Showing posts with label Common. Show all posts
Showing posts with label Common. Show all posts

Monday 19 March 2012

My Monday Note -- Bikin ketawa bikin iri

Suatu pagi yang damai, saya sedang duduk menunggu di ruang tunggu bandara Tullamarine, Melbourne. Saya sedang menunggu pesawat Garuda yang akan membawa saya melintasi samudera Atlantik, kembali ke pangkuan ibukota tercinta, Jakarta. Sudah semalam suntuk saya berzikir tanpa henti, memohon bantuan Yang Diatas agar Sera tenang dan kalem dalam penerbangan long haul pertamanya berdua saja dengan emaknya. Tapi tentu namanya manusia, saya sudah siap dengan rencana cadangan; tongkat kasti dan obat tidur. 

Tak berapa lama, duduklah seorang ibu paruh baya disamping saya. Setelah tersenyum sekilas, saya kembali mengarahkan pandangan ke Serafim yang sekarang sedang asyik menggigiti pinggiran kursi. Si ibu, mungkin karena kesepian, kemudian mengajak saya bercakap. Saya jadinya tahu bahwa ibu ini berasal dari suatu pulau kecil di Indonesia, dan sudah 10 tahun ia bermigrasi ke West Australia, mengikuti suaminya yang bekerja di pertambangan. 

Si ibu dengan baju matching (pink dalam berbagai gradasi dari atas sampai bawah) yang mengajak saya bercakap itu adalah seorang miliader. Suaminya bekerja di pertambangan di West Australia. Pertambangan adalah tempat dimana seorang tukang pacul tak berpengalaman pun digaji 7000 dolar per bulan, sementara rata- rata gaji para pegawai kantoran di Australia adalah 4000 dolar per bulan. Suami ibu itu adalah insinyur geodesi atau geologi, saya juga kurang paham. Berarti, dia bukan sembarang tukang pacul. Berarti, gajinya paling tidak 10.000 dolar per bulan. Berarti setahunnya dia akan mendapat gaji at least 120.000 dolar plus bonus ini itu ono. Berarti setahunnya ibu itu mendapat duit semilyar lebih. Aduh, pusing kepala saya menghitung berapa piring lontong sayur yang bisa dibeli dengan duit segitu.

Eniwei, melihat bahwa saya adalah seorang perempuan dengan senyum yang tampak menyemangati dirinya untuk bercerita, dan tampak tidak mempunyai pengalaman apapun untuk diceritakan (saya sedang bermeditasi mempersiapkan hati menghadapi Sera yang akan terkungkung di pesawat selama 7 jam), semakin bersemangatlah si ibu untuk bercerita. Saya jadi tahu ia belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta, dan dulu dari kampungnya dia langsung terbang ke Perth, mengikuti suaminya.  

Si ibu  : Saya baru saja liburan ke Perancis lho.....
Saya   : Wah, keren banget..... Pergi ke kota mana saja Bu?
Si ibu  : Ya itu, ke kota Frens. Belum pernah kesana ya? 
Saya   : Wah, saya sih nggak mampu kalau harus liburan ke benua Amerika. Jauh ya Perancis?
Si ibu  : Jauh banget deh, mahal naik pesawatnya
Saya   : Melihat apa aja di Perancis? Patung liberty? Gunung Fuji?
Si ibu  : Pokoknya lihat gedungnya tinggi- tinggi, naik perahu di sungai, foto di pintu gerbang, wah seru deh!

Saya tiba- tiba teringat bahwa berdosa mempermainkan orang tua, jadi saya tidak melanjutkan bertanya. Takut karma, tahu- tahu si Sera ngamuk di pesawat kan berabe.

Beberapa menit terdiam, mulai lagi si ibu membuka percakapan.

Si ibu  : Kemarin saya baru beli mobil, janjian sama temen- temen saya yang lain
Saya   : Wah... beli mobil pake janjian. Saya sih hanya janjian sama teman kalau mau makan bakso Bu...
Si ibu  : Iya, biar modelnya sama, hanya warnanya beda- beda. Kita beli mobil Be-em-we
Saya   : Oh, kalau saya waktu kuliah dulu naik Bemo-We
Si ibu  : O... kalau sekarang naik apa?
Saya   : Mobil saya sedan honda bu. Nyetir sendiri atau ada supir?
Si ibu  : Mobil di rumah ada empat. Beemwe semua. Saya sih nggak bisa nyetir, pakai mobilnya hanya pas suami pulang
Saya   : Ooooo (sambil mikir terus sehari- hari naik apa ya si ibu kalau ke pasar?)

Kemudian termangu- mangulah kami kembali, menunggu waktu boarding yang serasa seabad. Eh, si ibu buka mulut lagi

Si ibu   : Kemarin saya baru beli lego untuk keponakan saya di kampung. Belinya di Perth. Pernah lihat nggak mbak?
Saya    : Pernah lihat apanya Bu? Legonya atau Perthnya?
Si ibu   : Legonya. Di Indonesia mana ada mainan begini
Saya    : Gitu ya bu? Di Jakarta juga nggak ada?
Si ibu   : Mana ada di Jakarta. Harus di kota besar kayak Perth baru ada

Sekilas info: Penduduk Jakarta: 10 juta, penduduk Perth: 1,5 juta.
                   Pukul 6 sore di Jakarta: semua mall dan toko padat pengunjung, Perth: semua toko tutup
                  Jumlah mall besar di Jkt : 2 RATUS, Perth: 2 butir

Si ibu ini kaya? So pasti. Bikin iri? So iya. Wong rumahnya dia di Perth besar sekali dengan 5 kamar, plus kolam renang. Di garasinya ada 4 mobil BMW seri terbaru. Bandingkan dengan saya yang mengontrak unit kecil di pinggiran Melbourne, dengan mobil sedan yang berdecit setiap direm. Tapi, setiap dia selesai berucap satu kalimat, saya menundukkan kepala dan menggigit bibir. 

Setiap kata yang ia ucapkan, membuat dada saya tersobek antara dua keinginan, tertawa terbahak- bahak sekaligus mengeluh iri. Bagaimana mungkin seseorang dengan duit semilyar di kantong, menghabiskannya untuk membeli beberapa mobil yang menurut teman- temannya bagus, untuk kemudian dianggurin di garasi karena ia tidak bisa menyetir. Wanita yang bisa membeli cincin berlian bermata tunggal nan besar, yang dengan sambil lalu disebutkannya berharga 50 juta, tapi mengenakannya di jari yang kering busikan karena tidak pernah berekenalan dengan body butter di tengah udara gurun Australia. Wanita yang membanggakan merk kopi di rumahnya; Nescafe ("Ini kopi nggak ada di Jakarta lho, hanya ada di Perth"). Oalah, lemari dapur saya juga diisi kopi merk itu, karena itu merk sejuta umat disini, 15 dolar sekaleng besar. Dan di Jakarta dulu, jingle iklannya selalu terdengar setiap detik, Open your eyes, open your heart, open your pants, open up open up !

Karena kebetulan saya saat itu naik Garuda, tentu saja sebagian besar penumpang yang menunggu boarding adalah orang Indonesia juga. Saat si ibu membanggakan kopi mahal yang ada di rumahnya, saya melihat sekilas seorang penumpang lain tersenyum. Entah geli entah rada melecehkan. Saat pandangan kami bertatapan, dia sedikit memutar matanya sambil tersenyum, membuat saya sadar bahwa si penumpang itu ikut mendengar celotehan 'berkelas' dari si ibu be-em-we (gimana nggak dengar kalau si ibu bercerita dengan suara stereo). 

Anehnya, meskipun gaya sombongnya si ibu perth ini benar- benar asoy geboy, entah kenapa saya kok ya tidak jadi marah ya. Mungkin karena saya melihat bahwa si ibu ini sebetulnya bukan orang jahat juga. Mungkin karena saya jadinya malah sedikit iba juga melihat keluguannya yang membuatnya jadi sasaran empuk korban ditertawakan di balik punggung.

Itu kejadian yang saya alami dengan seorang ibu dusun nan lugu. Wajarlah dia gegar budaya, wong dari yang tadinya berlibur dengan cara pergi ke desa sebelah untuk nonton layar tancep, eh tahu- tahu sekarang liburannya naik montor mabur trans Pasifik ke city of love. Wajar saja dia nggak tahu ada di benua mana si Frens itu terletak, lha wong yang dia hafal mungkin letak tambak ikan lele di dusunnya. Wajarlah kalau dia gegar budaya.

Tapi di suatu hari, saya sedang menemani seorang teman saya makan siang di kantin puskesmas tempat ia berparaktek. Kemudian datanglah seorang senior di puskesmas itu, dan ikut makan siang bersama kami. Si ibu senior ini kemudian tiba- tiba berkomentar "Ternyata berat jadi istri pejabat. Setiap turun dari mobil selalu sudah ada yang membukakan pintu."

Gaya bicara si senior ini dengan nada sambil lalu tapi jelas- jelas berharap ditanya agar ia bisa bercerita lebih lanjut. Teman saya yang memang amat santun kemudian bertanya "Oh gitu ya Dok. Memang Bapak menjabat apa?"

Dan dengan gaya sok jinak- jinak tekukur, berceritalah si senior bahwa suaminya baru saja diangkat menjadi wakil kepala dinas. Dan dengan gaya mengeluh ia kemudian menambahkan bahwa sekarang ia menjadi ketua Dharma Wanita di kantor suaminya, bahwa sekarang dia menjadi panutan para istri sekantor suaminya, dan bahwa suaminya itu sekarang menjadi orang sangat VVIP alias kadang rapat dengan bapak bupati. Kalimat terakhir si senior ini membuat saya tersedak bakso dan membuat saya terbatuk- batuk bak keselak kedondong. Teman saya memandang saya dengan tajam, menyiratkan ancaman agar saya menutup mulut saya yang tajam. Begini kalimat si senior yang bikin saya tersedak " Kamu pasti susah ya membayangkan kehidupan keluarga pejabat itu. Apalagi nanti, karena kabarnya suami saya itu mau dijagokan menjadi kepala dinasnya," (dengan intonasi pura- pura rendah hati tapi jelas banget niatnya nyombong. you know what I mean).

Kalau saja itu saya yang ditanya, dan si ibu mengeluh bahwa hidupnya sekarang menjadi berat, paling saya hanya akan berkomentar "Wah, berarti seimbang dong sekarang, badannya berat, hidupnya juga berat." Untung teman saya nggak seculas saya sifatnya.

Tapi yang bikin saya nyaris sekarat tersedak bakso adalah karena si senior ini sok gaya didepan teman saya. Tanpa dia sadari siapa teman saya itu. Saat suami si senior rapat dengan bupati, bapaknya teman saya memanggil bupati untuk menghadap dirinya. Saat suami si senior baru diangkat jadi wakil, bapaknya teman saya sedang sibuk mengomeli para wakil. Saat si suami mungkin diangkat jadi ketua, bapaknya teman saya sudah lupa bagaimana rasanya jadi ketua.

Membanggakan kehidupan sebagai pejabat wakil di depan teman saya itu, sama saja seperti membanggakan bahwa ukuran beha saya 34D (eits, ini note saya, nggak boleh protes) di depan seorang wanita dengan ukuran beha 36E. Atau seperti membanggakan bahwa saya punya piaraan kucing siam di depan orang yang memelihara macan tutul. Ya kebanting lah yaw.

Sebetulnya ya, hampir semua orang senang membanggakan sesuatu. Hanya caranya saja yang berbeda. Ada yang dengan cara gegar budaya bikin ketawa ala si Ibu Perth tadi. Ada juga yang terlalu congkak dan nggak mengukur siapa lawan bicaranya seperti si dokter senior itu. Tapi banyak juga sebetulnya orang yang pintar, halus caranya dalam menunjukkan eksistensi dan keunggulannya, sehingga orang nggak akan merasa bahwa dia sedang 'bercerita' tentang 'kehebatannya'. Salah satu contohnya ya foto di FB dari para mahasiswa pengejar gelar S2, S3, S dung2 dan S dawet. Fotonya menunjukkan model praktikumnya yang di mata awam tampak sophisticated (seperti betapa alat di serial CSI tampak keren di mata suami saya, sementara saya tahu bahwa itu hanya sekedar kromatografi gas biasa wae- saya dulu tiap minggu juga mainan begituan, bareng dosen saya yang imut bak marmut). Dan keterangan fotonya semacam betapa sebalnya dia dengan si struktur beton yang nggak jelas juntrungannya ini. 

Iya sih, memang teman mahasiswa saya ini jelas sedang dongkol hatinya sama si beton yang masih tetap abstrak tak berbentuk, tapi sebetulnya nih, dengan foto itu, selain membuat seluruh jagad raya tahu bahwa bentuk betonnya masih amburadul, si calon PhD ini juga sekaligus membuat orang ngeh bahwa "Hei, gue ini calon doktor lho, gue kuliah di luar negeri!!! Gue emang aje gile jadi bisa dapet beasiswa, dan gue sibuk di lab yang secanggih lab NASA, huahahaha." Ah, sweet conceit.... 

Kalau saya sih, rasanya paling senang memamerkan kemesraan dengan suami, memamerkan betapa suami saya tunduk dibawah injakan kaki saya. "What does your husband do?" "Whatever I tell him so!" Dan tentu saja saya senang memamerkan kecantikan fisik saya, dengan rambut yang sekarang sudah menutup sepertiga punggung. Yes, tahun depan, peran Sundel Bolong jelas berada dalam genggaman saya! Huahahaha.

Eniwei, pada intinya sih wajarlah saat seseorang ingin menceritakan kehebatannya, walau memang ada yang caranya manis seperti si mahasiswa atau nyebelin seperti seorang teman yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan semua statusnya bertuliskan semacam "Sudah selesai menanak nasi untuk anak- anak yang masih terlelap tidur. Betapa indahnya tugas seorang ibu rumah tangga." Ya kalau satu dua status sih wajar, kalau semuanya soal betapa indahnya tugas ibu rumah tangga dan betapa bahagia dia menemani anaknya menatap hujan di sore hari, ya bikin enek juga lah. Nggak usah ibu rumah tangga, abang tukang warteg juga tugasnya menanak nasi.

Oya, saya pernah melihat status membanggakan diri yang paling bikin saya jengkel. Yang bikin status ini seorang emak yang dulunya kuliah di Airlangga, sama seperti saya. Kemudian, anaknya dia masuk ke universitas lain yang juga jadi favorit se-Indonesia. Statusnya: "Baru mendapat kabar kalau kakak dapat nilai A untuk ujian inu. Wah, kalau di Univ XYZ saja bisa dapat nilai A, gimana ya kalau kakak kuliah di Airlangga, bisa- bisa IPK nya 4 koma deh :D:D."  Sumpah saya pingin membalas komentar semacam "Alhamdulilah deh nggak masuk Airlangga, bakal kesangkut di pintu gerbang entar kepalanya, nggak muat masuk."

Mau dibawa kemana note kita ini sih? Ah nggak tahu juga saya. Hanya mungkin saya mau menulis, mendengar orang membanggakan hidupnya itu biasanya masih tolerable, selama dilakukan dengan cara yang manis dan nggak terus menerus. Dan kalau emang mau membanggakan diri, ya sudah terang- terangan saja. Tidak ada yang lebih memuakkan daripada kesombongan yang dibungkus gaya rendah hati palsu. Dan kalau mau membanggakan ukuran beha, jangan lupa intip dulu ukurannya si lawan bicara, biar bisa pasang silikon dulu kalau memang masih kalah.

saya bangga punya suami secerdas einstein. Mengajarkan soal payung pd sera
* jadi inget orang utan

Monday 12 March 2012

Monday Note -- Catatan Pulkam

Selesai sudah my holiday bersama si cekci, satu setengah bulan bolak- balik Jakarta- Surabaya, menjalin tali silaturahmi dengan segala simbah, eyang dan opung dari berbagai pihak, memastikan nama kami tidak dicoret dari daftar ahli waris. Saya menepuk dada atas keberhasilan saya menempuh penerbangan long haul pertama saya hanya bersama si genduk. Bayangkan, 7 jam terkungkung di pesawat bersama si genduk yang setiap lima menit berteriak bosan! The food was yuck, the coffee was suck, hanya pemandangan breaking down from up above the horizon, melihat semburat merah pertama menghiasi cakrawala, dan langit dipenuhi berbagai pancaran cahaya warna- warni, cahaya pertama sebelum matahari nongol, yang menghibur hati.

Saya memilih terbang dengan Garuda, satu- satunya maskapai yang terbang ke Jakarta tanpa transit. Tentu saja saya memilih duduk di kelas ekonomi. Kalau saja kelas toilet dijual, saya pasti akan memilih duduk di dalam toilet saja demi menghemat rupiah. Saat memasuki bodi pesawat, saya melirik iri pada kursi kelas bisnis, yang selega kursi pesawat ulang alik. Tetapi meskipun saya dengki berat pada kursi mereka yang bisa diluruskan bak tempat tidur, makanan panas dan anggur yang tidak tersedia di kelas ekonomi, saya tidak jengkel. Itu adalah kewajaran dalam hidup. Siapa yang bisa membayar lebih mahal, berhak mendapatkan kemewahan dari maskapai BUMN yang profit oriented. Siapa suruh saya rada kere.

Tetapi saat saya mendarat di Jakarta, dan kemudian bersiap mengantri di imigrasi untuk minta paspor saya dicetok gambar Garuda, saya mengerutkan kening. Seorang cowok memegang papan bertuliskan G**UDA FAST TRACK, dan beberapa penumpang mengikuti arahan si mas untuk menuju ke loket imigrasi yang kosong melompong. Saat seorang ibu bertanya untuk siapa fasilitas fast track, si mas menjawab semacam untuk pemegang kartu eksekutif something. Saya jengkel. Karena ini adalah pelayanan imigrasi, pelayanan yang diberikan pemerintah kepada warga negaranya. Pelayanan yang seharusnya tidak diskriminasi. Apa hubungannya punya kartu berlian dari suatu maskapai dengan kemudahan mendapatkan pelayanan imigrasi? Tentu saya juga pernah mendapat kemudahan memotong antrian di imigrasi negara lain, tetapi itu karena saya membawa bayi, atau karena saya bersama nenek saya yang sudah tua. Bukan karena saya cukup kaya untuk bisa membeli kartu eksekutif (ini sih keluhannya orang munafik, karena beberapa tahun yang lalu saya sibuk memilih- milih mode pelayanan paspor di calo; 2 juta= 1 hari jadi, 1 juta= 1 minggu jadi, 100 ribu= setahun lagi semoga jadi :D:D:D:D)

Saya mengantri di imigrasi bersama rombongan TKW, karena kebetulan pesawat saya bersamaan mendaratnya dengan pesawat dari Malaysia. Dengan wajah jawa dan kulit coklat saya, apakah lalu saya disangka adalah seorang TKW? Hoho, tentu tidak. Mereka sangat trendi dengan handphone warna- warni, lipstik warna pelangi dan tas tangan kecil penuh bling- bling ala rapper Chihuahua. Sementara saya, mengantri dengan tas ransel besar yang penuh berisi pampers dan aneka crayon, dengan wajah kucel tanpa make-up, dengan menggendong anak yang tak kalah kucelnya. Tetapi meskipun saya rada tergeli- geli juga mendengar celotehan para mbak- mbak yang oh so yes dalam bahasa Inggris berlogat banyumasan, I respect them. Mereka itu hanya lulusan SMP tapi bisa menjadi pahlawan devisa lho, sementara banyak sarjana yang jadi pengangguran, membenalukan diri pada orang tua dan keluarga. Dan mereka tahu bahwa harus mengantri, tidak seperti seorang bapak berbaju safari beremblem garuda dengan gaya oh so penting yang ingin menyelak antrian. Too bad dia mencoba menyerobot antrian dari seorang emak yang menggendong bayi 12 kilo dan ransel jumbo. Jangankan bapak bersafari, badak bercula tiga pun kalah.

Selama di Indonesia, saya menikmati kemewahan yang nyaris saya lupakan selama setahun ini. Saya tidak harus menyapu, memasak, menyeterika. Saya punya sopir untuk mengantarkan saya. Saya bisa creambath di salon sementara Sera dijaga emak saya. Saya menikmati aneka makanan pinggir jalan dengan harga nggak sampai 1 dolar dan rasa yang yum yum.  Ah....nikmatnya hidup. Sebagai penyeimbangnya, saya juga kembali harus bertenggang rasa pada kemacetan jalan yang tidak manusiawi, pada listrik yang mati di tengah malam membuat Sera belingsatan kepanasan, dan pada nyamuk yang berseliweran tiada henti. 

Tinggal di Australia membuat saya menghargai satu hal yang sedari dulu lolos dari pengamatan. Saat anda memasuki restoran atau bank atau grapari, pernahkan anda mendapatkan senyuman dari satpam yang berjaga, membukakan pintu dan dengan sangat sopan menyapa "Selamat pagi bu. Ada yang bisa saya bantu?

Lalu apa tanggapan anda? Saya dulu, hanya akan mengangguk sekilas atau tersenyum gak niat atau dengan cuek berlalu. Seperti mayoritas para pengunjung yang lain. Ah, toh pak satpam juga hanya basa- basi mengucapkan selamat paginya. Tapi setelah saya tinggal di Oz, saya menyadari bahwa senyum dari pak satpam adalah suatu kemewahan hidup. Di oz, para petugas di bandara, pelayan di restoran, pegawai bank, sangat manner dan helpful. Mereka tidak jutek juga sih. Tapi mereka tidak juga melayani dengan senyum dan kesantunan ala Indonesia, yang menempatkan pelanggan sebagai raja. Dan kemarin di Indonesia, saya akhirnya mengubah cara saya membalas sapaan bapak satpam dan pelayan restoran. Saat pak satpam membukakan pintu dan mengucapkan selamat pagi selamat datang, saya menyempatkan diri menghentikan langkah saya, menatap bapak satpam dan dengan bersungguh- sungguh mengucapkan "Terima kasih Pak." Dan gantian bapak satpamnya yang agak bingung, mungkin dia mikir tumben- tumben amat ada yang mengucapkan terima kasih padanya. Dan saat saya turun dari pesawat, dan tiga pramugari mengucapkan terima kasih dan selamat jalan, tiga kali pula saya menghentikan langkah sejenak dan berkata "Terima kasih mbak."

Selama saya di Indonesia, saat saya berpapasan dengan orang di mall, atau menunggu busway bersama, atau bahkan duduk berdampingan dengan seorang bapak di gereja, saya tidak pernah mendapatkan sapaan. Lu lu gue gue. Jadi, sapaan selamat pagi dari pak satpam, pelayan dan pramugari adalah satu- satunya sapaan ramah yang saya dapatkan dari orang asing di sekitar saya. Sapaan itu kemewahan, karena tidak ada di negara lain pelayan yang begitu ramah dan hangat menyambut anda. Atau sopir taksi yang sesopan di Indonesia. Blue bird is still the best.

Dan tentu saja kemewahan humor yang tidak akan ditemui selain di Indonesia. Melintas di sebuah gerobak bertuliskan DOWO LEMES (panjang lemas). Hanya orang nggak normal yang tidak akan tergelitik saraf nakalnya membaca tagline itu. Ternyata itu adalah trade mark untuk roti tawar panjang dan lemas, hehehehe. Mungkin besok saya akan berjualan di sebelahnya dengan tagline CENDHEK ATOS (pendek keras). Dan kemudian di perempatan Cilandak, saya dan adik saya tergelak- gelak saat membaca iklan yang ditempel di tiang listrik, mengiklankan "Perpanjang Alat Vital, Instan, Keras PERMANEN." Hm, pasti si pemasang iklan sekarang masih bingung, bertanya- tanya kenapa pelanggannya malah berkurang drastis sesudah ia memasang iklan yang menjanjikan efek permanen itu :D. 

Oya, saya sempat berlibur ke Bali, dan Sera mendapatkan liburan termewahnya, berguling- guling di pantai dan bermain ombak. Tampak biasa mungkin bagi kebanyakan anak Indonesia. Tetapi bagi Sera yang selama ini hanya menikmati pantai Oz yang airnya sedingin es, yang pasirnya jelek, yang hanya menarik minat si Okhi di musim panas dengan tebaran cewek toplesnya, berguling- guling di pantai benar- benar barang mewah.

Saat awalnya saya sampai di Indonesia, saya kangen Melbourne. Saya merindukan suasananya yang tenang, hawanya yang dingin, dan pasarnya yang enak. Tetapi saat hendak kembali ke Melbourne, saya enggan berpisah dari Indonesia, tempat keluarga saya bermukim, tempat bakso pak gondrong bisa dinikmati hanya dengan 9000 rupiah, tempat saya dikellilingi oleh orang- orang sebangsa saya. Di Melbourne, saya kangen sahabat- sahabat saya, teman SMA dan kuliah. Tetapi saat saya di Jakarta, saya jadi kangen juga pada teman gereja di Melbourne dan sahabat baru saya disini. Dilema seorang perantau. Atau sisi positif merantau; punya dua tempat called home, hehehehe. 

Cara si okhi menikmati hari selama kepergianku

Monday 5 March 2012

My Monday Note -- Ratapan Walang Kekek

Seorang sepupu saya yang bekerja di salah satu bank kemarin menceritakan pengalamannya pada saya. Ceritanya, ada permasalahan dalam urusan kredit yang dia tangani. Masalah sepele yang sebetulnya bisa diatasi hanya dengan menggunakan pesawat telepon. Sialnya, si petugas di bagian kredit sedang angot, dan menolak untuk memberikan tanda acc hanya melalui telepon. Terpaksalah sepupu saya dengan berat hati menyeret betisnya yang ukurannya bisa bikin pohon jati minder untuk menaiki tangga, menuju ke lantai tiga tempat si pria petugas kredit bersinggasana (kagak ada lift di kantornya, biar hemat listrik).      

Sesampainya di lantai tiga, terengah- engah setelah menyeret bodi pesutnya menaiki puluhan anak tangga, ternyata si petugas kredit dengan sadis menyuruhnya turun kembali untuk menuliskan permintaan ACC dan mengirimkannya ke alamat email si petugas haram jadah itu.  Dengan senyum sabar yang dimaksudkan sebagai senyum sarkastis, sepupu saya bertanya dengan suara lembut pada si pria terwelu itu "Jadi, setelah saya capek- capek naik ke lantai tiga, sekarang saya harus turun lagi untuk ngirim email, lalu naik lagi kesini, gitu maksud Mas?"

Tanpa menangkap sindiran yang berusaha dihujamkan sepupu saya, si pria dengan dingin menjawab "Iya, itu maksud saya."

Oya, sepupu saya pada saat itu naik ke lantai tiga bersama seorang cewek nan cantik jelita berkulit aduhai berpinggang gemulai, partnernya dalam masalah kredit ini. Eh, kemudian si cantik jelita nan aduhai ikut bertanya "Kalau saya bagaimana Mas? Turun dulu kemudian naik lagi?" Dengan sorot mata bijaksana, si petugas kredit jelmaan terwelu itu menjawab tegas "Oh jangan, capek nanti kamu. Kamu pulang aja, kan ini sudah sore."

Si pria terwelu tersenyum lembut, si cantik memerah tersipu, si dugong sepupu saya terbatuk- batuk hingga nyaris mati tersedak air ludahnya sendiri. Dan turunlah sepupu saya beserta si jelita kembali ke lantai dasar. Tetapi, alih- alih merelakan si cantik memoles lipstik dan bedak untuk kemudian berlenggang pulang sesuai petuah bapak terwelu, sepupu saya melakukan hal yang pasti akan dilakukan semua wanita berwajah dugong (termasuk saya). Dia dengan judes mengancam si cantik "Kamu tunggu disini. Awas berani pulang!" Belum cukup ancamannya, kemudian sepupu saya menambahkan "Jangan bilang siapa- siapa kamu kusuruh nunggu, entar aku lagi yang dimarahin!!!"

Kemudian sepupu saya dengan pilu menulis status di facebooknya  "Nasib jadi cewek kurang cantik yang bekerja di bank......."

Menurut sepupu saya, dia sih sebenarnya  tidak marah atau dendam pada si jelita. Karena kan ya bukan salahnya dia dikaruniai wajah yang menarik hati untuk dibelai, bukan seperti wajah si sepupu yang cenderung bikin orang kebelet. Dan toh si jelita ini juga bukannya lalu seenak udelnya sendiri, gak mau kerja hanya karena wajahnya cantik. Enggak, cewek ini sih pekerja yang normal lah, cukup rajin juga. Yang bikin hati mendidih adalah reaksi dari orang- orang aka para pria, yang benar- benar berbeda karena kecantikannya. Bete ih, eike bete deh!

Gara- gara nasib malang si sepupu, saya jadi teringat pada nasib saya sendiri. Saat berjalan menyusuri kampus bersama seorang teman yang cantik jelita, berapa banyak mata para pria yang melirik teman saya itu, yang mengajaknya berkenalan, menanyakan namanya, dan bersedia memberikan bangkunya di tukang bakso bagi teman saya itu..... Ah, saya ingin menulis sebuah note heroik, menuliskan ketidakadilan yang harus diterima kaum wanita bertampang pas- pas an semacam saya ini, tertindas di bawah kerling mata para wanita jelita dan para pria yang hanya menghargai kecantikan lahiriah!!!! Biadab! Terlalu!

Tapi, setelah saya menenangkan diri dengan sebotol bir pletok, amarah saya mulai menyurut. Dan saya jadinya malah berkontemplasi (damn you bir pletok!) dan menyadari, bahwa meskipun saya membenci perilaku para pria yang terkagum- kagum pada hidung bangir teman saya dan mengabaikan saya bagaikan seekor walang kekek belaka, as a matter of fact, I also did the same.

Contoh paling sederhana saja, suatu kali saya sedang menyetir mobil di Melbourne bersama sepupu cewek saya yang sedang berkunjung. Di Melbourne itu, pengguna jalannya bisa dianggap sekelas nabi bila dibandingkan dengan para sopir di Jakarta yang keponakannya iblis. Jarang sekali yang ngawur dan melanggar aturan. Ganti jalur saja harus memberi lampu sen tiga kali dan tidak boleh membuat mobil dibelakangnya menginjak rem. Bayangkan, bayangkan! Tiba- tiba, dari dalam pom bensin, melesat keluar sebuah mobil sedan hitam. Memotong jalan kami hingga saya harus menginjak rem dengan gelagapan. Si mobil sedan juga berhenti dengan segera, pemiliknya tampaknya ikutan kaget. Si pengemudi kemudian melambaikan tangan tanda dia menyesal dan meminta maaf. Saya mengangguk dan tersenyum kecil. Saya dan sepupu saya kemudian melanjutkan perjalanan dalam hening. Tiba- tiba, sepupu saya berkata "Untung orangnya ganteng ya mbak?" Saya menoleh, lalu meledaklah tawa kami berdua, mengingat pengaruh yang ditimbulkan seorang pria berjas rapi dengan wajah ala Keanu Rip pada diri saya. Sebagai perbandingan, dulu di Jakarta saat seorang sopir metromini memotong jalan saya, saya segera membuka kaca jendela dan menyumpahi si sopir malang yang hanya bisa melongo disemprot seorang wanita paruh baya (ini jelas bukan kisah nyata, mana mungkin saya sekampungan itu beradu teriak dengan pak sopir kutunggu jandamu).

Anda menuduh itu mah saya nya saja yang kegenitan dan mata keranjang? Bahwa cewek lain tidak mudah silau oleh pesona dada bidang dan betis menawan seorang pria?  Hah, beberapa hari ini setiap melihat tayangan infotaiment, isinya selalu saja soal POLTENG. Iya itu, soal polisi meteng dan polisi peteng. Hanya gara- gara si polisi tampangnya rada- rada mirip bintang sinetron kilau indah berlian butek, langsung deh semua cewek mulai dari artis sampai simbok jamu berkomentar genit. "Aduh, mau dong ditilang polteng. Ditilang hatikyu...." Sambil matanya dikedip-kedipin kayak kelilipan jangkrik. Coba kalau yang hendak menilang itu pak pol berperut gendut berkulit keling, pasti lain komentarnya "Dasar polisi kampret, tukang malak!!!!!

Tampaknya, suka tidak suka, jujur tidak jujur, mandi tidak mandi, kita harus mengakui bahwa pada dasarnya kebanyakan manusia entah cowok, cewek, maupun 'cowok yang terperangkap dalam tubuh cewek' menyukai keindahan; kita suka melihat makhluk yang indah. Jadi, kenapa saya harus sirik sih kalau melihat seorang cewek cantik mendapat sapaan yang lebih halus dari bos cowok saya? Atau saat seorang cewek yang cantik menjadi cewek beken di sekolah? Itu kan sudah alami, sudah hukum alam. Dan apabila si cantik atau si tampan ini kemudian menggunakan kemolekan fisiknya untuk melapangkan jalannya, apa salah sih? Kalau saja wajah saya tidak semirip ini DNA nya dengan orang utan, saya tentu juga tidak akan segan menggunakan wajah saya untuk mendapat senyum yang lebih ramah dari para pria atau sapaan yang lebih hangat dari rekan kantor saya yang berjenis kelamin pria.

Seorang teman pernah berkata bahwa orang yang hanya bertumpu pada kecantikan fisik berarti orang yang nggak mau bekerja keras, nggak punya otak dan nggak berbakat. Nah, saya jadinya bertanya balik, apa bedanya muka yang cantik dan otak yang pintar? Keduanya sama- sama anugerah dari yang di atas kan? Apa bedanya si jenius yang merakit pesawat ulang alik dengan si jelita yang sedang menjadi Putri dalam sinetron Putri yang tertukar marmut? Mereka berdua kan semata hanya sedang memanfaatkan anugerah dari surga; yang satu otak dan yang satu wajah.

Dan siapa bilang sih orang cantik itu tidak perlu bekerja keras mengembangkan talentanya? Kan si jelita juga harus meluangkan waktu dan uang untuk pergi ke salon secara teratur, mani pedi rudi, tak pernah lupa mengusapkan pelembab untuk menjaga kulit mulusnya tetap mengkilat serta sunblock untuk mencegah bintik hitam. Kalau bukan kerja keras, what do you call that?

Sukses memang tidak hanya menjadi hak bagi mereka yang berotak. Sukses juga menjadi hak mereka yang cantik. TV plasma yang diciptakan seorang jenius, hanya akan memberi makna bila kemudian muncul wajah Saskia Sungkar yang jelita di layarnya. Siapa peduli kalau dia tidak tahu siapa presiden RI yang kelima? Tape mobil yang hasil kerja seorang teknisi pintar nan jenius, hanya akan memberi manfaat saat terdengar lantunan suara Syahrini yang seksi dengan jambul kambing gunungnya. Emang kenapa kalau dia enggak tahu ESEMKA itu apa? Karena memang tidak hanya kepandaian yang dihargai di dunia ini.

Tetapi, meskipun sekarang saya tidak melecehkan profesi bintang sinetron yang hanya bermodal pipi putih mulus atau para supermodel yang bermodal betis langsing, dan saya sudah bisa menerima dengan seperempat ikhlas (ya tetap nggak ikhlaslah, itu juga sudah kodrat alam) bahwa para makhluk cantik memang sudah kodratnya untuk menerima perlakuan yang lebih baik, saya bersyukur bahwa Tuhan tidak menganugerahkan kecantikan yang terlalu luar biasa pada anak saya.

Di suatu pesta, saya  sempat memuji kecantikan seorang anak empat tahun yang memang sudah tampak luar biasa cantik jelita, dan kemudian bapaknya berkata "She knows that she's pretty. She already aware that she's very beautiful."   Mendengar komentar si bapak, pada saat itu  saya sungguh bersyukur pada Tuhan karena meskipun Sera tidak jelek, dia juga tidak luar biasa cantik.

Meskipun matanya membulat almond dan senyumnya semanis madu, Sera tidak mungkin hanya akan bergantung pada bentuk fisiknya bila ia ingin sukses. Ia akan harus memaksimalkan kemampuan otaknya, ia akan harus belajar bahasa asing bila ingin bekerja di perusahaan multinasional, ia akan harus belajar caranya memberi presentasi, ia akan harus belajar semalam suntuk sebelum ujian. Dan anak saya kelak akan sukses karena kelincahannya mendaki gua bawah sungai atau karena keahliannya merakit software atau kefasihannya mendentingkan melodi Mozart. Sera tidak akan bisa mengandalkan warna kuteks atau rambut tergerai selembut sutera semata dalam hidupnya.

Dan setiap pria akan terpaksa harus mengenal dan memahami Sera lebih dalam, sebelum ia bisa menyukai dan mencintai Sera. Seorang pria akan mencintai Sera karena ia menyukai kepribadian atau kepandaian atau keceriaan Sera, bukan semata karena terpesona akibat hidung bangir dan betis jenjangnya. She will be more than just a beautiful face. Dia harus bekerja keras dalam hidupnya, dan orang akan mengenal dia sebagai Sera yang baik hati, Sera yang cekatan, Sera yang pekerja keras, bukan sekedar Sera yang cantik banget.

Ah dear Lord, I haven't thank you enough for this....

Note : brain+beauty+behaviour = calon Miss Universe
           brain doang                       = calon ilmuwan sukses
           beauty doang                    = calon bintang pelem sukses
          no brain+ no beauty           = calon klien dukun pemasang susuk