Suatu pagi yang damai, saya sedang duduk menunggu di ruang tunggu bandara Tullamarine, Melbourne. Saya sedang menunggu pesawat Garuda yang akan membawa saya melintasi samudera Atlantik, kembali ke pangkuan ibukota tercinta, Jakarta. Sudah semalam suntuk saya berzikir tanpa henti, memohon bantuan Yang Diatas agar Sera tenang dan kalem dalam penerbangan long haul pertamanya berdua saja dengan emaknya. Tapi tentu namanya manusia, saya sudah siap dengan rencana cadangan; tongkat kasti dan obat tidur.
Tak berapa lama, duduklah seorang ibu paruh baya disamping saya. Setelah tersenyum sekilas, saya kembali mengarahkan pandangan ke Serafim yang sekarang sedang asyik menggigiti pinggiran kursi. Si ibu, mungkin karena kesepian, kemudian mengajak saya bercakap. Saya jadinya tahu bahwa ibu ini berasal dari suatu pulau kecil di Indonesia, dan sudah 10 tahun ia bermigrasi ke West Australia, mengikuti suaminya yang bekerja di pertambangan.
Si ibu dengan baju matching (pink dalam berbagai gradasi dari atas sampai bawah) yang mengajak saya bercakap itu adalah seorang miliader. Suaminya bekerja di pertambangan di West Australia. Pertambangan adalah tempat dimana seorang tukang pacul tak berpengalaman pun digaji 7000 dolar per bulan, sementara rata- rata gaji para pegawai kantoran di Australia adalah 4000 dolar per bulan. Suami ibu itu adalah insinyur geodesi atau geologi, saya juga kurang paham. Berarti, dia bukan sembarang tukang pacul. Berarti, gajinya paling tidak 10.000 dolar per bulan. Berarti setahunnya dia akan mendapat gaji at least 120.000 dolar plus bonus ini itu ono. Berarti setahunnya ibu itu mendapat duit semilyar lebih. Aduh, pusing kepala saya menghitung berapa piring lontong sayur yang bisa dibeli dengan duit segitu.
Eniwei, melihat bahwa saya adalah seorang perempuan dengan senyum yang tampak menyemangati dirinya untuk bercerita, dan tampak tidak mempunyai pengalaman apapun untuk diceritakan (saya sedang bermeditasi mempersiapkan hati menghadapi Sera yang akan terkungkung di pesawat selama 7 jam), semakin bersemangatlah si ibu untuk bercerita. Saya jadi tahu ia belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta, dan dulu dari kampungnya dia langsung terbang ke Perth, mengikuti suaminya.
Si ibu : Saya baru saja liburan ke Perancis lho.....
Saya : Wah, keren banget..... Pergi ke kota mana saja Bu?
Si ibu : Ya itu, ke kota Frens. Belum pernah kesana ya?
Saya : Wah, saya sih nggak mampu kalau harus liburan ke benua Amerika. Jauh ya Perancis?
Si ibu : Jauh banget deh, mahal naik pesawatnya
Saya : Melihat apa aja di Perancis? Patung liberty? Gunung Fuji?
Si ibu : Pokoknya lihat gedungnya tinggi- tinggi, naik perahu di sungai, foto di pintu gerbang, wah seru deh!
Saya tiba- tiba teringat bahwa berdosa mempermainkan orang tua, jadi saya tidak melanjutkan bertanya. Takut karma, tahu- tahu si Sera ngamuk di pesawat kan berabe.
Beberapa menit terdiam, mulai lagi si ibu membuka percakapan.
Si ibu : Kemarin saya baru beli mobil, janjian sama temen- temen saya yang lain
Saya : Wah... beli mobil pake janjian. Saya sih hanya janjian sama teman kalau mau makan bakso Bu...
Si ibu : Iya, biar modelnya sama, hanya warnanya beda- beda. Kita beli mobil Be-em-we
Saya : Oh, kalau saya waktu kuliah dulu naik Bemo-We
Si ibu : O... kalau sekarang naik apa?
Saya : Mobil saya sedan honda bu. Nyetir sendiri atau ada supir?
Si ibu : Mobil di rumah ada empat. Beemwe semua. Saya sih nggak bisa nyetir, pakai mobilnya hanya pas suami pulang
Saya : Ooooo (sambil mikir terus sehari- hari naik apa ya si ibu kalau ke pasar?)
Kemudian termangu- mangulah kami kembali, menunggu waktu boarding yang serasa seabad. Eh, si ibu buka mulut lagi
Si ibu : Kemarin saya baru beli lego untuk keponakan saya di kampung. Belinya di Perth. Pernah lihat nggak mbak?
Saya : Pernah lihat apanya Bu? Legonya atau Perthnya?
Si ibu : Legonya. Di Indonesia mana ada mainan begini
Saya : Gitu ya bu? Di Jakarta juga nggak ada?
Si ibu : Mana ada di Jakarta. Harus di kota besar kayak Perth baru ada
Sekilas info: Penduduk Jakarta: 10 juta, penduduk Perth: 1,5 juta.
Pukul 6 sore di Jakarta: semua mall dan toko padat pengunjung, Perth: semua toko tutup
Jumlah mall besar di Jkt : 2 RATUS, Perth: 2 butir
Si ibu ini kaya? So pasti. Bikin iri? So iya. Wong rumahnya dia di Perth besar sekali dengan 5 kamar, plus kolam renang. Di garasinya ada 4 mobil BMW seri terbaru. Bandingkan dengan saya yang mengontrak unit kecil di pinggiran Melbourne, dengan mobil sedan yang berdecit setiap direm. Tapi, setiap dia selesai berucap satu kalimat, saya menundukkan kepala dan menggigit bibir.
Setiap kata yang ia ucapkan, membuat dada saya tersobek antara dua keinginan, tertawa terbahak- bahak sekaligus mengeluh iri. Bagaimana mungkin seseorang dengan duit semilyar di kantong, menghabiskannya untuk membeli beberapa mobil yang menurut teman- temannya bagus, untuk kemudian dianggurin di garasi karena ia tidak bisa menyetir. Wanita yang bisa membeli cincin berlian bermata tunggal nan besar, yang dengan sambil lalu disebutkannya berharga 50 juta, tapi mengenakannya di jari yang kering busikan karena tidak pernah berekenalan dengan body butter di tengah udara gurun Australia. Wanita yang membanggakan merk kopi di rumahnya; Nescafe ("Ini kopi nggak ada di Jakarta lho, hanya ada di Perth"). Oalah, lemari dapur saya juga diisi kopi merk itu, karena itu merk sejuta umat disini, 15 dolar sekaleng besar. Dan di Jakarta dulu, jingle iklannya selalu terdengar setiap detik, Open your eyes, open your heart, open your pants, open up open up !
Karena kebetulan saya saat itu naik Garuda, tentu saja sebagian besar penumpang yang menunggu boarding adalah orang Indonesia juga. Saat si ibu membanggakan kopi mahal yang ada di rumahnya, saya melihat sekilas seorang penumpang lain tersenyum. Entah geli entah rada melecehkan. Saat pandangan kami bertatapan, dia sedikit memutar matanya sambil tersenyum, membuat saya sadar bahwa si penumpang itu ikut mendengar celotehan 'berkelas' dari si ibu be-em-we (gimana nggak dengar kalau si ibu bercerita dengan suara stereo).
Anehnya, meskipun gaya sombongnya si ibu perth ini benar- benar asoy geboy, entah kenapa saya kok ya tidak jadi marah ya. Mungkin karena saya melihat bahwa si ibu ini sebetulnya bukan orang jahat juga. Mungkin karena saya jadinya malah sedikit iba juga melihat keluguannya yang membuatnya jadi sasaran empuk korban ditertawakan di balik punggung.
Itu kejadian yang saya alami dengan seorang ibu dusun nan lugu. Wajarlah dia gegar budaya, wong dari yang tadinya berlibur dengan cara pergi ke desa sebelah untuk nonton layar tancep, eh tahu- tahu sekarang liburannya naik montor mabur trans Pasifik ke city of love. Wajar saja dia nggak tahu ada di benua mana si Frens itu terletak, lha wong yang dia hafal mungkin letak tambak ikan lele di dusunnya. Wajarlah kalau dia gegar budaya.
Tapi di suatu hari, saya sedang menemani seorang teman saya makan siang di kantin puskesmas tempat ia berparaktek. Kemudian datanglah seorang senior di puskesmas itu, dan ikut makan siang bersama kami. Si ibu senior ini kemudian tiba- tiba berkomentar "Ternyata berat jadi istri pejabat. Setiap turun dari mobil selalu sudah ada yang membukakan pintu."
Gaya bicara si senior ini dengan nada sambil lalu tapi jelas- jelas berharap ditanya agar ia bisa bercerita lebih lanjut. Teman saya yang memang amat santun kemudian bertanya "Oh gitu ya Dok. Memang Bapak menjabat apa?"
Dan dengan gaya sok jinak- jinak tekukur, berceritalah si senior bahwa suaminya baru saja diangkat menjadi wakil kepala dinas. Dan dengan gaya mengeluh ia kemudian menambahkan bahwa sekarang ia menjadi ketua Dharma Wanita di kantor suaminya, bahwa sekarang dia menjadi panutan para istri sekantor suaminya, dan bahwa suaminya itu sekarang menjadi orang sangat VVIP alias kadang rapat dengan bapak bupati. Kalimat terakhir si senior ini membuat saya tersedak bakso dan membuat saya terbatuk- batuk bak keselak kedondong. Teman saya memandang saya dengan tajam, menyiratkan ancaman agar saya menutup mulut saya yang tajam. Begini kalimat si senior yang bikin saya tersedak " Kamu pasti susah ya membayangkan kehidupan keluarga pejabat itu. Apalagi nanti, karena kabarnya suami saya itu mau dijagokan menjadi kepala dinasnya," (dengan intonasi pura- pura rendah hati tapi jelas banget niatnya nyombong. you know what I mean).
Kalau saja itu saya yang ditanya, dan si ibu mengeluh bahwa hidupnya sekarang menjadi berat, paling saya hanya akan berkomentar "Wah, berarti seimbang dong sekarang, badannya berat, hidupnya juga berat." Untung teman saya nggak seculas saya sifatnya.
Tapi yang bikin saya nyaris sekarat tersedak bakso adalah karena si senior ini sok gaya didepan teman saya. Tanpa dia sadari siapa teman saya itu. Saat suami si senior rapat dengan bupati, bapaknya teman saya memanggil bupati untuk menghadap dirinya. Saat suami si senior baru diangkat jadi wakil, bapaknya teman saya sedang sibuk mengomeli para wakil. Saat si suami mungkin diangkat jadi ketua, bapaknya teman saya sudah lupa bagaimana rasanya jadi ketua.
Membanggakan kehidupan sebagai pejabat wakil di depan teman saya itu, sama saja seperti membanggakan bahwa ukuran beha saya 34D (eits, ini note saya, nggak boleh protes) di depan seorang wanita dengan ukuran beha 36E. Atau seperti membanggakan bahwa saya punya piaraan kucing siam di depan orang yang memelihara macan tutul. Ya kebanting lah yaw.
Sebetulnya ya, hampir semua orang senang membanggakan sesuatu. Hanya caranya saja yang berbeda. Ada yang dengan cara gegar budaya bikin ketawa ala si Ibu Perth tadi. Ada juga yang terlalu congkak dan nggak mengukur siapa lawan bicaranya seperti si dokter senior itu. Tapi banyak juga sebetulnya orang yang pintar, halus caranya dalam menunjukkan eksistensi dan keunggulannya, sehingga orang nggak akan merasa bahwa dia sedang 'bercerita' tentang 'kehebatannya'. Salah satu contohnya ya foto di FB dari para mahasiswa pengejar gelar S2, S3, S dung2 dan S dawet. Fotonya menunjukkan model praktikumnya yang di mata awam tampak sophisticated (seperti betapa alat di serial CSI tampak keren di mata suami saya, sementara saya tahu bahwa itu hanya sekedar kromatografi gas biasa wae- saya dulu tiap minggu juga mainan begituan, bareng dosen saya yang imut bak marmut). Dan keterangan fotonya semacam betapa sebalnya dia dengan si struktur beton yang nggak jelas juntrungannya ini.
Iya sih, memang teman mahasiswa saya ini jelas sedang dongkol hatinya sama si beton yang masih tetap abstrak tak berbentuk, tapi sebetulnya nih, dengan foto itu, selain membuat seluruh jagad raya tahu bahwa bentuk betonnya masih amburadul, si calon PhD ini juga sekaligus membuat orang ngeh bahwa "Hei, gue ini calon doktor lho, gue kuliah di luar negeri!!! Gue emang aje gile jadi bisa dapet beasiswa, dan gue sibuk di lab yang secanggih lab NASA, huahahaha." Ah, sweet conceit....
Kalau saya sih, rasanya paling senang memamerkan kemesraan dengan suami, memamerkan betapa suami saya tunduk dibawah injakan kaki saya. "What does your husband do?" "Whatever I tell him so!" Dan tentu saja saya senang memamerkan kecantikan fisik saya, dengan rambut yang sekarang sudah menutup sepertiga punggung. Yes, tahun depan, peran Sundel Bolong jelas berada dalam genggaman saya! Huahahaha.
Eniwei, pada intinya sih wajarlah saat seseorang ingin menceritakan kehebatannya, walau memang ada yang caranya manis seperti si mahasiswa atau nyebelin seperti seorang teman yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan semua statusnya bertuliskan semacam "Sudah selesai menanak nasi untuk anak- anak yang masih terlelap tidur. Betapa indahnya tugas seorang ibu rumah tangga." Ya kalau satu dua status sih wajar, kalau semuanya soal betapa indahnya tugas ibu rumah tangga dan betapa bahagia dia menemani anaknya menatap hujan di sore hari, ya bikin enek juga lah. Nggak usah ibu rumah tangga, abang tukang warteg juga tugasnya menanak nasi.
Oya, saya pernah melihat status membanggakan diri yang paling bikin saya jengkel. Yang bikin status ini seorang emak yang dulunya kuliah di Airlangga, sama seperti saya. Kemudian, anaknya dia masuk ke universitas lain yang juga jadi favorit se-Indonesia. Statusnya: "Baru mendapat kabar kalau kakak dapat nilai A untuk ujian inu. Wah, kalau di Univ XYZ saja bisa dapat nilai A, gimana ya kalau kakak kuliah di Airlangga, bisa- bisa IPK nya 4 koma deh :D:D." Sumpah saya pingin membalas komentar semacam "Alhamdulilah deh nggak masuk Airlangga, bakal kesangkut di pintu gerbang entar kepalanya, nggak muat masuk."
Mau dibawa kemana note kita ini sih? Ah nggak tahu juga saya. Hanya mungkin saya mau menulis, mendengar orang membanggakan hidupnya itu biasanya masih tolerable, selama dilakukan dengan cara yang manis dan nggak terus menerus. Dan kalau emang mau membanggakan diri, ya sudah terang- terangan saja. Tidak ada yang lebih memuakkan daripada kesombongan yang dibungkus gaya rendah hati palsu. Dan kalau mau membanggakan ukuran beha, jangan lupa intip dulu ukurannya si lawan bicara, biar bisa pasang silikon dulu kalau memang masih kalah.
| saya bangga punya suami secerdas einstein. Mengajarkan soal payung pd sera
* jadi inget orang utan
|