sama seperti semua anak balita kecil lainnya, seluruh dunia boleh binasa selama si emak dan pentilnya masih tersedia di sampingnya. Dan ternyata, hal tersebut masih belum berubah di usianya yang 4 tahun going to 40. Belum ada cowok alay atau bintang film Holiwut yang mengisi hatinya dan mengalahkan emaknya. Ha!! #puas.

Tetapi tentu saja ternyata ada hal yang mulai berubah. Sementara 2 years old Sera mencintai emaknya dengan segenap hatinya dan hanya ingin selalu berada di samping emaknya, 4 years old Sera (yang masih sepenuh hati mencintai Emaknya) tidak lagi puas menghabiskan seluruh waktunya hanya bersama saya. Mulai ada sosok- sosok lain yang mengisi hidupnya. Little David, little Mikayla, big Mikaela, Brown Mala, Liz the teacher, Dylan dan setumpuk makhluk- makhluk lain yang mulai sering disebut- sebut bibir mungilnya. Sera berubah  menjadi makhluk sosial yang craving untuk memiliki best friends. A lot of friends.

Si kecil Sera memang masih membutuhkan emaknya untuk memeluknya bila terbangun sembari menangis karena bermimpi buruk, tetapi bermain seluncuran ternyata lebih asyik bila dilakukan bersama David. Walau terkadang saya mengeluh kenapa si genduk ini cepat sekali besar, toh saya lega juga bahwa Sera mulai menemukan tempatnya diantara teman sebayanya, di dunia diluar emak bapaknya.

Acara afternoon tea di sore itu menjadi acara pertama di sekolahannya Sera yang saya hadiri. Dan ternyata acara tersebut membuat saya menyadari satu hal yang baru. Yang membuat saya berjanji bahwa no matter what, selama si Serafim masih kecil, tak peduli apa acara di sekolah atau perkumpulannya, I WILL HAVE TO COME! Wajib hukumnya untuk datang bagi para emak dan atau bapak.

Mother's day afternoon tea? Datanglah Mak!
Pentas seni Taman Kanak- kanak? Datanglah Pak!
Malam pembacaan puisi dimana si anak menjadi pemegang mikrofon? Datanglah!
Pentas drama dimana si anak menjadi pemeran utama batu di sungai? Datanglah!
Bazar sekolah penggalangan dana untuk menolong anak di Zimbabwe? Datanglah!
Pemberian penghargaan balita termontok tingkat RT? Datanglah!
Pentas musik di depan selusin penonton dimana si anak bertugas menjadi  pemain triangle? Datanglah

DATANGLAH, DATANGLAH, DATANGLAH!!!!
Tidak peduli seremeh apapun acara si anak, you have to come!

Seminggu sebelum acara, Serafim sudah sibuk merusuhi emaknya. Bahwa akan ada afternoon tea, akan ada hadiah untuk emaknya (It's a secret," katanya selalu sambil berbisik- bisik). Dan setiap kali saya berkata "Mama bakal datang lho ke kinder," Sera akan menari- nari gembira seperti kuda lumping kurang menyan.

Di hari dimana si afternoon tea maha penting yang mengalahkan jamuan teh di istana Buckingham itu digelar, saya tercengir- cengir. Teman- temannya si Sera (yang kebetulan orang tuanya belum datang) ikut datang merubung saat saya datang. Mereka berebut berbicara dan menarik perhatian saya. Apa yang paling dihebohkan oleh para balita ini?  Laporan pandangan mata terkait kedatangan para tamu istimewa hari itu; emak, bapak, kakek, nenek, aa, teteh, om dan kucing peliharaan.

"My mum is a bit late," lapor seorang bocah laki- laki berjambul. "Oh that's fine, you can play with your friends while waiting for your mummy," komentar saya.

"Look, that's Dylan mum," seru seorang anak sambil menunjuk- nunjuk dengan penuh semangat kearah sekelompok orang. Saya tersenyum sabar, sambil diam- diam menggerutu "Siapa nanya." *iya, saya memang nenek sihir.

"Karen mum cannot come," lapor Sera yang diiyakan teman- temannya. "Poor Karen," komentar Sera sedih, seolah mengabarkan bahwa si Karen baru saja divonis tidak akan hidup lebih lama lagi.

Saat Liz memanggil para kecebong ini untuk berbaris masuk kelas,seorang anak cowok kecil berambut pirang berseru- seru keseluruh penghuni dunia "That's my grandmother and my grandfather!" Berulang- ulang dengan wajah penuh kepuasaan.

Di dalam ruang kelas, Sera langsung duduk di barisan terdepan, disamping big Mikaela yang berwajah rada galak dan seorang bocah bernama Daniel. Kebetulan David (sahabat baiknya si Sera) sedang berlibur ke Shanghai. Kalau saja si David ada, Sera bakal dikekepin, anak lain dilarang mendekat!

Selama pertunjukan, perhatian Sera sih sepenuhnya tertuju pada si Seaweed Sam, but every now and then, Sera akan menolehkan kepalanya kearah emaknya, tersenyum puas sebelum sibuk lagi menyaksikan pertunjukan. Begitu juga semua anak lain. Terus menerus menoleh dan melirik ke keluarganya.

Aih, ternyata saya tidak hanya sekedar dicinta oleh balita saya. Balita saya, sama seperti semua balita lain di ruangan itu, ternyata menganggap orang tua mereka sebagai 'harta' yang membanggakan. Hari itu Sera tidak peduli dengan baju yang dipakainya. Sore itu ia tidak sibuk memamerkan aneka kuncir anehnya. Sore itu, hartanya yang paling berharga, yang ditatapnya setiap beberapa menit, yang diumumkannya dengan bangga kepada teman- temannya, adalah emaknya. Iya, emak tuanya yang sudah berkarat ini.

Sore itu, adalah sore dimana saya menjadi sumber kebanggaan si Sera. Betapa kehadiran emaknya means a lot for her. Dibangga- banggakan dengan seringai penuh kepuasaan. Dia merasa keren dan hebat hanya karena emaknya hadir! Ah, kalau saja bos saya sudah cukup puas dengan sekedar kehadiran saya... *keluh.

Jadi, acara seremeh apapun di sekolah atau kelas musik atau kelompok bermain bayi kecil anda, PLEASE DO COME. Your presence, mean the world for them. Funny thing that among all inhabitants of the world, you and only you that matter in your children's eyes.

Sementara Sera remaja mungkin akan lebih bangga bila konser musiknya disaksikan presiden Ameriki, Sera balita tidak akan peduli dengan keberadaan pria tua asing itu. Hanya jika emaknya (atau bapaknya atau simbahnya atau om tantenya) yang menyaksikanlah, yang akan sangat berarti baginya.

Anda harus menjaga si adik di rumah? Titipkan si bayi ke tetangga.
Anda harus bekerja? Minta ijin.
Bos tidak bakal memberi ijin untuk sekedar ke acara dansa balita? Telepon di pagi hari, bilang tak bisa datang ke kantor karena terkena penyakit kelamin.
Hari ini ada rapat penting? Berkeras bahwa menurut Ki Joko Bodo hari rabu bukanlah hari yang tepat untuk rapat. Tidak sesuai dengan shio anda.
Lagi sakit? Datang sambil mengajak ambulans untuk berjaga- jaga.

Benar- benar tidak bisa datang? Mintalah kakek nenek atau om tante untuk datang menggantikan.

Karena bagi para balita kecil ini bukan emak yang cantik rupawan atau bapak bermobil BMW yang paling membanggakan (itu sih nanti kalau mereka sudah beranjak remaja dan berubah alay) melainkan sekedar bahwa si emak dan bapak datang ke acara super pentingnya.

Saya sudah sering melihat tatapan penuh cinta dari Sera, tetapi Jumat kemarin, untuk pertama kalinya saya menyaksikan tatapan penuh kebanggaan. Hey world, look at my mummy!!! 

I am Sera's treasure xd.

And it won't last forever. Embrace it while you can. Sebentar lagi, dia justru akan mendengus kesal kalau emaknya tahu- tahu nongol di sekolahnya, hahahaha....





Monday 21 April 2014

My Monday Note -- Serafim, Our First and Best Kiddo

Serafim namanya. Empat setengah tahun usianya sekarang. Sebelum memiliki Serafim, seperti kebanyakan orang, saya berangan- angan. Betapa akan 'sempurnanya' hidup bila saya mempunyai sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Wah, bakalan bisa menjadi bintang poster keluarga berencananya BKKBN nih :P.

Dan setelah mempunyai Serafim, setelah melihatnya tumbuh dan berbahagia selama empat setengah tahun ini, kok ya saya jadi tidak peduli kalau anak kedua saya nantinya akan berjenis kelamin perempuan atau laki- laki (dan malah dalam hati secretly wish for a second baby girl saja lagi). Dan saya tidak peduli apakah memang nantinya kami akan diberi anak lagi atau Serafim akan selamanya menjadi our first, best and only. I just don't care. Saya dan Okhi, we are terribly happy and satisfied dengan si gadis kecil bergigi kelinci dengan telapak kaki datar ini. 

Di usianya yang empat setengah tahun ini, Serafim adalah anak yang menjadi impian semua orang. Dia sehat, ceria, energik, bawel, tremendously cute dan menjadi favorit para gurunya. 

Setiap pagi, saat mengantar Serafim ke kindernya, maka seorang pemuda kecil bernama David akan dengan gegap gempita menyambutnya, meneriakkan nama Serafim dengan penuh cinta dan memeluknya dengan penuh sayang sebelum menggandeng tangan Serafim dan mengajaknya bermain. Di hari dimana David sedang tidak masuk ke kinder karena pergi berlibur, giliran Mikaela, seorang gadis cilik temannya yang lain, akan dengan berseri- seri menyambut Serafim. Mereka berdua akan berdiri berhadapan, sepasang tangan kecil mungil bergandengan dan saling menyebut nama temannya. persis seperti adegan saat Esmeralda bertemu Fernando Jose. Dan kemudian si Ryder yang badung akan menabrakkan mobil- mobilan yang dikendarainya kearah kedua gadis kecil ini. Membuat Mikaela memekik sebal. 

Saat menjemput Serafim di sore hari, maka semua guru akan memeluk Serafim sambil berkata "She is the best girl! She is very sweet." Dan berkomentar betapa Serafim selalu patuh dan mendengarkan semua perkataan gurunya. "Not like other kids," bisik si guru.

Dan sementara emak saya dulu selalu ketakutan akan kapasitas otak saya yang tampaknya rada kerdil (setiap malam saya selalu menangis karena tidak bisa mengerjakan soal matematika, emak saya menatap galak sambil mengomel dan adik saya menggeleng-gelengkan kepala sambil berpikir "Goblok banget sih kakakku ini."). Dan sekarang, saya mendapatkan anak yang semua gurunya berkata bahwa Serafim adalah the brightest kid at class, mempunyai kemampuan matematika dan bahasa yang berada diatas teman- teman sekelasnya. Dan di usianya yang baru empat tahun, Serafim sudah menulis tiga buku setiap minggu. Setiap hari ia meminta lima lembar kertas, ditekuknya menjadi dua, diberinya nomor halaman dan digambarinya seturut kisah yang ingin diceritakannya. "Alright, now I'll read you my book."

Dan kemudian dia akan bercerita mengenai buku yang baru ditulisnya, eh dilukisnya. Di laporan perkembangan dari guru TKnya, gurunya menulis bahwa ia tidak akan heran bahwa di masa depan Serafim akan menjadi penulis buku.

Serafim is also cute as a button. Kecil mungil, berambut hitam lurus selembut sutera, bermata seperti buah badam, berpipi ranum dan berwajah ekspresif dengan celotehan yang paling kiyut. Dan tentu saja, Serafim adalah gadis paling modis sedunia. Tidak pernah ia lepas dari aneka rok berwarna- warni (celana adalah baju kelas rendahan, Serafim ogah memakainya). Dimanapun Serafim berada, pasti ada saja orang yang berkomentar betapa lucunya dia, betapa manis wajahnya, betapa miripnya dia dengan boneka. Senyuman Serafim, akan mencerahkan langit yang mendung.





Kalau Okhi membaca semua deskripsi saya diatas mengenai Serafim, dia bakal berkomentar "Dasar emak narsis, ya jelas aja memuja- muja anak sendiri." 

Well, hello, kalau kamu mempunyai anak, membesarkan anak itu dan menghabiskan hidup disampingnya setiap hari dan kamu tidak bisa menemukan kelebihan dan sisi positif anakmu, ya berarti dirimu adalah seorang pesimistis kelas berat. Orang yang tidak bisa menemukan kelebihan dari anaknya, kemungkinan hidupnya sangatlah menderita, batin tersiksa dan calon penghuni kerak neraka *sabdaMega. 

However, dengan segala keistimewaan milik Serafim, toh saya tetap sering memandangnya dengan menggeleng- gelengkan kepala. Karena tentu saja, sebagai keturunan saya, saya bisa melihat sifat saya (yang tidak sepenuhnya terpuji) ada di dalam diri Serafim. Dan si Okhi juga bisa melihat sifatnya dia dalam diri Serafim. Atau terkadang saya menggeleng- gelengkan kepala sambil berkomentar sedih "Kenapa sifatnya tantemu kamu tiru sih Ser?"

Dimanapun Serafim berkumpul bersama anak- anak kecil lainnya, selalu yang terdengar adalah anak lain akan memanggil- manggil Serafim untuk menarik perhatiannya atau menarik tangannya untuk mengajaknya bermain. Senang? Iya dong. Saya senang karena sejauh ini Serafim bisa berteman. Bisa mempunyai teman dan menjalin persahabatan. Dan memang banyak anak yang senang berteman dengan Serafim karena dia manis, penurut dan tipe suporter setia. Tetapi kening berkerut juga karena tidak pernah sekalipun saya melihat Serafim memanggil nama temannya atau berteriak menarik perhatian temannya atau seperti yang dilakukan Ryder, berusaha merebut Serafim dari gandengan David. Tidak. Serafim tidak pernah berinisiatif memulai persahabatan. Pertemanan harus ditawarkan pihak lainnya. Bila tidak ada yang menawarkan persahabatan, Serafim hanya akan bersedih di pojokan, tetap tidak akan menjadi pihak yang pertama kali mengulurkan tangan. Dan itu adalah sifat saya. Sifat yang membawa banyak kesusahan juga dalam hidup karena tidak selalu kita bertemu dengan orang yang berinisiatif mengulurkan tangan terlebih dahulu. Terkadang kitalah yang harus mengulurkan tangan. Dan Serafim masih harus mempelajari hal itu, melawan sifat dasarnya yang seperti emaknya, enggan menghadapi resiko penolakan.

Sewaktu Serafim berusia tiga tahun, ia sudah berhasil menyelesaikan puzzle yang cukup rumit dan membuat gurunya terkagum- kagum. Saat ditanya apakah bangun ruang kesukaannya, lingkaran atau segitiga, dengan tegas Serafim berkata "Hexagon. Circle and triangle are boring." Berhitung, menulis, menyanyi, menggambar dan membuat aneka art projects adalah semudah membalik telapak tangan bagi Serafim. Tetapi, untuk sesuatu yang tidak dengan mudah dikuasainya, Serafim akan sangat mudah merasa frustasi. Lalu mogok dan marah- marah. Keburu buteng, kata orang Jawa. Lagi- lagi itu sifat saya. Alhasil, selain memasukkannya kedalam kelas musik (dimana ia berselancar dengan riang mengikuti beat irama tanpa kesulitan), saya memutuskan memasukkannya ke kelas renang juga. Sepenuhnya adalah gadis tanpa talenta atletik dan olahraga, Serafim adalah the clumsiest kid in the pool. Melihatnya berenang, sama seperti melihat kudanil mencoba menari balet. Semoga dengan mengikuti kelas itu, ia menjadi gadis yang bugar dan yang terpenting melatihnya bahwa ada hal dalam hidup yang harus dipelajari dengan susah payah, diperjuangkan untuk dikuasai. Dan lagu wajib di rumah kami adalah lagu yang saya dengar dari acara anak- anak favorit Serafim "You try it, you can. Keep trying, keep trying don't give up, never give up."

Saya ingat beberapa tahun lalu saat baru saja bekerja di Jakarta, seorang teman cowok menjemput saya di kos untuk makan bakso di warung depan kompleks. Melihat saya keluar, teman saya itu mengerutkan kening dan berkomentar "Aneh banget sih bajumu. Nggak nyambung gitu warnanya." Saya menunduk menatap baju saya. Dan tidak menemukan apa anehnya baju saya. Tanktop garis- garis dipadu celana selutut bermotif doreng tentara. "Hanya mau ke tukang bakso aja kebanyakan rebyek!" dengus saya kesal.

Dan kemudian saya terpaksa menggeleng- gelengkan kepala saat Serafim yang baru berusia empat tahun sudah bisa merasa tidak percaya diri dan hancur lebur harinya hanya gara- gara masalah kostum. Sekedar ke kinder yang hanya diisi dengan bermain di bak pasir saja, wajib hukumnya memakai aneka rok berwarna- warni dengan kaus dan jumper yang serasi. Setiap pagi selalu terdengar dengusan emaknya yang sebal menunggu Serafim memilih kostum yang diinginkannya. "No, today is pink day," ujar Serafim sambil memilih kostum pink aneka gradasi dari atas sampai ujung kaki. Persis seperti ulat sawo.

Dan Serafim pun sudah mulai membanding- bandingkan kondisi fisiknya dengan teman- temannya. Tinggal di Australia, teman sekelasnya kebanyakan adalah orang bule dan Cina. "I want to have white skin, not brown skin," adalah keluhan yang selalu terlontar dari bibir mungilnya beberapa bulan yang lalu. "I also want to be tall," adalah obsesinya, karena ia adalah gadis termungil di kelasnya. Note: masalah kulit putih ini juga gara- gara tokoh putri dan peri favorit Serafim semua berkulit putih. Damn you Disney xd.

Hati siapa yang tidak pilu mendengar anak gadis kecilnya merasa tidak puas dengan kondisi fisiknya? Maka kemudian emaknya menceritakan keluhan Serafim kepada guru- guru kindernya, yang serentak menyanyikan "I love you just the way you are," dan mengatakan betapa mereka menyukai kulit cokelat dan rambut hitam milik Serafim. Dan kemudian dengan gemas seorang guru memeluk Serafim dan berkata ke arah saya "Silly girl. Doesn't she realize that she is the prettiest girl in the class?"

Of course not. Emaknya Serafim tidak ingin anaknya merasa sebagai yang tercantik. Tapi saya membatin kenapa Serafim tidak mewarisi sifat baik saya terkait urusan fisik? Saya tidak pernah merasa sebagai orang cantik (dan memang tidak cakep :P) tetapi saya couldn't care less soal fisik ini. Tidak pernah masalah fisik dan sekedar baju atau sepatu mempengaruhi kebahagiaan saya. Okhi pun tidak pernah ambil pusing. Dalam hal ini, saya menyalahkan adik saya yang menyeberangkan gen genitnya kepada anak saya.

Sampai akhirnya saya belajar berdamai bahwa memang soal baju adalah penting bagi Serafim. Jadi dengan tabah saya mulai menerima bahwa warna dan bentuk rok itu adalah faktor penting bagi kebahagiaan hati seorang balita. Sembari tentu saja every now and then saya berusaha mengendalikan sifatnya ini. Suatu kali, sesudah sampai di tempat tujuan wisata, Serafim mogok bersenang- senang karena baju yang dipakainya ternyata tidak sesuai dengan seleranya. Kami sudah sampai  di pantai yang selalu menjadi tempat favorit Serafim dan eh ternyata moodnya tetap bisa drop hanya gara- gara masalah kostum (dia merasa membutuhkan rok, bukan sekedar kaos terusan yang dianggapnya bukan rok). Dengan menyimpan rasa gondok, saya tangkap Serafim yang berlari berputar sambil menangis ngambek dan berkata tegas "We don't bring any skirt today (menunjukkan isi tas). Now you have two choices; keep sulking and still you won't get a skirt, or go playing with the sand and water and enjoying your day here!"

Baju kurang keren yang membuat si gadis cilik merajuk 

Awalnya berat bagi saya untuk menerima bahwa memang kebahagiaan anak saya itu salah satunya ditentukan oleh hal secemen masalah baju, tetapi ya mau bagaimana lagi. Sudah bawaan orok xd. Sekarang tinggal berusaha agar Serafim selalu merasa puas dengan outfit pilihannya sendiri. Kalau dia suka berdandan, ya be it. Tetapi tentu saya tidak ingin anak gadis saya menjadi seorang perempuan yang tergantung pada penilaian orang lain soal penampilan. Jadilah saya sekarang selalu menyuruh Serafim menentukan baju dan sepatu yang ingin dikenakannya sendiri. Resikonya? Berjalan disamping Serafim selalu membuat saya serasa seekor gagak yang berjalan disamping seekor nyonya merak sosialita yang hendak pergi arisan.



Di hari dimana Serafim sedang 'kumat' kreatifnya, maka ia akan pergi ke kinder dengan aneka aksesori 'keren' kreasinya sendiri atau hiasan rambut bertumpuk- tumpuk seperti ondel- ondel hendak berpawai. Saat melihat tokoh peri favoritnya memakai tiara, maka Serafim memutuskan menggunting enam gambar aneka tokoh yang dilukisnya dan menempelkannya ke bandonya. "This is my crown," ucapnya bangga. Emak bapaknya berebut menolak mengantarnya ke kinder pada hari itu. Malu hati melihat bentuk si anak. Di hari lain, ia membelitkan batang- batang pembersih pipa di rambutnya, membuatnya menjadi pita rambut bersulur- sulur.

Bangga setengah mati dengan hasil kreasinya sendiri 


Mengantarkan Serafim memasuki kelasnya, emaknya menguatkan hati dan menggertakkan gigi. Hari itu Serafim memakai gelang buatannya sendiri yang terbuat dari bulu burung yang ditemukannya, gambar Iggle pigle yang diguntingnya dan direkatkannya ke pembersih pipa. Gurunya dengan penuh ceria menyapa dan memuji gelang Serafim. "Oh wow, I love it! Can you make one for me?"

Siap berangkat sekolah, dengan outfit yang heboh dipilihnya sendiri

Dan kemudian gurunya bercerita bahwa tempo hari, gara- gara mahkota yang dipakai Serafim, maka semua anak ingin juga memilikinya. Jadilah kelas mereka dihari itu membuat mahkota kertas yang ditempeli gambar aneka tokoh kartun yang digambar oleh masing- masing anak. Alright Ser, kalau berdandan memang hobimu, let's try to make the most of it. Jadi seniman slash pengusaha aksesori saja di masa depan :D.

Memperhatikan Serafim, seperti semua orang tua lain saat memperhatikan anak mereka, adalah gabungan dari kebahagiaan melihatnya menjadi anak yang begitu cantik dan cerdas, kebanggaan saat bahkan petugas tur di sebuah mercusuar tak henti memuji Serafim yang tampak begitu kiyut dengan jaket merah bak Red Riding Hood nya, kecemasan melihat betapa banyak sifat 'jelek' yang akan menyulitkan hidupnya kelak, kekuatiran akan masa depannya apakah ia akan bisa sukses dan bahagia dan tentu saja harapan yang membumbung bahwa kelak ia akan bisa menjadi the fullest and greatest she can be.

Tetapi setiap saya mengutarakan kekuatiran akan sifat jelek Serafim, Okhi selalu dengan santai berucap "Lha kamu kan juga punya sifat jelek itu dan ternyata kamu ya baik- baik saja tho?"

Oh well, benar juga ya. Ah, you'll be alright little girl! No need to worry xd.






    

  

      


Monday 17 February 2014

My Monday Note -- To Work Or Not To Work, Dilema Ibu Bekerja

Setelah sebelumnya merasakan tinggal di rumah selama hampir dua tahun, sepenuhnya sibuk mengurusi akun Facebook dan balita saya,  akhirnya tahun lalu saya berkesempatan bekerja lagi. Sebagai reminder bagi para pembaca yang mungkin sedikit berdebu ingatannya karena terkena hujan vulkanik, begini sedikit kilas balik sejarah perjuangan seorang wanita tuna susila, eh seorang wanita cantik jelita yaitu saya.

Bulan Januari 2013, saya mengikuti sebuah kursus untuk mendapatkan sertifikat hospital dispensary pharmacy technician (sengaja gelarnya ditulis dalam bahasa inggris agar tampak lebih wah). Bulan Juni 2013, sebagai bagian dari kursus yang saya ikuti, saya melakukan praktek kerja di sebuah rumah sakit selama lima hari. Dan lucky lucky, rumah sakit tempat saya berpraktek kerja langsung menawari saya untuk bergabung. "Posisi sementara karena ada yang cuti melahirkan," kata bos besar sambil menyiratkan bahwa ia tidak menjanjikan bahwa saya akan terus dipekerjakan setelah si pemilik posisi kembali (cuti melahirkan di Australia berkisar 6 bulan hingga 1 tahun).

Fine by me. Karena toh yang paling susah adalah mencari pekerjaan pertama kali saat kita belum berpengalaman. Yah siapa juga sih yang mau mendapat pekerja belum berpengalaman? Jadi bagi saya ya nothing to loose. Kalau sehabis enam bulan kontrak saya tidak diperpanjang, ya saya tinggal mencari pekerjaan lain, toh saya sudah mempunyai pengalaman. Atau kalau saya cukup beruntung, biasanya si ibu yang baru melahirkan hanya akan memilih bekerja dua hingga tiga hari dalam seminggu. Semoga jadinya saya disuruh mengisi hari- hari dimana ia tidak bekerja.

Detik berganti detik, bulan berganti bulan, jadilah saya kembali bekerja secara full time. Lima hari dalam seminggu. Dalam masa transisi itu, saya mengekspor emak dan tante saya secara bergantian untuk tinggal disini selama tiga bulan. Alasan utamanya, agar ada yang membantu saya menjaga Serafim. Selama ini, Sera sudah terbiasa berada di childcare tiga hari dalam seminggu, dan dia baik- baik saja walau selalu tampak lelah sepulangnya dari childcare. For sure acara di childcare lebih padat merayap daripada acara bersantai di rumah bersama emaknya seharian. Saya rada- rada meragukan daya tahan tubuh si Sera kalau ia harus berada di childcare lima hari penuh.

Bulan Desember kemarin, genap enam bulan saya bekerja. Pekerjaannya cukup oke, lokasi rumah sakit sakit juga cuma sekitar tiga jam perjalanan dari rumah kalau dengan mengendarai sepeda roda tiganya si Sera (atau ya sekitar 15 menit kalau dengan mobil). Teman- teman saya di kantor jelas tidak akan memenangkan kontes Miss Persahabatan, tetapi ya tidak parah- parah amat lah. Manusia normal pada umumnya, yang merupakan perpaduan setan dan jin iprit. Pekerjaannya tidak susah- susah amat walaupun bukannya the most amazing job in the world. Intinya ya pekerjaan pada umumnya lah. Everybody is so happy on Friday afternoon and quite sleepy on Monday morning.

Setelah beberapa bulan bekerja, sesudah melewati masa- masa memprihatinkan yang biasa dialami di tempat kerja yang baru (berusaha menyesuaikan diri dengan teman baru dan ritme kerja), saya akhirnya bisa mulai menelaah dan mengkaji mengenai pekerjaan full time ini. Sejak awal, saya sebetulnya ingin bekerja part time saja. Tiga hari dalam seminggu would be fabulous. Dalam pikiran saya, dengan bekerja tiga hari maka saya masih akan mempunyai waktu menemani Sera, mengurus rumah, menulis dan sekaligus mendapatkan gaji. Dan setelah beberapa bulan menjalani kerja full time ini, saya menyadari bahwa saya memang tidak menikmati bekerja full time.

Meskipun super cute bin imut, ternyata saya bukanlah tipe wanita perkasa. Sepulangnya dari bekerja, saya selalu merasa terlalu lelah. Saya tidak mempunyai sisa tenaga (dan kesabaran) untuk meluangkan waktu meladeni Serafim. Padahal setelah seharian berada di childcare, Serafim tentu saja merasa perlu untuk menggrusuhi emak tuanya yang sudah kempot ini di sore hari. Ia minta ditemani melakukan berbagai kegiatan maha penting seperti membuat kartu pos untuk dikirim ke David (pacarnya di childcare) atau barbekyuan di halaman belakang dengan menggunakan rumput dan daun kering. Duh, ruwet sekali memang aktivitas anak empat tahun itu.

Selama ada emak saya di rumah, urusan rumah tangga sedikit tertolong. Saya sama sekali tidak perlu repot memasak atau menyeterika baju misalnya. Tetapi saya tentu berpikir, kalau nanti bala bantuan darurat ini sudah balik badan kembali ke Indonesia, berarti sepulang bekerja saya masih harus sibuk mengurus ini itu ono dong. Bakalan remek nih badan :(.

Bekerja full time ternyata tampak terlalu berat buat saya. Tetapi saya bertahan karena mempunyai harapan nantinya saat orang yang saya gantikan sementara sudah kembali dari cuti hamilnya, maka bos akan menawarkan posisi part time pada saya. Eh ternyatanya, setelah beberapa lama bekerja, semua teman kerja saya memberitakan kabar baik dan kabar buruk bagi saya.

Kabar baiknya: bos besar tidak pernah memutus kontrak. Jadi saya bakalan 100% akan diteruskan kontraknya dan menjadi pegawai tetap. Tidak pernah dalam sejarah bos besar memutus kontrak para pegawai sementara seperti saya ini. Wokeh, kabar baik dong! Berarti saya tidak perlu repot- repot melamar pekerjaan lagi. Terus terang saya malas membuat resume dan kemudian diinterview lagi. Tulang pinggul saya sudah berkeriut semua dan kulit paha pun sudah bergelambir. I'm just too old!!!

Tetapi, berbarengan dengan kabar gembira tersebut, tersiar juga kabar yang rada- rada kurang mengenakkan. Bahwa bos besar adalah tipe bos jadul bin konvensional. Dia tidak suka pekerja part-time! Satu- satunya alasan ia mengijinkan mereka yang baru saja melahirkan untuk kemudian bekerja part time adalah alasan peraturan legal, bisa- bisa pegawainya berdemo di HRD jika ia menolak keinginan pegawainya bekerja part-time.

Mampus gue! Lha pegimana nasib ane? Bekerja baru saja enam bulan, sekedar jadi pegawai tetap saja belum, dan jelas bukan seorang emak yang baru saja melahirkan. Lah dalah, gimana ceritanya si bos besar bakal mengabulkan permintaan saya untuk bekerja part-time? Apalagi kemudian para teman saya bercerita bahwa si ono pernah meminta untuk menjadi part-time dan ditolak. Pening. Dengkul saya berkeriut pening.

Mulailah saya merasakan yang namanya dilema. Berbagai skenario berkelebat di kepala saya. Intinya: kalau bos besar menolak permohonan saya untuk bekerja part time (yang tampaknya kemungkinan terbesar), what should I do? Resign atau melanjutkan bekerja?

Selama sebulan saya gelisah. Makan nggak enak tidurpun tak nyenyak. Galau. Silau. Sakau. Gimana ini? The clock was ticking as well. Sebentar lagi tante akan pulang. Keputusan sudah harus diambil sebelum itu. Pikiran saya berubah- ubah. Terkadang di suatu hari saya akan terbangun dengan semangat membaja dan dengan gagah berkata ke Okhi bahwa ya sudah saya keluar saja kalau bos tidak memberi saya kerja part time. Di lain hari, saya akan kelabakan bingung berusaha mencari cara bagaimana caranya agar si Sera bisa kembali mengikuti kelas- kelasnya bila saya memutuskan untuk tetap bekerja. Apakah saya bisa mencari orang untuk mengantar si Sera ke kelas? Pokoknya ayam yang mau bertelor saja kalah gaduhnya dibandingkan pikiran saya yang ruwet.

Saat saya sedang belingsatan seperti orang yang mengalami konstipasi itu, saya membuka fesbuk saya dan membaca seorang teman  bertanya di status fesbuknya "Lagi- lagi pulang malam. Diajak rapat lagi. Apa harus tetap bekerja atau resign saja ya? Kasihan anak- anak..."

Saya membaca status tersebut saat sedang menikmati kopi gratisan di basement rumah sakit tempat saya bekerja, sedang morning tea bahasa kerennya. Membaca status tersebut, saya dengan bersemangat mengetik balasan lewat pesan pribadi (kebetulan dia salah satu teman rada dekat saya). Saya menulis bahwa saya juga sedang mengalami galau perkara pekerjaan ini, apakah harus berhenti kerja saja atau gimana yah.

Mengklik tombol send, dan setelah beberapa saat hape saya tampak berusaha keras mengirimkan pesan tersebut, dan GAGAL. Dedemit!!! Sudah mengetik panjang lebar dan gagal kirim itu hampir sama penderitaannya dengan mendengarkan berita infotainment mengenai Farhat Abas mengeluhkan insiden pemencetan dirinya oleh truk gandeng (semoga truk gandengnya sudah divaksin tetanus...). Keluh, dasar rumah sakit kurang menyan, wifi kok putus sambung kayak abege pacaran aja!

Karena jam minum teh sudah berakhir, sebagai seorang pegawai teladan, saya menyimpan hape di kantong dan kembali bekerja. Pulang dari kantor, setelah selesai menidurkan ndoro Sera yang seperti biasa memerintahkan ini dan itu pada mbok embannya, saya merebahkan badan dengan senang. Akhirnya bisa bersantai! Meraih hape dan membuka fesbuk, saya melihat bahwa statusnya teman saya sudah meraih puluhan follower, eh komentator. Tampaknya, status tentang ASI, ibu bekerja dan vaksinasi memang selalu menarik perhatian khalayak umum. Berhubung saya juga sedang mengalami dilema serupa, saya akhirnya tertarik membaca komentar demi komentar.

Secara garis besar, ada tiga jenis jawaban terbanyak yang diterima teman saya.

1. " Aku sih akhirnya memutuskan berhenti bekerja Mbak! Kasihan anak- anak kalau ditinggal ibunya. Bagaimanapun kan ibu adalah pendidik yang terbaik. Masak kita tega sih kalau anak kita jadi anak pembantu? Rejeki tidak akan lari kok."

2. "Meskipun bekerja, kita juga tetap bisa jadi ibu yang baik kok bagi anak- anak kita. Aku juga sibuk, sering dinas luar, tapi anak- anak nggak terlantar. Aku tetap sempat masak untuk mereka, bikin cookie dan roti sendiri malahan! Dan tetap membantu mereka bikin pr segala."      

3. "Kodrat seorang ibu itu ya mendidik anak di rumah. Stay at home dengan anak- anak, mencurahkan waktu untuk mendidik generasi berprestasi." (Note: dan beberapa menambahkan juga melayani suami, menjadi tulang punggung kesuksesan suami)

Menutup fesbuk dan melempar hape saya ke samping kasur (pelan- pelan tapi melemparnya, takut rusak), saya berpikir bahwa kalau saja saya yang bertanya di fesbuk dan kemudian membaca pendapat para komentator, kok ya naga- naganya saya bakal tetap bingung ya? Saya bakalan tetap berkotek- kotek seperti ayam kebelet bertelur karena tidak bisa memutuskan. Buah simalakama.

Dan saat seseorang kemudian bertanya ke jamaah fesbuker apabila mereka mempunyai saran yang akan membantu saya dalam mengambil keputusan dalam kebimbangan yang melanda, most likely mereka hanya akan mendapatkan jawaban- jawaban seperti yang diterima teman saya. Pertanyaan dari seseorang yang sedang galau akan masalah pekerjaan ini, somehow tampaknya menjadi ajang dari pihak- pihak lain yang sudah lebih dulu membuat keputusan dalam masalah serupa untuk membenarkan keputusan yang ia ambil. Sekaligus mencoba meyakinkan  (entah diri sendiri atau orang lain) bahwa keputusan yang telah mereka ambil adalah keputusan yang terbaik yang patut ditiru. Dari sekitar dua puluh orang yang ikut berkomentar, hanya satu orang, SATU biji manusia doang yang bertanya balik ke si pembuat status "Memang kamu sebetulnya pingin lanjut kerja atau tinggal di rumah? Jam kerjamu gimana? Anak- anak sekarang sama siapa?"

Yang paling bikin nyesek adalah membaca komentar "Sekarang terserah kamu. Apa yang menjadi prioritasmu? Anak atau pekerjaan?" *golok mana golok!!!!!

Anyway, suatu kali saya chatting dengan seorang teman. Ia adalah seorang ibu dengan dua anak balita dan sekarang memtuskan berhenti bekerja sepenuhnya. Saya tidak meminta nasehat darinya ataupun bertanya enaknya keputusan apa yang harus kuambil yah? Saya hanya bercerita. Berbagi rasa. Dan teman saya itu memberikan jawaban terbaik yang sedikit banyak membantu saya dalam mengambil keputusan. Teman saya berbaik hati menceritakan perjalanan kisahnya, memberi saya kesempatan menengok ke kehidupannya, melihat situasi yang dihadapinya dan pertimbangan yang diambilnya sampai pada akhirnya ia mencapai keputusannya. Bukan keputusannya yang saya contek, tetapi perjalanan menuju ke keputusan itulah yang ternyata berharga untuk disimak.

Jadilah di suatu pagi, sesudah selama seminggu sebelumnya panas dingin menguatkan hati, saya mengetuk pintu bos besar. Bayangkan posisi saya, pada saat itu saya belum pegawai tetap dan bos bahkan belum menawarkan pada saya untuk tetap bekerja disitu. Lha kok saya sudah 'kepedean' minta bekerja part time? Dalam hati saya, tekad sudah bulat, kalau permohonan saya untuk bekerja part time ditolak, saya akan mengundurkan diri.

Meskipun di atas kertas kesannya mudah, tentu saja semua orang tua yang pernah merasakan dilema ini tahu betapa sulitnya keputusan itu dibuat. Lemme share my story.

Concern terbesar saya tentu saja Serafim. Saat saya bekerja lima hari, saya melihat bahwa gradually my little girl became less and less happy. Setiap hari saat saya mengantarnya ke childcare, ia tidak bersemangat. Pagi- pagi ia sudah diantar ke childcare dan baru petang hari dijemput kembali. Ia tidak lagi pergi ke kelas musik dan kelas renang kesukaannya dan keinginannya untuk bergabung dengan kelas balet tentu saja harus tertunda. Di sore hari, saya sudah terlalu lelah untuk sepenuhnya meladeni segala kegiatannya. Dan semua ibu tentu tahu betapa melelahkannya menuruti semua keinginan seorang balita. Sekedar permintaan "I wanna draw" bisa berarti perjalanan berkali- kali ke dapur. Ambil koran. Ambil air. Ambil tissue. Siapkan cat air dan kuas. Membersihkan tumpahan cat atau air yang tersenggol. Ambil kertas lagi. Bertepuk tangan memuji mahakarya masterpiece. Diminta ikut menggambar. Dimintai tolong membungkus gambar untuk dikirim ke David. Minta stapler. Minta agar si gambar ditempel.

Dan disuatu hari, saat mengantarkan Serafim ke childcarenya, Serafim cilik memeluk saya dan dengan lembut berbisik "Mummy, can you plese stay at home with me? I miss you mummy." Dan disuatu sore saya mendengarnya berkata ke boneka beruangnya "Don't cry Teddy. Mummy has to work. No need to be sad."

Sampai disini, seharusnya kisah berlanjut dengan saya sebagai ibunya tersedu- sedu merasa bersalah, memeluk Sera dan berkata "Maafkan Mama Sera, Mama telah menelantarkanmu!Mulai sekarang, Mama akan mengikutimu kemana aja!!!" Kemudian berderap serta merta mendatangi kantor bos, membanting kartu pegawai saya di hadapan pak bos dan dengan heroik berteriak histeris mengumumkan bahwa "detik ini juga saya berhenti karena saya mencintai anak saya lebih dari segala sesuatu!" Sinetron banget deh!

Tetapi seorang ibu yang pernah merasakan dilema ini pasti tahu bahwa nope, tidaklah seperti itu ceritanya. Bahkan saat saya kemudian menyetir ke kantor sambil mengusap mata setelah melepaskan pelukan Sera yang tampak sedih dan lesu, saya masih bergelut dengan berbagai pertimbangan. Saya lagi dan lagi bertanya ke si Okhi apakah uang kami akan mencukupi kalau hanya dialah yang bekerja. Okhi menghitung dan berkata ya, uang kami masih sangat cukup untuk hidup tetapi tidak berkelimpahan. Tidak bisa lagi tiap tahun pulang ke Indonesia atau berlibur, pengeluaranpun harus dipikir benar- benar agar masih ada sisa untuk ditabung.

Apa yang membuat saya juga cukup merasa berat melepas pekerjaan ini? Karena tidaklah mudah mencari pekerjaan semacam ini. Dari semua teman sekelas saya, hanya dua orang yang mendapatkan pekerjaan. Lainnya masih menganggur dan bahkan tahun ini kursus tersebut ditiadakan karena pasar yang sudah jenuh. Dan kalaupun saya berusaha mencari pekerjaan lagi di rumah sakit lain, sangatlah jarang ada posisi part time. Pekerjaan di rumah sakit lainpun hampir selalu adalah full time. Dan sebetulnya, kalau saja saya bisa bertahan sebentar saja, dan kemudian saya hamil lagi misalnya, kan sehabis itu saya jadinya bisa libur kerja setahun dan kembali bekerja hanya dua hari dalam seminggu. Plus tahun depan toh Sera sudah bersekolah, lima hari dalam seminggu. Jadi if only I hold on for a little bit longer.... Life would be easier and perfect after that!

Dan ya, some moms are happier when they are working. I think God creates mom differently. Some are content when they can be with their kids 24/7, some are content when they have life outside playground and pram. And I guess I always need to have my own identity, not only as Sera's mum. Bekerja memberi saya tujuan hidup. Mungkin dilema yang saya rasakan adalah setara dengan seorang ibu yang sebetulnya ingin tinggal di rumah sepenuhnya bersama anaknya tetapi secara ekonomi tidak memungkinkan misalnya dan ia harus bekerja.

Jadi, kalau saya memutuskan untuk berhenti bekerja sekarang, most likely saya akan end up dengan tidak bekerja sampai nanti anak kedua saya (kalau saya memutuskan punya anak lagi) sudah duduk di bangku sekolah. Ohmaigod, I will be forty at that time! Dan memulai bekerja lagi sesudah tidak bekerja selama bertahun- tahun tentu bukan hal yang mudah. Iya kalau masih ada yang menerima saya. Inilah sulitnya saat engkau baru mulai bekerja saat sudah mempunyai anak. Bukan hanya diri sendiri yang dipikirkan, tetapi ada makhluk lain yang lebih bikin pusing kepala.

If only I could just hold on for a year! Bayangkan! Betapa enaknya!

Keputusan untuk berhenti bekerja ataupun meneruskan bekerja, at least bagi saya, tampaknya tidak ada kaitannya dengan segala heroisme. Tidak ada tempat bagi segala kisah kepahlawanan dalam hal ini. Keputusan itu adalah keputusan sederhana yang diambil setelah dengan kepala penat memikirkan berbagai jalinan situasi yang ruwet. 

Setelah menimbang- nimbang, walaupun tidak sepenuhnya meyakini keputusan saya, saya memutuskan untuk ya sudahlah mari berhenti saja kalau tidak diterima bekerja part time. Pertimbangan utama keputusan itu tentu saja karena gajinya okhi cukup untuk hidup dan Sera terlalu 'not happy' untuk bisa bertahan 'setahun lagi saja ya nak'. Bukan, dia bukannya menangis menggeru- geru, tetapi dia jelas merindukan emaknya, perjalanan ke perpustakaan dan buku- buku yang dibacakan emaknya sebelum tidur. Ia rindu kelas- kelasnya dan tahun ini adalah tahun terakhir sebelum Sera masuk ke sekolah. I just don't want to loose this last chance to be with her before she's a big school student. She was just miserable....

Tetapi sebetulnya, selain dua pertimbangan utama itu, masih banyak rentetan kondisi- kondisi kecil yang kalau saja berbeda sedikit saja,maka mungkin akan membuat keputusan saya berbeda.

1. Mencari pekerjaan di australia,bagaimanapun sulitnya, tetaplah tidak sesusah mencari pekerjaan di Indonesia. At least saya bisa jadi tukang bersih- bersihlah.
4. Saya tidak menemukan alternatif lainnya dalam mengurus Sera. Mungkin ceritanya berbeda kalau saya punya sanak keluarga disini yang bisa membantu mengantar sera ke perpustakaan misalnya.
3. Saya sudah menemukan alternatif untuk tetap memiliki identitas saya sendiri. Kalau saya berhenti bekerja, saya berjanji akan benar- benar serius dalam menulis dan menemukan dunia saya disitu
4. Pekerjaan saya bukanlah pekerjaan yang sebegitunya membahagiakan dan memuaskan. Kalau saja saya sangat bahagia disitu, mungkin saja keputusan saya berbeda.
5. dan serangkaian hal- hal kecil lainnya yang ternyata cukup signifikan dalam membuat kepala saya berputar pening sebelum memutuskan.

Dan setelah mengambil keputusanpun, saya tidak merasa "Look at me, saya rela melepaskan karir saya demi anak! Hoho, how noble I am." Atau sebaliknya merasa menjadi duta para super mom, successfully jugling between family life and career life. Keputusan ini bukan keputusan yang diambil dengan penuh sorak sorai dan jauh dari semangat heroik kepahlawanan. Keputusan bekerja atau tidak adalah keputusan yang diambil dalam senyap, yang diambil secara sederhana dengan mempertimbangkan kondisi keluarga saya dan hanya melibatkan keluarga saya. Keputusan terbaik bagi keluarga saya, tetapi jelas tidak relevan bagi keluarga lain yang mungkin sedang mengalami dilema serupa.

Kalau saja teman saya si ibu dua balita sewaktu mendengar kisah saya kemudian dengan berbunga- bunga berbusa berkata "Kita kan ibu! Ibu macam apa yang meninggalkan anaknya di tangan orang lain sementara dompetnya saja tidak bersedia dia serahkan pada tangan orang lain" maka paling-paling saya hanya akan bergumam "Ya ya, ambil dah sana semua surga yang tersedia. Emang hanya situ yang layak punya surga di bawah telapak kaki! Kalau ibu durjana macam saya ya bakalan hanya punya mata ikan berjamur di telapaknya."

Bukan retorika penuh kepahlawanan itu yang menggugah saya. Tetapi saat dia membagikan strategi yang dia lakukan. Sadar bahwa mencari pekerjaan lagi sesudah lama absen adalah suatu 'kemuskilan' maka dia berkata bahwa dia mulai menjajaki peluang pekerjaan lain yang bisa dilakukan. "I need to have something Meg. I need to be involved on something else." Persis seperti saya, yang meskipun cinta mati kepada anak saya, tetap membutuhkan hidup di luar popok kotor dan menyaring bubur tim (eh enggak ding, saya tidak pernah membuatkan makanan bayi untuk Sera. Seumur hidup Sera dia tidak pernah makan bubur XD).

Teman saya berkisah bahwa setelah sekarang balitanya berusia tiga tahun, ia mencoba membuat usaha online kecil, tas- tas rajutan hand made yang kemudian dijualnya secara online. "Aduh, sekarang sih belum ada apa-apanya Meg, hanya seperti penyalur hobi. Tetapi karena hal kecil ini, aku merasa tetap punya tujuan hidup dan future career. Aku punya impian, nanti kalau si dedek sudah masuk sekolah, aku bakal bla bla bla dengan usahaku ini."

Dan karena hal itu, salah satu keengganan terbesar saya untuk berhenti bekerja menjadi sedikit ringan. Iya sih, saya mungkin akan berakhir dengan tidak lagi bekerja formal di kantor, tetapi masih ada jalan lain untuk tetap mempunyai hidup saya sendiri. Pikiran bahwa saya akan melanjutkan menulis novel yang terhenti di halaan ke 90 atau menuliskan kisah akhir pekan di bukit Dandenong dan mengirimkannya ke majalah membuat ketakutan terbesar saya mereda. Ya, saya amsih bisa mempunyai 'sesuatu'saat berhenti bekerja pun.  

Keputusan yang saya ambil mungkin saja salah, di masa depan mungkin saja saya akan menyesalinya, tetapi untuk saat ini, itulah keputusan terbaik yang bisa saya ambil. Moto saya adalah Live your life without regret but with private jet.

Note: dan kemudian Pak Bos, setelah mendengar permohonan saya, mengatakan dia bersedia (pertama kalinya dalam sejarah kantor) mengijinkan saya bekerja part time, asalkan EMPAT HARI DALAM SEMINGGU. Nah lho, ini mah sama aja bikin saya terlanda dilema lagi. Someday I let you know the decision then XD. 

Hidup memang lebih ruwet karena kehadiran si makhluk satu meter kurang ini